1.067mm (3ft6in) 750mm (2ft5+1⁄2in) (Atjeh Tram) 600mm (1ft11+5⁄8in) (Trem SS di Jawa)
Panjang jalur
2.742,5km 1.704,1mi (1928)
Staatsspoorwegen (bahasa Belanda untuk Kereta Api Negara, nama lengkap: Dienst der Staatsspoor- en Tramwegen in Nederlandsch–Indië (Layanan Kereta Api dan Trem Negara di Hindia Belanda, SS en T), umumnya disingkat SS) adalah perusahaan kereta api milik negara yang dikelola oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Perusahaan ini dilebur ke dalam Kereta Api Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Pesaing utamanya adalah Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) perusahaan kereta api swasta yang mengoperasikan jalur dengan lebar rel sepur standar dan sepur tanjung.
Staatsspoorwegen mengoperasikan rel kereta api dengan tiga ukuran rel: 3 kaki 6 inci (1.067 mm) untuk jalur utama, dan 750 mm (2 kaki 5+1⁄2 inci) dan 2 kaki (610 mm) untuk jalur trem.
Akan tetapi, NIS mengalami defisit suntikan modal semenjak beroperasinya dua jalur kereta api yang dibangun tersebut. Bahkan perusahaan ini berkali-kali terancam bangkrut.[1]
Meski Jawa dikatakan sebagai pulau termaju di Hindia Belanda, akses transportasi pada saat itu masih terbatas karena masih menggunakan moda jalan raya yang hanya ditopang oleh pedati, kereta kuda, serta sampan untuk mengarungi sungai. Biaya pengangkutan dengan moda-moda tersebut sangat mahal karena produk-produk pertanian dan perkebunan yang dijual ke kota besar sangat tidak laku, karena tidak lagi higienis sedangkan pengangkutan lama.[1]
Pada akhirnya, dengan dikukuhkannya Staatsblad No. 141, atas permohonan dari penerus P.P. van Bosse yaitu Fransen van der Putte dan Baron van Goldstein, maka pemerintah resmi turun tangan membangun jalur kereta api tersebut dan dibentuklah perusahaan yang kemudian dikenal dengan nama Staatsspoorwegen Nederlandsch-Indië (Perusahaan Kereta Api Negara Hindia Belanda). Perusahaan ini berdiri pada tanggal 6 April 1875 berdasarkan pengukuhan staatsblad tersebut.[2][3]
Maarschalk, D. sebagai Direktur Utama pertama SS
Direktur Staatsspoorwegen 1875 s.d. 1924
Berikut adalah nama-nama direktur atau pimpinan perusahaan Staatsspoorwegen dari tahun 1875 sampai dengan 1919.[1]
Pembangunan jalur kereta api periode pertama ini terbagi menjadi, yaitu lintas Bogor (Buitenzorg)–Bandung–Banjar–Kutoarjo–Yogyakarta, Surabaya Kota–Sidoarjo–Tulangan–Mojokerto–Madiun–Solo Jebres, Sidoarjo–Pasuruan, Bangil–Malang, dan Probolinggo-Klakah.
