Penggunaan di Jepang (1968-1999 dan 1999-saat ini)
KRL Toei Seri 6000 mulai dioperasikan pada tahun 1968 sebagai bagian dari layanan di Jalur Toei Mita, Tokyo. KRL ini diproduksi sebanyak 28 rangkaian, dengan setiap rangkaiannya terdiri dari enam kereta, membawa penomoran seri 6101 hingga 6281. Sistem penomoran dalam satu rangkaiannya adalah 6xx1-6xx2-6xx5-6xx6-6xx7-6xx8.
Pada awal pengoperasiannya, kereta ini belum dilengkapi dengan sistem pendingin udara. Pemasangan AC (Air Conditioner) baru dilakukan secara bertahap sejak tahun 1989. Rangkaian Toei 6011F-6111F dipasangi unit AC berbentuk kotak yang mirip dengan yang digunakan pada KRL Tokyu, sementara rangkaian 6121F menggunakan unit yang menyerupai milik JR East. Produksi batch kedua dan ketiga dari seri ini menggunakan dua unit AC berbentuk kotak. Sementara itu, rangkaian batch keempat (6271F-6281F) memiliki ciri khas berupa satu unit AC berukuran besar yang dipasang di bagian tengah atap, serta tidak memiliki jendela kecil di dekat pintu dan dilengkapi dengan papan petunjuk tujuan.
Seiring bertambahnya usia, KRL Toei Seri 6000 dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan teknologi perkeretaapian. Dengan dimulainya operasional KRL Toei Seri 6300, seri 6000 secara bertahap mulai dipensiunkan. Perjalanan terakhir KRL ini beroperasi pada 28 November 1999, menandai akhir dari masa layanannya. Setelah dipensiunkan, beberapa rangkaian dijual kepada operator lain di Jepang, sementara sebagian lainnya dihibahkan kepada PT Kereta Api Indonesia untuk digunakan dalam sistem komuter di lintas Jabodetabek.
Penggunaan di Indonesia
Awal mula kedatangan
Mengingat kondisi KRL Jabodetabek yang memprihatinkan pada akhir era 1990-an, terutama dengan maraknya fenomena penumpang di atap ("atapers"), Pemerintah Kota Tokyo menghibahkan KRL Toei Seri 6000 kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada tahun 2000. Hibah ini menjadi titik balik penting dalam modernisasi layanan KRL di Indonesia. KRL hibah ini dioperasikan pada jalur KRL Jabodetabek dan menjadi bagian dari layanan ekspres yang dilengkapi dengan pendingin udara (AC). Kehadirannya menggantikan peran KRL Rheostatik AC serta KRL Bisnis, yang terdiri dari unit-unit buatan dalam negeri seperti BN-Holec dan Hitachi (diproduksi oleh PT INKA) maupun buatan luar negeri seperti Rheostatik stainless buatan Kawasaki Heavy Industries dan Hitachi.
Sejak saat itu, KRL ini mulai dikenal sebagai KRL hibah. Pada tahap awal, sebanyak 72 unit kereta didatangkan. Angka ini terdiri dari delapan rangkaian lengkap, yaitu 6121F, 6151F, 6161F, 6171F, 6181F, 6201F, 6271F, dan 6281F. Masing-masing rangkaian aslinya terdiri dari enam kereta, dengan total 48 kereta. Selain itu, ada tambahan 24 unit kereta tengah sisa dari KRL Toei yang dijual kepada operator lain di Jepang, di mana rangkaian aslinya diperpendek menjadi 2 atau 3 kereta per rangkaian/set.
