ENSIKLOPEDIA
Kemunculan Bersebab

| Terjemahan dari Kemunculan Bersebab | |
|---|---|
| Indonesia | kemunculan bersebab, kemunculan bergantung, dependensi kemunculan, sebab musabab yang saling bergantungcode: id is deprecated |
| Inggris | dependent origination, dependent arising, interdependent co-arising, conditioned arising |
| Pali | paṭiccasamuppādacode: pi is deprecated |
| Sanskerta | प्रतीत्यसमुत्पादcode: sa is deprecated (IAST: pratītyasamutpāda) |
| Tionghoa | 緣起code: zh is deprecated (Pinyin: yuánqǐcode: pny is deprecated ) |
| Jepang | 縁起code: ja is deprecated (rōmaji: engicode: ja is deprecated ) |
| Korea | 연기code: ko is deprecated (RR: yeongicode: ko is deprecated ) |
| Tibet | རྟེན་ཅིང་འབྲེལ་བར་འབྱུང་བ་code: bo is deprecated (Wylie: rten cing 'brel bar 'byung ba THL: ten-ching drelwar jungwacode: bo is deprecated ) |
| Bengali | প্রতীত্যসমুৎপাদcode: bn is deprecated |
| Myanmar | ပဋိစ္စ သမုပ္ပါဒ်code: my is deprecated IPA: [bədeiʔsa̰ θəmouʔpaʔ]code: my is deprecated |
| Thai | ปฏิจจสมุปบาท (RTGS: patitcha samupabat)code: th is deprecated |
| Vietnam | duyên khởicode: vi is deprecated |
| Khmer | បដិច្ចសមុប្បាទ (padecchak samubbat)code: km is deprecated |
| Sinhala | පටිච්චසමුප්පාදcode: si is deprecated |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari seri tentang | |||||||||
| Buddhisme | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
Kemunculan Bersebab (Pali: paṭiccasamuppāda; Sanskerta: pratītyasamutpāda; KBBI: paticasamupada), juga dikenal sebagai Dependensi Kemunculan, Kemunculan Bergantungan, dan Sebab Musabab yang Saling Bergantung, merupakan salah satu ajaran terpenting dalam Buddhisme,[1] yang menyatakan bahwa semua dhamma (fenomena) yang muncul senantiasa bergantung pada dhamma lainnya: “jika ini ada, itu ada; jika ini tidak ada lagi, itu juga tidak ada lagi”. Prinsip dasarnya adalah bahwa tidak ada satupun hal (dhamma, fenomena, prinsip) yang eksis secara independen; semuanya muncul karena adanya kondisi-kondisi yang saling bergantung.
Pentingnya ajaran ini ditekankan oleh Buddha dalam Mahāhatthipadopama Sutta (MN 28) melalui pernyataan-Nya:
| “ | Yo paṭiccasamuppādaṁ passati so dhammaṁ passati; yo dhammaṁ passati so paṭiccasamuppādaṁ passati. Barang siapa melihat Kemunculan Bersebab, ia melihat Dhamma. Barang siapa melihat Dhamma, ia melihat Kemunculan Bersebab. |
” |
| — Mahāhatthipadopama Sutta, MN 28 | ||
Ajaran ini mencakup gambaran tentang munculnya penderitaan (anuloma-paṭiccasamuppāda, dalam urutan maju) dan gambaran tentang bagaimana rantai tersebut dapat dibalik (paṭiloma-paṭiccasamuppāda, dalam urutan mundur).[2][3] Proses-proses ini diekspresikan dalam berbagai daftar fenomena yang muncul secara bergantungan, yang paling terkenal adalah dua belas tautan mata rantai atau nidāna (Pāli: dvādasanidānāni). Penafsiran tradisional (terutama dalam Theravāda) dari daftar ini adalah bahwa nidāna menggambarkan proses kelahiran kembali makhluk hidup di saṃsāra, dan dukkha (penderitaan, ketidaknyamanan) yang dihasilkannya.[4] Kemunculan Bersebab juga memberikan analisis mengenai kelahiran kembali dan penderitaan yang menghindari pengasumsian adanya atta (Sanskerta: ātman) (diri yang tidak berubah, atau roh yang kekal).[5][6] Pembalikan rantai kausalitas tersebut dijelaskan sebagai jalan yang mengarah pada berhentinya siklus kelahiran kembali (dan dengan demikian, juga berhentinya penderitaan).[7][8]
Ajaran tentang Kemunculan Bersebab muncul di banyak bagian Tripitaka Pali. Ini merupakan topik utama dari ''Nidāna Saṁyutta'' dalam kitab Saṁyuttanikāya (selanjutnya disebut SN) dari tradisi Theravāda. Koleksi diskursus (sutta) paralel juga terdapat dalam kitab Saṁyuktāgama berbahasa Tionghoa (disingkat SA).[9]
Etimologi
Istilah Pāli paṭiccasamuppāda (yang sejajar dengan istilah bahasa Sanskerta pratītyasamutpāda) terdiri dari dua unsur utama:
- Paṭicca (sejajar dengan istilah Sanskerta pratītya): berarti "setelah bergantung".[10] Istilah Sanskertanya muncul dalam Weda dan Upanisad[note 1] dalam pengertian "konfirmasi, ketergantungan, pengakuan asal-usul".[11][12] Akar kata Sanskertanya adalah prati* yang maknanya "pergi menuju, kembali, mendekati" dengan konotasi "mengamati, mempelajari, meyakinkan diri sendiri akan kebenaran apa pun, yakin akan, percaya, memberi kredibilitas, mengenali". Dalam konteks lain, istilah terkait pratiti* berarti "menuju ke arah, mendekati, wawasan tentang apa pun".[12]
- Samuppāda (sejajar dengan istilah Sanskerta samutpāda): berarti "kemunculan",[10] "timbul, produksi, asal mula".[13] Dalam literatur Weda, istilah ini berarti "muncul bersama, timbul, terjadi, efek, bentuk, hasil, berasal".[14]
Paṭiccasamuppāda (Pali) dan/atau pratītyasamutpāda (Sanskerta) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai dependent origination, dependent arising (kemunculan bergantungan), interdependent co-arising (kemunculan-bersama yang saling bergantung), dan conditioned arising (kemunculan terkondisi).[15][16][note 2]
Jeffrey Hopkins mencatat bahwa istilah Sanskerta yang sinonim dengan pratītyasamutpāda (Pali: paṭiccasamuppāda) adalah apekṣasamutpāda dan prāpyasamutpāda.[22]
Istilah ini juga dapat merujuk pada dua belas mata rantai (nidāna); dari bahasa Pāli: dvādasanidānāni (Sanskerta: dvādaśanidānāni), yang sejajar dengan kata Sanskerta dvādaśa ("dua belas") + nidānāni (bentuk jamak dari nidāna, yang berarti "sebab, motivasi, tautan").[quote 2] Secara umum, dalam tradisi Mahāyāna, istilah Sanskerta pratītyasamutpāda digunakan untuk merujuk pada prinsip umum kausalitas yang saling bergantung, sedangkan dalam tradisi Theravāda, istilah Pāli paṭiccasamuppāda digunakan untuk merujuk pada dua belas nidāna.
