jalur 1: sepur lurus jalur tunggal dari dan ke arah Purworejo
jalur 2: sepur lurus jalur ganda arah Kroya
jalur 3: sepur lurus jalur ganda arah Yogyakarta
Layanan
Hampir semua kereta api antarkota dan barang yang melayani lintas selatan maupun tengah Jawa, kereta api aglomerasi, serta kereta api komuter yang meliputi kereta api Joglosemarkerto, Commuter Line Prameks, kecuali kereta api Argo Lawu, Argo Dwipangga, dan Taksaka.
Stasiun Kutoarjo dibangun bersama dengan jalur kereta api Cilacap–Yogyakarta pada 20 Juli 1887, beserta jalur cabang menuju Kecamatan Purworejo.[5] Bergabungnya Kabupaten Kutoarjo dengan Kabupaten Purworejo pada tahun 1934[6] membuat pengelolaan stasiun ini lebih efektif. Stasiun ini khusus untuk pemberangkatan kereta api jarak jauh yang melewati wilayah Purworejo, sedangkan Stasiun Purworejo dikhususkan untuk layanan kereta api penumpang, hingga akhirnya dinonaktifkan pada tahun 2010 beserta jalurnya.
Bangunan dan tata letak
Emplasemen Stasiun Kutoarjo sisi timur, tampak Depo Sarana Kutoarjo yang berfungsi untuk perawatan beberapa sarana perkeretaapian
Stasiun Kutoarjo memiliki tujuh jalur kereta api. Pada awalnya jalur 2 merupakan sepur lurus. Setelah jalur ganda menuju Stasiun Yogyakarta pada segmen Kutoarjo–Wojo selesai pada tanggal 17 Agustus 2007,[7] jalur 3 dijadikan sebagai sepur lurus jalur ganda arah Yogyakarta sekaligus sepur raya jalur tunggal dari dan ke arah Bogor, sedangkan jalur 2 dijadikan sebagai sepur lurus jalur ganda dari arah Yogyakarta sekaligus sebagai sepur badug panjang untuk langsiran rangkaian kereta api. Kemudian setelah jalur ganda menuju Stasiun Butuh dioperasikan per 30 November 2019, jalur 2 sepenuhnya dijadikan sebagai sepur lurus untuk arah Kroya, sedangkan jalur 3 sepenuhnya dijadikan sebagai sepur lurus hanya untuk arah Yogyakarta.
Di bagian dalam stasiun, tepatnya di dekat ruang kepala stasiun, terdapat prasasti peresmian jalur ganda segmen Kutoarjo–Yogyakarta yang dilaksanakan pada tanggal 22 Januari 2008, yang ditandatangani oleh Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono.[8]
Rel di jalur 4–6 dirancang tanpa menggunakan batu balas/kricak. Jalur 4 dan 5 digunakan untuk menampung KA yang diberangkatkan dari stasiun ini,[9] sementara jalur 6 biasanya digunakan untuk menampung kereta luar dinas dan langsir. Ke arah timur dari jalur 1 terdapat jalur kereta api menuju Purworejo sebagai jalur cabang, tetapi jalur cabang tersebut kini telah dinonaktifkan dan pernah digunakan untuk menampung sejumlah gerbong barang yang sudah tidak terpakai.
P09
P
Lantai peron
Jalur 7
←
Jalur parkir dan langsiran kereta api
→
Jalur 6
Jalur parkir kereta api
Peron pulau
Jalur 5
←
Pemberhentian, kedatangan, dan keberangkatan kereta api antarkota
→
Jalur parkir kereta api
Peron pulau
Jalur 4
←
Pemberhentian, kedatangan, dan keberangkatan kereta api antarkota
→
Peron pulau, pintu terbuka di sebelah kiri kedatangan KA dari arah barat dan sebelah kanan kedatangan KA dari arah timur
Peron sisi, pintu terbuka di sebelah kiri kedatangan KA dari arah barat dan sebelah kanan kedatangan KA dari arah timur
G
Bangunan utama stasiun
Bangunan stasiun ini kini sudah tidak asli, kecuali atap kanopi utama yang menaungi jalur 1–3 serta beberapa pintu dan tembok yang menghadap peron jalur 1. Stasiun ini diduga memiliki arsitektur yang mirip dengan Stasiun Purworejo. Hal ini karena Stasiun Kutoarjo memiliki arus penumpang yang sangat tinggi sehingga bangunan utama stasiun perlu dilakukan renovasi supaya mampu mengurangi kesemrawutan.[10] Di sisi timur stasiun terdapat sub depo lokomotif dan depo kereta yang dikhususkan untuk perawatan ringan sarana kereta. Di sisi selatan stasiun terdapat dua jalur simpan kereta yang akan/selesai dinas dan cuci kereta, serta jalur tersebut juga mengarah ke turntable.
Perubahan besar pada stasiun ini juga terjadi pada tahun 2024; meliputi proyek peninggian peron dan penambahan kanopi yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada penumpang agar mudah naik turun dari kereta. Kemudian terdapat pembangunan instalasi air dan pemasangan mossel untuk pengisian bahan bakar lokomotif.[12]
↑Susanti, D.M. (Januari 2008). Kajian atas Pengelolaan Pengetahuan dalam Pengoperasian Teknologi Persinyalan Kereta Api (Studi Kasus Daop 2 Bandung) (S2). Program Magister Studi Pembangunan, Sekolah Arsitektur, Pengembangan, dan Perencanaan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung.
↑Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
↑Moehadi; Pratitis, Titi; Mulyono; Priyanto, Supriyo; Galba, Sindu (1988). Dampak Modernisasi Terhadap Hubungan Kekerabatan di Daerah Jawa Tengah. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
↑Prasetya, S. (2014). "Kutoarjo (KTA): Stasiun Paling Ramai di Ujung Timur Daop V". Majalah KA. 96: 8–9.
↑Musadad (2002). Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo 1901-1930 (Thesis). Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.
Untuk melihat daftar stasiun secara lengkap, dapat mengklik "(Kategori/Daftar)" pada masing-masing daerah atau pranala artikel. Templat ini meringkas daftar stasiun yang dioperasikan oleh KAI (hanya stasiun utama yang diswakelola oleh perusahaan induk) dan operator KA lainnya (hanya pranala).