Pengoperasian Awal (2000-2004)
KRL Toei Seri 6000 mulai beroperasi di Indonesia pada rentang tahun 2000 hingga 2001. Rangkaian pertama yang dioperasikan adalah seri 6121F, yang langsung menggunakan skema warna asli Jalur Toei Mita dari Jepang. Sejak awal operasionalnya, seri KRL ini sering mengalami perubahan formasi rangkaian. Bahkan, tiga rangkaian di antaranya menggunakan kabin masinis yang dirakit di Balai Yasa Manggarai karena kereta tersebut didatangkan tanpa kabin aslinya, sehingga dikenal sebagai "KRL kabin rakitan".[1] Meskipun berpotensi untuk dioperasikan dalam formasi delapan kereta, pada akhirnya hanya tiga rangkaian yang memiliki formasi delapan kereta (6121F, 6161F, dan 6171F), sementara sisanya tetap dalam formasi enam kereta, berlaku untuk model seri 61xx maupun 62xx.
Pada awalnya, KRL ini tetap menggunakan warna dasar bawaan dari Jepang, yaitu strip biru muda. Namun, logo Toei di bagian depan diganti dengan logo Departemen Perhubungan yang merupakan nama Kementerian Perhubungan saat itu. Pada masa-masa awal operasionalnya (sekitar tahun 2000-2001), beberapa rangkaian bahkan tidak dilengkapi dengan cowcatcher (penghalang rintangan) di bagian depan, seperti yang terlihat pada set 6121F.
Seiring berjalannya waktu, tampilan KRL ini pun berubah. Rangkaian yang menggunakan kabin rakitan memiliki skema warna yang berbeda: set yang dijuluki "Espass" (6177F) dan "Rakitan" (6217F) menggunakan warna oranye di seluruh bodi, sedangkan set "Lohan" (6227F) menggunakan skema warna biru-kuning. Tiga rangkaian dengan kabin rakitan ini juga menggunakan logo lama PT Kereta Api, kecuali set 6217F yang tetap menggunakan logo Departemen Perhubungan.
Untuk alasan keselamatan, cowcatcher kemudian ditambahkan pada semua rangkaian. Pada tahun 2005, skema warna KRL ini secara bertahap diganti menjadi oranye, dan logo Departemen Perhubungan pada bagian depan diganti dengan logo lama PT Kereta Api. Beberapa tahun kemudian, livery oranye ini ditambahkan dengan garis kuning.
Masa-masa Kedinasan (2005-2011)
Pada awal masa dinasnya di Indonesia, KRL Toei Seri 6000 dikenal memiliki performa pendingin udara (AC) yang sangat baik. Namun, seiring berjalannya waktu, khususnya setelah tahun 2010, performa AC pada KRL ini mulai menurun dan sering mengalami masalah, diduga akibat faktor usia dan pemeliharaan yang kurang optimal. Fenomena ini juga terjadi pada KRL hibah lainnya, seperti KRL JR East 103, yang awalnya memiliki AC dingin tetapi menjadi kurang optimal di akhir masa operasionalnya.
Secara operasional, semua rangkaian KRL Toei Seri 6000 dapat dan pernah melayani seluruh lintas di Jabodetabek. Namun, ada beberapa rangkaian yang sering dioperasikan pada lintas tertentu, seperti rangkaian 6271F yang sering melayani Lin Tangerang dan 6281F di Lin Serpong, meskipun hal ini tidak bersifat mutlak. KRL yang menggunakan teknologi rheostat ini awalnya diperuntukkan sebagai layanan KRL Ekspres karena semua kereta dalam satu rangkaiannya memiliki mesin. Hal ini menghasilkan akselerasi yang tinggi, mencapai 3.5 km/jam/detik.
Pada tahun 2007, rangkaian 6281F memulai debutnya sebagai KRL "Ciujung Ekonomi AC" pada rute Tanah Abang-Serpong. Layanan ini menjadi pelopor bagi operasional KRL Ekonomi AC di lintas lainnya. Sejak saat itu, skema warna hijau-kuning secara bertahap diterapkan pada rangkaian-rangkaian lain dari tahun 2007 hingga 2010. Meskipun demikian, pada awalnya, set 6121F sempat menggunakan skema warna biru tua-biru muda sebelum akhirnya juga dicat dengan warna hijau-kuning.
