Desain asli stasiun ini disesuaikan dengan kebutuhan kereta api di saat itu, yang pada dasarnya tidak terlalu besar. Bangunan stasiun ini terdiri dari dua lantai; yang bawah digunakan untuk pelayanan penumpang kereta api, sedangkan yang atas adalah kantor administrasi DSM. Stasiun ini juga sudah diperlengkapi dengan kanopi kayu pada peron jalur 1-nya. Selain itu, juga dibuatkan fasilitas parkir untuk kereta kuda, gerobak, dan angkong. Panjang bangunannya sendiri sebesar 37 meter (121ft).[8]
Seiring perkembangan Kota Medan, dibangun jalur kereta api baru dengan rute Medan–Serdang–Perbaungan dan Binjai–Selesai sehingga jalur DSM bertambah dari 55 menjadi 103 km. Stasiun Medan lambat laun semakin ramai, tetapi bangunan generasi Stasiun Medan, menjadi terasa kekecilan sehingga pada 1892, stasiun ini diperluas. Dibangun dua sayap baru yang ditambahkan di kiri-kanan bangunan eksisting sehingga menambah panjang fasad menjadi 50 meter (160ft). Kanopi peron jalur 1 juga diperpanjang, sedangkan tata letak lantai dasar diubah.[9]
Bangunan generasi pertama Stasiun Medan pascaperluasan 1916
Pada tahun 1916 kebutuhan mendesak untuk memperbesar untuk kedua kalinya bangunan Stasiun Medan bisa dipenuhi karena bertambahnya luas perkebunan dan perkotaan. Pada tahun tersebut, panjang jalur DSM menjadi 258 km, dan masih terus diupayakan meski Perang Dunia I tengah berkecamuk. Tambang minyak Pangkalan Brandan, perkebunan baru Tebing Tinggi dan Kisaran, serta pelabuhan Tanjungbalai terhubung kereta api. Perluasan besar-besaran gedung stasiun pada tahun 1916 juga membawa perubahan penting pada bangunan lama. Pertama, tata letak ruangan di lantai dasar dirombak total untuk mengakomodasi ruang tunggu kelas satu dan dua. Kedua, ruang terbuka antara sayap bangunan kiri maupun kanan dengan bangunan tengah diubah menjadi emperan berkanopi dan dinaikkan setinggi lantai. Selain itu, dilakukan perpanjangan bangunan sebesar 42 m, juga dilengkapi dengan tangga depan, yang dilakukan di sisi selatan. Administrasi DSM yang semula berlokasi di Stasiun Medan telah pindah ke kantor pusat dan di kantor telepon, sehingga kantor di lantai 2 stasiun diubah menjadi tempat dinas lapangan. Kantor barang dibangun di paling selatan stasiun.[9]
Peron jalur 1 diperbesar dan dibangun underpass antara peron 1 dan 2. Antara tahun 1916 dan 1938 hanya terjadi sedikit perluasan kantor barang, sementara beberapa perubahan kecil juga dilakukan pada interior stasiun.[9]
Generasi kedua
Bangunan Stasiun Medan generasi kedua
Pada tahun 1938, DSM merasa bahwa bangunan eksisting Stasiun Medan sudah tidak sesuai dengan kondisi Kota Medan yang semakin ramai. Terdapat empat faktor yang menyebabkan DSM berkeinginan untuk mengganti seluruh bangunan Stasiun Medan. Pertama, usia bangunan yang sudah tua, yang membuat atap, lantai, dan dinding kayu di lantai 1 harus diganti. Kedua, terdapat ruangan stasiun yang dirasa terlalu besar maupun kecil. Ketiga, perlu diadakan renovasi kanopi peron yang sudah tua karena kayu-kayunya dimungkinkan lapuk termakan usia. Keempat, arsitektur bangunan lama yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada masa itu.[9]
Empat poin tersebut menyebabkan manajemen DSM mengajukan proposal kepada Dinas Jalan Bangunan untuk merombak besar-besaran bangunan utama Stasiun Medan, dengan konsep arsitektur modern era 1930-an. Untuk melaksanakan proyek ini, sejumlah sketsa proyek telah disusun, tetap sebelum konsep finalnya dibuat, Dinas Pekerjaan Umum Kota Medan meminta saran mengenai hal ini. Karena sangat memengaruhi tata ruang kota yang direncanakan Pemerintah Kota Medan kala itu, maka sejumlah koreksi dan perbaikan dilaksanakan. Proyek ini pun dimulai Juli 1938 dengan membongkar bangunan lama stasiun.[10]
Pada area pelayanan kereta api, atap peron jalur 1 disambung dengan gedung stasiun. Peron kedua sudah dilengkapi kanopi sehingga tidak perlu diubah atau diperbarui. Bangunan dibuat tidak terlalu tinggi maupun pendek, sehingga ukuran ruangannya disesuaikan menurut peruntukannya. Perombakan tata letak bangunan ditujukan pada ruang kepala stasiun, administrasi, dan keamanan. Kemudian, perombakan ruang tunggu, loket, dan pelayanan bagasi agar lebih dekat pintu keberangkatan/kedatangan serta terowongan bawah tanah agar calon penumpang tidak perlu berjalan kaki jauh. Selain itu, dilakukan penataan ruang tunggu kelas satu, kelas dua, dan toilet kelas satu di sebelah selatan hall keberangkatan, agar penumpang kelas satu dapat lebih nyaman. Perubahan minor dilakukan pada kantor pergudangan di bagian paling selatan stasiun (dekat Titi Gantung).[11]
