Pemilihan umum Bupati Bangkalan 2012 dilaksanakan pada 12 Desember 2012 untuk memilih Bupati Bangkalan dan Wakil Bupati Bangkalan, Jawa Timur, masa jabatan 2013–2018.[1] Hasil rekapitulasi resmi KPUD menetapkan pasangan Mohammad Makmun Ibnu Fuad — Mondir Rofi'i sebagai pemenang dengan perolehan mayoritas besar, pasangan ini memperoleh 505.986 suara (93,47%).[2]
Latar belakang
Sebelum hari pemungutan suara, Pemilihan umum Bupati Bangkalan 2012 diwarnai sengketa hukum terkait salah satu pasangan calon. Semula, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Bangkalan menetapkan tiga pasangan calon, yakni:[3]
Imam Buchori Kholil – Zainal Alim (nomor urut 1), diusung Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan Partai Persatuan Nasional (PPN).
Mohamad Nizar Zahro – Zulkifli (nomor urut 2), diusung Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Republikan, dan Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia (PNBKI).
Pasangan nomor urut 1, Imam Buchori–Zainal, menghadapi persoalan administrasi mengenai keabsahan salah satu partai pengusungnya, yakni PPN. Sengketa ini kemudian diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya, yang melalui putusan No. 136/G/2012/PTUN.Sby tanggal 5 Desember 2012 menyatakan bahwa dukungan PPN tidak sah secara administratif. Putusan tersebut berimplikasi pada pembatalan pencalonan pasangan Imam Buchori–Zainal.[4]
Meskipun sempat mengikuti tahapan kampanye, pasangan nomor urut 1 akhirnya resmi didiskualifikasi menjelang pemungutan suara. Dengan demikian, pemungutan suara pada 12 Desember 2012 hanya diikuti oleh dua pasangan calon, yaitu pasangan nomor urut 2 (Nizar Zahro–Zulkifli) dan pasangan nomor urut 3 (Makmun Ibnu Fuad–Mondir Rofii).[5]
Menjelang hari pemungutan suara, Pilkada Bangkalan 2012 diwarnai kerusuhan. Pada 10 Desember 2012, massa pendukung pasangan nomor urut 1 (Imam Buchori–Zainal Alim) melakukan aksi protes ke kantor KPUD Bangkalan karena keberatan atas keputusan diskualifikasi. Aksi tersebut berujung bentrokan dengan aparat kepolisian, hingga polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Dalam insiden itu, polisi menyita sekitar 90 bom molotov dan 75 kantong bensin yang disiapkan untuk aksi anarkis.[6][7]
Situasi politik semakin tegang karena muncul ancaman “carok” dari sejumlah pihak, namun aparat keamanan menurunkan ribuan personel gabungan Polri dan TNI untuk menjaga TPS, gudang logistik, serta titik rawan konflik di seluruh kecamatan.[8][9]
Setelah pemungutan suara pada 12 Desember 2012, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Bangkalan menegaskan bahwa hasil resmi baru akan ditetapkan melalui tahapan rekapitulasi berjenjang. Rekapitulasi suara dijadwalkan dilakukan pada 13–14 Desember di tingkat desa/kelurahan, kemudian pada 15–16 Desember di tingkat kecamatan, dan terakhir pleno tingkat kabupaten pada 17–18 Desember 2012 di Pendopo Wakil Bupati Bangkalan.[10]
Gugatan
Beberapa pihak mengajukan keberatan dan gugatan terkait proses pencalonan dan hasil. Mahkamah Konstitusi menangani permohonan perselisihan hasil pemilihan (PHPU) dan turut memeriksa beberapa aspek administratif yang sempat disengketakan; pada Januari 2013 terdapat risalah sidang MK yang membahas perkara Pilkada Bangkalan. Selain itu masyarakat/pengunjuk rasa juga pernah membawa kasus ke DKPP/Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu menuntut penyelidikan komisioner KPU setempat.[11][12][13]
Meski sempat memanas, pemungutan suara pada 12 Desember 2012 tetap berlangsung dan menghasilkan kemenangan telak pasangan nomor urut 3 (Makmun Ibnu Fuad–Mondir Rofii). Sengketa hasil kemudian diajukan ke Mahkamah Konstitusi, tetapi MK tetap mengesahkan hasil rekapitulasi KPUD Bangkalan.[14][15]
Makmun Ibnu Fuad, yang akrab disapa Ra Momon, tercatat sebagai bupati termuda di Indonesia dengan usia 26 tahun 4 bulan saat dilantik. Atas capaian ini, ia mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI), memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang Mardani H. Maming (BupatiTanah Bumbu, Kalimantan Selatan).[17]
Dalam sambutannya, Soekarwo mengapresiasi capaian pembangunan era Fuad Amin, tetapi berpesan agar bupati baru memberi perhatian lebih pada sektor pertanian, yang menyerap 93 persen penduduk Bangkalan namun kesejahteraannya masih rendah.[20]