7 Peron dengan Peron 3 dan 4 berada di Tengah menyatu dengan Bangunan Stasiun (Stasiun Pulau) , 2 Peron Tinggi (Peron 2 dan 5), 3 Peron Rendah (Peron 1,3 dan 4) ,serta 2 Peron lainnya(Peron 6 dan 7) Agak Tinggi.
Stasiun Cikampek menjadi salah satu penghubung kereta api utama di daerah Purwasuka. Di sebelah timur stasiun, jalur bercabang menjadi dua arah, yakni jalur utama lintas selatan–utara Jawa arah Cirebon, Jawa Tengah–DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, serta jalur penghubung arah Bandung. Dahulu, sebelum beroperasinya jalur ganda pada petak Cikampek–Cirebon, hampir semua kereta api yang berangkat dari Jakarta berhenti di stasiun ini. Tujuannya adalah untuk memastikan petakjalur di depannya sudah aman untuk dilewati kereta api berikutnya serta sering kali untuk menunggu persilangan kereta api yang datang dari arah Cirebon/Bandung, terutama pada pagi dan petang hari.
Berdasarkan data BPS Kabupaten Karawang 2026 dan Opendata Jabar tahun 2026, selama Tahun 2025 Stasiun Cikampek telah melayani naik dan turun penumpang kereta Api Lokal Walahar dan Jatiluhur sebanyak 1.799.129 penumpang dan 363.205 Penumpang Kereta Api Jarak Jauh .[3][4]
Pada saat itu, Staatsspoorwegen telah merencanakan akan membangun jalur kereta api baru pada petakCikampek–Padalarang sebagai alternatif rute Jakarta–Bandung. Keinginan SS pada saat itu dikarenakan tingginya permintaan kereta api yang lebih cepat untuk sampai ke tujuan. Jalur lintas Cikampek–Padalarang ini berhasil dibuka pada 2 Mei 1906. Dari Stasiun Cikampek, pembangunan juga diarahkan menuju ke Cirebon, yang dibuka pada 3 Juni 1912.[6]
Selain jalur utama lintas Cikampek–Padalarang dan Cikampek–Cirebon, Staatsspoorwegen (SS) juga membangun jalur trem di pedalaman Karawang dengan lebar sepur 600 mm yang diinisiasi pada tahun 1909.
Adapun pembangunan jalur trem dengan lebar sepur 600 mm tersebut dibagi menjadi 4 bagian atau trase, yakni Jalur trem Cikampek–Cilamaya yang diresmikan pada tanggal 1 Juli 1909, jalur trem Cikampek–Wadas yang diresmikan pada tanggal 15 Juli 1912, jalur trem Wadas–Lamaran yang diresmikan pada tanggal 9 Februari 1920, dan jalur trem Karawang–Lamaran–Rengasdengklok yang diresmikan pada tanggal 15 Juni 1919.
Namun sayangnya, pada dekade tahun 1972 atau 1973, semua jalur trem tersebut ditutup karena kalah bersaing dengan moda transportasi darat yang lain dan banyak penumpang trem tidak membeli tiket atau karcis sehingga mengalami kerugian.
Bangunan stasiun ini sempat dihancurkan saat masa Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947. Hanya atap kanopi stasiun saja yang masih asli, sedangkan ruangan-ruangannya sudah direnovasi saat era Djawatan Kereta Api (DKA) pada 1950-an.[7]
Bangunan Stasiun Cikampek yang sempat dihancurkan pada masa perang kemerdekaan, 23 Juli 1947.Tampak kanopi Stasiun Cikampek, 2010.
Bangunan dan tata letak
Area Stasiun Cikampek dari udara, 2026.
Bangunan Stasiun Cikampek adalah stasiun pulau dan memiliki delapan jalur kereta api dengan jalur 3 merupakan sepur lurus arah DKI Jakarta, jalur 4 merupakan sepur lurus arah Cirebon, dan jalur 6 merupakan sepur lurus arah Padalarang.
Di sebelah selatan stasiun, terdapat sebuah pemutar rel (turntable) yang difungsikan untuk membalik arah lokomotif.
Lokomotif C300 01, 24, dan 04 di pekarangan emplasemen Stasiun Cikampek.Lokomotif BB 304 76 06 (BB304 06) dan BB 304 84 02 (BB304 16) di pekarangan emplasemen Stasiun Cikampek.Lokomotif BB306 08, BB300 01 dan BB303 49 di pekarangan emplasemen Stasiun Cikampek.
Pada medio 2025, peron pulau di stasiun ini sudah diperpanjang maupun ditinggikan. Di ujung peron tersebut sudah dilengkapi kanopi tambahan sehingga penumpang tidak lagi kepanasan ataupun kehujanan saat menunggu maupun naik turun kereta api.
Layanan kereta api
Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025 revisi per 11 Juni 2026.[9]
Untuk melihat daftar stasiun secara lengkap, dapat mengklik "(Kategori/Daftar)" pada masing-masing daerah atau pranala artikel. Templat ini meringkas daftar stasiun yang dioperasikan oleh KAI (hanya stasiun utama yang diswakelola oleh perusahaan induk) dan operator KA lainnya (hanya pranala).