Sejak 8 September 2021, stasiun ini dan Stasiun Universitas Pancasila sudah memiliki underpass, yang akan memudahkan akses penyeberangan penumpang, serta dilengkapi lift yang terletak di tengah-tengah kedua sisi peron.[3]
Sejarah
Stasiun Pasar Minggu Baru dirintis pada 1992, tepatnya segera setelah rampungnya jalur ganda segmen Manggarai—Depok. Namun hingga 1996, bangunan stasiun ini sempat mangkrak dan belum bisa digunakan secara penuh. Hingga Juni 1996 saja, menurut surat pembaca dari seorang mahasiswi yang biasa menggunakan KRL Jabotabek, terjadi 5 insiden kecelakaan yang melibatkan penumpang yang bergelantungan di pintu kereta, sehingga 2 tewas dan 3 luka-luka. Ia menyarankan agar Perumka betul-betul serius melarang penumpang bergelantungan di pintu kereta. Soemino Eko Saputro, yang saat itu menjabat sebagai Dirut Perumka, menjawab bahwa operasional stasiun tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengelola proyek jalur ganda KA Jabotabek, bukan Perumka.[4] Alasan yang menyebabkan Stasiun Pasar Minggu Baru belum bisa melayani penumpang karena pada waktu itu, belum ada moda transportasi lain yang terkoneksi dengan stasiun ini. Akibatnya, yang bisa menjadi penumpang rutin hanyalah warga sekitar stasiun.[5]
Stasiun Pasar Minggu Baru akhirnya dibuka penuh 2 Desember 1996, melalui proses acara tumpengan kecil-kecilan yang dilakukan oleh Kepala Daop I Jakarta.[6] Dahulu, kedua peron stasiun tidak terhubung satu sama lain, membuat penumpang harus membayar lagi jika harus berbalik arah. Kedua peron kemudian disambung dengan perlintasan sebidang dengan pengalihan akses melalui gedung stasiun. Meskipun okupansi yang relatif kecil dibanding rata-rata jumlah penumpang di stasiun lain, tidak menghambat penambahan fasilitas stasiun seperti underpass yang dilengkapi dengan lift. Perlintasan sebidang pun ditutup dan hanya dikhususkan bagi penumpang prioritas.