Tokoh yang menjadi pemegang kunci sukses jalur kereta api tersebut adalah David Maarschalk, mantan perwira Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL), yang kemudian beralih profesi menjadi teknisi perkeretaapian. Bersama Johannes Groll sebagai rekan sejawatnya yang juga ditunjuk oleh Belanda menjadi petinggi SS (Maarschalk adalah Kepala Jawatan SS yang pertama), Maarschalk mendesain peta rute jalur-jalur kereta api tersebut sampai turun dari jabatannya pada tahun 1880.[1][4] DI samping menjadi pemimpin pembangunan lintas tersebut, Maarschalk juga pernah menyusun ide membangun jalur kereta api Transvaal di Afrika Selatan pada tahun 1884, dengan mendapat inspirasi dari jalur-jalur ini.[4]
Perusahaan ini awalnya merupakan jawatan terpisah. Namun pada tanggal 1 Maret1888 SS dilebur ke dalam Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda). Pada masa itu, SS dipimpin Inspektur Jenderal. Akan tetapi pada tanggal 1 Juli1909 Jawatan Kereta Api dan Trem Negara (Staatsspoor en Tramwegen) dilebur dalam Departemen Perusahaan Negara (Gouvernements Bedrijven) dan dipimpin oleh Kepala Inspektur.[5]
Strukturisasi dilakukan tanggal 1 November1917 ketika Jawatan ini terorganisasi menjadi bagian-bagian yang dipimpin oleh Kepala Bagian. Kepala Jawatan Kereta Api dan Trem dipimpin oleh Direktur Perusahaan Negara yang memegang pimpinan dalam pemasangan, persediaan, dan lingkungan eksploitasi jalan kereta api dan trem. Pengawasan umum terhadap kereta dan trem ditangani oleh Jawatan tersendiri, dan telah melakukan pengawasan terhadap perusahaan kereta api milik pemerintah dan swasta, serta dipimpin oleh Kepala Dinas Pengawasan Kereta Api dan Trem yang berada di bawah Departemen Perusahaan Negara.[5]
Pada tanggal 15 Maret1924 Kepala Dinas Pengawasan Kereta Api dan Trem yang dijabat oleh Ir. Staargard seizin Pemerintah Belanda membagi wilayah pengawasan SS menjadi tiga: Eksploitasi Barat, Tengah, dan Timur, dipimpin oleh Kepala Inspektur. Akan tetapi pada awal pelaksanaanya, Kepala Inspektur ini hanya sekadar pelaksana saja dan tunduk kepada Kepala Inspektur di Bandung. Restrukturisasi dilakukan kembali pada 1 April1934.[5]
Perkembangan di luar Jawa
Dalam mengembangkan perkeretaapian di luar Pulau Jawa, Staatsspoorwegen membentuk beberapa divisi-divisi untuk wilayah Pulau Sumatra dan Pulau Sulawesi, yakni:
Untuk merayakan 50 tahun perusahaan ini, Penerbit Topografische Inrichting menerbitkan karya S.A. Reitsma, Wali kota Bandung yang menjabat saat itu, Gedenkboek van Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië yang mulai ditulis pada akhir tahun 1924. Dalam buku ini terlampir sejarah singkat dari perusahaan tersebut, rangkuman laporan-laporan tahunan SS, serta sejumlah foto kereta api SS. Buku ini kemudian disediakan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Belanda dan bahasa Melayu Rendah. Versi yang berbahasa Belanda lebih panjang, tebalnya 216 halaman, sedangkan yang berbahasa Melayu Rendah tebalnya sebesar 94 halaman.[1]
Pada tahun yang sama, Stasiun Bandung yang menjadi stasiun utama di jalur SS juga dipasangi tugu peringatan 50 tahun SS. Kini tugu tersebut telah diganti dengan monumen lokomotif TC10 yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan stasiun ini.[6]
Setelah pemerintah Hindia Belanda menyatakan mundur dan menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, sejak saat itu, perusahaan kereta api di Indonesia langsung diambil alih oleh Pemerintah Jepang dengan mengubah nama menjadi Rikuyu Sokyuku (Dinas Kereta Api). Pada saat kekuasaaan Jepang, kegiatan operasional kereta api difokuskan untuk kepentingan perang dan pengangkutan hasil tambang batu bara guna menjalankan mesin-mesin perang mereka. Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Lalu, beberapa hari kemudian stasiun dan kantor pusat kereta api didaulat secara langsung dari kekuasaan Pemerintah Jepang. Pada tanggal 28 September 1945 merupakan puncak pengambil alihan Kantor Pusat Kereta Api di Bandung. Maka dari itu diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia dan sekaligus ditandai sebagai berdirinya Djawatan Kereta Api Indonesia Republik Indonesia (DKARI). Pada tahun 1946, Belanda kembali ke Indonesia dan membentuk kembali perusahaan kereta api di Indonesia yang bernama Staatsspoorwegen/Verenigde Spoorwegbedrif(SS/VS), yaitu gabungan SS dan seluruh perusahaan kereta api swasta, kecuali Deli Spoorweg Maatschappij.[7]
Referensi
123456Reitsma, S.A. (1925). Boekoe peringetan dari Staatsspoor-en-Tramwegen di Hindia Belanda. Weltevreden: Topografische Inrichting.
12Verslag der handelingen van Staten-Generaal (1873-1877). Ned. Staten-Generaal. 1874.
12P.,, Bossenbroek, M. The Boer War (Edisi First Seven Stories Press edition). New York, NY. ISBN9781609807474. OCLC956957507.Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)