ENSIKLOPEDIA
Buddhaghosa
Buddhaghosa | |
|---|---|
| Kehidupan pribadi | |
| Lahir | ca 370 M |
| Meninggal | ca 450 M |
| Education | |
| Nama lain | Buddhaghoṣa (Sanskerta) |
| Kehidupan religius | |
| Agama | Buddhisme Theravāda |
| Bagian dari seri tentang | |||||||||
| Buddhisme | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
Buddhaghosa (Dewanagari: बुद्धघोस, bahasa Thai: พระพุทธโฆษาจารย์code: th is deprecated , Hanzi: 覺音/佛音) adalah seorang pengomentar (pengulas atau penafsir), penerjemah, dan filsuf Buddhisme Theravāda abad ke-5 asal Bodh Gaya, India.[1][2] Dia berkarya di Mahāvihāra di Anurādhapura, Sri Lanka. Ia melihat dirinya sendiri sebagai bagian dari aliran Vibhajjavāda dan bagian dari silsilah Mahāvihāra Sinhala.[3]
Karyanya yang paling terkenal adalah kitab Visuddhimagga ("Jalan Pemurnian"), sebuah ikhtisar komprehensif dari kitab-kitab komentar berbahasa Sinhala yang lebih tua mengenai ajaran dan praktik Theravāda. Menurut Sarah Shaw, dalam Theravāda, karya sistematis ini adalah "kitab utama mengenai subjek meditasi."[4] Interpretasi yang diberikan oleh Buddhaghosa pada umumnya dianggap sebagai pemahaman ortodoks terhadap kitab-kitab suci Theravāda setidaknya sejak abad ke-12 M.[5][6]
Dia umumnya diakui oleh para cendekiawan Barat modern dan penganut Theravāda sebagai filsuf dan pengomentar terpenting Theravāda.[2][7]
Nama
Nama Buddhaghosa berarti "Suara Buddha" (Buddha+ghosa) dalam bahasa Pali,[8] bahasa yang digunakan Buddhaghosa dalam karyanya. Dalam bahasa Sanskerta, nama tersebut dieja Buddhaghoṣa (Dewanagari: बुद्धघोष), tetapi tidak ada bunyi retrofleks ṣ dalam bahasa Pali, dan nama dengan konsonan tersebut tidak ditemukan dalam karya-karya berbahasa Sanskerta.[9]
Biografi
Informasi yang dapat diandalkan untuk memperoleh kehidupan Buddhaghosa terbatas. Terdapat tiga sumber utama informasi: prolog dan epilog singkat yang terlampir pada karya-karya Buddhaghosa; rincian hidupnya tercatat dalam Mahāvaṁsa, sebuah catatan sejarah Sri Lanka; dan sebuah karya biografi kemudian hari yang berjudul Buddhaghosuppatti.[10][11] Beberapa sumber lain membahas kehidupan Buddhaghosa, tetapi kelihatannya bukan merupakan informasi yang dapat diandalkan.[7]
Kutipan biografi yang terlampir pada karya-karya yang dikaitkan dengan Buddhaghosa mengungkapkan relatif sedikit rincian hidupnya, tetapi mungkin ditambahkan sejak masa penulisan komposisi aslinya.[7][12] Sebagian besar berformat sama, kutipan-kutipan singkat ini menggambarkan bahwa Buddhaghosa telah datang ke Sri Lanka dari India dan menetap di Anuradhapura.[13] Selain informasi ini, mereka hanya memberikan daftar pendek para guru, pendukung, dan rekan Buddhaghosa. Nama-nama tersebut umumnya tidak dapat ditemukan di tempat lain sebagai pembanding.[13]
Cūḷavaṁsa, yang dianggap sebagai bagian kedua dari Mahāvaṁsa dan ditulis sekitar abad ketiga belas, mencatat bahwa Buddhaghosa lahir dalam keluarga berkasta brahmana di kerajaan Magadha.[2] Dia dikatakan lahir dekat Bodh Gaya, dan telah menjadi master kitab-kitab Weda. Ia juga berkelana di seluruh India dan terlibat dalam debat-debat filosofis.[14] Barulah ketika bertemu dengan seorang biku bernama Revata, Buddhaghosa dikalahkan dalam debat. Ia pertama kali dikalahkan dalam perselisihan mengenai makna sebuah ajaran Weda, dan kemudian dibingungkan oleh penyampaian sebuah ajaran dari Abhidhamma Theravāda.[14] Oleh karena terkesan, Buddhaghosa menjadi seorang biku (biarawan Buddhis) dan melakukan studi atas kitab-kitab Tipiṭaka dan kitab komentarnya. Ketika menemukan sebuah kitab yang komentarnya telah hilang di India, Buddhaghosa memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Sri Lanka untuk mempelajari kitab-kitab komentar yang diyakini telah dilestarikan dalam bahasa Sinhala.[14]
