Letaknya cukup strategis karena berada di dekat perkantoran, termasuk MNC Asia Holding, Soraya Intercine Films, Hitmaker Studios & Rapi Films. Di lantai bawah kompleks stasiun ini dahulu terdapat kios-kios yang ditempati oleh pedagang yang membayar sewa ke PT Kereta Api, tetapi saat ini ruang-ruang komersial tersebut sudah dibongkar.[3][4]
Area sekitar stasiun ini sedang dilakukan renovasi untuk mempererat integrasi antarmoda (dengan Transjakarta), menata kembali pedagang kaki lima sekitar stasiun dan mempermudah akses pejalan kaki. Diperkirakan selesai pada 2021, penataan ini dilakukan di bawah payung PT Moda Integrasi Transportasi Jakarta, perusahaan patungan MRT Jakarta dan PT KAI.[7][8]
Sejarah
Stasiun Gondangdia pada mulanya merupakan sebuah perhentian kecil dengan nama Nieuw Gondangdia yang dibangun sebagai pelengkap Halte Dierentuin (yang terletak di Gondangdia Lama, kelak pada 1942 berubah menjadi Halte Kebon Binatang [KBB][9]). Pada saat itu, Dewan Kota Batavia menganggap lokasi Halte Dierentuin terasa canggung dan tidak praktis terhadap perkembangan kawasan Gondangdia dan Menteng. Sehingga Dewan Kota Batavia memerintahkan Staatsspoorwegen (SS) untuk membangun pemberhentian kereta api baru sebagai pengganti dari Halte Dierentuin. SS membangun 2 halte kecil yang masing-masing terletak di Gondangdia dan Menteng. Proposal halte ini disepakati secara resmi pada akhir September 1925, dan langsung dibangun segera setelahnya hingga rampung pada 1926. Letaknya cukup strategis karena berada di samping kantor N.V. de Bouwploeg (sekarang Masjid Cut Meutia).[10]
Stasiun Gondangdia yang aktif sekarang merupakan stasiun layang di jalur segmen Manggarai-Jakarta Kota. Pada tanggal 5 Juni 1992, PresidenSoeharto beserta Ibu Tien dan jajaran di pemerintahan meresmikan jalur layang tersebut dengan naik KRL dari Gambir menuju Stasiun Jakarta Kota.[11]
Bangunan dan tata letak
Bangunan Stasiun Gondangdia ini modern dengan sentuhan panel berwarna kuning telur yang sampai hari ini masih dipertahankan dan tidak pernah diubah catnya, hanya tiangnya saja yang dicat ulang menjadi kuning jenar. Diketahui, proyek tersebut yang telah dimulai pada Februari 1988 menghabiskan dana sebesar Rp432,5 miliar rupiah dan pada saat diresmikan belum sepenuhnya selesai hingga akhirnya bisa beroperasi penuh setahun kemudian.[12][13]
Menurut kajian JICA, Stasiun MRT Kebon Sirih yang berada di lin MRT Timur-Barat () akan dibangun 300 meter di utara stasiun ini.[14]
Pada budaya populer
Pada tahun 2015, grup musik Duo Anggrek merilis sebuah lagu yang berjudul Cikini Gondangdia, yang judulnya diambil dari Stasiun Cikini dan Stasiun Gondangdia.
Stasiun Gondangdia juga pernah dijadikan sebagai salah satu lokasi pengambilan video musik band asal Yogyakarta, The Rain pada lagu yang berjudul "Ujung Pertemuan" yang dirilis pada tahun 2019.[15]
Insiden
Pada tanggal 21 Januari2026, seorang wanita muda tewas tertabrak langsiranrangkaiankereta api Gajayana dari arah selatan Cipinang menuju Gambir (dengan nomor KA 36), diduga melompat dari peron 1 Stasiun Gondangdia dan mengakhiri hidupnya saat kereta api akan melintas di stasiun ini. Petugas stasiun segera mengevakuasi korban yang denyut jantungnya didapati masih berdetak saat insiden terjadi dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit PGI Cikini. Korban meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.[16]
Galeri
Di bagian dalam stasiun menuju beranda peron.
Fasilitas musala pria di sisi utara stasiun.
Suasana di atas peron stasiun, dengan kereta TM-5809 yang pernah beroperasi
Sinyal (blok) keluar stasiun menuju arah Cikini.
Suasana di sisi utara stasiun.
Tempat penaikan bus Transjakarta Rute 1H di samping titik pengendapan ojek daring.
Tempat penaikan bus Transjakarta Rute 2P pada halte yang ada di sisi selatan stasiun.
Suasana halte sisi selatan stasiun saat malam hari.