Kesalingbergantungan antarkondisi
Dalam teks-teks Buddhis awal, prinsip dasar kesalingbergantungan kondisi-kondisi sering disebut sebagai "kepastian dhamma" (dhamma-niyāmatā), atau "kondisionalitas spesifik, ketergantungan pada kondisi ini/itu" (idappaccayatā).[24] Prinsip ini diekspresikan dalam bentuk rumusan logis umumnya sebagai berikut:[3][25]
| “ | ‘iti imasmiṁ sati idaṁ hoti, imassuppādā idaṁ uppajjati; imasmiṁ asati idaṁ na hoti, imassa nirodhā idaṁ nirujjhati— Jika ini ada, maka muncul itu; dengan munculnya (uppāda) ini, maka muncul pula itu. Jika ini tidak ada, maka itu tidak muncul; dengan lenyapnya (nirodha) ini, maka lenyap pula itu.[26] |
” |
| — Assutavā Sutta, SN 12.61 | ||
Menurut Paccaya Sutta (SN 12.20), hukum alam tentang kesalingbergantungan kondisi-kondisi ini terus ada dan tetap berlaku terlepas dari apakah hukumnya ditemukan oleh seorang Buddha (seorang "Tathāgata") atau tidak. Hukum ini bersifat tetap dan stabil (dhamma-tthitatā), sedangkan proses-proses yang muncul secara bergantungan (paṭiccasamuppannā dhammā) merupakan variabel yang tidak kekal, terkondisi, dan tunduk pada kehancuran.[27][28]
Dua belas mata rantai
|
Daftar yang paling umum digunakan untuk menganalisis Kemunculan Bersebab adalah dua belas nidāna (penyebab, tautan, atau mata-rantai). Penjelasan rinci mengenai nidāna ini dapat ditemukan dalam Vibhaṅga Sutta (SN 12.2). Lebih lanjut, teks paralel serupa juga dapat ditemukan di luar Tripitaka Pali, misalnya dalam SA 298.[29] Setiap tautan biasanya diakhiri dengan penegasan bahwa itu adalah "penyebab dari seluruh kesusahan dan penderitaan."
Teks-teks yang isinya paralel dengan SN 12.2 juga dapat ditemukan di EA 49.5. Selain itu, beberapa paralel berbahasa Sanskerta termasuk Pratītyasamutpādādivibhaṅganirdeśanāmasūtra dan terjemahan Tibet dari teks tersebut di Toh 211.[30][31][32]
| Mata rantai (nidāna) | Terjemahan Indonesia | Penjelasan berdasarkan SN 12.2 |
Perbandingan dengan SA 298 |
|---|---|---|---|
| Avijjā (Sanskerta: avidyā; Hanzi: 無明) |
Ketidaktahuan, kebodohan batin | Tidak mengetahui penderitaan, asal mula penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan.[33] | Menambahkan ketidaktahuan atas berbagai topik lain, termasuk karma dan akibatnya, Triratna, kebaikan moral, "yang internal dan eksternal", kesucian dan ketidaksucian, kemunculan bersyarat, dan lain-lain.[34] |
| Saṅkhāra (Skt.: saṃskāra; Hanzi: 行) |
Formasi kehendak, bentukan karma | Tiga jenis formasi: formasi jasmani, formasi ucapan, dan formasi pikiran.[33] | Memuat tiga jenis formasi yang sama (jasmani, ucapan, dan pikiran).[35] |
| Viññāṇa (Skt.: vijñāna; Hanzi: 識) |
Kesadaran | Enam jenis kesadaran: kesadaran mata, telinga, hidung, lidah, jasmani, dan pikiran.[33] | Sependapat bahwa terdapat enam jenis kesadaran tersebut.[35] |
| Nāmarūpa (Hanzi: 名色) |
Batin-dan-jasmani (batin-dan-rupa) | Nāma meliputi perasaan (vedanā), persepsi (saññā), kehendak (cetanā), kontak (phassa), dan perhatian (manasikāra). Rūpa adalah empat unsur pokok (tanah, air, api, angin) dan jasmani yang terbentuk darinya.[33] | Mendefinisikan nāma secara berbeda, yaitu sebagai empat gugusan lainnya: perasaan, persepsi, formasi kehendak, dan kesadaran.[36] |
| Saḷāyatana (Skt.: ṣaḍāyatana; Hanzi: 六入處) |
Enam landasan indra | Landasan indra mata, telinga, hidung, lidah, jasmani, dan pikiran (daya akal budi).[33] | Sependapat bahwa hal ini merujuk pada enam landasan indra tersebut.[37] |
| Phassa (Skt.: sparśa; Hanzi: 觸) |
Kontak | Pertemuan antara objek indra, landasan indra, dan kesadaran (viññāṇa) terkait. Terdapat enam jenis phassa.[33] | Sependapat mengenai pertemuan ketiga hal tersebut yang membentuk kontak.[37] |
| Vedanā (Hanzi: 受) |
Perasaan, sensasi | Perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral ("bukan-tidak-menyenangkan-dan-bukan-menyenangkan") yang muncul akibat enam jenis kontak indrawi. | Sepakat mengenai perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan, dan/atau netral yang muncul saat organ indra internal mengalami kontak dengan objek eksternal dan kesadarannya.[38] |
| Taṇhā (Skt.: tṛṣṇā; Hanzi: 愛) |
Kehausan, nafsu-keinginan | Nafsu akan bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan, dan gagasan (objek pikiran).[33] | Memuat tiga jenis nafsu-keinginan yang berbeda (sejalan dengan Vibhaṅganirdeśa): nafsu akan kenikmatan indrawi, nafsu akan bentuk (rūpa), dan nafsu akan ketiadaan bentuk (arūpa).[39] |
| Upādāna (Hanzi: 取) |
Kemelekatan | Kemelekatan pada kenikmatan indrawi, kemelekatan pada pandangan salah, kemelekatan pada ritual/adat, dan kemelekatan pada doktrin tentang jati diri (attavāda).[33] | Sependapat dengan tiga jenis yang pertama, tetapi menyebutkan "kemelekatan pada diri" untuk jenis keempat (alih-alih kemelekatan pada "doktrin tentang jati diri").[40] |
| Bhava (Hanzi: 有) |
Kemenjadian, penjelmaan, keberadaan |
Tiga alam kemenjadian/penjelmaan: penjelmaan alam indrawi, penjelmaan alam rūpa, dan penjelmaan alam arūpa.[33] | Sependapat sepenuhnya dengan penjabaran SN 12.2.[41] |
| Jāti (Hanzi: 生) |
Kelahiran | Pelahiran, penurunan, permulaan, kemunculan gugusan (khandha), dan perolehan landasan indra makhluk di berbagai alam.[33] | Sependapat dengan SN 12.2 dan menambahkan dua hal lagi: perolehan unsur-unsur (dhātu) dan perolehan indra-kehidupan.[42] |
| Jarāmaraṇa (Hanzi: 老死) |
Penuaan dan kematian | Penuaan, pelemahan, hilangnya vitalitas; serta kematian, putusnya indra-kehidupan (jīvitindriya) dari makhluk-makhluk.[33] | Pada umumnya sependapat, dengan menambahkan beberapa deskripsi serupa lainnya.[42] |
Daftar alternatif
Kitab SN dan SA
Daftar dua belas mata rantai ini, meskipun populer, hanyalah salah satu dari sekian banyak daftar dhamma kemunculan-bergantungan yang muncul di sumber-sumber awal.[43] Selain di SN 12.2 dari Tripitaka Pali-nya Theravāda, dan SA 298 di Tripitaka Taishō non-Theravāda; daftar serupa juga dapat ditemukan di beberapa bagian lain dari Saṁyuttanikāya (SN) dan Saṁyuktāgama (SA).[44] Menurut Anālayo, daftar alternatif mengenai fenomena yang muncul secara bergantungan merupakan "ungkapan alternatif yang sama validnya dari prinsip yang sama".[45]
Choong mencatat bahwa beberapa diskursus lainnya (SN 12.38-40 dan SA 359-361) hanya berisi 11 unsur, tidak mengikutsertakan unsur ketidaktahuan, dan dimulai dari "berkehendak" (ceteti). SN 12.39 dimulai dengan tiga sinonim untuk saṅkhāra, yakni berkehendak, berniat (pakappeti), dan melangsungkan/mendasari (anuseti). Sutta tersebut kemudian menyatakan bahwa "ini menjadi objek (ārammaṇam) bagi keberlangsungan kesadaran (viññāṇassa-ṭhitiyā)" yang berujung pada munculnya batin dan jasmani. Urutan standar kemudian berlanjut.[44]