Di Sri Lanka, Buddhaghosa mulai mempelajari apa yang tampaknya merupakan kumpulan besar kitab-kitab komentar berbahasa Sinhala yang telah dikumpulkan dan dipelihara oleh para biku dari Maha Viharaya Anuradhapura.[15] Buddhaghosa meminta izin untuk menyintesis kumpulan komentar berbahasa Sinhala tersebut menjadi satu ulasan komprehensif yang ditulis dalam bahasa Pali.[16] Catatan tradisional menyebutkan bahwa para biku sesepuh terlebih dahulu ingin menguji pengetahuan Buddhaghosa dengan memberinya tugas untuk menjabarkan ajaran mengenai dua bait dari sutta; Buddhaghosa membalasnya dengan menyusun Visuddhimagga.[17] Kemampuannya diuji lebih lanjut ketika para dewa turun tangan dan menyembunyikan naskah bukunya, memaksanya dua kali untuk menyusun ulang dari awal.[16] Ketika ketiga teks tersebut dianggap telah terbukti merangkum seluruh Tripitaka Pali secara lengkap dan cocok dalam segala hal, para biku menyetujui permintaannya dan memberikan Buddhaghosa seluruh kumpulan kitab komentar mereka.[16]
Buddhaghosa kemudian menulis kitab-kitab komentar untuk sebagian besar kitab utama lainnya dalam Tripitaka Pali, dengan karya-karyanya menjadi interpretasi definitif Theravāda atas kitab suci tersebut.[2] Setelah menyintesis atau menerjemahkan seluruh kitab komentar Sinhala yang dipelihara di Maha Viharaya Anuradhapura, Buddhaghosa dilaporkan kembali ke India, melakukan ziarah ke Bodh Gaya untuk memberikan penghormatan kepada Pohon Bodhi.[16]
Perincian dari catatan Mahāvaṁsa tidak dapat diverifikasi dengan mudah; meskipun umumnya dianggap oleh para cendekiawan Barat telah dibumbui dengan peristiwa-peristiwa legendaris (seperti penyembunyian kitab-kitab karya Buddhaghosa oleh para dewa). Dengan tidak adanya bukti-bukti yang bertentangan dari klaim yang ada, catatan ini diasumsikan secara umum akurat.[16] Meskipun Mahāvaṁsa mengklaim bahwa Buddhaghosa lahir di India utara di dekat Bodh Gaya, epilog pada kitab-kitab komentarnya hanya merujuk pada satu lokasi di India sebagai tempat tinggal setidaknya untuk sementara waktu: Kanci di India selatan.[7] Oleh karena itu, beberapa cendekiawan menyimpulkan (di antaranya Oskar von Hinüber dan Polwatte Buddhadatta Thera) bahwa Buddhaghosa mungkin sebenarnya lahir di Amaravati, Andhra Pradesh[18] dan direlokasi dalam biografi-biografi selanjutnya untuk memberinya ikatan yang lebih dekat dengan wilayah Sang Buddha.[7]
Buddhaghosuppatti, sebuah teks biografi yang lebih baru, umumnya dianggap oleh para cendekiawan Barat sebagai legenda alih-alih sejarah.[19] Teks ini menambahkan detail-detail tertentu pada kisah Mahāvaṁsa, seperti identitas orang tua Buddhaghosa dan desanya, serta beberapa episode dramatis, seperti perpindahan agama ayah Buddhaghosa dan peran Buddhaghosa dalam memutuskan suatu kasus hukum.[20] Teks ini juga menjelaskan hilangnya naskah asli Sinhala yang menjadi rujukan Buddhaghosa dalam menyusun ulang kitab komentar Pali-nya, dengan mengklaim bahwa Buddhaghosa mengumpulkan dan membakar naskah-naskah asli tersebut setelah pekerjaannya selesai.[21]
Gaya penafsiran
Buddhaghosa diyakini telah bertanggung jawab atas proyek besar untuk menyintesis dan menerjemahkan sejumlah besar kitab komentar kuno berbahasa Sinhala atas Tripitaka Pali. Kitab Visuddhimagga-nya (Pali untuk "Jalan Pemurnian") adalah panduan komprehensif agama Buddha Theravāda yang masih bisa dibaca dan dipelajari hingga saat ini.[22][23][24] Maria Heim mencatat bahwa, meskipun Buddhaghosa bekerja dengan menggunakan kitab-kitab dari tradisi tafsir Sinhala yang lebih tua, ia juga merupakan "pembuat versi barunya yang membuat versi aslinya menjadi usang, karena karyanya menggantikan versi Sinhala yang kini telah hilang dari kita".[25]
Gaya penulisan
