Sejarah
Bus rel (2011–2025)
Bus rel ini diperkenalkan kepada publik pada tanggal 26 Juli 2011 dan diresmikan oleh Menteri Perhubungan RI Freddy Numberi,[4] di Surakarta bersama dengan bus bertingkat pariwisata Werkudara. Bus rel ini mulai beroperasi pada tanggal 5 Agustus 2012 dengan rute Sukoharjo-Solo Purwosari-Yogyakarta Tugu.[5] Karena ada jembatan kereta api yang sedang diperkuat antara Stasiun Pasarnguter-Stasiun Wonogiri, untuk sementara bus rel ini hanya sampai Stasiun Sukoharjo.[5]
Bus rel ini berhenti beroperasi pada sekitar awal tahun 2013, setelah mangkrak sejak Oktober 2012 karena generator rangkaian bus rel yang sering rusak.[4] Bus rel ini dibawa ke pabrik PT INKA di Madiun untuk diperbaiki.[4] Hingga 2015 bus rel ini hanya dikandangkan di depo lokomotif Solo Balapan,[6] sampai pada akhirnya PT KAI memutuskan untuk mengoperasikan kembali bus rel ini. Saat ini bus rel telah beroperasi kembali dengan rute Purwosari-Wonogiri pp dengan rute trayek dua kali sehari.
Tanggal 4 Desember 2014, bus rel ini kembali diujicobakan oleh PT KAI dan Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Kota Surakarta. Berdasarkan rencana, bus rel ini akan dioperasikan pada 6 Februari 2015 dengan rute Solo—Sukoharjo—Wonogiri dengan tarif Rp4.000,00.[7] Namun pada awal Februari 2015, Kementerian Perhubungan Indonesia menunda pengoperasian tersebut[8] hingga Maret 2015.
Memasuki bulan Maret 2015, kembali diumumkan bahwa bus rel akan diluncurkan kembali pada tanggal 11 Maret 2015, dengan operasional untuk umum dimulai pada tanggal 12 Maret 2015. Bus rel ini secara resmi beroperasi kembali setelah diresmikan oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pada tanggal 11 Maret 2015 di Stasiun Purwosari.[9]
Karena adanya gangguan operasional pada bulan Juni 2015, rangkaian bus rel ini untuk sementara tidak beroperasi dan berada di depo.[10] Merespon hal tersebut, PT KAI Daop VI Yogyakarta menyiasati perjalanan kereta api ini menggunakan rangkaian cadangan kereta api Prambanan Ekspres berbasis KRD MCW 302 yang mana berjalan dua pekan untuk menunggu selesainya perbaikan.[10] Dengan selesainya perbaikan, semenjak Juli 2015 hingga saat ini bus rel beroperasi dengan rangkaian aslinya.
Keunikan selain melintasi rel di Jalan Slamet Riyadi, kereta ini terkadang memanfaatkan rangkaian cadangan Prameks seperti KRDI dan KRD MCW 302 dikarenakan rangkaian bus rel yang membutuhkan perawatan lebih mengingat medan yang ditempuh.
Mulai akhir Juni 2019, KRD MCW 302 yang sebelumnya menjadi cadangan layanan ini telah ditarik kembali untuk pembuatan Kereta Inspeksi bersama dengan KRD MCW 302 dari Surabaya. Sekarang, apabila rangkaian asli layanan ini mengalami kerusakan, maka layanan KA ini digantikan dengan cadangan armada KA BIAS.
