Artikel ini berisi tentang stasiun kereta api yang melayani Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia. Untuk stasiun yang bernama sama, lihat Stasiun Malang (disambiguasi).
3 (satu peron sisi dan dua peron pulau yang sama-sama agak tinggi; masing-masing peron terhubung dengan lorong/terowongan bawah tanah, tetapi tidak ada peron di antara jalur 1 dan 2 maupun jalur 3 dan 4)
Bangunan Stasiun Malang generasi pertama yang terletak di sisi timur emplasemen, kini telah dibangun ulang, sekitar 1930Pintu masuk Stasiun Malang sisi barat yang hanya digunakan untuk melayani kereta api lokal
Stasiun Malang dibangun ketika jalur kereta api Surabaya–Malang dan Pasuruan mulai dirintis pada sekitar tahun 1870 yang bertujuan untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari daerah pedalaman Jawa Timur. Jalur ini dibangun setelah konsesi dikeluarkan pada tahun 1875. Jalur kereta api ruas Bangil–Malang selesai dibangun pada 20 Juli 1879[5]
SS kemudian membangun stasiun baru yang terletak di sisi barat emplasemen pada tahun 1941 berdasarkan karya Ir. W.J. van der Eb karena bangunan stasiun lama dianggap tidak mampu menampung jumlah penumpang yang terus meningkat.[6] Bangunan stasiun ini kemudian disebut Stasiun Malang Kotabaru untuk membedakannya dengan bangunan Stasiun Malang lama—bukan Stasiun Malang Kotalama yang dibangun pada tahun 1896.[7]
Penataan ulang
Sebelum adanya pembangunan stasiun sisi timur, Kereta Api Indonesia dan Pemerintah Kota Malang sempat berencana untuk menata ulang Stasiun Malang. Hal ini dilakukan karena jumlah masyarakat Malang Raya yang bepergian dengan kereta api semakin meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, stasiun ini dilakukan penataan ulang untuk meningkatkan ranah pariwisata. Rencana teknik rinci telah dibuat oleh KAI bersama Pemkot Malang pada awal 2018 lalu, tetapi banyak dilakukan perbaikan.[8] Sebagai langkah awal, Pemkot Malang dan KAI sepakat untuk menata kembali halaman parkir stasiun.[9]
Pembangunan stasiun sisi timur dimulai dengan acara peletakan batu pertama oleh Wali Kota Malang, Sutiaji, pada 24 September 2019. Pembangunan tersebut mengakibatkan depo kereta secara bertahap akan dipindahkan ke Stasiun Malang Kotalama.[10][11][12] Kini sisi timur Stasiun Malang hanya berfokus pada layanan kereta api antarkota, sedangkan sisi barat berfokus untuk layanan kereta api lokal Commuter Line.
Bangunan dan tata letak
Bentuk atap bangunan baru stasiun yang terinspirasi dari Gunung Putri TidurZona penurunan pengunjung pada bangunan baru stasiunJembatan penyeberangan yang menghubungkan bangunan stasiun baru dengan bangunan lama, serta dijadikan sebagai penyeberangan antarperon
Stasiun Malang memiliki sembilan jalur kereta api dengan jalur 3 merupakan sepur lurus, tetapi hanya jalur 1–5 yang digunakan untuk pelayanan naik turun penumpang, serta menggunakan persinyalan mekanik tipe Siemens & Halske. Stasiun ini memiliki konsep yang serupa dengan Stasiun Surabaya Gubeng dan Stasiun Bandung, yaitu memiliki dua bangunan stasiun di setiap sisi emplasemen.[13]
Seperti di Stasiun Pasar Senen, bangunan sebelah barat stasiun memiliki peron yang terhubung dengan terowongan bawah tanah untuk pejalan kaki. Terowongan tersebut dibangun pada saat terdapat kabar perang.[14] Supaya dapat melindungi dari ancaman bom, maka baja dijadikan bahan dalam pembuatan pintu terowongan.[15] Bangunan lama stasiun (generasi kedua), yang merupakan peninggalan Staatsspoorwegen telah ditetapkan sebagai cagar budaya.[16]
Sementara itu, bangunan sebelah timur stasiun dibangun ulang di sebelah depo kereta, bekas kawasan rumah dinas KAI, dan bangunan pertama stasiun pada masa Hindia Belanda. Bangunan sebelah timur stasiun dirancang lebih besar dari bangunan sebelumnya sehingga mampu menampung sekitar 2.500 calon penumpang.[17] Bentuk atap pada bangunan stasiun terinspirasi dari Gunung Putri Tidur, gunung yang terletak di Kabupaten Malang dan Kota Batu, dan dirancang supaya dapat melancarkan aliran udara.[18] Bangunan sebelah timur ini dilengkapi dengan zona penurunan pengunjung yang sebelumnya tidak tersedia. Untuk menghubungkan bangunan timur dan bangunan barat stasiun, maka dibangun juga jembatan layang untuk penumpang.
Lantai 2
Penyeberangan penumpang kereta api antarkota melalui jembatan penyebrangan
Lantai 1
Bangunan utama stasiun sisi timur
(khusus keberangkatan maupun kedatangan kereta api antarkota kelas eksekutif dan campuran)
Pada 4 Januari 2011 sekitar pukul 13.15, kereta penumpang milik KA Gajayana yang sedang parkir di Stasiun Malang tergelincir dan menabrak tiga rumah warga di sekitar Stasiun Malang Kotalama. Seorang balita tewas tertimpa reruntuhan rumah akibat tertabrak kereta tersebut dan satu korban lainnya mengalami patah tulang kaki.[20]
Layanan kereta api
Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025 revisi per 21 Maret 2025.[21]
↑"Selayang Pandang Daerah Operasi 8 Surabaya"(PDF) (Document). Surabaya: PT Kereta Api Indonesia (Persero). 21 Januari 2020. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2020-10-08. Diakses tanggal 4 Oktober 2020. ; ; ;
↑Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
↑"Stasiun Malang". Heritage – Kereta Api Indonesia. PT Kereta Api Indonesia (Persero). 2017.
↑de Jong, Michiel van Ballegoijen (1993). Spoorwegstations op Java. de Bataafse Leeuw.
Untuk melihat daftar stasiun secara lengkap, dapat mengklik "(Kategori/Daftar)" pada masing-masing daerah atau pranala artikel. Templat ini meringkas daftar stasiun yang dioperasikan oleh KAI (hanya stasiun utama yang diswakelola oleh perusahaan induk) dan operator KA lainnya (hanya pranala).