Hubungan politik keluarga
Keluarga Ratu Atut memiliki koneksi yang baik di kalangan politik dan pemerintahan di Banten. Ayahnya, Haji Tubagus Chasan Sochib (sering dikenal sebagai Haji Hasan) yang meninggal pada pertengahan tahun 2011, adalah seorang pengusaha bisnis dan tokoh masyarakat yang dikenal luas dan agak kontroversial di wilayah Banten.[32]
Pada saat Ratu Atut terpilih kembali pada tahun 2011, dilaporkan bahwa suaminya, Hikmat Tomet, adalah anggota Golkar di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), adik perempuannya, Ratu Tatu Chasanah, adalah wakil bupati Kabupaten Serang di Banten, saudara tirinya, Tb Haerul Jaman, adalah wakil wali kota Serang, putranya, Andika Hazrumy, adalah seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta dan Wakil Gubernur Banten dari tahun 2017 hingga 2022,[33] dan menantunya, Adde Khairunnisa, menjabat Wakil Ketua DPRD Kota Serang.[34] Selain itu, ibu tiri Gubernur Atut, Heryani, adalah wakil bupati Kabupaten Pandeglang, bagian dari provinsi Banten. Adik iparnya, Airin Rachmi Diany, mencalonkan diri sebagai wali kota Tangerang Selatan, posisi yang kemudian ia pilih setelah beberapa kontroversi.[35]
Pada akhir tahun 2012, saudara ipar Ratu Atut, Aden Abdul Khaliq, gagal mencalonkan diri sebagai bupati Kabupaten Tangerang di provinsi Banten. Aden dalam pencalonannya didukung oleh sejumlah partai politik kecil termasuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Nahdlatul Ulama Indonesia (PNUI), Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) dan Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) tetapi tidak oleh partai besar Golkar tempat ia dan Ratu Atut tergabung pada saat itu.[36]
Pada bulan Februari 2015, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menyita 17 bidang tanah, yang dikatakan bernilai sejumlah besar uang, yang diduga dibeli sebagai bagian dari kegiatan pencucian uang oleh adik Ratu Atut, Tubagus Chaeri "Wawan" Wardana. Juru bicara KPK mengatakan aset yang disita itu berlokasi di berbagai wilayah Bali. Penyitaan itu disebut-sebut menambah daftar harta benda yang disita penyidik KPK dari "Wawan" Wardana, suami Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany.[37]
Penahanan Ratu Atut pada bulan Desember 2013 karena dugaan korupsi memicu perebutan kepemimpinan di Golkar cabang Banten. Ada beberapa diskusi di kalangan Golkar di tingkat nasional mengenai keuntungan memilih pemimpin daerah yang tidak memiliki hubungan dekat dengan keluarga Ratu Atut.[38] Namun, dalam pemungutan suara untuk menentukan siapa yang akan menjadi ketua Golkar daerah pada tanggal 27 Desember 2013, saudara perempuannya Ratu Tatu Chasanah terpilih sebagai ketua Golkar setempat, dan keluarganya terus mempertahankan peran yang sangat penting dalam kehidupan politik di provinsi tersebut.[39]
Keterkaitan keluarga yang luas dalam sistem politik telah menimbulkan diskusi dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia mengenai bahaya terbentuknya 'dinasti politik' di tingkat lokal.[40] Tatanan yang berlaku di Banten sering dikutip di media Indonesia dan internasional sebagai contoh berkembangnya peran beberapa keluarga terkemuka Indonesia dalam politik.[41]