Bhikkhu Ñāṇamoli menulis bahwa karya Buddhaghosa "ditandai dengan keakuratan, konsistensi, dan kelancaran keilmuan yang tak kenal lelah, dan sangat didominasi oleh formalisme."[26] Menurut Richard Shankman, kitab Visuddhimagga sangat "teliti dan spesifik," berbeda dengan sutta-sutta Pali, yang "terkadang bisa kabur, tanpa banyak detail penjelasan dan terbuka terhadap berbagai penafsiran."[27]
Metode tafsir
Menurut Maria Heim, Buddhaghosa secara eksplisit jelas dan sistematis atas prinsip-prinsip hermeneutika dan strategi eksegesis (tafsir)-nya dalam kitab-kitab komentarnya. Buddhaghosa menulis dan meneoretisasi teks/kitab, genre, ragam diskursus, respons pembaca, pengetahuan Buddhis, dan pedagogi.[28] Buddhaghosa menganggap setiap piṭaka dari Tripitaka Pali sebagai semacam metode (naya) yang membutuhkan keterampilan penafsiran yang berbeda. Salah satu gagasannya yang paling penting tentang tradisi tafsir atas kata-kata Buddha (buddhavacana) adalah bahwa kata-kata tersebut "tidak terukur"; artinya, ada cara dan mode yang tak terhitung jumlahnya untuk mengajarkan dan menjelaskan Dhamma, dan demikian pula ada cara yang tak terhitung jumlahnya untuk menerima ajaran-ajaran ini.[29] Menurut Heim, Buddhaghosa menganggap Dhamma sebagai "dituturkan dengan baik [...] terlihat di sini dan saat ini, tak lekang oleh waktu,"[29] 'terlihat' berarti bahwa buah dari jalan tersebut dapat dilihat dalam perilaku para makhluk mulia, dan bahwa memahami Dhamma adalah cara pandang yang transformatif, yang memiliki dampak langsung.[30] Menurut Heim, gagasan tentang tulisan suci yang "berdampak secara transformatif dan langsung" ini "sangat penting bagi praktik penafsiran Buddhaghosa," karena ia memikirkan dampak langsung dan transformatif dari kata-kata Sang Buddha pada pendengarnya, sebagaimana dibuktikan dalam sutta-sutta.[31]
Mengenai pemikiran sistematisnya, Maria Heim dan Chakravarthi Ram-Prasad melihat penggunaan metode Abhidhamma Theravāda oleh Buddhaghosa sebagai bagian dari "penstrukturan kontemplatif" fenomenologis yang diungkapkan dalam tulisan-tulisannya tentang praktik Buddhis.[32] Mereka berargumen bahwa "penggunaan nāma-rūpa oleh Buddhaghosa harus dilihat sebagai pendekatan analitis, yang dengannya ia memahami bagaimana berbagai pengalaman dialami, dan bukan penjelasannya tentang bagaimana suatu realitas disusun."[32]
Pengaruh Yogācāra
Beberapa cendekiawan berpendapat bahwa tulisan Buddhaghosa menunjukkan pengaruh tradisi Yogācāra yang kuat tetapi tidak diakui, yang kemudian menjadi ciri pemikiran Theravāda menyusul pengaruhnya yang mendalam pada tradisi Theravāda.[33] Menurut Kalupahana, Buddhaghosa juga dipengaruhi oleh pemikiran Mahāyāna, yang secara halus dicampur dengan ortodoksi Theravāda untuk memperkenalkan pendekatan-pendekatan baru. Menurut Kalupahana, hal ini pada akhirnya mengarah pada berkembangnya kecenderungan-kecenderungan metafisik, berbeda dengan penekanan asli pada anattā dalam agama Buddha awal.[34] Menurut Jonardon Ganeri, meskipun Buddhaghosa mungkin telah dipengaruhi oleh tradisi Vijñānavāda Yogācāra, "pengaruh tersebut tidak berupa dukungan, melainkan keterlibatan kreatif dan penyangkalan (bantahan)."[35]
Teori kesadaran
Filsuf Jonardon Ganeri telah menarik perhatian pada teori Buddhaghosa tentang sifat kesadaran dan perhatian. Ganeri menyebut pendekatan Buddhaghosa sebagai semacam "atensionalisme", yang menempatkan keutamaan pada kemampuan perhatian dalam menjelaskan aktivitas pemikiran dan pikiran, serta bertentangan dengan representasionalisme.[36] Ganeri juga menyatakan bahwa perlakuan Buddhaghosa terhadap kognisi "mengantisipasi konsep memori kerja, gagasan tentang pikiran sebagai ruang kerja global, orientasi bawah sadar, dan tesis bahwa pemrosesan visual terjadi pada tiga tingkat."[36] Ganeri juga menyatakan:
