Sebanyak 15 unit ditanahkan di area Balai Yasa Padang, sedangkan 2 unit lainnya berstatus tidak siap guna operasi (TSGO) dan berada di Depo lokomotif Solok
Lokomotif ini berdaya mesin sebesar 920kW (1.230hp) dengan susunan gandar lokomotif ini adalah Bo'2'Bo', artinya dua bogie dengan dua gandar penggerak dan satu bogie idle dengan dua gandar. Lokomotif ini terdapat di Divisi Regional II Sumatera Barat yang relnya bergigi.
Sejarah
Pada era dieselisasi lokomotif Indonesia, Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) mendatangkan lokomotif BB204 dari Swiss Locomotive and Machine Works (SLM), Swiss yang dioperasikan untuk mengganti lokomotif uap E10. Lokomotif ini terbagi menjadi tiga kedatangan, angkatan pertama didatangkan pada tahun 1982 sebanyak empat unit, angkatan kedua didatangkan pada tahun 1984 sebanyak enam unit, dan 1993 didatangkan sebanyak tujuh unit. Lokomotif ini pada awalnya ditugaskan untuk menarik angkutan batu bara di lintas rel bergigi di Sumatera Barat.
Nasib Kini
Setelah tambang batu bara berhenti beroperasi satu per satu lokomotif ini pun ikut berhenti beroperasi yg hanya tinggal beberapa unit dari lokomotif ini yg masih siap operasi ditugaskan untuk menarik kereta penumpang kelas ekonomi, angkutan semen, dan kereta wisata sejak 2010an yg lalu.
Dan sejak 5 tahun yg lalu beberapa Railfans Divre Sumatera Barat, Divre Sumatera Utara & Aceh Beberapa Railfans Seluruh Daop Pulau Jawa mengabadikan/mendokumentasikan lokomotif ini sehingga seluruh unit lokomotif BB204 kini dalam keadaan tidak siap operasi melalui Media Sosial Youtube, Facebook, Instagram. Dari BB204 01 sampai BB204 17 kecuali BB204 15 dan BB204 16 bersama sembilan unit kereta penumpang K1 dan K3 buatan Nippon Sharyo angkatan tahun 1958 kini ditumpuk di halaman Balai Yasa Padang. Sedangkan untuk BB204 15 (BB 204 93 05) dan BB204 16 (BB 204 93 06) sendiri masih berada di Depo lokomotif Solok.[2]