Alih-alih membeli KRL dari pabrikan Jepang, KAI Commuter memutuskan untuk memesan KRL dari Tiongkok. Anne Purba, yang saat itu menjadi Sekretaris Perusahaan KAI Commuter, menepis rumor yang beredar mengenai tekanan pemerintah Tiongkok yang akan diterima apabila KAI Commuter membeli KRL dari pabrikan Jepang. Menurutnya, pengadaan KRL dari CRRCQingdao Sifang sama sekali bebas dari tekanan pihak manapun, dan telah melalui pertimbangan dari BPKP dan LKPP. KAI Commuter menyatakan bahwa spesifikasi teknis, desain KRL buatan Tiongkok mendekati yang dibutuhkan Indonesia.[9]
Pada awalnya, KAI Commuter hanya memesan sejumlah 3 rangkaian KRL seri ini, namun pada Juli 2024, pemesanan bertambah sebanyak 8 rangkaian. Sehingga secara keseluruhan KAI Commuter memesan KRL seri SFC120-V sebanyak 11 rangkaian dari CRRC Qingdao Sifang, dengan masing-masing rangkaian memiliki terdiri dari 12 kereta.[10]
Proses impor
Seluruh unit KRL seri ini diimpor dalam kondisi sepenuhnya terakit dan siap digunakan. Rangkaian pertama KRL seri SFC120-V tiba di Indonesia sejak 31 Januari 2025 melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, tepat satu tahun setelah penandatanganan kontrak pembelian yaitu pada 31 Januari 2024 di Beijing, Tiongkok.[3][11] Lalu dikirim oleh KAI Commuter menuju Depo KRL Depok melalui Stasiun Pasoso menggunakan lokomotif disertai beberapa kereta tanpa penggerak guna pengereman pada keesokan harinya, Sabtu tanggal 1 Februari 2025.[12]
Pada 11 Maret 2025, tiba di Pelabuhan Tanjung Priok sebanyak 2 rangkaian KRL seri SFC120-V, yaitu rangkaian dua dan tiga, dengan total 24 unit.[1] Kemudian pada bulan berikutnya, di pelabuhan yang sama, rangkaian empat dan lima kembali tiba.[13]
Kereta rel listrik seri CLI-125 di Stasiun Jakarta Kota.KRL seri CLI-225 & CLI-125 pada peringatan 100 tahun pengoperasian KRL di Indonesia, Stasiun Jakarta Kota.
Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 49 Tahun 2023 tentang Standar, Tata Cara Pengujian, dan Sertifikasi Kelaikan Kereta Api Kecepatan Normal Dengan Penggerak Sendiri.[14] Pengujian tersebut terdiri dari Uji Rancang Bangun dan Rekayasa, Uji Statis dan Uji Dinamis.
Uji Rancang Bangun dan Rekayasa meliputi: evaluasi dokumen dan uji daya tahan.
Evaluasi dokumen dilakukan untuk mengetahui kesesuaian antara dokumen rancang bangun dan rekayasa dengan fisik sarana perkeretaapian.
Adapun, uji daya tahan merupakan kegiatan pengujian untuk mengetahui fungsi dan kinerja seluruh sistem dan peralatan pada kereta dengan penggerak sendiri secara dinamis tanpa ada kegagalan pada sistem dan peralatan kereta dengan penggerak sendiri. Uji daya tahan dijalankan sesuai rencana pengoperasian hingga mencapai kilometer tempuh tertentu yang ditetapkan, yaitu sejauh 4.000 km untuk produk pertama atau purwarupa, dan 2.000 km untuk produk lanjutan atau rangkaian ke-dua dan seterusnya.
Sedangkan Uji Statis meliputi pengujian: dimensi, rasio selisih berat statis roda, pengereman, keretakan, sirkulasi udara, temperatur, kelistrikan, kebisingan, intensitas cahaya, peralatan komunikasi, kebocoran, emisi gas buang, pembebanan, dan klakson.
Adapun, Uji Dinamis meliputi pengujian: ruang batas sarana dan panjang selang pneumatik dan kabel, pengereman, temperatur laher, kualitas pengendaraan, pembebanan dan kemampuan tarik, percepatan, kelistrikan, dan kebisingan.