SN 12.38 (dan paralelnya di SA 359) memuat urutan yang jauh lebih singkat; urutan tersebut dimulai dengan berkehendak, seperti di atas, yang mengarah pada kesadaran, kemudian setelah kesadaran disebutkan: "di masa depan ada kemenjadian kelahiran-kembali (punabbhavābhinibbatti)", yang mengarah pada "datang-dan-pergi (āgatigati)", lalu disusul oleh "kematian-dan-kelahiran kembali (cutūpapāto)", dan setelah itu "muncullah kelahiran di masa depan, penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, rasa sakit, penderitaan batin, dan keputusasaan."[44] Urutan singkat lainnya ditemukan di SN 12.65-67 dan SA 291 yang memuat analisis kemunculan bersebab dengan hanya tiga faktor: nafsu-keinginan (taṇhā), basis/landasan (upadhi, istilah ini kemungkinan terkait dengan upādāna), dan penderitaan (dukkha).[44]
Dalam SN 12.59 dan SA 284 (teks paralelnya), terdapat rantai yang diawali dengan menyatakan bahwa bagi seseorang yang "berdiam dalam memandang [teks SA mengistilahkan melekat pada] daya tarik dari dhamma-dhamma yang membelenggu (saññojaniyesu dhammesu), maka muncullah (avakkanti) kesadaran." Rantai standar kemudian menyusul. Selanjutnya, dinyatakan bahwa jika seseorang berdiam dengan melihat bahaya (ādīnavānupassino) pada dhamma-dhamma tersebut (teks SA mengistilahkan melihat ketidakkekalan), tidak akan ada pemunculan kesadaran (teks SA mengistilahkan pikiran).[44]
SN 12.65 dan 67 (serta SA 287 dan 288) mengawali mata rantai ini dengan kesadaran (viññāṇa) serta batin dan jasmani (nāmarūpa) yang saling mengondisikan satu sama lain dalam suatu hubungan melingkar. Sutta ini juga menyatakan bahwa "kesadaran berbalik, ia tidak melampaui batin dan jasmani."[44] SN 12.67 juga memuat mata rantai dengan kesadaran serta batin dan jasmani yang berada dalam hubungan timbal balik. Dalam sutta ini, Sāriputta menyatakan bahwa hubungan ini bagaikan dua berkas gelagah/alang-alang yang saling bersandar satu sama lain agar dapat tegak (paralel di SA 288 menyebutkan tiga berkas alang-alang).[44]
Terdapat pula beberapa bagian dengan mata rantai yang dimulai dari enam landasan indra (āyatana). Bagian-bagian ini dapat ditemukan di SN 12.24, SN 12.13-14, dan SN 12.71-81 di Tripitaka Pali; serta SA 343 dan SA 352-354 di Tripitaka Taishō.[44] Contoh lainnya terdapat di SN 35.106, yang oleh Bucknell disebut sebagai "versi bercabang" karena bercabang menjadi enam kelas kesadaran (viññāṇa):[46][43]
Kesadaran mata muncul bergantung pada mata dan bentuk penglihatan. Pertemuan ketiga hal tersebut adalah kontak. Kontak merupakan kondisi bagi perasaan. Perasaan merupakan kondisi bagi nafsu-keinginan. Inilah asal mula penderitaan... [rumusan yang sama diulang untuk enam landasan indra dan enam kesadaran lainnya, yakni telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran]
Gambaran mata rantai lainnya dalam SN 12.52 dan paralelnya di SA 286, dimulai dengan melihat assāda (rasa; kenikmatan; kepuasan) yang kemudian mengarah pada nafsu-keinginan (taṇhā) dan daftar nidāna sisanya.[44] Sementara itu, dalam SN 12.62 dan SA 290, Kemunculan Bersebab digambarkan hanya dengan dua nidāna, yakni kontak (phassa) dan perasaan (vedanā). SN 12.62 menyatakan bahwa ketika seseorang merasa muak/jemu terhadap kontak dan perasaan, nafsu pun turut memudar.[44]
Kitab DN dan DA
Brahmajāla Sutta (DN 1) dari kitab Dīghanikāya menjabarkan enam mata rantai (nidāna):
Mereka mengalami perasaan-perasaan ini melalui kontak yang berulang-ulang pada enam landasan indra; perasaan mengondisikan nafsu-keinginan; nafsu-keinginan mengondisikan kemelekatan; kemelekatan mengondisikan keberadaan/kemenjadian; kemenjadian mengondisikan kelahiran; kelahiran mengondisikan usia tua dan kematian, kesedihan, ratapan, rasa sakit, dan penderitaan batin.[47][note 3]
Mahānidāna Sutta (DN 15), dan paralel bahasa Tionghoanya seperti DA 13, menggambarkan versi unik yang dijuluki "versi melingkar" (looped version) oleh Bucknell (DN 14 juga memiliki rantai melingkar yang serupa tetapi menambahkan enam landasan indra setelah batin dan jasmani):[48][43][49]
Batin dan jasmani adalah prasyarat/kondisi bagi kesadaran. Kesadaran adalah kondisi bagi batin dan jasmani. Batin dan jasmani adalah kondisi bagi kontak. Kontak adalah kondisi bagi perasaan. Perasaan adalah kondisi bagi nafsu-keinginan. Nafsu-keinginan adalah kondisi bagi kemelekatan. Kemelekatan adalah kondisi bagi keberadaan yang berlanjut. Keberadaan yang berlanjut adalah kondisi bagi kelahiran [kembali]. Kelahiran [kembali] adalah kondisi yang menyebabkan munculnya usia tua dan kematian, kesedihan, ratapan, rasa sakit, kemuraman, dan keputusasaan. Begitulah cara seluruh kumpulan penderitaan ini bermula.
Kitab MN
Demikian pula, Madhupiṇḍika Sutta (MN 18) dari kitab Majjhimanikāya memuat bagian berikut:[50]
Kesadaran mata muncul bergantung pada mata dan objek pandangan. Pertemuan ketiganya adalah kontak. Kontak adalah kondisi bagi perasaan. Apa yang Anda rasakan, Anda cerap/persepsikan. Apa yang Anda cerap, Anda pikirkan. Apa yang Anda pikirkan, Anda proliferasikan (kembangbiakan/papañca). Apa yang Anda proliferasikan adalah sumber dari mana seseorang dilanda oleh konsep-konsep identitas yang muncul dari proliferasi persepsi. Hal ini terjadi sehubungan dengan pandangan yang dikenali oleh mata di masa lalu, masa depan, dan masa kini. [Proses yang sama kemudian diulangi pada enam landasan indra lainnya.]
Mahāhatthipadopama Sutta (MN 28) memuat penjelasan singkat lainnya tentang Kemunculan Bersebab:[5][51]
... kelima gugusan kemelekatan (pañcupādānakkhandhā) ini sungguh muncul secara bergantungan. Keinginan, kepatuhan, ketertarikan, dan keterikatan pada lima gugusan kemelekatan ini adalah asal mula penderitaan. Melepaskan dan membuang nafsu-keinginan serta keserakahan pada lima gugusan kemelekatan ini adalah lenyapnya penderitaan.
Kitab Snp
Kalahavivāda Sutta (Snp 862-872) dari kitab Suttanipāta menuliskan mata rantai sebab akibat sebagai berikut (sebagaimana dirangkum oleh Doug Smith):
... batin-dan-jasmani mengondisikan kontak, kontak mengondisikan perasaan, perasaan mengondisikan nafsu-keinginan, nafsu-keinginan mengondisikan kemelekatan, dan kemelekatan mengondisikan pertengkaran, perdebatan, ratapan, dan kesedihan.[52][53]
Hubungan dengan Empat Kebenaran Mulia
Prinsip Kemunculan Bersebab sangat erat kaitannya dengan ajaran inti Buddhisme mengenai penderitaan, yang dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia. Berdasarkan teks-teks sutta awal seperti AN 3.61, Kebenaran Mulia kedua dan ketiga berkorelasi langsung dengan prinsip Kemunculan Bersebab.[54][55]
Proses dua belas mata rantai dalam urutan maju (yang berujung pada dukkha) merupakan penjabaran rinci dari Kebenaran Mulia Kedua, yakni asal mula penderitaan (dukkha-samudaya).