Selain perubahan livery, KRL Toei Seri 6000 juga pernah terlibat dalam beberapa insiden. Pada tahun 2009, rangkaian 6151F mengalami kecelakaan tabrakan dengan KRL Ekonomi BN-Holec di Kebon Pedes, Bogor. Insiden ini mengakibatkan kereta bernomor 6252 dan 6155 mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat diperbaiki. Kereta-kereta yang selamat dari kecelakaan tersebut digabungkan menjadi formasi baru, yang kemudian dikenal sebagai rangkaian "Djoko Lelono II" (6151F-6188F), dengan skema warna garis biru tua.
Meskipun pernah mengalami berbagai insiden, kereta-kereta yang tersisa berhasil disatukan kembali dalam formasi baru. Untuk mengatasi kekurangan kabin masinis, Balai Yasa Manggarai kembali merakit kabin baru untuk memastikan KRL ini dapat terus beroperasi.
Akhir masa kedinasan (2011-2016)
Pada tahun 2011, KRL Toei seri 6000 sebenarnya sudah lebih dari sepuluh tahun berdinas di Indonesia, cukup mengesankan mengingat usia KRL ini sebenarnya sudah cukup tua, lebih dari 40 tahun. Pada periode ini juga, KRL Toei seri 6000 ini mulai dicat dengan livery biru-kuning, sebagai standar pewarnaan KRL yang diimpor era pra-KCJ atau sebelum tahun 2009, dengan variasi motif di wajah KRL serta logo baru PT KAI di sisi depan kabin masinisnya. Livery ini juga merupakan livery terakhir bagi sebagian besar KRL ini, karena satu persatu set mulai pensiun dinas. Terjadi juga perubahan susunan rangkaian, dengan semakin banyaknya rangkaian dengan stamformasi delapan kereta dalam satu rangkaian. Rangkaian yang menjadi donor untuk rangkaian yang lebih panjang akhirnya menjadi kereta feeder untuk rute jarak pendek ataupun dipensiunkan, dan rangkaian yang pertama pensiun adalah 6201F. Seiring waktu, jumlah rangkaian kereta yang dapat beroperasi pun semakin berkurang karena faktor usia kereta.
Sejak tahun 2013, sebagai bentuk peremajaan dan penambahan armada, PT KAI Commuter Jabodetabek mulai mendatangkan KRL seri 205 dari JR East yang lebih baru dan tentunya memiliki AC yang lebih dingin untuk menggantikan KRL yang sering kali dikeluhkan penumpang karena AC-nya panas, salah satunya adalah Toei seri 6000. Ini membuat KRL ini semakin tergeser posisinya sehingga secara perlahan-lahan dipensiunkan, hingga akhirnya kurang lebih sejak tahun 2015 hanya tersisa satu rangkaian yang dapat beroperasi, yaitu rangkaian 6181F, dengan formasi rangkaian yang sudah berubah banyak. Pada periode ini juga, sebagian KRL Toei seri 6000 yang sudah tidak beroperasi ditanahkan di tanah kosong di Depo Depok untuk membantu mengosongkan jalur di depo.
Pada tahun 2016, set yang tersisa, yaitu set 6181F, diubah liverynya dengan livery KCJ namun tanpa logo, menggunakan stiker untuk liverynya (tidak dicat), sama dengan KRL-KRL era pra-KCJ sebelumnya, dan ini adalah livery terakhir sebelum KRL ini pensiun setelah terakhir kali beroperasi pada bulan September tahun 2016, mengakhiri karier KRL Toei seri 6000 ini setelah 16 tahun melayani penumpang di wilayah Jabodetabek. Akhirnya, KRL yang belum ditumpuk di Depo Depok pun dibawa ke Cikaum dan ditumpuk di area penumpukan kereta yang berhadapan langsung dengan bangunan stasiun.
Pada tahun 2018, salah satu kereta berkabin dari seri 6000, yaitu 6181, dipreservasi di Depo Depok.