PT Multi Agro Kencana Prima PT Tani Musi Persada PT Sumatra Agri Sejahtera PT Tani Andalas Sejahtera PT Wushan Hijau Lestari Lonsum Singapore Pte., Ltd. Agri Investments Pte., Ltd.
PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk atau biasa disingkat menjadi Lonsum, adalah sebuah perusahaan agroindustri yang berkantor pusat di Jakarta, Indonesia. Hingga tanggal 31 Desember 2020, Lonsum mengelola kebun kelapa sawit, karet, kakao, dan teh dengan total luas 116.053 hektar yang tersebar di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi, dan Jawa. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, perusahaan ini pun memiliki kantor wilayah di Medan, Palembang, Makassar, dan Samarinda.[3]
Sejarah
Perusahaan ini memulai sejarahnya pada tahun 1906 saat Harrisons & Crosfield asal London mengelola kebun pertamanya di Indonesia, tepatnya di Medan. Awalnya perusahaan ini hanya menanam karet, teh, dan kakao. Pada tahun 1980-an, perusahaan ini mulai menanam kelapa sawit. Pada tahun 1995, perusahaan ini mulai mengelola kebun kelapa sawit dan karet di Sumatera Selatan.
Harrisons & Crosfield menguasai perusahaan hingga November 1994. Pada tahun itu, mayoritas saham diakuisisi oleh PT Pan London Sumatera Plantation dan Happy Cheer Limited (British Virgin Islands), dua perusahaan milik trio konglomerat top era Orde Baru - Ibrahim Risjad, Henry Pribadi dan Henry Liem dengan harga US$ 273 juta.[4][5] Saat itu Lonsum memiliki sekitar 46.000 ha kebun karet dan sawit, ditambah 19 pabrik pengolahan. Ketiganya lalu membawa Lonsum go public di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya di tahun 1996. Setelah mengalami masalah keuangan pada akhir 1990-an,[6] kondisinya mulai membaik pada awal 2000-an dengan pada 2003 mencatatkan penjualan bersih Rp 1,257 triliun.[7] Tahun 2004, keluarga Pribadi menjual 47% sahamnya kepada raja gula Malaysia, Robert Kuok.[8][9] Kepemilikan penguasa grup Wilmar itu tidak bertahan lama, karena kemudian muncul nama Eddy Kusnadi Sariaatmadja dalam wadah First Durango Singapore Pte. Ltd. Sariaatmadja menguasainya bersama dengan perusahaan investasi Ashmore Assets Management.[10]
Pada 5 November 2007, melalui Salim Ivomas Pratama, Indofood Agri Resources resmi mengakuisisi perusahaan ini. Total akuisisi itu memakan biaya Rp 9,1 triliun, dengan Salim mengakuisisi seluruh saham Ashmore dan First Durango sehingga menguasai 64% saham.[10] Transaksi ini dilakukan dengan skema tukar guling, di mana keluarga Sariaatmadja kemudian mengakuisisi PT Indosiar Karya Media Tbk, pemilik stasiun televisi Indosiar pada awal 2011.[11] Hingga tahun 2020, perusahaan ini mengoperasikan 12 pabrik kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan, dengan total kapasitas pengolahan mencapai 2,6 juta ton Tandan Buah Segar (TBS) per tahun. Perusahaan ini juga mengoperasikan empat lini produksi karet remah, tiga lini produksi karet lembaran, satu pabrik kakao, dan satu pabrik teh. Perusahaan ini pun memiliki sebuah pusat riset dan pengembangan yang diberi nama "Sumatra Bioscience" (SumBio) di Bah Lias, Bandar, Simalungun.[3][12]
Referensi
↑"Dewan Direksi". PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk. Diakses tanggal 28 November 2021.
↑"Dewan Komisaris". PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk. Diakses tanggal 28 November 2021.
1234567"Laporan Tahunan 2020". PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk. Diakses tanggal 28 November 2021.