| “ | ... Dan apakah, para bhikkhu, kebenaran mulia asal-mula penderitaan? Dengan ketidak-tahuan sebagai kondisi, maka [muncul] aktivitas-aktivitas berkehendak; dengan aktivitas-aktivitas berkehendak sebagai kondisi, maka kesadaran; dengan kesadaran sebagai kondisi, maka nama-dan-bentuk; dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi, maka enam landasan indria; dengan enam landasan indria sebagai kondisi, maka kontak; dengan kontak sebagai kondisi, maka perasaan; dengan perasaan sebagai kondisi, maka ketagihan; dengan ketagihan sebagai kondisi, maka kemelekatan; dengan kemelekatan sebagai kondisi, maka penjelmaan; dengan penjelmaan sebagai kondisi, maka kelahiran; dengan kelahiran sebagai kondisi, maka muncul penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan ini. Ini disebut kebenaran mulia asal-mula penderitaan. ... | ” |
| — Titthāyatana Sutta, AN 3.61 terj. Indra Anggara | ||
Sebaliknya, pembalikan urutan mata rantai tersebut (urutan mundur) yang memutus siklus ini adalah representasi dari Kebenaran Mulia Ketiga, yakni lenyapnya penderitaan (dukkha-nirodha).[55]
| “ | ... Dan apakah, para bhikkhu, kebenaran mulia lenyapnya penderitaan? Dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidak-tahuan maka lenyap pula aktivitas-aktivitas berkehendak; dengan lenyapnya aktivitas-aktivitas berkehendak, maka lenyap pula kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, maka lenyap pula nama-dan-bentuk; dengan lenyapnya nama-dan-bentuk, maka lenyap pula enam landasan indria; dengan lenyapnya enam landasan indria, maka lenyap pula kontak; dengan lenyapnya kontak, maka lenyap pula perasaan; dengan lenyapnya perasaan, maka lenyap pula ketagihan; dengan lenyapnya ketagihan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini. Ini disebut kebenaran mulia lenyapnya penderitaan. ... | ” |
| — Titthāyatana Sutta, AN 3.61 terj. Indra Anggara | ||
Dengan demikian, Empat Kebenaran Mulia dapat dipandang sebagai penerapan prinsip Kemunculan Bersebab yang difokuskan secara khusus pada penderitaan.[16]
Hubungan dengan lima gugusan
Mathieu Boisvert mengorelasikan mata-mata rantai (nidāna) pertengahan (3-10) dengan lima gugusan (khandha).[1] Menurut Boisvert, gugusan kesadaran (viññāṇakkhandha) dan gugusan perasaan (vedanākkhandha) berkorelasi langsung dengan mata rantai yang bersesuaian, sedangkan gugusan jasmani (rūpakkhandha) berkorelasi dengan enam objek indra (saḷāyatana) dan kontak (phassa). Sementara itu, gugusan formasi (saṅkhārakkhandha) berkorelasi dengan mata rantai ke-2, begitu pula dengan nafsu-keinginan (taṇhā), kemelekatan (upādanā), dan kemenjadian (bhava).[1]
Boisvert mencatat bahwa meskipun saññā ("persepsi" atau "pencerap") tidak ditemukan secara eksplisit dalam rantai dua belas nidāna, unsur tersebut akan cocok ditempatkan di antara perasaan dan nafsu-keinginan. Ini karena persepsi yang tidak bajik (seperti menikmati perasaan yang menyenangkan) bertanggung jawab atas munculnya saṅkhāra yang tidak bajik (seperti nafsu-keinginan). Demikian juga, persepsi yang terampil (seperti berfokus pada tiga corak keberadaan) akan mengarah pada saṅkhāra yang bajik.[1]
Menurut Anālayo, tiap-tiap dari kedua belas nidāna "mengharuskan kelima gugusan berada dalam eksistensi secara bersamaan." Lebih lanjut:[45]
Ajaran tentang Kemunculan Bergantung tidak menetapkan keberadaan tautan-tautan tersebut secara abstrak, tetapi sebaliknya menunjukkan bagaimana sebuah tautan tertentu, sebagai salah satu aspek kesinambungan kelima gugusan, memberikan pengaruh yang mengondisikan tautan lainnya. Ajaran ini tidak menyiratkan bahwa satu pun dari tautan ini eksis terpisah dari kelima gugusan.[45]
Penafsiran Theravāda
Tiga masa kehidupan
Dalam tradisi tafsir Theravāda, yang selaras dengan metode Abhidhamma Theravāda, khususnya melalui kitab ikhtisar Visuddhimagga gubahan Buddhaghosa, dua belas mata rantai (nidāna) umumnya dijelaskan dalam skema yang mencakup "tiga masa kehidupan" yang saling terhubung.[3][56]
| Kehidupan lampau | Kehidupan sekarang | Kehidupan kelak |
Model ini membagi nidāna sebagai berikut:
- Kehidupan masa lalu: Avijjā (ketidaktahuan) dan saṅkhāra (formasi kehendak) bertindak sebagai proses karma (kamma-bhava) yang menjadi dasar bagi kehidupan saat ini.
- Kehidupan saat ini: Mencakup mata rantai ketiga hingga kesepuluh. Ini dimulai dari viññāṇa (kesadaran, dalam konteks ini merujuk pada kesadaran penyambung kelahiran kembali) yang turun ke rahim (atau jenis kelahiran lainnya), membawa nāmarūpa (batin-dan-jasmani), hingga berkembangnya saḷāyatana (enam landasan indra), phassa (kontak indra), dan vedanā (perasaan); sebagai keseluruhan proses kelahiran kembali atau uppatti-bhava. Respons terhadap perasaan memicu taṇhā (kehausan, nafsu-keinginan) dan upādāna (kemelekatan, keterikatan), yang pada gilirannya menciptakan bhava (kemenjadian, keberadaan) baru (proses kamma saat ini).
- Kehidupan masa depan: Dua mata rantai terakhir, yakni jāti (kelahiran) serta jarāmaraṇa (penuaan-dan-kematian), yang merupakan hasil tak terhindarkan dari kamma yang dibentuk di kehidupan saat ini.[57]
Tujuan utama penafsiran ini adalah untuk menunjukkan bagaimana fenomena siklus kematian dan kelahiran (samsara) beroperasi murni melalui hubungan sebab-akibat tanpa perlu mengasumsikan keberadaan suatu roh, jiwa, atau diri yang kekal (anattā).[25]
Tiga putaran pengotor batin
Kitab Visuddhimagga, sebuah kitab ikhtisar abad ke-5 M, dalam pembahasannya tentang "Kemunculan Bersebab" (Pali: paṭicca-samuppāda) (Vsm. XVII), menyajikan berbagai metode penjelasan untuk memahami dua belas mata rantai (nidāna). Salah satu metode (Vsm. XVII, 298) membagi dua belas faktor tersebut ke dalam tiga "putaran" (tivaṭṭa):
- "putaran pengotor batin" (kilesa-vaṭṭa)
- "putaran perbuatan berkehendak" (kamma-vaṭṭa)
- "putaran resultan/akibat perbuatan" (vipāka-vaṭṭa).[58][59]
| 12 nidāna | 3 putaran | ||
| tua-mati | aspek-aspek vipāka (resultan)[60] | ||
| ↑ | |||
| kelahiran | |||
| ↑ | ↑ | ||
| keberadaan | kamma | ||
| ↑ | ↑ | ||
| kemelekatan | kilesa (2 putaran) | ||
| ↑ | |||
| nafsu | |||
| ↑ | ↑ | ||
| perasaan | vipāka (resultan) | ||
| ↑ | |||
| kontak | |||
| ↑ | |||
| landasan indra | |||
| ↑ | |||
| batin-jasmani | |||
| ↑ | |||
| kesadaran | |||
| ↑ | ↑ | ||
| formasi | kamma | ||
| ↑ | ↑ | ||
| ketidaktahuan | kilesa (1 putaran) | ||
| Figur: "Tiga putaran" dari Kemunculan Bersebab (Vsm. XVII, 298). | |||