Buddhaghosa berbeda dari hampir setiap filsuf Buddhis lainnya dalam hal ia membahas memori episodik dan mengetahuinya sebagai menghidupkan kembali pengalaman dari masa lalu pribadi seseorang; tetapi ia menghalangi reduksi apa pun dari fenomenologi pengalaman temporal ke dalam representasi diri sendiri seperti di masa lalu. Klaim alternatif bahwa memori episodik adalah fenomena perhatian merupakan hal yang ia kembangkan dengan kecanggihan yang lebih besar daripada yang telah dilakukan di tempat lain (oleh para pemikir lain).[37]
Ganeri melihat karya Buddhaghosa bebas dari gambaran mediasional tentang pikiran dan juga bebas dari Mitos yang Diberikan (Myth of the Given), dua pandangan yang ia lihat telah diperkenalkan oleh filsuf India Dignāga.[38]
Tradisi meditasi
Ajaran dalam kitab Visuddhimagga mencerminkan tradisi akademis Abhidhamma Theravāda, yang mencakup beberapa inovasi dan penafsiran yang tidak ditemukan dalam khotbah-khotbah awal (sutta) Sang Buddha.[39][40] Kitab Visuddhimagga karya Buddhaghosa memuat instruksi-instruksi non-kanonikal mengenai meditasi Theravāda, seperti "cara-cara menjaga citra mental (nimitta)," yang menunjuk pada perkembangan selanjutnya dalam meditasi Theravāda.[4] Menurut Thanissaro Bhikkhu, "Visuddhimagga menggunakan paradigma konsentrasi yang sangat berbeda dari apa yang Anda temukan dalam Kanon."[41]
Bhante Henepola Gunaratana juga mencatat bahwa apa yang "dikatakan sutta-sutta tidak sama dengan apa yang dikatakan kitab Visuddhimagga [...] keduanya sebenarnya berbeda," yang mengarah pada perbedaan antara pemahaman keilmuan [tradisional] dan pemahaman praktis yang didasarkan pada pengalaman meditatif.[42] Gunaratana lebih lanjut mencatat bahwa Buddhaghosa menciptakan beberapa istilah meditasi utama yang tidak ditemukan dalam sutta-sutta, seperti "parikamma samādhi (konsentrasi persiapan), upacāra samādhi (konsentrasi akses), appanā samādhi (konsentrasi absorpsi/penyerapan)."[43] Gunaratana juga mencatat bahwa penekanan Buddhaghosa pada meditasi kasiṇa tidak ditemukan dalam sutta-sutta, di mana jhāna selalu dikombinasikan dengan perhatian-penuh (sati).[44][note 1]
Bhikkhu Sujato berpendapat bahwa pandangan-pandangan tertentu mengenai meditasi Buddhis yang diuraikan dalam kitab Visuddhimagga merupakan "distorsi dari Sutta" karena tulisan tersebut menyangkal perlunya jhāna.[45]
Biku Australia Shravasti Dhammika juga mengkritik praktik kontemporer yang didasarkan pada karya ini.[46] Ia menyimpulkan bahwa Buddhaghosa pun tidak percaya bahwa dengan mengikuti praktik yang ditetapkan dalam Visuddhimagga akan benar-benar membawanya ke Nirwana, mendasarkan dirinya pada catatan penutup (kolofon) pada teks tersebut yang menyatakan bahwa sang penulis berharap untuk dilahirkan kembali di surga dan menunggu hingga Buddha Metteyya (Maitreya) muncul untuk mengajarkan Dhamma.[46][note 2] Namun, menurut cendekiawan Burma Yang Mulia Pandita, kolofon pada Visuddhimagga tidak ditulis oleh Buddhaghosa sendiri.[49]
Menurut Sarah Shaw, "sangat tidak mungkin tradisi meditasi dapat bertahan dengan baik, atau bahkan sama sekali dapat bertahan, tanpa daftar rinci dan panduan lengkap yang diberikannya."[4] Namun, menurut Buswell, pada abad ke-10, vipassanā sudah tidak lagi dipraktikkan dalam tradisi Theravāda, karena keyakinan bahwa Buddhisme telah mengalami degenerasi, dan bahwa pembebasan tidak lagi dapat dicapai hingga kedatangan Buddha Metteyya.[50] Tradisi ini diperkenalkan kembali di Myanmar (Burma) pada abad ke-18 oleh Medawi (1728–1816), yang mengarah pada kebangkitan Gerakan Vipassanā pada abad ke-20, yang menemukan kembali meditasi vipassanā dan mengembangkan teknik-teknik meditasi yang disederhanakan, berdasarkan Satipaṭṭhāna Sutta, Visuddhimagga, dan kitab-kitab sebelumnya, dengan menekankan satipaṭṭhāna dan pandangan-terang murni (bare insight).[51][52]
