4 (satu peron sisi yang rendah dan tiga peron pulau yang tinggi )
Jumlahjalur
9
jalur 2: sepur lurus dari dan ke arah Bandung maupun Cilacap
jalur 4: sepur lurus ke arah Yogyakarta dan Surabaya Gubeng/Surabaya Kota
jalur 5: sepur lurus ke arah Cirebon
Layanan
Hampir semua kereta api antarkota lintas selatan Jawa maupun aglomerasi berhenti di stasiun ini, kecuali kereta api Argo Dwipangga, Argo Lawu, Taksaka (jadwal pagi dan siang), dan Manahan (jadwal siang arah Solo).
Stasiun yang terletak di jalur kereta api lintas selatan Pulau Jawa, hal ini menjadikan stasiun ini merupakan stasiun yang memiliki tingkat lalu lintas kereta api terpadat di Daerah Operasi V Purwokerto sekaligus teramai di kabupaten tersebut, dan untuk mengakomodasinya, emplasemen stasiun ini dibuat sepanjang sekitar 900 m. Emplasemen stasiun ini merupakan yang terpanjang di Daerah Operasi V Purwokerto. Jalur kereta api terbagi tiga jurusan, yaitu Surabaya, Bandung, dan DKI Jakarta.
Saat ini lintas jalur pada stasiun ini menuju ke arah DKI Jakarta dan Surabaya sudah berupa jalur ganda, dengan adanya jalur ganda tersebut, rute DKI Jakarta—Surabaya melalui Purwokerto maupun sebaliknya sudah dapat ditempuh selama 10 jam saja. Secara bertahap jalur ganda tersebut akan disambungkan hingga ke Surabaya via Mojokerto—Wonokromo setelah segmen Cirebon—Mojokerto resmi diluncurkan pada 8 Oktober 2020 di Stasiun Solo Balapan.[5]
Sejarah
Stasiun Kroya dibangun bersama dengan jalur kereta api Cilacap—Yogyakarta dan mulai dibuka pada tanggal 20 Juli 1887. Pembangunan ini juga meliputi jalur cabang menuju Kota Purworejo yang dibuka pada tanggal yang sama.[6]
Sejak diresmikannya kereta api Eendaagsche Expres (ekspres satu hari) oleh Staatsspoorwegen (SS) pada tanggal 1 November 1929, stasiun ini digunakan sebagai tempat penggabungan rangkaian Eendaagsche Expres yang melayani rute Batavia—Soerabaja pp dengan pengumpannya (KA feeder) yang datang dari Bandung.[7]
Awalnya stasiun ini hanya terdiri atas sebuah bangunan utama dan peron yang memiliki kanopi yang hampir mirip dengan Stasiun Manggarai (lihat gambar). Dengan meningkatnya volume angkutan penumpang di stasiun ini, bangunan stasiun ini kemudian diperbesar hingga akhirnya diganti dengan atap overcapping yang memayungi jalur 1—3 pada dekade tahun 1990-an. Kanopi lama yang mirip dengan Stasiun Manggarai ini sempat muncul dalam film Kereta Api Terakhir.
Bangunan dan tata letak
Emplasemen Stasiun Kroya dengan overcapping baru, 2020
Stasiun Kroya memiliki sembilan jalur kereta api. Awalnya jalur 2 merupakan sepur lurus arah Bogor maupun arah Yogyakarta; jalur 3 merupakan sepur lurus dari dan ke arah Jakarta Kota; jalur 1, 4, dan 5 digunakan sebagai jalur untuk persilangan dan penyusulan kereta api; jalur 6 dan 7 sebagai jalur untuk parkir KA barang dan KA ketel; serta jalur 8 dan 9 sebagai jalur penghubung ke Depo Lokomotif, bengkel KA, dan UPT Depo Mekanik. Setelah jalur ganda dioperasikan pada segmen lintas stasiun ini hingga Stasiun Purwokerto per 5 Maret 2019[8][9] dan kemudian petak stasiun ini hingga Stasiun Kemranjen per 31 Juli 2019,[10] jalur 2 kini hanya dijadikan sebagai sepur lurus jalur tunggal dari dan ke arah Bandung maupun Cilacap saja, jalur 4 dijadikan sebagai sepur lurus jalur ganda arah Surabaya, jalur 5 dijadikan sebagai sepur lurus jalur ganda arah Cirebon, serta jalur 1, 3, dan 6 digunakan sebagai jalur untuk persilangan dan penyusulan kereta api.
Terdapat depo lokomotif di sebelah utara kompleks stasiun. Selain melayani perawatan lokomotif yang singgah, depo ini dahulu sempat digunakan untuk menyimpan lokomotif dan rangkaian KA Serayu. Namun, sejak rute perjalanan KA Serayu diperpanjang hingga Stasiun Purwokerto, otomatis rangkaian kereta tersebut dipindahkan alokasinya ke Depo Kereta Purwokerto.
Terdapat pula bengkel kereta api yang terletak di sebelah barat kompleks stasiun dan merupakan bengkel kereta api terbesar di Daop V. Fungsinya mirip dengan balai yasa, yakni sebagai tempat perbaikan kereta api. Selain sebagai tempat perbaikan, bengkel ini dijadikan sebagai "kandang" untuk sarana kereta penolong milik Daop V.
Sejak jalur ganda tersebut dioperasikan, wujud stasiun ini sudah terlihat berbeda dibanding sebelumnya. Atap overcapping yang memayungi jalur 1—3 stasiun ini telah diganti dengan yang baru dan berukuran lebih besar; menaungi jalur 1—6. Peron stasiun juga telah diperpanjang dan ditinggikan sehingga dapat memuat rangkaian kereta api yang panjang dan semakin memudahkan penumpang naik dan turun di peron stasiun.[11] Sistem persinyalan elektrik lama khas dari Daop V produksi Westinghouse Rail Systems yang telah dipasang sejak 1999 sudah digantikan dengan yang terbaru produksi PT Len Industri.[12] Kini bekas overcapping tersebut telah digunakan kembali di Stasiun Sumpiuh.
Ciri khas
Bersama stasiun lainnya di Daerah Operasi V Purwokerto (kecuali Stasiun Kutoarjo), Stasiun Kroya memperdengarkan variasi lonceng dan lagu keroncong berjudul "Di Tepinya Sungai Serayu" karya Soetedja Poerwodibroto setiap kali terjadi kedatangan kereta api yang singgah melayani penumpang maupun persilangan dan penyusulan antarkereta api.[13]
↑Susanti, D.M. (Januari 2008). Kajian atas Pengelolaan Pengetahuan dalam Pengoperasian Teknologi Persinyalan Kereta Api (Studi Kasus Daop 2 Bandung) (S2). Program Magister Studi Pembangunan, Sekolah Arsitektur, Pengembangan, dan Perencanaan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung.
↑Sugiana, A.; Lee, Key-Seo; Lee, Kang-Soo; Hwang, Kyeong-Hwan; Kwak, Won-Kyu (2015). "Study on Interlocking System in Indonesia"(PDF). Nyeondo Hangugcheoldohaghoe Chungyehagsuldaehoe Nonmunjib (Korean Society for Railway) (46).
12Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
Untuk melihat daftar stasiun secara lengkap, dapat mengklik "(Kategori/Daftar)" pada masing-masing daerah atau pranala artikel. Templat ini meringkas daftar stasiun yang dioperasikan oleh KAI (hanya stasiun utama yang diswakelola oleh perusahaan induk) dan operator KA lainnya (hanya pranala).