Dalam kerangka ini (lihat Diagram "12 Nidāna dan 3 Putaran", dimulai dari bagian bawah), kilesa (berupa avijjā, "ketidak-tahuan") mengondisikan kamma (yang adalah saṅkhāra, "formasi") yang mengondisikan hasil (berupa viññāṇa, "kesadaran"; hingga vedanā, "perasaan"), yang pada gilirannya mengondisikan kilesa (berupa taṇhā, "nafsu-keinginan"; dan upādāna, "kemelekatan") yang mengondisikan kamma (berupa bhava, "keberadaan") dan seterusnya.[61] Buddhaghosa (Vsm. XVII, 298) menyimpulkan:
- Maka bhavacakka (roda keberadaan) ini, yang mempunyai tiga putaran dengan tiga putaran ini, harus dipahami berputar, berputar lagi dan lagi, selamanya; karena kondisi-kondisi tidak terputus selama putaran pengotor-pengotor batin tidak terputus.[58]
Seperti yang dapat dilihat, dalam kerangka ini, putaran pengotor batin terdiri dari:
Di bagian lain kitab Visuddhimagga (Vsm. XXII, 88), dalam konteks empat individu mulia (ariya-puggala, lihat Empat tingkat kemuliaan), teks tersebut mengacu pada pertanda pencapaian Nirwana sebagai penghapusan total "pengotor batin yang merupakan akar dari putaran" (vaṭṭa-mūla-kilesā).[62]
Kemunculan Bersebab adiduniawi
Memahami Kemunculan Bersebab sangat penting dalam Theravāda karena memberikan pengetahuan tentang bagaimana siklus kematian dan kelahiran (samsara) dapat diakhiri (mencapai Nibbāna). Tradisi membedakan antara siklus duniawi (lokiya) yang menjebak makhluk dalam penderitaan, dan siklus adiduniawi (lokuttara paṭicca-samuppāda) yang menggambarkan proses pelepasan dari siklus tersebut.[63]
Dalam Upanisā Sutta (SN 12.23), Sang Buddha menjabarkan urutan kondisi yang mengarah pada pembebasan. Penderitaan (dukkha) justru menjadi prasyarat (kondisi pendukung) bagi munculnya keyakinan (saddhā):[64]
- Penderitaan (dukkha) mengondisikan keyakinan (saddhā)
- Keyakinan mengondisikan kegirangan (pāmojja)
- Kegirangan mengondisikan kegembiraan/kegiuran (pīti)
- Kegembiraan/kegiuran mengondisikan ketenteraman (passaddhi)
- Ketenteraman mengondisikan kebahagiaan (sukha)
- Kebahagiaan mengondisikan konsentrasi (samādhi)
- Konsentrasi mengondisikan pengetahuan dan penglihatan sebagaimana adanya (yathābhūta-ñāṇadassana)
- Pengetahuan dan penglihatan mengondisikan kejijikan/kejemuan pada duniawi (nibbidā)
- Kejijikan/kejemuan mengondisikan kebebasan dari nafsu (virāga)
- Kebebasan dari nafsu mengondisikan pembebasan (vimutti)
- Pembebasan mengondisikan pengetahuan tentang hancurnya noda batin (āsava-khaye-ñāṇa)
Penafsiran Mahāyāna
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Mahāyāna |
|---|
|
|
Tokoh penting
|
Buddhisme Mahāyāna, yang memandang Kemunculan Bersebab sangat erat kaitannya dengan ajaran tentang kekosongan (śūnyatā), menyatakan dengan tegas bahwa semua fenomena dan pengalaman kosong dari identitas independen. Hal ini sangat penting bagi tradisi Mādhyamaka, salah satu tradisi pemikiran Mahāyāna yang paling berpengaruh. Sementara itu, tradisi Yogācāra memahami Kemunculan Bersebab melalui filosofi idealistiknya, dan memandang Kemunculan Bersebab sebagai proses yang menghasilkan ilusi dualitas antara subjek dan objek.
Salah satu sutra yang paling penting dan banyak dikutip mengenai Kemunculan Bersebab dalam tradisi Mahāyāna India adalah Śālistamba Sūtra (Sutra Bibit Padi).[65] Sutra ini memperkenalkan perumpamaan terkenal tentang benih padi dan kecambahnya sebagai cara untuk menjelaskan kondisionalitas. Sutra ini juga mengandung kutipan berpengaruh: "Barang siapa melihat Kemunculan Bersebab, ia melihat dharma. Barang siapa melihat dharma, ia melihat Buddha."[65] Sutra ini memuat banyak bagian yang paralel dengan sumber-sumber Buddhis awal (seperti MN 38 Theravāda), dan juga menguraikan dua belas mata rantai klasik. Sutra ini juga mengandung beberapa elemen unik seperti figur Maitreya, gagasan tentang ilusi (māyā), dan gagasan tentang dharmaśarīra (tubuh-dharma).[66] Banyak ulasan ditulis untuk sutra ini, beberapa di antaranya dikaitkan dengan Nāgārjuna (meskipun hal ini diragukan).[66]
Tanpa-kemunculan
Beberapa sūtra Mahāyāna memuat pernyataan yang berbicara tentang sifat dharma yang "tanpa-kemunculan" atau "tidak-dihasilkan" (anutpāda). Menurut Edward Conze, dalam sūtra-sūtra Prajñāpāramitā, status ontologis dharma dapat digambarkan sebagai tidak pernah dihasilkan (anutpāda), tidak pernah dimunculkan (anabhinirvritti), serta tidak-terlahirkan (ajata). Hal ini diilustrasikan melalui berbagai perumpamaan seperti mimpi, ilusi, dan fatamorgana. Conze juga menyatakan bahwa "penerimaan dengan sabar atas tanpa-munculnya para dharma" (anutpattika-dharma-kshanti) adalah "salah satu kebajikan yang paling khas dari orang suci Mahāyāna."[67]
Mungkin yang tertua dari sutra-sutra ini, Aṣṭasāhasrikā Prajñāpāramitā, memuat bagian yang menggambarkan kedemikianan (tathatā) dari dharma menggunakan berbagai istilah termasuk śūnyatā, pelenyapan (nirodha), dan tanpa-kemunculan (anutpāda).[68] Yang paling terkenal, Sutra Hati menyatakan:
Sariputra, dengan cara itu, semua fenomena adalah kosong, yaitu, tanpa karakteristik, tidak dihasilkan, tidak dihentikan, tidak ternoda, tidak murni, tidak berkurang, tidak bertambah.[69]
Sutra Hati juga meniadakan dua belas mata rantai Kemunculan Bersebab: "Tidak ada ketidaktahuan, tidak ada pelenyapan ketidaktahuan, hingga dan termasuk tidak ada penuaan dan kematian serta tidak ada pelenyapan penuaan dan kematian."[70]
Mādhyamaka
Dalam filosofi Mādhyamaka, dikatakan bahwa suatu objek muncul secara bergantungan adalah sinonim dengan mengatakan bahwa objek tersebut "kosong" (śūnya). Hal ini dinyatakan secara langsung oleh Nāgārjuna dalam Mūlamadhyamakakārikā (MMK):[71]
Apa pun yang muncul secara bergantungan, dijelaskan sebagai kekosongan. Demikianlah atribusi bergantungan, yang merupakan jalan tengah. Oleh karena tidak ada apa pun, yang tidak eksis secara bergantungan. Oleh karena alasan itu, tidak ada apa pun yang tidak kosong. – MMK, Bab 24.18–19[72]
Menurut Nāgārjuna, semua fenomena (dharma) kosong dari svabhāva (hakikat intrinsik, keberadaan inheren) yang merujuk pada identitas yang mandiri, independen secara kausal, dan kekal/permanen. Karya-karya filosofis Nāgārjuna menganalisis semua fenomena untuk menunjukkan bahwa tidak ada satu pun yang dapat eksis secara independen, tetapi fenomena tersebut juga tidak dianggap tidak eksis karena mereka eksis secara konvensional, yaitu sebagai kemunculan bergantungan yang kosong.[73]
Yogācāra
Tradisi Yogācāra menafsirkan ajaran Kemunculan Bersebab melalui skema pusatnya tentang "tiga hakikat" (yang sebenarnya merupakan tiga cara memandang satu realitas yang muncul secara bergantungan).[74] Dalam skema ini, hakikat yang dikonstruksi atau difabrikasi adalah penampakan ilusi (dari diri yang dualistik), sementara "hakikat bergantungan" merujuk secara spesifik pada proses Kemunculan Bersebab itu sendiri. Dalam Yogācāra, proses kausal ini sepenuhnya bersifat mental; sehingga tubuh seseorang, landasan indra, dan sebagainya merupakan penampakan ilusi.[75]
