Commuter Line Rangkasbitung (atau disebut juga Lin Rangkasbitung) merupakan salah satu relasi Commuter Line Jabodetabek dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Rangkasbitung dan sebaliknya. Pada peta perjalanan Commuter Line, relasi ini diberi warna hijau pupus, sehingga sering disebut sebagai Green Line. Relasi ini merupakan relasi terpanjang dan terjauh yang dioperasikan oleh KAI Commuter dengan panjang 72,8 km.
Layanan kereta api komuter ini beroperasi untuk menggantikan peran dari kereta api komuter sebelumnya, yaitu KRL Ciujung, KRL Sudirman Ekspres, KRL Serpong Ekspres, kereta api antarkota seperti Rangkas Jaya, kereta api lokal Langsam, dan kereta api ekonomi Kalimaya dalam melayani koridor Angke–Tanah Abang–Merak. Layanan kereta api komuter ini merupakan salah satu angkutan warga Jabodetabek hingga Kabupaten Lebak untuk melanjutkan menuju Kota Serang, Banten maupun Pulau Sumatra.
Sejarah
Sebelum menjadi bagian dari sistem Commuter Line, elektrifikasi di lintas ini mulai dibangun pada awal dekade 1990-an. Sebagai bagian dari tahap awal elektrifikasi, tiga gardu listrik aliran atas (LAA) yang berlokasi di Karet, Limo, dan Jurangmangu masing-masing mulai beroperasi pada 3 Juli 1994, 3 Agustus 1994, dan 3 Desember 1994. Infrastruktur elektrifikasi kemudian diperkuat dengan pengoperasian dua gardu LAA tambahan di Serpong pada 3 April 1997 dan Pondok Betung pada 6 April 1997.[2] Elektrifikasi lintas tersebut diresmikan di Stasiun Tanah Abang pada 3 Juni 1997 oleh Menteri Perhubungan Haryanto Dhanutirto.[3]
Pengembangan infrastruktur berlanjut dengan peresmian jalur ganda Tanah Abang–Serpong serta bangunan baru Stasiun Serpong pada 4 Juli 2007 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang pada kesempatan tersebut menetapkan Stasiun Serpong sebagai stasiun percontohan.[4]
Elektrifikasi jalur Serpong–Parung Panjang diresmikan pada 16 September 2009 oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal bersama Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, yang sekaligus meresmikan pengoperasian Stasiun Jurangmangu dan peremajaan Stasiun Rawa Buntu. Proyek elektrifikasi jalur Serpong–Parung Panjang sepanjang sekitar 12 kilometer, pembangunan Stasiun Jurangmangu dan peremajaan Stasiun Rawabuntu tersebut menelan nilai investasi lebih dari Rp148 miliar.[5]
Pada 1 Desember 2011, seiring dengan diperkenalkannya pola operasi loop line oleh PT KAI Commuter Jabodetabek, layanan Commuter Line Rangkasbitung (pada saat itu baru melayani relasi Tanah Abang–Parung Panjang) ditetapkan sebagai salah satu dari enam rute awal KAI Commuter.[6] Layanan KRL tersebut menggantikan layanan KRL lainnya yang telah beroperasi, yaitu KRL Ekonomi AC (Ciujung) relasi Tanah Abang–Serpong serta KRL Ekspres relasi Jakarta Kota/Manggarai–Serpong.[7]
Elektrifikasi kemudian diperpanjang hingga Stasiun Maja. Setelah diujicoba selama sepekan, KRL mulai beroperasi dari Stasiun Maja pada 1 April 2013.[8] Elektrifikasi menuju Stasiun Maja ini diresmikan oleh Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono pada 17 April 2013, bersamaan dengan peresmian jalur ganda Serpong–Parung Panjang serta pengoperasian rangkaian KRL baru produksi PT Industri Kereta Api (INKA).[9]
Jalur ganda pada segmen Parung Panjang–Maja mulai beroperasi pada Desember 2015 dan diresmikan pada 11 Mei 2016, bersamaan dengan peresmian hasil pembangunan dan revitalisasi Stasiun Kebayoran, Parung Panjang, dan Maja.[10] Selanjutnya, elektrifikasi jalur dilanjutkan hingga Rangkasbitung, yang pada awalnya masih berstatus jalur tunggal. Pengoperasian KRL pada lintas tersebut mulai diujicobakan pada Februari 2017,[11] sebelum dioperasikan secara resmi pada 1 April 2017.[12] Seiring dengan pengoperasian tersebut, layanan kereta api lokal yang sebelumnya melayani relasi Angke–Rangkasbitung diubah menjadi relasi Rangkasbitung–Merak, sehingga lintas Tanah Abang–Rangkasbitung selanjutnya hanya dilayani oleh KRL.[13]