Atribusi karya
Kronik sejarah Mahāvaṁsa menganggap bahwa banyak sekali kitab karya Buddhaghosa, beberapa di antaranya diyakini bukan karyanya, tetapi ditulis kemudian dan dikaitkan dengannya.[53] Berikut ini adalah daftar empat belas kitab komentar (aṭṭhakathā) atas Tripitaka Pali yang secara tradisional dianggap sebagai karya Buddhaghosa, dengan materi-materi yang penulisannya didasari pada kitab-kitab yang sudah ada sebelumnya. Menurut K. R. Norman, ada bukti bahwa beberapa bagian dari komentar tersebut sudah sangat tua, bahkan sejak zaman Sang Buddha masih hidup.[37][54]
| Tipiṭaka Pāli | Komentar | ||
|---|---|---|---|
| dalam Vinayapiṭaka |
Vinaya (umum) | Samantapāsādikā | |
| Pāṭimokkha | Kaṅkhāvitaraṇī atau Māṭikaṭṭhakathā | ||
| dalam Suttapiṭaka |
Dīghanikāya | Sumaṅgalavilāsinī | |
| Majjhimanikāya | Papañcasūdani | ||
| Saṁyuttanikāya | Sāratthappakāsinī | ||
| Aṅguttaranikāya | Manorathapūraṇī | ||
| dalam Khuddaka -nikāya |
Khuddakapāṭha | Paramatthajotikā (I) | |
| Dhammapada | Dhammapada-aṭṭhakathā | ||
| Suttanipāta | Paramatthajotikā (II),[55] atau Suttanipāta-aṭṭhakathā | ||
| Jātaka | Jātaka-aṭṭhavaṇṇā, atau Jātaka-aṭṭhakathā | ||
| dalam Abhidhamma -piṭaka |
Dhammasaṅgaṇī | Aṭṭhasālinī | |
| Vibhaṅga | Sammohavinodanī | ||
| Dhātukathā | Pañcapakaraṇa-aṭṭhakathā | ||
| Puggalapaññatti | |||
| Kathāvatthu | |||
| Yamaka | |||
| Paṭṭhāna | |||
Walaupun catatan tradisional mencantumkan Buddhaghosa sebagai penulis semua karya ini, beberapa cendekiawan berpendapat bahwa hanya Visuddhimagga dan kitab komentar atas empat kitab nikāya pertama (Dīgha, Majjhima, Saṁyutta, dan Aṅguttara) yang merupakan karya Buddhaghosa.[56] Sementara itu, Maria Heim berpendapat bahwa Buddhaghosa adalah penulis kitab-kitab komentar atas empat nikāya pertama, Samantapāsādikā, Paramatthajotikā, Visuddhimagga, dan tiga kitab komentar atas kitab-kitab Abhidhamma.[57] Maria Heim juga mencatat bahwa beberapa cendekiawan modern berpendapat bahwa Buddhaghosa berperan sebagai kepala tim yang terdiri dari beberapa cendekiawan dan penerjemah kuno, dan bahwa pendapat tersebut bukanlah skenario yang tidak mungkin.[58]
Pengaruh dan warisan
Pada abad ke-12, biku Sri Lanka (Sinhala) Sāriputta Thera menjadi cendekiawan terkemuka Theravāda menyusul penyatuan kembali komunitas sangha Sri Lanka (Sinhala) oleh Raja Parakramabahu I.[59] Sāriputta Thera mengutip banyak karya Buddhaghosa ke dalam penafsirannya sendiri.[59] Pada tahun-tahun berikutnya, banyak biku dari tradisi Theravāda di Asia Tenggara mencari penahbisan atau penahbisan ulang di Sri Lanka karena reputasi silsilah Mahāvihāra dalam hal kemurnian ajaran dan keilmuan.[59] Hasilnya adalah penyebaran ajaran tradisi Mahāvihāra — dan karenanya juga penafsiran Buddhaghosa — ke seluruh dunia Theravāda.[59] Kitab-kitab komentar yang disusun ulang oleh Buddhaghosa dengan demikian menjadi metode standar untuk memahami kitab suci Theravāda, mengukuhkan Buddhaghosa sebagai penafsir definitif ajaran Theravāda.[17]
Pada tahun-tahun berikutnya, ketenaran dan pengaruh Buddhaghosa menginspirasi berbagai penghargaan. Kisah hidupnya dicatat, dalam bentuk yang diperluas dan kemungkinan dilebih-lebihkan, dalam sebuah kronik Pali yang dikenal sebagai Buddhaghosuppatti, atau "Perkembangan Karier [Spiritual] Buddhaghosa".[17] Terlepas dari kepercayaan umum bahwa ia adalah orang India sejak lahir, ia kemudian mungkin diklaim oleh suku Mon di Burma sebagai upaya untuk menegaskan keutamaan atas Sri Lanka dalam pengembangan tradisi Theravāda.[60] Cendekiawan lain meyakini bahwa catatan-catatan Mon tersebut sebenarnya merujuk pada tokoh lain, tetapi nama dan sejarah pribadinya sangat mirip dengan Buddhaghosa dari India.[19]
Terakhir, karya-karya Buddhaghosa kemungkinan memainkan peran penting dalam kebangkitan dan pelestarian bahasa Pali sebagai bahasa kitab suci Theravāda, dan sebagai lingua franca dalam pertukaran ide, teks/kitab, dan cendekiawan antara Sri Lanka dan negara-negara Theravāda di daratan Asia Tenggara. Perkembangan analisis baru (penafsiran) mengenai ajaran Theravāda, baik dalam bahasa Pali maupun Sinhala, tampaknya telah mengering sebelum kemunculan Buddhaghosa di Sri Lanka.[61] Di India, aliran-aliran baru filosofi Buddhis (seperti Mahāyāna) bermunculan, banyak di antaranya menggunakan bahasa Sanskerta klasik baik sebagai bahasa kitab suci maupun sebagai bahasa diskursus filosofis.[61] Para biku dari Mahāvihāra mungkin berusaha untuk menangkal pertumbuhan aliran-aliran semacam itu dengan kembali menekankan studi dan penulisan dalam bahasa Pali, bersama dengan studi sumber-sumber sekunder yang sebelumnya tidak digunakan lagi yang mungkin telah lenyap di India, seperti yang dibuktikan oleh Mahāvaṁsa.[62] Indikasi awal kebangkitan kembali penggunaan bahasa Pali sebagai bahasa sastra ini dapat terlihat dalam penyusunan Dīpavaṁsa dan Vimuttimagga, yang keduanya berasal dari masa tak lama sebelum kedatangan Buddhaghosa di Sri Lanka.[10] Penambahan karya-karya Buddhaghosa — yang menggabungkan silsilah kitab komentar Sinhala tertua dengan penggunaan bahasa Pali, sebuah bahasa yang digunakan bersama oleh semua pusat pembelajaran Theravāda pada masa itu — memberikan dorongan signifikan pada revitalisasi bahasa Pali dan tradisi intelektual Theravāda, kemungkinan membantu aliran Theravāda bertahan dari tantangan terhadap posisinya yang ditimbulkan oleh kemunculan aliran-aliran Buddha lain di daratan India.[63]
Menurut Maria Heim, ia adalah "salah satu pemikir terbesar dalam sejarah agama Buddha" dan filsuf Inggris Jonardon Ganeri menganggap Buddhaghosa sebagai "seorang inovator sejati, pelopor, dan pemikir kreatif."[64][65] Namun, menurut Buddhadasa, Buddhaghosa juga telah dipengaruhi oleh pemikiran Hindu, dan penghormatan yang tidak kritis terhadap kitab Visuddhimagga bahkan dianggap telah menghambat praktik agama Buddha yang autentik.[66][67]
Catatan
- ↑ Lihat pula Bronkhorst (1993), Two Traditions of Meditation in ancient India; Wynne (2007), The Origin of Buddhist Meditation; dan Polak (2011), Reexaming Jhana
- ↑ Pengabdian kepada Buddha Metteyya lazim di Asia Selatan sejak awal era Buddhis, dan diyakini sangat populer selama era Buddhaghosa.[47][48]
Referensi
- ↑ (v. Hinüber 1996, hlm. 103) lebih spesifik, memperkirakan tanggal Buddhaghosa pada tahun 370–450 Masehi berdasarkan Mahavamsa dan sumber-sumber lainnya. Mengikuti Mahavamsa, (Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxvi) menempatkan kedatangan Buddhaghosa terjadi pada masa pemerintahan Raja Mahanama, antara tahun 412 dan 434 M.
- 1 2 3 4 Strong 2004, hlm. 75.
- ↑ Gethin, Rupert, Was Buddhaghosa a Theravādin? Buddhist Identity in the Pali Commentariesand Chronicles, 2012.
- 1 2 3 Shaw 2006, hlm. 5.
- ↑ (Crosby 2004, hlm. 837)
- ↑ Gombrich 2012, hlm. 51.
- 1 2 3 4 5 (v. Hinüber 1996, hlm. 102)
- ↑ Rhys Davids & Stede, 1921-25, Pali-English Dictionary, Pali Text Society.
- ↑ "Sanskrit Dictionary". Diakses tanggal July 23, 2016.
- 1 2 Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxviii.
- ↑ Gray 1892.
- ↑ (Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxix)
- 1 2 Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxix-xxx.
- 1 2 3 Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxxiv.
- ↑ Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxxii.
- 1 2 3 4 5 Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxxv.
- 1 2 3 Strong 2004, hlm. 76.
- ↑ "Amaravati to retain its slice of history". The Times of India. 20 April 2016.
- 1 2 Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxxix.
- ↑ Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxxvii-xxxviii.
- ↑ Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxxviii.
- ↑ Stede, W. (October 1951). "The Visuddhimagga of Buddhaghosācariya by Henry Clarke Warren; Dharmananda Kosambi". The Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland. 83 (3/4): 210–211. doi:10.1017/S0035869X00104873. JSTOR 25222520. S2CID 162298602.
- ↑ Stede, D. A. L. (1953). "Visuddhimagga of Buddhaghosācariya by Henry Clarke Warren; Dharmananda Kosambi". Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London. 15 (2): 415. doi:10.1017/s0041977x00111346. JSTOR 608574. S2CID 177287397.
- ↑ Edgerton, Franklin (January 1952). "Visuddhimagga of Buddhaghosācariya by Henry Clarke Warren; Dharmananda Kosambi". Philosophy East and West. 1 (4): 84–85. doi:10.2307/1397003. JSTOR 1397003.
- ↑ Heim 2013, hlm. 7.
- ↑ Ñāṇamoli, 1999, Introduction p. xxxvii
- ↑ Shankman 2008, hlm. 54.
- ↑ Heim 2018, hlm. 5-6.
- 1 2 Heim 2018, hlm. 9.
- ↑ Heim 2018, hlm. 13.
- ↑ Heim 2018, hlm. 14.
- 1 2 Heim, Ram-Prasad, In a Double Way: Nāma-rūpa in Buddhaghosa’s Phenomenology, Philosophy East and West, University of Hawai'i Press.
- ↑ Buddhist Phenomenology: A Philosophical Investigation of Yogācāra Buddhism oleh Dan Lusthaus. RoutledgeCurzom: 2002 ISBN 0700711864 hlm. 106 n 30
- ↑ Kalupahana 1994.
- ↑ Ganeri, 2018, 32.
- 1 2 Ganeri, 2018, 31.
- 1 2 Norman, K.R. (1983) Pali Literature, hlm. 119. Otto Harrassowitz, Wiesbaden.
- ↑ Ganeri, 2018, 34.
- ↑ Kalupahana, David J. (1994), A history of Buddhist philosophy, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited
- ↑ Sujato, Bhante (2012), A History of Mindfulness (PDF), Santipada, hlm. 329, ISBN 9781921842108
- ↑ Shankman 2008, hlm. 117.
- ↑ Shankman 2008, hlm. 136.
- ↑ Shankman 2008, hlm. 137.
- ↑ Shankman 2008, hlm. 137-138.
- ↑ Sujato, Bhante (2012), A History of Mindfulness (PDF), Santipada, hlm. 332, ISBN 9781921842108
- 1 2 The Broken Buddha oleh S. Dhammika, lihat hlm. 13 dari 80
- ↑ Sponberg 2004, hlm. 737–738.
- ↑ "Maitreya (Buddhism) -- Britannica Online Encyclopedia". Diakses tanggal 2009-01-28.
- ↑ Ven. Pandita (2018). The Authorship of the Vinaya and Abhidhamma Commentaries: A Response to von Hinüber. Journal of Buddhist ethics 25:269-332. Universitas Kelaniya.
- ↑ Buswell 2004, hlm. 889.
- ↑ Buswell 2004, hlm. 890.
- ↑ McMahan 2008, hlm. 189.
- ↑ (Hinüber 1996, hlm. 103)
- ↑ Tabel didasarkan pada (Bullitt 2002). Untuk daftar terjemahannya, lihat Komentar (Theravāda).
- ↑ Sebenarnya, komentar ini pada awalnya tidak memiliki judul ini, tetapi secara tradisional dikenal dengan judul tersebut. (Hinüber 1996, hlm. 129), hlm. 129 bag. 255, menulis:
"Baik penulis maupun judulnya tidak disebutkan dalam Pj [Paramattha-jotikā] II .... Jadi, awalnya Pj II bersifat anonim, dan terlebih lagi seperti Dhp-a [Dhammapada-aṭṭhakathā] dan Ja [Jātakatthavaṇṇanā] juga tanpa sebuah judul sendiri: Pj mungkin dipilih di kemudian hari karena sebagian besar bagiannya tumpang tindih dengan Pj I. [Hal ini dikarenakan sebagian besar isi kitab Khuddakapāṭha diambil dari Suttanipāta]. Hal ini menghubungkan komentar ini dengan Pj I....
Namun, secara keseluruhan, Pj I dan Pj II sangat berbeda sehingga sulit membayangkan bahwa penulisnya sama. ..." - ↑ Misalnya saja, mengenai komentar-komentar Khuddaka Nikāya, (Hinüber 1996, hlm. 130–1), bag. 259, 260, menulis:
"Baik Pj [Paramattha-jotikā] I maupun Pj II tidak dapat ditentukan tanggal penyusunannya, bahkan dalam kaitannya satu sama lain, kecuali bahwa keduanya mengandaikan Buddhaghosa [sebagai penyusunna]. Meskipun 'kolofon Buddhaghosa' ditambahkan pada kedua komentar ... tidak ada hubungan langsung dengan Buddhaghosa yang dapat dikenali....
Baik Ja [Jātakatthavaṇṇanā] maupun Dhp-a [Dhammapada-aṭṭhakathā] secara tradisional dikaitkan dengan Buddhaghosa, sebuah asumsi yang telah dipertanyakan dengan tepat oleh penelitian modern...." - ↑ Heim 2018, hlm. 19.
- ↑ Heim 2013, hlm. 9.
- 1 2 3 4 (Crosby 2004, hlm. 837)
- ↑ (Pranke 2004, hlm. 574)
- 1 2 Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxvii.
- ↑ Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxvii-xxviii.
- ↑ Bhikkhu Ñāṇamoli 1999, hlm. xxxix-x.
- ↑ Heim 2013, hlm. 4.
- ↑ Ganeri, 2018, p. 30.
- ↑ S. Payulpitack (1991), Buddhadasa and His Interpretation of Buddhism
- ↑ Buddhadasa, Paticcasamuppada: Practical Dependent Origination
Daftar pustaka
- Bhikkhu Ñāṇamoli (1999), "Introduction", dalam Buddhaghosa (ed.), Visuddhimagga: The Path of Purification, diterjemahkan oleh Bhikkhu Ñāṇamoli, Seattle: Buddhist Publication Society, ISBN 1-928706-01-0 Pemeliharaan CS1: Banyak nama: translators list (link)
- Bullitt, John T. (2002), Beyond the Tipitaka: A Field Guide to Post-canonical Pali Literature, diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-09, diakses tanggal 2009-04-07
- last Buswell, Robert, ed. (2004), Encyclopedia of Buddhism, MacMillan
- Crosby, Kate (2004), "Theravada", dalam Buswell, Jr., Robert E. (ed.), Macmillan Encyclopedia of Buddhism, USA: Macmillan Reference USA, hlm. 836–841, ISBN 0-02-865910-4
- Ganeri, Jonardon (2017), Attention, Not Self, Oxford University Press
- Gray, James, trans. (1892), Buddhaghosuppatti or the Historical Romance of the Rise and Career of Buddhaghosa, London: Luzac Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- Heim, Maria (2013), The Forerunner of All Things: Buddhaghosa on Mind, Intention, and Agency, USA: OUP USA
- Heim, Maria (2018), Voice of the Buddha: Buddhaghosa on the Immeasurable Words, Oxford University Press
- Hinüber, Oskar von (1996), A Handbook of Pali Literature, New Delhi: Munshiram Manoharal Publishers Pvt. Ltd., ISBN 81-215-0778-2
- Kalupahana, David J. (1994), A history of Buddhist philosophy, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited
- McMahan, David L. (2008), The Making of Buddhist Modernism, Oxford University Press, ISBN 9780195183276
- Pranke, Patrick A. (2004), "Myanmar", dalam Buswell, Jr., Robert E. (ed.), Macmillan Encyclopedia of Buddhism, USA: Macmillan Reference USA, hlm. 574–577, ISBN 0-02-865910-4
- Rogers, Henry Thomas, trans. (1870): Buddhaghosha's Parables / translated from Burmese. With an Introduction, containing Buddha's Dhammapada, or "Path of Virtue" / transl. from Pâli by F. Max Müller, London: Trübner.
- Shankman, Richard (2008), The Experience of Samadhi: An In-depth Exploration of Buddhist Meditation, Shambhala
- Shaw, Sarah (2006), Buddhist Meditation: An Anthology of Texts from the Pali Canon, Routledge
- Sponberg, Alan (2004), "Maitreya", dalam Buswell, Jr., Robert E. (ed.), Macmillan Encyclopedia of Buddhism, USA: Macmillan Reference USA, ISBN 0-02-865910-4
- Strong, John (2004), "Buddhaghosa", dalam Buswell, Jr., Robert E. (ed.), Macmillan Encyclopedia of Buddhism, USA: Macmillan Reference USA, hlm. 75, ISBN 0-02-865910-4
Bacaan lanjutan
- Law, Bimala Charan (1923). The life and work of Buddhaghosa, Calcutta, Thacker, Spink.
- Pe Maung Tin (1922). The path of purity; being a translation of Buddhaghosa's Visuddhimagg. London. Diterbitkan untuk Pali Text Society oleh Oxford University Press.
Pranala luar
| Cari tahu mengenai Buddhaghosa pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Kutipan dari Wikiquote | |
| Teks sumber dari Wikisource | |
| Entri basisdata #Q335247 di Wikidata | |
|
| ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| ||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
|
| ||||||||||||