Karena stasiun ini merupakan stasiun besar, hampir semua kereta api penumpang yang melintas di lintas utara Jawa berhenti di stasiun ini. Kereta api barang dahulu juga berhenti di sini untuk menunggu bersilang dengan KA lain, tetapi kini tidak ada lagi kereta api barang selain kereta api angkutan logistik ONS yang berhenti di stasiun ini setelah pengoperasian jalur ganda. Kemudian, sejak Gapeka 2025 berlaku, satu-satunya kereta api penumpang yang melintas langsung/tidak berhenti di stasiun ini adalah Kereta api Anggrek.
Ke arah barat stasiun ini, sebelum Stasiun Sragi, terdapat bekas Halte Waru yang sudah dinonaktifkan karena tingkat okupansi yang rendah.
Sejarah
Kereta api semen saat meninggalkan Stasiun PekalonganEmplasemen Stasiun Pekalongan sisi barat
Dalam verslag yang dibuat oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), jalur kereta api ruas Pemalang–Pekalongan selesai dibangun, tepatnya pada 1 Desember 1898. Kemudian, pada 1 Februari 1899, jalur menuju Pemalang telah selesai dibangun.[3]
Dahulu, terdapat jalur kereta api menuju Kedungwuni hingga Wonopringgo yang diresmikan pada 7 Februari 1916.[4] Namun, jalur tersebut dibongkar oleh pekerja romusha Jepang pada saat Perang Dunia II. Selain itu, terdapat jalur kereta api menuju Pelabuhan Pekalongan yang sudah lama tidak aktif.
Bangunan dan tata letak
Pada awalnya, stasiun ini memiliki tujuh jalur kereta api dengan jalur 1 merupakan sepur lurus. Setelah jalur ganda dari stasiun ini hingga Stasiun Sragi dioperasikan mulai 6 Desember 2012[5] dan kemudian hingga Stasiun Ujungnegoro mulai 3 Juli 2013,[6] tata letak stasiun ini sedikit diubah dengan menjadikan jalur 1 sebagai sepur belok, jalur 2 dan 3 sebagai sepur lurus berturut-turut untuk arah Jakarta/Bandung dan arah Surabaya, serta jalur 4 yang lama dibongkar karena dilakukan penambahan peron baru sehingga jumlah jalur berkurang menjadi enam. Stasiun ini juga mempunyai depo lokomotif yang sudah lama dinonaktifkan dan gudang DJKA yang terletak di selatan stasiun.
Bersama dengan Stasiun Tegal, kini Stasiun Pekalongan memiliki fitur face recognition gate atau boarding berbasis pengenalan wajah.[7]
Jalur 6
←
Sepur belok
→
↔
Memiliki jalur akses dari dan ke Gudang dan Kemenhub
Pada 8 Juli 2013, gerbong ke-9 dari Rangkaian KA 140 Tawang Jaya jurusan Jakarta–Semarang anjlok dan terlepas dari gerbong ke-8 yang juga anjlok di KM 87+550, sekitar 300 meter dari Stasiun Pekalongan. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, tetapi terjadi rintang jalan selama 12 jam 55 menit.
Pada 13 September 2013, rumah di Kelurahan Bendan—sebelah barat Stasiun Pekalongan—ditabrak kereta api.[9]
Pada 6 Maret 2021, tembok dan atap ruang PPKA dan laktasi Stasiun Pekalongan ambruk. Ambruknya tembok stasiun diduga karena usia bangunan. Akibat kejadian ini, ruang tunggu stasiun menjadi kotor. Terkait dengan hal tersebut, PT KAI Daop IV memutuskan merenovasi tembok stasiun.[11]
Untuk melihat daftar stasiun secara lengkap, dapat mengklik "(Kategori/Daftar)" pada masing-masing daerah atau pranala artikel. Templat ini meringkas daftar stasiun yang dioperasikan oleh KAI (hanya stasiun utama yang diswakelola oleh perusahaan induk) dan operator KA lainnya (hanya pranala).