Lantai 2 juga dirombak, karena DSM tidak lagi membutuhkan seluruh ruangan sebagai kantor, dan memutuskan untuk menyewakan sebagian ruangan tersebut. Pintu masuk baru ditempatkan di bagian kanan ruang tunggu kelas tiga. Tangga dibangun di selatan ruang tunggu kelas tiga yang berlokasi di utara hall keberangkatan, untuk menuju lantai 2. Bangunan stasiun generasi kedua ini rampung pada 1939.[11]
Generasi ketiga
Tampak depan bangunan stasiun Medan
Sehubungan dengan transformasi Kota Medan menjadi kota metropolitan, Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) memutuskan untuk mengganti bangunan Stasiun Medan. Pada tahun 1984, diteken pelepasan aset pergudangan di atas lahan stasiun senilai Rp4,2 miliar, berdasarkan Surat Persetujuan Menteri Keuangan No. 5/87/MK.011/84 tertanggal 16 Januari, Surat Persetujuan Menteri Dalam Negericq Dirjen Agraria No. 393/1561/57 tertanggal 6 Februari, serta Surat Persetujuan Menteri Perhubungan No. A/635/KA.102/MHB tertanggal 26 Juli. Ketiga surat ini diurus oleh Kantor Pusat PJKA di Bandung, sedangkan Eksploitasi Sumatera Utara melaksanakan proyek tersebut. Proyek ini menempati lahan seluas 40.200 meter persegi (433.000sqft), sedangkan bangunan generasi ketiga ini akan memiliki empat lantai.[12]
Memulai proyek tersebut, bangunan generasi kedua stasiun akhirnya dibongkar. Yang tersisa dari kompleks bangunan generasi kedua adalah menara jam di bagian muka stasiun, keberadaan depo lokomotif yang masih berarsitektur Belanda, bagian atap peron yang menaungi jalur 2 dan 3, serta jembatan gantung ("Titi Gantung") di ujung sebelah selatan stasiun.
Selama beberapa tahun ke depan, Stasiun Medan telah mengalami perombakan total dari bentuk aslinya. Hingga kini stasiun ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Renovasi besar terakhir dilakukan pada tahun 2013 dengan dibangunnya gedung baru untuk kereta api bandara (sebagai City Railway Station) serta perombakan desain gedung eksisting untuk layanan kereta regional. Stasiun ini juga memiliki jalur layang (arah Pulu Brayan dan Bandar Khalipah) yang pembangunannya dimulai pada tahun 2016.[13]
Bangunan dan tata letak
Suasana dari barat daya Stasiun Medan
Stasiun Medan terlihat dari Jembatan Titi Gantung
Emplasemen Stasiun Medan
Stasiun Medan memiliki tiga pintu masuk/keluar, yaitu sisi Lapangan Merdeka merupakan pintu masuk/keluar untuk kereta api antarkota dan lokal. Pintu lainnya, yakni sisi Lapangan Merdeka ,merupakan pintu masuk/keluar untuk layanan kereta bandara. Sisi ketiga, sisi Jalan Jawa/Mall Centre Point merupakan pintu keluar untuk layanan kereta bandara.
Stasiun ini awalnya memiliki sembilan jalur kereta api dengan jalur 1 merupakan sepur lurus dari dan ke arah Binjai, sedangkan jalur 2 merupakan sepur lurus dari dan ke arah Pulu Brayan-Belawan. Ketika dibangunnya rel layang baru yang memakan jalur 6 dan 7, otomatis jumlah jalur stasiun kereta api ini berkurang menjadi tujuh. Begitu proyek rel layang baru ini selesai, jumlah jalurnya kembali menjadi sembilan dengan 2 jalur berada di atas. Selain itu, sistem persinyalan elektrik yang lama (tipe GL1) sudah digantikan dengan yang terbaru produksi PT Len Industri.
Di samping bangunan stasiun terdapat monumen lokomotif uap bertipe 2-6-4T buatan Hartmann (kemudian bernama Sächsische Maschinenfabrik) di Chemnitz, Jerman tahun 1914. Stasiun ini memiliki depo lokomotif yang merawat lokomotif besar jenis diesel elektrik maupun hidraulis dan juga Pengawas Urusan Kereta (PUK).
Rel yang terdapat di stasiun ini membujur dari utara ke selatan. Rel yang mengarah ke selatan merupakan rel dengan arah perjalanan ke Tebing Tinggi, Kisaran, Tanjung Balai, Siantar, dan Rantau Prapat, sedangkan rel yang mengarah ke utara yang bercabang sekitar 850 m di utara stasiun merupakan arah perjalanan ke Belawan, Binjai, dan Besitang. Dari Stasiun Medan, dahulu terdapat juga percabangan rel ke Pancur Batu dan Delitua–Batu, yang sudah nonaktif.
Layanan kereta api
Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2023.[14]
Pada tanggal 22 Desember 2008 pukul 16.30 WIB, Kereta api Putri Delianjlok menjelang masuk Stasiun Medan berakibat dari patahnya bantalan rel. Hal ini mengakibatkan dua unit kereta dan lokomotif terguling, dan dua orang terluka.[16]
Pada tanggal 15 Desember 2015, KRD Srilelawangsa menabrak sepur badug usai diuji coba. Tidak ada korban jiwa pada insiden ini.[17]
Galeri
Emplasemen Stasiun Medan (lk 1918)
Stasiun Medan sebelum penambahan gedung baru dan jalur layang (2010).
Untuk melihat daftar stasiun secara lengkap, dapat mengklik "(Kategori/Daftar)" pada masing-masing daerah atau pranala artikel. Templat ini meringkas daftar stasiun yang dioperasikan oleh KAI (hanya stasiun utama yang diswakelola oleh perusahaan induk) dan operator KA lainnya (hanya pranala).