Generasi pertama Stasiun Gawok pada tahun 1920-an.
Stasiun Gawok dibuka pada 16 Maret 1887.[4] Bangunan Stasiun Gawok yang sebelumnya berada di sisi timur rel, kini berada di sebelah barat rel. Tidak ada lagi bekas bangunan lama yang merupakan peninggalan DKA tersebut karena dibongkar untuk proyek jalur ganda Kutoarjo-Yogyakarta-Purwosari pada tahun 2007 dan hanya menyisakan fondasi.
Plang Stasiun Gawok
Stasiun ini memiliki empat jalur kereta api. Pada awalnya, jalur 1 yang lama merupakan sepur lurus.[5] Sejak pengoperasian jalur ganda ruas Delanggu–Solo Balapan per 8 Januari 2007, tata letak stasiun ini mengalami perubahan. Jalur 2 yang lama diubah menjadi jalur 3 sebagai sepur lurus arah Yogyakarta, sedangkan jalur 1 yang lama diubah menjadi jalur 4 sebagai sepur lurus arah Solo.[6][7]
Sejak sistem persinyalan elektrik buatan PT Len Industri (Persero) dipasang pada tahun 2013[8] yang kemudian baru dioperasikan untuk menggantikan sistem persinyalan mekanik di stasiun ini pada bulan Desember 2015,[9] tata letak jalur di stasiun ini kembali diubah, tetapi tidak mengubah jumlah jalurnya. Jalur 2 yang dahulu merupakan jalur 3 yang lama telah dibongkar dan dibangun satu sepur belok baru di sisi tenggara stasiun sehingga jalur 3 kini dijadikan sebagai jalur 2 yang baru, jalur 4 yang lama kini dijadikan jalur 3 yang baru, dan sepur belok tersebut dijadikan sebagai jalur 4 yang baru, Akhirnya, stasiun ini memiliki sepur lurus di jalur 2 dan 3.
Guna melayani penumpang KRL, sejak 2021 di stasiun ini telah selesai pembangunan peron tinggi yang dilengkapi kanopi, yaitu di antara jalur 1 dan jalur 2 serta di samping jalur 4.
Pada 21 Februari 2010, seorang remaja berusia 19 tahun tewas tertabrak kereta api di dekat Stasiun Gawok. Jasad korban ditemukan oleh petugas penilik jalan rel dalam kondisi yang mengenaskan. Diduga korban tertabrak Kereta api Gaya Baru Malam Selatan dari arah Solo menuju Jakarta. Tubuh korban yang tertabrak pun terseret sekitar 200 meter dan telah terpencar menjadi beberapa bagian tubuh. Penyelidik insiden tersebut memastikan bahwa kejadian murni merupakan kecelakaan dan bukan merupakan unsur kesengajaan.[12]
Pada 12 Juni 2025, seorang pria berusia sekitar 34 tahun tewas tersambar KRL yang mengarah dari Solo menuju Yogyakarta di dekat Stasiun Gawok, tepatnya di lintas Purwosari—Gawok km 116+400/500, korban ditemukan meninggal dunia dan mengalami patah di beberapa bagian tubuh serta luka parah di bagian kepala.[13]
↑"Verspreide Indische berichten". de Locomotief. 11 Maret 1887. 16 Maart a. s, zal de halte Gawok van de N. Ind. Spoorwegmaatschappij tusschen Poerwodadi en Delangoe, voor het publiek verkeer worden geopend.
↑Mohamad, Ardyan (21 Juni 2013). Pratomo, Harwanto Bimo (ed.). "Kalahkan Siemens, BUMN elektronik raup pendapatan Rp 2,3 triliun". Merdeka.com. Merdeka.com. Diakses tanggal 5 Oktober 2017. Saat ini, masih ada pesanan proyek dari Kemenhub untuk menggarap persinyalan kereta di jalur Jogja-Solo, Duri-Tangerang, dan Parung-Maja.