Operasi dengan lokomotif uap
Untuk mempromosikan Museum Kereta Api Sawahlunto yang sebelumnya dibuka pada tanggal 17 Desember 2005,[3] Pemerintah Kota Sawahlunto mengajukan proposal kepada PT Kereta Api untuk mengembalikan lokomotif E1060 yang dioperasikan untuk KA wisata Ambarawa–Bedono p.p. di Museum Kereta Api Ambarawa kembali ke Sumatra Barat. Pemindahan tersebut sepenuhnya terwujud pada tanggal 3 Desember 2007[4] dan sejak saat itu, Sumatra Barat sudah kembali memiliki lokomotif uap. Saudaranya sendiri, E1016, kini menjadi pajangan di Museum Transportasi, Taman Mini Indonesia Indah.[5]
Rencana pengoperasian kembali lokomotif rel gigi di Sumatra Barat ini sempat mengalami masalah terutama pada teknis prasarana dan suku cadang lokomotif yang kini sudah tidak lagi diproduksi. Waktu lokomotif ini lebih banyak dihabiskan di dalam dipo daripada dijalankan di lintas. Lokomotif bergigi lainnya, BB204—yang merupakan lokomotif diesel—saat itu berstatus siap operasi, tetapi terbatas semenjak jalur segmen Kayu Tanam–Padang Panjang terpaksa ditutup.
Pada tanggal 21 Februari 2009, kereta api Mak Itam mulai dioperasikan bersama dengan kereta api wisata Danau Singkarak. Relasi kereta api Mak Itam adalah Sawahlunto–Muarakalaban, sedangkan kereta api wisata Danau Singkarak adalah Sawahlunto–Padangpanjang.[6]
Kereta api ini hanya dapat dijalankan melalui sistem carter. Lokomotifnya dan keretanya sendiri pernah dicarter untuk menyambut ajang bersepeda tahunan Tour de Singkarak 2012. Terbukti, lokomotif ini pada saat itu masih kuat menarik enam unit kereta penumpang, dengan satu kereta asli Mak Itam (warna krem-hijau) serta lima unit kereta penumpang yang biasanya dipakai untuk KA wisata Danau Singkarak.[7][8][9]
Setelah itu, tidak ada lagi pihak-pihak yang mau mencarter kereta api ini. Jalur Padangpanjang–Sawahlunto semakin dilupakan, dan tidak ada lagi KA yang lewat secara rutin di jalur ini.
Operasi dengan replika diesel
Pada September 2018, Pemerintah Kota Sawahlunto memberdayakan kreator-kreator daerah setempat untuk merakit "replika" lokomotif uap E1060 dengan sasis dan mesin diesel. Replika ini difungsikan untuk "menggantikan fungsi E1060 asli" yang sudah tidak layak jalan karena suku cadangnya langka. Replika tersebut menghabiskan biaya Rp71 juta yang seluruhnya berasal dari APBD. Bahkan dalam roadmap Pemerintah Kota Sawahlunto, pihaknya mengusulkan tarif retribusi seharga Rp10.000,00 untuk operasional.[10] Replika E1060 ini memiliki panjang 4 m, lebar 1,5 m, dan menggunakan mesin yang dikanibalisasi dari truk Toyota Dyna.[11]
Penghidupan lokomotif dan perizinan
Pada Juli 2019, lokomotif replika seri E1060 telah dilakukan uji coba kelaikan jalan dengan dipanaskan dan dijalankan hingga rel depan depo lokomotif, menandakan kesiapan operasional khususnya dari sarana. Hingga saat ini, layanan ini belum dapat beroperasi dikarenakan belum keluarnya izin dari Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.[12] Meskipun begitu, persiapan pengoperasian tetap dilaksanakan setelahnya dengan peninjauan dan pembersihan rel dari Muaro Kalaban hingga kota Sawahlunto.[13]
Kereta Wisata Mak Itam
Pada 7 Mei 2023, Mulai dioperasikan nya kereta wisata mak itam, dengan relasi Sawahlunto—Muaro Kalaban pulang pergi (p.p.) dengan tarif seharga Rp50.000,00 melewati rel yang sama seperti di tahun 2009. Dengan stanformasi rangkaian Lokomotif Uap E1060, kereta penumpang wisata, dan lokomotif BB 303 dengan tampilan vintage bernomor 78 04 untuk membantu tugas kereta wisata di Kota Sawahlunto ini. Kereta Api Wisata Mak Itam ini hanya beroperasi pada hari Minggu dan hanya 1 perjalanan p.p. saja.