Menggunakan KRD MCW 302 (2025–sekarang)
Sehubungan dengan keinginan KAI untuk menggantikan bus rel Batara Kresna yang selalu problematik dan juga selesainya peningkatan prasarana perkeretaapian di rute Solo Kota–Wonogiri, bus rel Batara Kresna akhirnya digantikan oleh kereta rel diesel KRD MCW 302 pindahan dari kereta api Kedung Sepur sejak 1 Februari 2025. Perubahan armada ini tidak hanya meningkatkan efektivitas pengoperasian layanan KA Batara Kresna, tetapi juga meningkatkan kapasitas penumpang dengan jumlah kursi sebanyak 96 kursi dan mampu mengangkut hingga 144 penumpang, atau 150% dari kapasitas kursi.[3]
Selain itu, batas kecepatan (taspat) KA Batara Kresna usai menggunakan kereta rel diesel meningkat secara signifikan menjadi 80 km/jam dari yang sebelumnya hanya 40 km/jam. Peningkatan ini berpengaruh secara signifikan terhadap lama perjalanan yang sebelumnya 2 jam menjadi 1 jam saja.[11]
Insiden
Meskipun meningkatkan efektivitas pelayanan dan okupansi penumpang, peningkatan kecepatan kereta api Batara Kresna juga membawa bahaya tersendiri. Bahkan uji coba yang dilakukan dengan KRD juga mendatangkan korban jiwa berupa kambing ternak sebanyak 7 ekor yang tewas tertabrak pada 31 Januari 2025.[12]
Pada 23 Februari 2025, sebuah mobil bak terbuka ditabrak oleh kereta api Batara Kresna yang sedang melaju di perlintasan sebidang tak terjaga di lintas km 7+800/900 petak jalan Solokota—Sukoharjo di Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Peristiwa ini membuat mobil terseret hingga ke bahu jembatan yang ada di dekat perlintasan. Untuk menghindari kejadian serupa, petugas pun melakukan pemasangan rambu imbauan untuk mendahulukan kereta api sebelum melintas.[13]
Berselang lima hari kemudian. 28 Februari 2025, sebuah mobil tertabrak kereta api Batara Kresna di tepi jalan Slamet Riyadi wilayah Kelurahan Sriwedari, Laweyan, Solo. Mobil ditabrak saat hendak keluar dari pedestrian dan hendak menyeberang rel saat kereta api melaju dari arah barat. Meskipun sudah menyuarakan klakson/suling lokomotif, pengemudi mobil tidak memperhatikan datangnya kereta sesaat sebelum insiden terjadi. Tidak ada korban jiwa baik di sisi pengendara mobil maupun penumpang kereta, walaupun bagian depan kereta api mengalami kerusakan ringan.[14]
Pada 26 Maret 2025, sebuah mobil tertabrak oleh kereta api Batara Kresna pada sebuah perlintasan berpalang di Jalan Lingkar Timur, Kelurahan Gayam, Kabupaten Sukoharjo, tepatnya di depan terminal Sukoharjo. Mobil dikendarai oleh 2 keluarga yang terdiri atas 7 orang asal Jakarta yang hendak pulang ke kampung halamannya di Wonogiri dan Sukoharjo. Tidak mengetahui peringatan akan datangnya kereta, mobil pun tertabrak hingga terguling di sisi bawah rel. Empat pengendara mobil tewas saat kejadian sementara sisanya mengalami luka sedang. Melalui penyelidikan oleh kepolisian setempat, ditetapkanlah petugas Penjaga Jalur Lintasan (PJL) di perlintasan sebidang PJL 19 sebagai tersangka karena akibat kelalaiannya tidak menutup perlintasan saat kereta melaju hingga menyebabkan korban jiwa.[15][16]
Pada 17 Juli 2025, sebuah mobil taksi daring tertemper kereta api Batara Kresna arah Stasiun Purwosari di Jalan Slamet Riyadi. Pengemudi mengaku tidak mengetahui jadwal dan kebiasaan melintasnya kereta api di jalan. Pengemudi saat itu hendak menjemput istri di Pasar Gede. Berkendara sambil memakai ponsel, mobil pun tertabrak dan berhenti saat tersangkut pada tiang rambu lalu lintas dan ringsek di kawasan simpang empat Loji Wetan, Pasar Kliwon, Solo pada pukul 12.41 WIB. Kereta api pun sempat berhenti untuk dilakukan pengecekan kerusakan. Beruntung tidak ada korban jiwa maupun luka akibat insiden tersebut.[17]
Pada 15 November 2025, sebuah mobil kembali tertabrak kereta api Batara Kresna di perlintasan tak terjaga yang ada di Kampung Tegalrejo, Sukoharjo pada lintas km 16+400, petak jalan rel Sukoharjo—Pasarnguter. Mobil tersebut dinaiki oleh pasangan suami-istri yang kurang memperhatikan kereta api yang akan segera melintas. Benturan menyebabkan kendaraan terpental hingga dua meter dari lokasi tabrakan dan ringsek akibat bodi bagian kiri belakang mobil terbentur. Tidak ada korban jiwa akibat insiden ini tetapi benturan juga menyebabkan penumpang mengalami sesak dada dan dilarikan ke RS Nirmala Sari untuk mendapatkan pertolongan medis.[18]
Pada 19 April 2026, seorang pengendara sepeda motor menemper kereta api Batara Kresna saat sedang melintas di Jalan Slamet Riyadi Solo petak jalan rel Purwosari—Solokota lintas km 5+200, di tengah momen hari bebas kendaraan bermotor. Beruntung pengendara motor selamat dan dilarikan ke Rumah Sakit Kasih Ibu dan perjalanan dilanjutkan tak berselang lama.[19]