Buddhisme Tibet

Cendekiawan Buddhis Tibet mengandalkan karya-karya India utara dari para sarjana seperti Asaṅga, Vasubandhu, dan Nāgārjuna dalam menafsirkan dua belas mata rantai. Sebagai contoh, Je Tsongkhapa mencoba menyelaraskan penyajian dua belas mata rantai yang ditemukan dalam karya Nāgārjuna dan Asaṅga.[77] Tradisi Buddhisme Tibet mengalokasikan dua belas mata rantai secara berbeda di antara berbagai kehidupan (masa lalu, masa sekarang, dan masa depan), tidak seperti pendekatan tradisi Theravāda, karena melibatkan konsep bardo atau "keadaan-antara", suatu keadaan yang berada di antara kematian dan kelahiran kembali (Theravāda tidak setuju dengan konsep bardo).[77]
Saling bergantung
Tradisi Huayan mengajarkan ajaran tentang "bulat dan melebur" atau "harmonis sempurna" (yuánróng, 圓融) dari semua fenomena, seperti yang diekspresikan dalam metafora Jaring Indra. Satu hal mengandung semua hal lain yang ada, dan semua hal yang ada mengandung satu hal tersebut. Filosofi ini didasarkan pada Sutra Avataṁsaka. Thích Nhất Hạnh menjelaskan konsep ini dengan istilah "inter-be" (kesaling-adaan). Dia menggunakan contoh selembar kertas yang hanya dapat eksis karena setiap penyebab dan kondisi lainnya (sinar matahari, hujan, pohon, manusia, pikiran, dll) juga telah eksis. Menurut Hanh "selembar kertas ini ada karena segala sesuatu yang lain ada."[78]
Perbandingan dengan filsafat Barat
Konsep paṭiccasamuppāda (Pali) atau pratītyasamutpāda (Sanskerta) juga telah dibandingkan dengan metafisika Barat, dalam studi tentang realitas. Schilbrack menyatakan bahwa ajaran sebab musabab yang saling bergantung tampak memenuhi definisi ajaran metafisika dalam filsafat karena mempertanyakan apakah ada sesuatu yang eksis sama sekali.[79] Hoffman tidak setuju dan menegaskan bahwa Kemunculan Bersebab tidak seharusnya dianggap sebagai ajaran metafisika dalam arti yang paling ketat karena ajaran tersebut tidak mengonfirmasi maupun menyangkal entitas atau realitas tertentu.[note 4]
Filsafat Helenistik Pironisme memiliki kemiripan dengan pandangan Buddhis mengenai Kemunculan Bersebab, sebagaimana juga dalam banyak hal lainnya.[81][82][83] Aulus Gellius dalam Attic Nights mendeskripsikan bagaimana penampakan dihasilkan oleh interaksi relatif antara pikiran dan tubuh, serta bagaimana tidak ada hal yang bersifat mandiri (bahasa Inggris: self-dependent).[84] Ulasan kuno atas Theaetetus karya Plato juga membela sejenis relativisme yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang memiliki karakter intrinsiknya sendiri.[85]
Jay L. Garfield menyatakan bahwa Mūlamadhyamakakārikā karya Nāgārjuna menggunakan hubungan kausal untuk memahami hakikat realitas dan hubungan kita dengannya. Upaya ini mirip dengan penggunaan kausalitas oleh David Hume, Immanuel Kant, dan Arthur Schopenhauer saat mereka memaparkan argumen masing-masing. Nāgārjuna menggunakan kausalitas untuk menyajikan argumennya tentang bagaimana seseorang mengindividualisasikan objek-objek, menata pengalaman seseorang terhadap dunia, dan memahami kepelakuan atau daya bertindak (bahasa Inggris: agency) di dunia.[18]
Lihat pula
- Abhidhamma Theravāda, metode sistematisasi ajaran Theravāda
- Anattā
- Paṭṭhāna
- Kebenaran (Buddhisme)
- Trilaksana
Catatan
- ↑ Seperti dalam himne 4.5.14, 7.68.6 dari Rigweda dan 19.49.8 dari Atharwaweda
- ↑ Istilah pratītyasamutpāda (Sanskerta) dan/atau paṭiccasamuppāda (Pali) telah diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai conditioned arising,[16] conditioned genesis,[17] dependent arising,[18][quote 1] dependent co-arising,[20] atau dependent origination[21]
- ↑ Brahmajala Sutta, bait 3.71. Hal ini diidentifikasi sebagai referensi pertama di dalam Kanon Pali pada catatan kaki 88 untuk Sutta 1, catatan kaki bait 3.71.
- ↑ Hoffman menyatakan: "Cukuplah untuk menekankan bahwa ajaran Kemunculan Bersebab bukanlah ajaran metafisika, dalam artian ia tidak menegaskan atau menyangkal beberapa entitas atau realitas super-sensibel; sebaliknya, ini adalah sebuah proposisi yang dicapai melalui pemeriksaan dan analisis dunia fenomena ..."[80]
Kutipan
- ↑ Dari sudut pandang tradisi Gelug Tibet, Dalai Lama menjelaskan: "Dalam Sanskerta, kata untuk kemunculan-bergantungan adalah pratītyasamutpāda. Kata pratītya memiliki tiga arti berbeda—bertemu, mengandalkan, dan bergantung—tetapi ketiganya, dalam hal kepentingan dasarnya, berarti ketergantungan. Samutpāda berarti kemunculan. Oleh karena itu, arti dari pratītyasamutpāda adalah apa yang muncul dalam ketergantungan pada kondisi-kondisi, melalui kekuatan kondisi-kondisi."[19]
- ↑ Dari sudut pandang Mahāyāna, Nalanda Translation Committee menyatakan: "Pratītya-samutpāda (Pali: paṭicca-samuppāda) adalah nama teknis untuk ajaran Buddha tentang sebab dan akibat. Beliau mendemonstrasikan bagaimana semua situasi muncul melalui perpaduan berbagai faktor. Dalam Hīnayāna, istilah ini merujuk secara khusus pada dua belas nidāna, atau tautan dalam rantai kemenjadian samsara."[23]
Referensi
- 1 2 3 4 Boisvert 1995.
- ↑ Fuller, Paul (2004). The Notion of Diṭṭhi in Theravāda Buddhism: The Point of View. hlm. 65. Routledge.
- 1 2 3 Harvey, Peter. The Conditioned Co-arising of Mental and Bodily Processes within Life and Between Lives, in Steven M. Emmanuel (ed) (2013). "A Companion to Buddhist Philosophy", hlm. 46-69. John Wiley & Sons.
- ↑ Harvey 2015.
- 1 2 Shulman 2008.
- ↑ Jurewicz 2000.
- ↑ Harvey 2015, hlm. 50–59.
- ↑ Robert E. Buswell Jr.; Donald S. Lopez Jr. (2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press. hlm. 583. ISBN 978-1-4008-4805-8.
- ↑ Choong 2000, hlm. 150.
- 1 2 Hopkins 1983.
- ↑ ऋग्वेद: सूक्तं ७.६८, Rigveda 7.68.6, Wikisource; Kutipan: उत त्यद्वां जुरते अश्विना भूच्च्यवानाय प्रतीत्यं हविर्दे । अधि यद्वर्प इतऊति धत्थः ॥६॥
- 1 2 Monier Monier-Williams (1872). A Sanskrit-English Dictionary. Oxford University Press.
- ↑ "samutpada". spokensanskrit.de. Diarsipkan dari versi asli pada 2015-05-02.
- ↑ Monier Monier-Williams (1872). A Sanskrit-English Dictionary. Oxford University Press.
- ↑ Lopez 2001.
- 1 2 3 Harvey 1990.
- ↑ Walpola Rahula 2007, Kindle Locations 791-809.
- 1 2 Garfield 1994.
- ↑ Dalai Lama 1992.
- ↑ Thanissaro Bhikkhu 2008.
- ↑ "Paticca-samuppada". Encyclopædia Britannica. Diakses 25 Februari 2011.
- ↑ Jeffrey Hopkins (2014). Meditation on Emptiness. Wisdom Publications. ISBN 978-0-86171-705-7.
