Artikel atau bagian artikel ini diterjemahkan secara buruk. Kualitas terjemahannya masih kurang bagus. Bagian-bagian yang mungkin diterjemahkan dari bahasa lain masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Anda dapat mempertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan menulis ulang artikel atau bagian artikel ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada ProyekWiki Perbaikan Terjemahan.
(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat. Lihat pula: panduan penerjemahan artikel)
Makhluk peta atau makhluk preta (Sanskerta: प्रेतcode: sa is deprecated , Tibet Standar: ཡི་དྭགས yi dags), juga dikenal sebagai hantu kelaparan, adalah istilah dalam ajaran agama-agama Asia Timur untuk menyebut jenis makhluk gaib. Makhluk ini digambarkan mengalami penderitaan yang jauh lebih berat daripada manusia, terutama dalam bentuk rasa lapar dan haus yang sangat ekstrem.[1]
Istilah makhluk peta sering diterjemahkan sebagai "hantu kelaparan", sebuah padanan yang berkembang dalam tradisi Tionghoa dan Asia Timur. Namun, dalam sumber-sumber buddhis awal seperti Petavatthu, gambaran tentang makhluk peta jauh lebih beragam daripada sekadar makhluk yang kelaparan. Oleh karena itu, deskripsi mengenai "hantu kelaparan" lebih tepat dipahami dalam konteks tradisi yang lebih sempit tersebut.
Makhluk peta diyakini merupakan kelahiran kembali dari orang-orang yang pada kehidupan sebelumnya dipenuhi kebohongan, memiliki moral yang rusak, bersifat kompulsif, gemar menipu, iri hati, dan serakah. Sebagai akibat dari karma tersebut, mereka mengalami rasa lapar yang tidak pernah terpuaskan terhadap benda atau zat tertentu. Dalam kisah-kisah tradisional, objek yang mereka dambakan biasanya berupa sesuatu yang menjijikkan atau memalukan, seperti mayat atau feses. Dalam cerita-cerita yang lebih belakangan, objek tersebut bisa berupa apa saja.[2] Selain menderita karena rasa lapar yang tak terpuaskan, makhluk peta juga digambarkan memiliki persepsi yang menyiksa.[3] Makhluk peta dan manusia diyakini menempati ruang fisik yang sama, tetapi memandang realitas secara berbeda. Sebagai contoh, ketika manusia melihat sungai berisi air jernih, makhluk peta dapat melihat sungai yang sama sebagai aliran nanah atau kotoran.[3]
Konsep makhluk peta berasal dari tradisi agama-agama India dan kemudian diadopsi ke berbagai agama diAsia Timur melalui penyebaran agama Buddha. Melalui pengaruh Hindu dan Buddha di sebagian besar Asia, sosok peta menjadi bagian penting dalam kebudayaan India, Bangladesh, Sri Lanka, Tiongkok, Jepang, Korea, Vietnam, Mongolia, Tibet, Thailand, Kamboja, Laos, dan Myanmar.
Etimologi
Istilah Pali (peta) Sanskerta प्रेत (preta) berarti “yang telah pergi”, “yang telah meninggal”, atau “orang yang telah mati”. Dalam Sanskerta Klasik, istilah preta merujuk pada roh orang yang telah meninggal, terutama sebelum upacara pemakaman dilaksanakan. Dalam pengertian yang lebih sempit, istilah ini juga dapat digunakan untuk menyebut hantu atau makhluk jahat.[4]
Dalam Buddhisme, istilah Sanskerta tersebut kemudian digunakan untuk menggambarkan salah satu dari enam kemungkinan alam kelahiran kembali.
Istilah Tionghoa egui (餓鬼), yang secara harfiah berarti “hantu kelaparan”, bukan merupakan terjemahan langsung dari kata Sanskerta preta, melainkan penafsiran yang menekankan salah satu ciri khas makhluk tersebut dalam tradisi Buddhis Asia Timur.
Dalam Gaki zōshi 餓鬼草紙 "Gulungan Hantu Kelaparan": seorang Gaki yang dihukum untuk memakan feses mengamati seorang anak yang mengenakan geta dan memegang sebuah chūgi, sekitar abad ke-12.
Secara umum, dalam tradisi agama Buddha, peta dipandang sebagai salah satu dari enam alam kelahiran kembali, yaitu alam dewa, asura, manusia, hewan, peta (hantu kelaparan), dan neraka.[3]
Di Tiongkok, Taiwan, dan berbagai Komunitas Tionghoa perantauan, makhluk peta diterjemahkan sebagai egui (Tionghoa: 餓鬼code: zh is deprecated , harfiah: "hantu kelaparan"), yang berasal dari pengucapan Bahasa Tionghoa PertengahanngaH kjwɨjX (Hanzi:餓鬼, harfiah: "hantu kelaparan"). Dalam tradisi Buddhisme Tionghoa, banyak ritual yang dilaksanakan setiap hari maupun sepanjang tahun mencakup pemanggilan berbagai jenis egui dan roh, yang kemudian diberi persembahan makanan. Salah satu contohnya adalah upacara Mengshan Shishi (蒙山施食, harfiah: "pemberian makanan Mengshan"), yang lazim dilaksanakan sebagai bagian dari liturgi malam harian di sebagian besar vihara Buddha Tionghoa.[5][6]
Upacara penting lainnya adalah ritual Yujia Yankou (瑜伽燄口, harfiah: "pemberian makanan Yoga Mulut Api"), yang umumnya dilaksanakan selama atau pada akhir kegiatan keagamaan di vihara, seperti upacara Shuilu Fahui, ritual pertobatan, retret Nianfo, peresmian kompleks monastik baru, upacara transmisi kaul monastik, atau Festival Yulanpen.[7]
Di Jepang, makhluk peta diterjemahkan sebagai gaki (Jepang: 餓鬼code: ja is deprecated , harfiah: "hantu kelaparan"), sebuah istilah serapan dari Bahasa Tionghoa PertengahanngaH kjwɨjX (Hanzi:餓鬼, harfiah: "hantu kelaparan"). Sejak tahun 657, berbagai tradisi Buddha Jepang memperingati hari khusus pada pertengahan Agustus untuk mengenang para gaki. Melalui ritual persembahan yang dikenal sebagai segaki, diyakini bahwa para hantu kelaparan dapat dibebaskan dari penderitaan mereka. Tata cara pelaksanaan segaki bervariasi di antara berbagai aliran Buddha Jepang. Dalam bahasa Jepang modern, kata gaki juga sering digunakan untuk menyebut anak yang manja atau nakal.
Di Thailand, pret (Thai: เปรตcode: th is deprecated ) merupakan hantu kelaparan dalam tradisi Buddha yang kemudian menjadi bagian dari cerita rakyat setempat. Makhluk ini digambarkan bertubuh sangat tinggi, bermulut kecil, dan mampu mengeluarkan suara bernada tinggi yang hanya dapat didengar oleh biksu atau dukun. Orang tua sering menasihati anak-anak agar tidak berkata kasar atau bersikap tidak hormat kepada orang tua, karena diyakini perbuatan tersebut dapat menyebabkan seseorang terlahir sebagai pret di alam baka.[8]
Dalam Budaya Sri Lanka, seperti halnya dalam budaya Asia lainnya, orang dipercaya akan terlahir kembali sebagai makhluk peta (peréthaya) apabila semasa hidupnya dikuasai oleh keinginan yang berlebihan. Penderitaan mereka digambarkan melalui perut yang sangat besar, tetapi mulut yang sangat kecil sehingga rasa lapar mereka tidak pernah dapat terpuaskan.[9]