Stasiun Kediri (KD) adalah stasiun kereta api kelas besar tipe C yang terletak di Balowerti, Kediri, Kediri dan termasuk dalam pengelolaan Daerah Operasi VII Madiun dan KAI Commuter dengan jarak 28,6 km arah selatan dari Kertosono. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, berada sekitar 300 meter ke arah timur dari Jalan Dhoho. Sebagai stasiun besar, seluruh perjalanan kereta api melalui jalur percabangan Kertosono–Malang di lintas selatan Pulau Jawa berhenti di stasiun ini.
Berdasarkan jumlah penumpang kereta api antarkota yang dirilis PT Kereta Api Indonesia (KAI) antara Januari–Agustus 2024, Stasiun Kediri mencatatkan volume penumpang kereta api sebanyak 512.461 penumpang berdasarkan total jumlah penumpang naik maupun turun yang terdiri atas 202.153 penumpang kereta api jarak jauh dan 310.308 penumpang kereta api lokal Commuter Line. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yakni sebanyak 454.741 penumpang, dengan 171.054 penumpang kereta api jarak jauh dan 283.687 penumpang kereta api lokal Commuter Line.[3]
Sejarah
Stasiun Kediri sekitar dekade 1880-an.
Stasiun Kediri merupakan stasiun besar, dibuka oleh Staatsspoorwegen (SS) bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api ruas Kertosono–Kediri pada 13 Agustus 1882. Setahun kemudian, jalur kereta api menuju Stasiun Tulungagung dioperasikan pada 2 Juni 1883.[4][5]
Status bangunan stasiun yang masih asli dan tidak mengalami perubahan sedang dikaji sebagai cagar budaya oleh BPCB Jawa Timur.[6] Meskipun berstatus cagar budaya, sebagian dari bangunan ini telah dilakukan renovasi dan ditingkatkan untuk menampung fasilitas lain. Namun, ornamen bangunan stasiun pada bagian atap yang menjadi ciri khas sudah tidak tampak. Ornamen yang serupa juga terdapat di bagian depan Stasiun Mojokerto.
Bangunan dan tata letak
Stasiun Kediri memiliki enam jalur kereta api dengan jalur 1 merupakan sepur lurus dan menggunakan sistem persinyalan mekanik. Di sebelah tenggara stasiun terdapat sub depo lokomotif yang pernah digunakan sebagai tempat penyimpanan dan perawatan lokomotif KA Krakatau (sekarang bernama KA Singasari), Brantas, dan Kahuripan. Namun, sejak rute ketiga kereta api tersebut diperpanjang hingga Blitar per 1 April 2017,[7] sub depo beserta ketiga jalur parkir tersebut sudah jarang digunakan.
Emplasemen Stasiun Kediri dilihat dari arah utara. Terdapat corong air di sebelah kanan yang dahulu digunakan untuk keperluan lokomotif uap
Arsitektur stasiun ini bergaya Indische Empire, sama seperti stasiun SS lainnya, yaitu memiliki dinding tinggi serta memiliki ornamen besi tempa serta jalusi besi.[8] Pola-pola ruangan disusun secara linier dari utara ke selatan menghadap ke arah barat memberikan karakter horizontal yang kuat. Dinding pada bagian luar dan dalam terbuat dari batu bata setebal 30 sentimeter dan dicat putih. Pintu-pintu stasiun terbuat dari kayu, kaca, dan sebagian berupa pintu dan jendela krepyak.[9]
Ke arah selatan, terdapat rel menuju Jombang melalui Pare yang terletak di ujung selatan stasiun dan masih dapat terlihat, tetapi kini sudah tidak aktif dan wesel sudah lama dicabut. Selain itu, terdapat pula percabangan jalur di sebelah selatan stasiun menuju Depo Pertamina Kediri yang kini juga sudah tidak aktif.
