Pilkada ini menjadi salah satu yang paling banyak menyita perhatian publik karena mempertemukan dua istri Bupati Kediri saat itu, Sutrisno, yakni Haryanti Sutrisno (istri sah) dan Nurlaila (istri kedua dengan status nikah siri).[1]
Latar belakang
Bupati petahana, Sutrisno, telah menjabat dua periode dan tidak dapat maju kembali. Kontestasi pilkada kemudian diwarnai oleh pencalonan dua istrinya sekaligus: Haryanti (istri sah) dan Nurlaila (istri kedua). Keduanya memiliki basis sosial berbeda: Haryanti merupakan Ketua Tim Penggerak PKKKabupaten Kediri selama satu dekade, sementara Nurlaila menjabat sebagai Kepala Desa Wates dan aktif dalam kegiatan sosial politik.[2]
Fenomena dua istri petahana maju dalam pilkada yang sama kemudian menjadi sorotan nasional karena dianggap sebagai bentuk persaingan internal keluarga pejabat dan menimbulkan diskusi mengenai politik dinasti di daerah.[3][4]
Calon
Pendaftaran bakal calon dibuka pada 5–11 Maret 2010, Pilkada ini diikuti tiga pasangan calon:
Penetapan calon terpilih dilakukan pada 19 Mei 2010 dan pelantikan dijadwalkan berlangsung akhir Agustus 2010.[7]
Kontroversi
Pilkada ini banyak dibahas karena:
melibatkan dua istri petahana dalam kontestasi yang sama,[8]
kuatnya pengaruh Sutrisno dalam mendukung Haryanti,
isu politik dinasti di Kabupaten Kediri,
tingginya angka golput (36,7%).
Laporan harta kekayaan calon juga menjadi perhatian publik. Sunardi tercatat sebagai yang terkaya dengan nilai Rp 43 miliar, disusul Haryanti dengan Rp 41 miliar.[9]