- ↑ "Dependent Arising/Tendrel". Nalanda Translation Committee. 14 September 2003.
- ↑ Shì hùifēng, “Dependent Origination = Emptiness”—Nāgārjuna’s Innovation? An Examination of the Early and Mainstream Sectarian Textual Sources, JCBSSL VOL. XI, hlm. 175-228.
- 1 2 Brahm (2002), Dependent Origination, Bodhinyana Monastery
- ↑ "Assutavā Sutta: Uninstructed (1)". Access to Insight (BCBS Edition). Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. 30 November 2013. (SN 12.61).
- ↑ Paccayasutta SN 12.20 (SN ii 25) https://suttacentral.net/sn12.20/
- ↑ "Paccaya Sutta: Requisite Conditions". Access to Insight (BCBS Edition). Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. 30 November 2013. (SN 12.20).
- ↑ Choong 2000, hlm. 161.
- ↑ Pratītyasamutpādādivibhaṅganirdeśasūtram. Text edited by P.L. Vaidya. Pāḷi Parallels and English Translation by Ānandajoti Bhikkhu
- ↑ Vibhaṅgasutta SN 12.2 - SN ii 2 https://suttacentral.net/sn12.2
- ↑ Teaching the Fundamental Exposition and Detailed Analysis of Dependent Arising - Pratītyasamutpādādivibhaṅganirdeśa, Toh 211, Degé Kangyur, vol. 62 (mdo sde, tsha), folios 123.a–125.b. Translated by Annie Bien, 2020. https://read.84000.co/translation/toh211.html
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 "Paticca-samuppada-vibhanga Sutta: Analysis of Dependent Co-arising". Access to Insight (BCBS Edition). Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. 30 November 2013. (SN 12.2).
- ↑ Choong 2000, hlm. 161-168.
- 1 2 Choong 2000, hlm. 162.
- ↑ Choong 2000, hlm. 163.
- 1 2 Choong 2000, hlm. 164.
- ↑ Choong 2000, hlm. 164-165.
- ↑ Choong 2000, hlm. 165-166.
- ↑ Choong 2000, hlm. 167.
- ↑ Choong 2000, hlm. 167-168.
- 1 2 Choong 2000, hlm. 168.
- 1 2 3 Bucknell 1999.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Choong 2000.
- 1 2 3 Anālayo 2007.
- ↑ Dukkhasamudayasutta SN 35.106 (SN iv 86), diterjemahkan oleh Bhikkhu Sujato, https://suttacentral.net/sn35.106/en/sujato
- ↑ Walshe 1996.
- ↑ The Great Discourse on Causation (Mahānidānasutta) DN 15 (DN ii 55), https://suttacentral.net/dn15/
- ↑ Mahānidānasutta DN 15 (DN ii 55), diterjemahkan oleh Bhikkhu Sujato. https://suttacentral.net/dn15/en/sujato
- ↑ Madhupiṇḍikasutta MN 18 (MN i 108), diterjemahkan oleh Bhikkhu Sujato, https://suttacentral.net/mn18/
- ↑ Mahāhatthipadopamasutta MN 28 (MN i 184) https://suttacentral.net/mn28/
- ↑ Smith, Doug (2016). Can Dependent Origination Be Saved? https://secularbuddhism.org/can-dependent-origination-be-saved/
- ↑ Kalahavivādasutta Snp 4.11 (Snp 168), diterjemahkan oleh Laurence Khantipalo Mills, https://suttacentral.net/snp4.11/en/mills
- ↑ Frauwallner 1973.
- 1 2 Gethin 1998.
- ↑ Wayman, Alex. Buddhist Dependent Origination. History of Religions, Vol. 10, No. 3, (Feb., 1971), hlm. 185-203. The University of Chicago Press.
- ↑ Buddhaghosa 2010.
- 1 2 3 Buddhaghosa 1991, hlm. 599, v. 298.
- ↑ Lihat "putaran penderitaan, putaran tindakan, putaran pengotor batin" di kitab parakanonika Nettipakaraṇa (dukkhavaṭṭo kammavaṭṭo kilesavaṭṭo) (Nett. i.95). "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-07-19. Diakses tanggal 2008-07-16.
- ↑ Sesungguhnya, dalam kerangka ini, kitab Visuddhimagga (Vsm. XVII, 298) tidak secara eksplisit mengidentifikasi "kelahiran" (jāti) dan "penuaan-kematian" (jarāmaraṇa) dengan hasil/resultan (vipāka).
Meskipun demikian, dalam paragraf sebelumnya (Vsm. XVII, 297), Buddhaghosa menulis: "Dan di masa depan, rangkap-lima buah: lima yang dimulai dengan kesadaran. Ini diungkapkan dengan istilah 'kelahiran'.
Akan tetapi, 'penuaan-dan-kematian' adalah penuaan dan kematian dari [lima] ini sendiri" (Buddhaghosa 1991, hlm. 599, v. 297; tanda kurung siku dalam aslinya). Dengan demikian, "kelahiran" dan "penuaan dan kematian" menjadi korelasi atau ekspresi dari urutan "hasil/resultan" rangkap-lima. - ↑ Buddhaghosa 1991, hlm. hlm. 599, v. 297.
- ↑ Buddhaghosa 1991, hlm. 715.
- ↑ Jayarava Attwood, The Spiral Path or Lokuttara Paṭicca-samuppāda, Western Buddhist Review 2013 (6): 1–34
- ↑ Bhikkhu Bodhi (1 Desember 2013). "Transcendental Dependent Arising: A Translation and Exposition of the Upanisa Sutta". Access to Insight (BCBS Edition).
- 1 2 Tatz, Mark. Reviewed work(s): The Śālistamba Sūtra and Its Indian Commentaries by Jeffrey D. Schoening in Journal of the American Oriental Society volume 118, 1998, hlm. 546.
- 1 2 Reat, N. Ross. The Śālistamba sūtra : Tibetan original, Sanskrit reconstruction, English translation, critical notes (including Pali parallels, Chinese version, and ancient Tibetan fragments). Delhi : Motilal Banarsidass Publishers, 1993, hlm. 2, 31.
- ↑ Conze, Edward; The Ontology of the Prajnaparamita, Philosophy East and West Vol.3 (1953) hlm. 117-129, University of Hawaii Press.
- ↑ Orsborn, Matthew Bryan (2012). “Chiasmus in the Early Prajñāpāramitā: Literary Parallelism Connecting Criticism & Hermeneutics in an Early Mahāyāna Sūtra”, hlm. 233. University of Hong Kong.
- ↑ Lopez, Donald S. (1988). The Heart Sutra Explained: Indian and Tibetan Commentaries, hlm. 19. SUNY Press.
- ↑ Lopez, Donald S. (1988). The Heart Sutra Explained: Indian and Tibetan Commentaries, hlm. 20. SUNY Press.
- ↑ Mabja Tsondru 2011.
- ↑ Geshe Sonam Rinchen 2006.
- ↑ Garfield, Jay L. Dependent Arising and the Emptiness of Emptiness: Why Did Nāgārjuna Start with Causation? Philosophy East and West, Vol. 44, No. 2 (Apr., 1994), hlm. 219-250. University of Hawai'i Press.
- ↑ Gold, Jonathan (2014). Paving the Great Way: Vasubandhu's Unifying Buddhist Philosophy, hlm. 150. Columbia University Press.
- ↑ Gold, Jonathan (2014). Paving the Great Way: Vasubandhu's Unifying Buddhist Philosophy, hlm. 149. Columbia University Press.
- ↑ Samuel Brandon (1965). History, Time, and Deity: A Historical and Comparative Study of the Conception of Time in Religious Thought and Practice. Manchester University Press. hlm. 100–101.
- 1 2 Wayman 1984.
- ↑ Thich Nhat Hanh (2012) The Heart Sutra: the Fullness of Emptiness, Lion's Roar.
- ↑ Schilbrack 2002.
- ↑ Hoffman 1996, hlm. 177.
- ↑ Adrian Kuzminski, Pyrrhonism: How the Ancient Greeks Reinvented Buddhism 2008
- ↑ McEvilley 2002, hlm. bab 17.
