ENSIKLOPEDIA
Sukha
| Terjemahan dari Sukha | |
|---|---|
| Inggris | Happiness, ease, or bliss |
| Tionghoa | 樂 (佛教)code: zh is deprecated (Pinyin: Lècode: pny is deprecated ) |
| Jepang | 樂 (仏教)code: ja is deprecated (rōmaji: Rakucode: ja is deprecated ) |
| Korea | 악 (불교)code: ko is deprecated (RR: Akcode: ko is deprecated ) |
| Thai | สุขา, IPA: [sukha]code: th is deprecated |
| Vietnam | Hạnh phúccode: vi is deprecated |
| Khmer | សុខcode: km is deprecated (UNGEGN: Sŏkh) |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari seri tentang | |||||||||
| Buddhisme | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
Sukha (Pali dan Sanskerta; Dewanagari: सुख) dapat berarti keadaan suka, kebahagiaan, rasa bahagia, kesenangan, kemudahan, sukacita, atau kebahagiaan tertinggi, tergantung konteks penggunaannya. Sebagai konsep sentral dalam tradisi darmik, istilah ini memiliki akar etimologis yang merujuk pada poros roda yang berjalan mulus. Secara filosofis, sukha diposisikan sebagai antonim utama dari duḥkha (Sanskerta) atau dukkha (Pali), yang berarti "penderitaan" atau "ketidakpuasan".
Dalam agama Buddha, terutama dalam Tripitaka Pali, sukha mencakup spektrum yang sangat luas. Istilah ini merujuk pada kebahagiaan materi dan spiritual bagi umat awam, salah satu klasifikasi dalam jenis perasaan (vedanā), faktor mental (cetasika) penting dalam pencapaian meditasi tingkat tinggi (jhāna), hingga digunakan sebagai penanda dari kedamaian abadi dalam Nirwana.
Sementara dalam tradisi Weda dan agama Hindu, sukha dikontraskan dengan kesenangan indrawi yang sesaat (Sanskerta: preya) untuk menggambarkan kebahagiaan batin sejati makhluk hidup. Konsep ini digunakan dalam Bhagawadgita untuk mendefinisikan kebahagiaan tak terbatas dari seorang yogi, diukur sebagai puncak kebahagiaan tertinggi Brahman dalam Upanisad, serta menjadi pilar kenyamanan fisik dan mental dalam Yoga Sūtra. Konsep kebahagiaan ini juga diuraikan lebih lanjut dalam ajaran Jainisme.
Etimologi
Menurut Monier-Williams (1964), etimologi dari sukha "dikatakan berasal dari su ['baik'] + kha ['lubang/bukaan'] dan pada awalnya bermaksud 'memiliki lubang poros yang baik'"; sehingga, sebagai contoh, dalam Regweda sukha menunjukkan "berjalan dengan cepat atau mudah" (diterapkan, misalnya, pada kereta kuda). Monier-Williams juga mencatat bahwa istilah ini mungkin secara alternatif diturunkan sebagai "kemungkinan bentuk Prakerta dari su-stha, q.v.; bdk. duḥkha", yang secara harfiah berarti su ['baik'] + stha ['berdiri'].[1][note 1]
Sukha disandingkan dengan duḥkha (Sanskerta; Pali: dukkha; sering diterjemahkan sebagai "penderitaan"), yang ditetapkan sebagai prinsip-prinsip kehidupan yang memotivasi utama dalam agama Weda awal.[2][note 2] Penekanan pada pembahasan seputar dukkha ini dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya dalam tradisi Weda dan Buddha. Oleh karena itu, pelenyapan dukkha menjadi tujuan utama keberadaan dari tradisi Buddhisme awal.
Dalam Buddhisme
Dalam Tripitaka Pali dan literatur terkait, istilah ini digunakan dalam arti umum untuk merujuk pada "kesejahteraan dan kebahagiaan" (hitasukha) baik di kehidupan sekarang ini maupun kehidupan yang akan datang. Selain itu, sukha juga merupakan istilah teknis yang terkait dengan deskripsi faktor penyerapan meditatif (jhāna) dan perasaan (vedanā) yang berasal dari landasan indra.
