Stasiun ini dulunya dibangun oleh Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda (bahasa Belanda:Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappijcode: nl is deprecated ) atau NIS dan dibuka untuk umum pada tahun 1871. Stasiun ini digunakan sebagai salah satu persinggahan antara Surakarta dan Ngayogyakarta dan juga digunakan untuk mendistribusikan karung goni dan gula dari Pabrik Gula Delanggu (bahasa Belanda:Suikerfabriek Delangoecode: nl is deprecated )[3] ke berbagai pabrik gula di Vorstenlanden dan ke pelabuhan di Samarang.
Bangunan dan tata letak
Stasiun ini memiliki empat jalur kereta api. Pada awalnya, jalur 2 merupakan sepur lurus.[4] Sejak pengoperasian jalur ganda lintas Yogyakarta–Solo ruas Srowot–Ketandan per 2001 dan ruas Brambanan–Delanggu selesai dibangun pada tanggal 15 Desember 2003 dan ruas Solo Balapan-Delanggu pada tanggal 8 Januari 2007, jalur 2 dijadikan sebagai sepur lurus arah Yogyakarta saja, sedangkan jalur 3 dijadikan sebagai sepur lurus arah Solo.[5][6]
Untuk mendukung pengoperasian jalur ganda, sistem persinyalan mekanik di stasiun ini diganti dengan sistem persinyalan elektrik buatan PT Len Industri (Persero) yang sudah dipasang sejak tahun 2013 dan kemudian mulai dioperasikan pada bulan Desember 2015.[7][8]
Sejak 10 Februari 2021, bertepatan dengan berlakunya grafik perjalanan kereta api tahun 2021, stasiun ini bersama dengan tiga stasiun lain (Stasiun Gawok, Stasiun Ceper, dan Stasiun Srowot) mulai melayani penumpang KRL Lin Yogyakarta.[9]
Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025 per 1 Februari 2025.[10]
↑Mohamad, Ardyan (21 Juni 2013). Pratomo, Harwanto Bimo (ed.). "Kalahkan Siemens, BUMN elektronik raup pendapatan Rp 2,3 triliun". Merdeka.com. Merdeka.com. Diakses tanggal 5 Oktober 2017. Saat ini, masih ada pesanan proyek dari Kemenhub untuk menggarap persinyalan kereta di jalur Jogja-Solo, Duri-Tangerang, dan Parung-Maja.