Pada Minggu tanggal 1 Juni 2025, KAI Commuter secara resmi mengoperasikan tiga rangkaian KRL seri CLI-125 di Lin Cikarang dan Lin Bogor, peresmian tersebut dilakukan di Stasiun Manggarai oleh Direktur utama KAI Commuter saat itu, Asdo Artriviyanto. Sebanyak satu rangkaian dioperasikan Lin Cikarang, dan dua lainnya dioperasikan pada Lin Bogor. Sebelum diresmikan, rangkaian pertama CLI-125 telah menjalani perjalanan perdana sejak fajar di hari tersebut.[17][18] Adapun setelah melakukan peresmian, Direktur utama KAI Commuter bersama dengan beberapa direksi dan jurnalis melakukan perjalanan menuju Stasiun Bogor dari Stasiun Manggarai.[19]
KRL seri CLI-125 melintasi jembatan layang Jalan Sultan Agung, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Desain
Eksterior
Desain tampak luar KRL ini sama dengan yang digunakan pada Basis Model Zhengzhou Metro Line 7 (SFM 106) dan SFM 58. Hanya saja perbedaan terdapat yaitu pada pintu dari CLI-125 ketika terbuka tetap berada di dalam dinding kereta, sementara yang digunakan pada Zhengzhou Metro, pintunya terbuka ke bagian luar kereta pada setiap ujungnya. serta perbedaan lainnya terlihat pada bingkai jendela di samping badan rangkaian kereta yang mana pada milik Zhengzhou Metro Line 7 (SFM 106) memiliki ukuran bingkai jendela yang besar sementara milik CLI - 125 (SFM 138) memiliki ukuran bingkai Jendela yang lebih kecil dengan adanya fitur jendela darurat, hal tersebut menyesuaikan adanya rak bagasi atas kereta yang dimiliki CLI- 125 di dalamnya, Lalu CLI-125 memiliki fitur keamanan berupa Penghalau rintangan (anti climber) dan dengan bemper tambahan berwarna merah (karena bawaan kereta ini tidak pakai bemper bawah warna merah itu). Adapun badan kereta menggunakan bahan baja nirkarat, dengan corak yang oleh KAI Commuter disebut sebagai Growing, yang dalam Bahasa Indonesia disebut dengan Bertumbuh.[1][20]
Interior
Pada bagian dalam, CLI-125 memiliki desain interior khas kereta metro buatan negara asalnya serta juga dilengkapi dengan berbagai fitur keamanan dan fasilitas untuk kenyamanan penumpang. Beberapa di antaranya adalah alat pemadam api dan kotak Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) yang masing-masing ditempatkan di ujung setiap kereta, dan juga Sensor Anti Jepit pada Pintu otomatisnya.
CLI-125 juga memiliki formasi kursi prioritas yang berbeda dibandingkan seri-seri sebelumnya. Kursi prioritas tersedia di setiap bangku yang berada di sisi pintu, ditandai dengan warna abu-abu untuk membedakannya dari kursi biasa. Kursi prioritas ini terdiri dari dua jenis, yaitu yang dapat dilipat dan yang tidak dapat dilipat. Kursi prioritas yang dapat dilipat dirancang untuk memudahkan pengguna kursi roda agar dapat mendapatkan ruang yang aman. Kursi yang digunakan pada CLI-125 memiliki sarung yang bermotif ondel-ondel dan tanjidor, dua kesenian khas Betawi.
Selain itu, di setiap kereta juga terdapat papan informasi digital yang menampilkan peta perjalanan, waktu, serta lokasi terkini kereta, guna membantu penumpang selama perjalanan. Dan juga terdapat bel pintu (doorchime) yang berbunyi ketika kereta buka atau tutup pintu di Stasiun[21]
Kemudian, Hal Unik yang terdapat pada Rangkaian CLI-125 adalah tidak adanya jendela pada bagian kursi prioritas di setiap ujung rangkaiannya serta pada rangkaian ini juga memiliki gangway (sambungan rangkaian) yang lebar yang membuat akses penggerakan penumpang saat berpindah rangkaian dari dalam kereta jadi semakin mudah dan adanya indikator temperatur suhu udara di dalam kabin rangkaian serta informasi terkait stasiun pemberhentian berikutnya.
Bagian interior pada KRL SFC120-V (CLI-125)
Kursi prioritas pada KRL SFC120-V (CLI-125)
Kursi prioritas yang tidak dapat dilipat dan kursi prioritas yang dapat dilipat sekaligus sebagai ruang kosong untuk kursi roda atau Kereta bayi saat kursi dilipat pada KRL SFC120-V (CLI-125)
Sistem layar informasi penumpang (PIDS) pada KRL SFC120-V (CLI-125)
Pada 27 April 2026 sekitar pukul 20.40 WIB,[26] Taksi Green SM dilaporkan mengalami hubungan pendek arus listrik[27] dan berhenti di perlintasan sebidang tidak resmi di Jalan Ampera, Bekasi Timur yang berjarak 300 meter dari Stasiun Bekasi Timur.[28][29] Kendaraan tersebut lalu tertabrak oleh KRL Commuter Line Lin Lingkar Cikarang (PLB 5181) relasi Cikarang–Angke yang saat itu menggunakan sarana CLI-125 TS11 (SFC120-V).[30] Hal ini menyebabkan kedua jalur tidak dapat dilalui oleh KRL Commuter Line dari arah berlawanan.
*)Tidak pernah dioperasikan KAI Commuter secara langsung, namun pernah beroperasi di layanan-layanan yang kemudian diambil alih KAI Commuter di Jabodetabek, Bandung, Yogya-Solo, dan Surabaya
*dioperasikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (hingga 20 September 2017) dan PT Kereta Commuter Indonesia (hingga saat ini)
**dioperasikan oleh PT Kereta Api Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek (hingga 15 September 2008) & PT KA Commuter Jabodetabek (hingga 2 Juli 2011)
***operasional dialihkan dari swakelola perusahaan induk karena berfokus pada layanan antarkota dan aglomerasi.
****operasional dialihkan dari KAI Bandara