Pencarian kehidupan secara umum
Dalam Tripitaka Pali, Buddha Gotama berdiskusi dengan berbagai umat awam mengenai "kesejahteraan dan kebahagiaan" (hitasukha) "yang terlihat di kehidupan saat ini" (diṭṭha-dhamma) dan "yang berkaitan dengan kehidupan yang akan datang" (samparāyika), sebagaimana dicontohkan oleh sutta-sutta berikut.[3]
Anaṇa Sutta
Dalam Anaṇa Sutta atau Ānaṇya Sutta (AN 4.62), Buddha menjelaskan empat jenis kebahagiaan bagi seorang "perumah tangga yang menikmati kesenangan indria" (gihinā kāma-bhoginā):
- kebahagiaan memiliki (atthi-sukha) kekayaan yang diperoleh dengan cara yang adil dan benar
- kebahagiaan menggunakan (bhoga-sukha) kekayaan secara murah hati untuk keluarga, teman, & untuk perbuatan berjasa
- kebahagiaan tanpa hutang (anaṇa-sukha) terbebas dari hutang-hutang
- kebahagiaan tanpa cela (anavajja-sukha), menjalani kehidupan yang murni dan tanpa kesalahan tanpa melakukan kejahatan dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan
Dari semua ini, orang bijak (sumedhaso) mengetahui bahwa kebahagiaan tanpa cela sejauh ini merupakan kebahagiaan perumah tangga yang paling besar.[4][note 3] Kebahagiaan ekonomi dan material tidak ada seperenambelas pun nilainya dibandingkan dengan kebahagiaan spiritual yang timbul dari kehidupan yang baik dan tanpa kesalahan.
Kālāma Sutta
Dalam Kālāma Sutta atau Kesamutti Sutta (AN 3.65), penduduk kota bertanya kepada Buddha bagaimana mereka dapat memastikan ajaran spiritual mana yang benar. Buddha menasihatkan bahwa seseorang harus "memasuki dan berdiam" (upasampajja vihareyyātha) dalam "hal-hal" atau "kualitas-kualitas" (dhammā) yang:
- terampil (kusalā),
- tanpa cela (anavajjā),
- dipuji oleh para bijaksana (viññuppasatthā), dan
- ketika dipraktikkan, mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan (samattā samādinnā hitāya sukhāya[note 4] saṃvattantī)
Menggunakan kriteria terakhir ini, Buddha kemudian meminta penduduk kota untuk menilai keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan ketidaktahuan (moha), lalu disepakati bahwa memasuki dan berdiam dalam ketidakserakahan, ketidakbencian, dan ketidaktahuan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan. Buddha menyatakan bahwa, dengan pemahaman ini, seorang siswa mulia (ariyasāvako)[note 5] memancarkan ke segala penjuru dengan cinta kasih, welas asih, apreasiasi simpatik, dan keseimbangan batin (lihat empat brahmavihāra); dan, dengan melakukan hal itu, seseorang memurnikan dirinya, menghindari konsekuensi akibat kejahatan, menjalani kehidupan yang bahagia saat ini dan, jika ada kelahiran kembali di masa depan, ia akan dilahirkan di alam surga.[5][note 6]
Dīghajāṇu Sutta
Dalam Dīghajāṇu Sutta (AN 8.54), Dīghajāṇu mendatangi Buddha dan menyatakan:
- "Kami adalah umat awam yang menikmati kesenangan indrawi; hidup berdesakan dengan pasangan & anak-anak; menggunakan kain Kasi & kayu cendana; memakai untaian bunga, wewangian, & krim; memegang emas & perak. Sudilah Yang Terberkahi mengajarkan Dhamma bagi mereka yang seperti kami, demi kebahagiaan & kesejahteraan kami di kehidupan ini, demi kebahagiaan & kesejahteraan kami di kehidupan-kehidupan yang akan datang."[6]
Dengan cara yang agak mirip dengan penjelasannya dalam Anaṇa Sutta yang disebutkan sebelumnya, Buddha mengidentifikasi empat sumber yang mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan di kehidupan saat ini:
- upaya yang produktif (uṭṭhāna-sampadā) dalam mata pencaharian seseorang,
- upaya perlindungan (ārakkha-sampadā) atas kekayaan seseorang dari kemungkinan pencurian atau bencana,
- persahabatan yang bajik (kalyāṇa-mittatā), dan
- hidup seimbang (sama-jīvikatā), berpantang dari main perempuan, kemabukan, perjudian, dan persahabatan yang jahat.
Dalam hal kesejahteraan dan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya, Buddha mengidentifikasi sumber-sumber berikut:
Praktik mettā
Sebagaimana ditunjukkan pada bagian sebelumnya, dalam Kālāma Sutta, Buddha mengidentifikasi praktik empat kediaman batin yang luhur (brahmavihāra) sebagai hal yang kondusif bagi kesejahteraan dan kebahagiaan diri sendiri. Kediaman pertama dari ini adalah mettā (kebaikan, cinta kasih), yang, misalnya, diekspresikan secara klasik dalam Karaniya Mettā Sutta ("Khotbah tentang Cinta Kasih") di Tripitaka Pali (Snp 1.8) melalui harapan tulus (dalam bahasa Indonesia dan Pali):
| Semoga semua makhluk berbahagia![8] | Sabbe sattā bhavantu sukhitattā. |
Demikian pula, kitab komentar Pali (Snp-A 128) secara eksplisit mendefinisikan mettā sebagai "harapan untuk mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan [bagi orang lain]" (hita-sukha-upanaya-kāmatā)[9][note 7] Jadi, dalam agama Buddha, berdiam dengan mengharapkan kebahagiaan umum bagi orang lain adalah kondusif bagi pengembangan kebahagiaan diri sendiri.
Jenis perasaan
Dalam kerangka buddhis tentang lima gugusan atau agregat (Pali: khandha) dan kemunculan yang bergantungan (paṭiccasamuppāda), "perasaan" atau "sensasi" (vedanā) muncul dari kontak (phassa) objek eksternal (seperti objek visual atau suara) dengan organ indra (seperti mata atau telinga) dan kesadaran (viññāṇa) terkait. Dalam Tripitaka Pali, perasaan-perasaan seperti itu umumnya digambarkan sebagai salah satu dari tiga jenis: menyenangkan (sukha), menyakitkan (dukkha), atau tidak-menyakitkan-juga-tidak-menyenangkan (adukkha-asukha).[10]
Faktor mental dalam meditasi
| Tabel: Faktor-faktor rūpa jhāna | ||||
| Faktor jhāna (jhānaṅga) | Jhāna pertama | Jhāna kedua | Jhāna ketiga | Jhāna keempat |
|---|---|---|---|---|
| Vitakka (penempatan awal) |
✓ (vivicceva kāmehi vivicca akusalehi dhammehi) |
✗ (diredakan) |
— | — |
| Vicāra (penempatan sinambung) | ||||
| Pīti (kegembiraan) |
✓ (vivekaja) |
✓ (samādhija; ajjhattaṁ sampasādana) |
✗ (dipudarkan) |
— |
| Sukha (kebahagiaan) |
✓ (kāyena paṭisaṁvedeti) |
✗ (dilampaui; adukkhamasukhaṁ upekkhāsatipārisuddhi) | ||
| Ekaggatā (kemanunggalan, keterpusatan) |
✓ | ✓ | ✓ | ✓ (satipārisuddhi cittekaggatā) |
Dalam tradisi komentar (tafsir) tentang meditasi buddhis, pengembangan penyerapan meditatif (Pali: jhāna) digambarkan sebagai pengembangan lima faktor mental (Pali: cetasika) yang menangkal lima rintangan:[11]
- vitakka ("penempelan awal", "penempatan awal pikiran", "pemikiran yang diarahkan") menangkal kemalasan (thīna) dan kelambanan (middha)
- vicāra ("penempelan terus-menerus", "penempatan sinambung pikiran", "pemikiran yang dipertahankan") menangkal keragu-raguan (vicikicchā)
- pīti (kegiuran, "kegembiraan") menangkal niat buruk atau kedengkian (byāpāda)
- sukha ("kesenangan non-indrawi") menangkal kegelisahan (uddhacca) dan kekhawatiran (kukkucca)
- ekaggatā (keterpusatan pikiran, kemanunggalan) menangkal keinginan indrawi (kāmacchanda)
Baik pīti maupun sukha terlahir dari pengasingan jasmani dan ketenangan mental pada jhāna pertama, tetapi keduanya kemudian terlahir dari konsentrasi yang terpusat (samādhi) pada jhāna kedua dan hanya sukha yang dipertahankan pada jhāna ketiga hingga ia ditinggalkan demi kemurnian yang dihasilkan oleh perhatian-penuh yang seimbang/tidak berpihak (upekkhāsatipārisuddhi) pada jhāna keempat.
Visuddhimagga membedakan antara pīti dan sukha dalam cara pengalaman berikut ini:
- Dan ketika keduanya terhubung, pīti adalah rasa puas saat mendapatkan objek yang diinginkan, sedangkan sukha adalah pengalaman nyata dalam menikmati objek tersebut setelah didapatkan. Jika terdapat pīti, di situ terdapat sukha; tetapi jika terdapat sukha, belum tentu terdapat pīti. Pīti termasuk dalam kelompok gugusan formasi-formasi (saṅkhārakkhandha); sukha termasuk dalam kelompok gugusan perasaan (vedanākkhandha). Jika seorang pria yang kelelahan di padang pasir melihat atau mendengar tentang sebuah kolam di tepi hutan, ia akan memiliki pīti; jika ia masuk ke keteduhan hutan dan menggunakan airnya, ia akan memiliki sukha....[12]
Memberikan rantai peristiwa bersebab yang sangat mendasar, yang tumpang tindih dengan penjelasan yang lebih naratif di atas, Upanisa Sutta (SN 12.23) menyatakan bahwa sukha muncul dari ketenteraman (passaddhi) jasmani dan batin, dan pada gilirannya memunculkan konsentrasi (samādhi).[13] Mengutip literatur Pali pasca-kanonik tradisional yang terkait dengan khotbah ini, Bodhi (1980) menambahkan definisi fungsional berikut dari sukha:
- Subkomentar atas Upanisa Sutta menjelaskan sukha sebagai kebahagiaan dari akses menuju penyerapan. Istilah 'akses' (upacāra) menunjukkan tahap dalam pengembangan ketenangan yang mendahului penyerapan penuh, tujuan yang dimaksudkan dari meditasi ketenangan (samatha). Akses ditandai dengan ditinggalkannya lima rintangan dan munculnya 'tanda tiruan' (nimitta), objek persepsi batin yang bercahaya sendiri yang menjadi titik fokus untuk tahap-tahap konsentrasi yang lebih tinggi.[13]
Sebagai penanda pencerahan
Nirwana (Pali: Nibbāna) mensyaratkan pemadaman mendasar atau "peniupan" dari proses-proses tidak baik, biasanya disebut sebagai pengotor batin, berupa keserakahan, kebencian, dan delusi. Dari perspektif pengalaman yang tercerahkan, proses-proses merusak dari pengotor batin tersebut dianggap sebagai "pergolakan" pikiran. Berbeda dengan pergolakan semacam itu, sukha dan kata serumpunnya di berbagai ayat dalam Tripitaka Pali digunakan untuk mencirikan ketenangan Nibbāna, "Yang Tak Terkondisi", sebagai suatu kebahagiaan tertinggi:
- Yang dilahirkan, yang menjadi, yang diproduksi,
- Yang dibuat, yang terkondisi, yang sementara,
- Disertai dengan pelapukan dan kematian,
- Sarang penyakit, yang fana,
- Tumbuh dari makanan dan tali kehausan —
- Hal itu tidak layak untuk disenangi.
- Pelarian dari hal itu, yang damai,
- Melampaui nalar, yang abadi,
- Yang tidak dilahirkan, yang tidak diproduksi,
- Keadaan tanpa duka yang bebas dari noda,
- Berhentinya keadaan-keadaan yang terkait dengan penderitaan,
- Meredanya hal yang terkondisi — kebahagiaan tertinggi.[14]
Dalam Hinduisme
Dalam ayat-ayat Bhagawadgita 6.21-23, istilah sukha digunakan untuk mendefinisikan kebahagiaan tak terbatas yang mencirikan yoga. Disebutkan bahwa ketika sang yogi mencapai kebahagiaan ini, yang dipahami oleh unsur pembeda (buddhi) yang melampaui indra, ia menjadi mapan dengan teguh dalam keadaan ini, bebas dari penderitaan, dan tidak goyah darinya, suatu keadaan yang dikenal sebagai yoga.[15]
Upanisad Taittiriya secara kiasan mengukur kebahagiaan Brahman, dimulai dengan kebahagiaan manusia:
"Mari kita ambil contoh seorang pemuda - seorang pemuda kelas satu yang paling terpelajar, berbudaya, dan paling kuat. Dan mari kita misalkan dia memiliki seluruh dunia ini dengan segala sumber dayanya. Situasi ini akan merupakan satu ukuran kebahagiaan manusia. Satu ukuran kebahagiaan dewata gandharva duniawi ...setara dengan seratus ukuran kebahagiaan manusia; satu ukuran kebahagiaan gandharva surgawi ...setara dengan seratus ukuran kebahagiaan gandharva duniawi; ...setara dengan seratus ukuran kebahagiaan leluhur; satu ukuran kebahagiaan para dewa yang mencapai status mereka melalui perbuatan baik ...setara dengan seratus ukuran kebahagiaan Indra; satu ukuran kebahagiaan Prajāpati, nenek moyang makhluk, ...setara dengan seratus ukuran kebahagiaan Bṛhaspati; satu ukuran kebahagiaan Brahman setara dengan seratus ukuran kebahagiaan Prajāpati."
— Taittiriya Upanishad, Ayat II.8[16]
Dalam Yoga Sūtra, Patañjali menggunakan istilah sukha pada ayat II.46 untuk mendefinisikan āsana sebagai keseimbangan antara "sukha" dan "sthira" (kekuatan, kemantapan, keteguhan).[17] Dalam Sutra I.33, sukha merujuk pada mereka yang berbahagia, dan menyarankan untuk memupuk persahabatan terhadap mereka demi meningkatkan kejernihan pikiran.[18]
Dalam Jainisme
Dalam Tattvartha Sutra, Umaswati, seorang cendekiawan agama Jain, menjelaskan konsep sukha dalam konteks pembebasan spiritual dari karma. Umaswati menjabarkan empat makna berbeda dari sukha: sebagai kualitas objek, sebagai kebebasan dari rasa sakit, sebagai kebahagiaan yang dihasilkan dari perbuatan berjasa, dan sebagai sukha tertinggi dalam keadaan pembebasan (moksa).[19]
Dasar neurosains
Beberapa peneliti mengajukan bahwa "pergeseran" aktivitas di korteks prefrontal medial merupakan hal yang mendukung keadaan keterpenuhan batin (terkait dengan konsep sukha) dan keseimbangan mental (terkait dengan konsep upekkhā).[20]
Lihat pula
- Dukkha (penderitaan, lawan dari sukha)
- Brahmawihara (kediaman luhur: cinta kasih, welas asih, apresiasi simpatik, dan keseimbangan batin)
- Kemunculan Bersebab
- Jhāna (penyerapan meditatif)
- Perumah tangga (Buddhisme)
- Kilesa (pengotor batin; seperti keserakahan, kebencian, dan delusi)
- Pīti (kegiuran)
- Khandha (gugusan)
- Vedanā (perasaan)
- Sukhavati (alam kehidupan dalam Mahāyāna)
Catatan
- ↑ Kata-kata dalam kurung siku ("baik" dan "bukaan") didasarkan pada Monier-Williams 1964, hlm. 334, 1219.
- ↑ Kamus Pali Text Society mengidentifikasi dukkha sebagai salah satu antonim sukha (bersama dengan asukha).
- ↑ Teks Pali didasarkan pada edisi Sri Lanka Tripitaka Project (SLTP), diperoleh pada 2008-05-08 dari "MettaNet" di arsip MettaNet. Terjemahan Bodhi 2005, hlm. 127–128 menghilangkan bait terakhir (yang memuji kebahagiaan tanpa cela) yang dapat ditemukan di terjemahan Thanissaro 1997a maupun SLTP.
- ↑ Perhatikan bahwa di sini, seperti di tempat lain, melalui paralelisme tekstual, sukha ("kebahagiaan") digunakan sebagai kebalikan dari dukkha ("penderitaan").
- ↑ Perhatikan bahwa "siswa mulia" (ariyasāvako) mencakup umat awam yang telah mencapai empat tingkat kemuliaan. Lihat "Sāvaka".
- ↑ Teks Pali didasarkan pada Tipiṭaka SLTP yang diperoleh pada 2008-05-08 dari "MettaNet" di arsip MettaNet. Mengenai keserakahan, kebencian, dan delusi, lihat "Pengotor batin". Mengenai tujuan surgawi dari para praktisi brahmavihāra, lihat AN 4.125 (Thanissaro 2006).
- ↑ Definisi ini diberikan dalam entri untuk "Karuṇā" di kamus Pali Text Society (diperoleh dari pangkalan data Digital South Asia Library Universitas Chicago).
Referensi
- ↑ Monier-Williams 1964, hlm. 1220
- ↑ Rhys Davids & Stede 1921–1925, hlm. 716
- ↑ Bodhi 2005, hlm. 3–4, passim.
- ↑ Bodhi 2005, hlm. 127–128; Thanissaro 1997a
- ↑ Bodhi 2005, hlm. 88–91; Thanissaro 1994
- ↑ Thanissaro 1995
- ↑ Bodhi 2005, hlm. 124–126; Thanissaro 1995
- ↑ Amaravati 2004
- ↑ Rhys Davids & Stede 1921–1925, hlm. 197
- ↑ Nyanaponika 1983; Thanissaro 1998
- ↑ Thanissaro 1997b
- ↑ Ñāṇamoli 1999, hlm. 142; Bodhi 1980
- 1 2 Bodhi 1980
- ↑ Ireland 1999
- ↑ Sutton 2016, hlm. 101.
- ↑ Bryant 2009, hlm. 183.
- ↑ Bryant 2009, hlm. 283–287.
- ↑ Bryant 2009, hlm. 128-129.
- ↑ Jaini 2003, hlm. 643–664.
- ↑ Davidson et al. 2003
Daftar pustaka
Sumber buku
- Bodhi, Bhikkhu (2005). In the Buddha's Words: An Anthology of Discourses from the Pali Canon. Boston: Wisdom Publications. ISBN 978-0-86171-491-9.
- Bryant, Edwin F. (2009). The Yoga Sutras of Patanjali: A New Translation and Commentary. New York: North Point Press. ISBN 978-0-86547-736-0.
- Monier-Williams, Monier (1964). A Sanskrit-English Dictionary. Oxford: Oxford University Press.
- Ñāṇamoli, Bhikkhu (1999). The Path of Purification (Visuddhimagga). Seattle: Banyan Tree Books. ISBN 978-955-24-0023-9. ;
- Rhys Davids, T. W.; Stede, William (1921–1925). The Pali Text Society's Pali-English Dictionary. Chipstead: Pali Text Society.
- Sutton, Nicholas (2016). Bhagavad Gita: The Oxford Centre for Hindu Studies Guide. CreateSpace Independent Publishing Platform. ISBN 978-1-5030-5291-8.
Sumber jurnal
- Davidson, Richard J.; Kabat-Zinn, Jon; Schumacher, Jessica; Rosenkranz, Melissa; Muller, Daniel; Santorelli, Saki F.; Urbanowski, Ferris; Harrington, Anne; Bonus, Katherine; Sheridan, John F. (2003). "Alterations in Brain and Immune Function Produced by Mindfulness Meditation". Psychosomatic Medicine. 65 (4): 564–570. doi:10.1097/01.PSY.0000077505.67574.E3. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Jaini, Padmanabh S. (2003). "Umāsvāti on the Quality of Sukha". Journal of Indian Philosophy. 31 (5/6): 643–664. ISSN 0022-1791.
Sumber web
- "Karaniya Metta Sutta: The Buddha's Words on Loving-Kindness (Snp 1.8)". Access to Insight. Diterjemahkan oleh The Amaravati Sangha. 2004.
- Bodhi, Bhikkhu (1980). "Transcendental Dependent Arising: A Translation and Exposition of the Upanisa Sutta". Access to Insight.
- "Itivuttaka 2.16". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Ireland, John D. 1999.
- "Daṭṭhabba Sutta (SN 36.5)". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Nyanaponika, Thera. 1983.
- "Kalama Sutta: To the Kalamas (AN 3.65)". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Thanissaro, Bhikkhu. 1994.
- "Dighajanu (Vyagghapajja) Sutta: To Dighajanu (AN 8.54)". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Thanissaro, Bhikkhu. 1995.
- "Anaṇa Sutta: Debtless (AN 4.62)". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Thanissaro, Bhikkhu. 1997a.
- "Samadhi Sutta: Concentration (AN 5.28)". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Thanissaro, Bhikkhu. 1997b.
- "Chachakka Sutta: The Six Sextets (MN 148)". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Thanissaro, Bhikkhu. 1998.
- "Metta Sutta: Good Will (AN 4.125)". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Thanissaro, Bhikkhu. 2006.
|
| ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| ||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
|
| ||||||||||||