Di sebelah barat daya emplasemen stasiun ini terdapat sebuah bangunan yang diyakini merupakan bekas gudang garam yang dihubungkan dengan emplasemen, tetapi kini sudah menjadi gudang elektronik. Emplasemen beserta gudang tersebut menjadi sumber inspirasi bagi logo perusahaan rokok nasional asal Kediri dengan nama yang sama.[10][11][12]
Berdasarkan peta tahun 1913, terdapat jalur kereta api pendek milik pabrik minyak nabati yang kelak bernama Nabatiyasa. Jalur kereta api tersebut bermula dari pabrik minyak di utara Stasiun Kediri, kemudian berjalan berdampingan di sisi barat jalur utama. Jalur kereta api pabrik tersebut berujung di dua sepur badug yang terletak di utara bangunan stasiun dan tidak terhubung dengan jalur utama Kertosono–Bangil.[13] Jejak jalur tersebut telah hilang, termasuk pabrik minyaknya yang kini menjadi pusat perbelanjaan Kediri Town Square.
Di depan stasiun ini, sejak 2024, berdiri monumen lokomotif uapC1140,[14] yang dipindahkan dari Museum Kereta Api Ambarawa. Monumen tersebut diresmikan pada 19 September 2024, yang dilaksanakan oleh Pj. Wali Kota Kediri dan Direktur Utama KAI, Didiek Hartantyo. Di samping memasang monumen lokomotif uap ini, KAI juga melakukan penataan halaman parkir stasiun.[15]
Pada 2025, dilakukan perpanjangan dan peninggian pada peron sisi maupun peron pulau antara jalur 1 dan 2 di stasiun ini sehingga memudahkan penumpang naik turun kereta api. Selain itu, dibangun pula kanopi tambahan agar penumpang di ujung peron tersebut tidak lagi kepanasan ataupun kehujanan saat menunggu maupun naik turun kereta api.
Layanan kereta api
Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025 revisi per 21 Maret 2025.[16]
Pada 7 April 2003 pukul 17.20, pendukung Arema Malang (Aremania) melemparkan batu ke peron Stasiun Kediri saat menaiki kereta api Matarmaja menuju Surakarta. Kejadian ini mengakibatkan tiga orang luka pada bagian kepala, tiga ruangan dan satu toko di dalam stasiun, serta beberapa rumah penduduk mengalami kerusakan parah. Stasiun Kediri diperkirakan mengalami kerugian sebesar lima juta rupiah.[17]
Pada 16 Januari 2008 pukul 21.45, ratusan Aremania mengamuk di Stasiun Kediri karena kekalahannya melawan Persiwa Wamena dalam Babak 8 Besar Liga Indonesia. Kejadian ini mengakibatkan kursi pada ruang tunggu mengalami kerusakan parah dan jendela stasiun pecah.[18]
Galeri
Peron Stasiun Kediri, 2019
Stasiun Kediri dilihat dari arah selatan, 2009
Tampak depan Stasiun Kediri dilihat dari arah utara, 2019
Tampak depan Stasiun Kediri dilihat dari arah selatan, 2020
Catatan kaki
↑Data penumpang harian diperoleh dari menjumlahkan angka penumpang naik dan turun, kemudian dibagi 245.
↑Staatsspoorwegen Ned. Indië (1896). Statistiek van het vervoer op de spoorwegen en tramwegen met machinale beweegkracht in Nederlandsch-Indië. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken.
↑Pincoffs, L. dkk. (1873). Spoorwegen op Java. Rotterdam: Commissie voor de Spoorwegen op Java.
↑Negara, Fadjrin Kurnia@Kementerian Badan Usaha Milik. "Kementerian BUMN". Kementerian BUMN (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2019-12-27. Diakses tanggal 2019-12-27.
↑Oktarisa, Y.M.; Antariksa; Ridjal, A.M. (2017). "Pelestarian Bangunan Stasiun Kereta Api Kediri"(PDF). Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur. 5 (1). Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2018-11-01. Diakses tanggal 2019-12-27.
↑Riyanto, B. (2019). SIASAT MENGEMAS NIKMAT: Ambiguitas Gaya Hidup dalam Iklan Rokok Di Masa Hindia Belanda sampai Pasca Orde Baru 1925-2000. Yogyakarta: Lembaga Studi Realino. ISBN9786025607615. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Untuk melihat daftar stasiun secara lengkap, dapat mengklik "(Kategori/Daftar)" pada masing-masing daerah atau pranala artikel. Templat ini meringkas daftar stasiun yang dioperasikan oleh KAI (hanya stasiun utama yang diswakelola oleh perusahaan induk) dan operator KA lainnya (hanya pranala).