- ↑ Matthew Neale Madhyamaka and Pyrrhonism 2014
- ↑ Aulus Gellius (1927). "Book XI Chapter 5 Sections 6-7". Attic Nights (Edisi Loeb Classical Library).
- ↑ (anon.) (2019), Commentary on Plato's Theaetetus, diterjemahkan oleh George Boys-Stones
Daftar pustaka
- Buddhaghosa (1991), The Path of Purification: Visuddhimagga, diterjemahkan oleh Bhikkhu Ñāṇamoli, Seattle: BPS Pariyatti, ISBN 1-928706-00-2
- Buddhaghosa (2010), The Path of Purification (Visuddhimagga), diterjemahkan oleh Bhikkhu Ñāṇamoli (Edisi 4th), Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society, ISBN 978-955-24-0023-0
- Boisvert, Mathieu (1995), The Five Aggregates: Understanding Theravada Psychology and Soteriology, Wilfrid Laurier University Press, ISBN 978-0-88920-257-3
- Choong, Mun-keat (2000). The Fundamental Teachings of Early Buddhism: A Comparative Study Based on the Sutranga Portion of the Pali Samyutta-Nikaya and the Chinese Samyuktagama. Otto Harrassowitz Verlag.
- Hoffman, Frank J.; et al. (1996), Pāli Buddhism, Routledge, ISBN 978-0-7007-0359-3
- Dalai Lama (1992), The Meaning of Life, translated and edited by Jeffrey Hopkins, Wisdom
- Frauwallner, Erich (1973), "Chapter 5. The Buddha and the Jina", History of Indian Philosophy: The philosophy of the Veda and of the epic. The Buddha and the Jina. The Sāmkhya and the classical Yoga-system, Motilal Banarsidass
- Garfield, Jay L. (1994), Dependent Arising and the Emptiness of Emptiness: Why did Nagarjuna start with Causation?, Philosophy East and West, Volume 44, Number 2 April 1994, diarsipkan dari asli tanggal 7 Mei 2010, diakses tanggal 3 September 2012
- Geshe Sonam Rinchen (2006), How Karma Works: The Twelve Links of Dependent Arising, Snow Lion
- Gethin, Rupert (1998), Foundations of Buddhism, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-289223-2
- Harvey, Peter (1990), An Introduction to Buddhism, Cambridge University Press
- Harvey, Peter (2015), "The Conditioned Co-arising of Mental and Bodily Processes within Life and Between Lives", dalam Emmanuel, Steven M. (ed.), A Companion to Buddhist Philosophy, John Wiley & Sons, ISBN 978-1-119-14466-3
- Hopkins, Jeffrey (1983), Meditation on Emptiness, Wisdom Publications, ISBN 978-0-86171-014-0
- Jurewicz, Joanna (2000), "Playing with Fire: The pratityasamutpada from the perspective of Vedic thought" (PDF), Journal of the Pali Text Society, 26: 77–103, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 9 April 2015, diakses tanggal 6 September 2018
- Lopez, Donald S. (2001), The Story of Buddhism, HarperCollins
- Mabja Tsondru (2011), Ornament of Reason, Snow Lion
- McEvilley, Thomas (2002), The Shape of Ancient Thought
- Schilbrack, Kevin (2002), Thinking through Myths: Philosophical Perspectives, Routledge, ISBN 978-0-415-25461-8
- Shulman, Eviatar (2008), "Early Meanings of Dependent-Origination" (PDF), Journal of Indian Philosophy, 36 (2): 297–317, doi:10.1007/s10781-007-9030-8, S2CID 59132368, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 10 Oktober 2016
- Thanissaro Bhikkhu (2008), The Shape of Suffering: A study of Dependent Co-arising (PDF), Metta Forest Monastery, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2013-05-30
- Walpola Rahula (2007), What the Buddha Taught, Grove Press, Kindle Edition
- Wayman, Alex (1984a), Dependent Origination - the Indo-Tibetan Vision in Wayman (1984)
- Wayman, Alex (1984b), The Intermediate-State Dispute in Buddhism in Wayman (1984)
- Wayman, Alex (1984), George R. Elder (ed.), Buddhist Insight: Essays by Alex Wayman, Motilall Banarsidass, ISBN 978-81-208-0675-7
Bacaan lanjutan
- Theravāda
- Walpola Rahula (1974), What the Buddha Taught
- P. A. Payutto, Dependent Origination: The Buddhist Law of Conditionality (terjemahan untuk bab keempat dari Buddhadhamma karya P. A. Payutto)
- Ajahn Sucitto (2010). Turning the Wheel of Truth: Commentary on the Buddha's First Teaching. Shambhala. (hlm. 61–76)
- Jackson, Peter A. (2003), Buddhadasa. Theravada Buddhism and Modernist reform in Thailand, Silkworm Books
- Ajahn Amaro (2021), Catastrophe/Apostrophe: The Buddha's Teachings on Dependent Origination/Cessation, Amaravati Publications
- Buddhisme Tibet
- Chogyam Trungpa (1972). "Karma and Rebirth: The Twelve Nidanas, by Chogyam Trungpa Rinpoche." Karma and the Twelve Nidanas, A Sourcebook for the Shambhala School of Buddhist Studies. Vajradhatu Publications.
- Dalai Lama (1992). The Meaning of Life, diterjemahkan dan disunting oleh Jeffrey Hopkins, Boston: Wisdom.
- Geshe Sonam Rinchen (2006). How Karma Works: The Twelve Links of Dependent Arising. Snow Lion
- Khandro Rinpoche (2003). This Precious Life. Shambala
- Thrangu Rinpoche (2001). The Twelve Links of Interdependent Origination. Nama Buddha Publications.
- Kajian akademis
- Frauwallner, Erich (1973), "Chapter 5. The Buddha and the Jina", History of Indian Philosophy: The philosophy of the Veda and of the epic. The Buddha and the Jina. The Sāmkhya and the classical Yoga-system, Motilal Banarsidass
- Bucknell, Roderick S. (1999), "Conditioned Arising Evolves: Variation and Change in Textual Accounts of the Paticca-samupadda Doctrine", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 22 (2)
- Jurewicz, Joanna (2000), "Playing with Fire: The pratityasamutpada from the perspective of Vedic thought", Journal of the Pali Text Society, 26
- Shulman, Eviatar (2008), "Early Meanings of Dependent-Origination" (PDF), Journal of Indian Philosophy, 36 (2), doi:10.1007/s10781-007-9030-8, S2CID 59132368, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 10 Oktober 2016
- Gombrich, Richard (2009), "Chapter 9. Causation and non-random process", What the Buddha Thought, Equinox
- Jones, Dhivan Thomas (2009), "New Light on the Twelve Nidanas", Contemporary Buddhism, 10 (2), doi:10.1080/14639940903239793, S2CID 145413087
Pranala luar
- Sutta
- Mahā Nidāna Sutta di dhammatalks.org
- SN 12.1: Paticca-samuppada-vibhanga Sutta
- SN 12.23: Upanisa Sutta, terjemahan oleh Bhikkhu Thanissaro
- SN 12.23: Upanisa Sutta, terjemahan dan ulasan oleh Bhikkhu Bodhi
- Ulasan
- Paṭiccasamuppāda oleh Alawwe Anōmadassi Thero
- Dependent Origination: the Buddhist Law of Conditionality, oleh Prayudh Payutto
- Paticcasamuppada: Practical Dependent Origination, oleh Buddhadasa
- The Doctrine of Paticcasamuppada, U Than Daing
- A Discourse on Paticcasamuppada, Mahasi Sayadaw
- The Shape of Suffering: A study of Dependent Co-arising, Bhikkhu Thanissaro (2008)
- Paṭiccasamuppāda Kemunculan yang Dependen terbitan Vijjākumāra di DhammaCitta, kumpulan esai tentang Kemunculan Bersebab oleh Nyanatiloka Mahāthera, Bhikkhu Bodhi, dan Bhikkhu Ṭhānissaro dalam terjemahan bahasa Indonesia
Sumber edukasi
|
| ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| ||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
|
| ||||||||||||
| Topik | |
|---|---|
| Āstika | |
| Nāstika | |
| Teks |
|
| Filosofer |
|
| Konsep |
|
| Nasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |