ENSIKLOPEDIA
Mukjizat Buddha Gotama

Mukjizat Buddha Gotama atau kesaktian Buddha Gotama (Pali: pāṭihāriya) merujuk pada kemahiran dan kemampuan supernatural yang dikaitkan dengan Buddha Gotama oleh kitab-kitab suci Buddhis. Kemahiran-kemahiran ini sebagian besar dikaitkan dengan kekuatan supranormal yang diperoleh melalui meditasi, alih-alih mukjizat ilahi.[1]
Kekuatan supranormal yang tercatat dimiliki dan digunakan oleh Buddha historis mencakup enam pengetahuan tingkat tinggi (abhiññā): kemampuan psikis (iddhi-vidhā), pendengaran ilahi (dibba-sota), membaca pikiran (ceto-pariya), ingatan akan kehidupan masa lalu sendiri (pubbe-nivāsanussati), melihat kehidupan masa lalu dan kelahiran kembali makhluk lain (dibba-cakkhu), dan penghancuran noda-noda batin (āsavakkhaya).[2][3] Mukjizat yang ditemukan dalam sutra Mahāyāna umumnya memainkan peran yang lebih langsung dalam mengilustrasikan ajaran-ajaran tertentu dibandingkan mukjizat yang ditemukan dalam teks-teks Buddhis non-Mahāyāna.[4] Selain dalam teks, beberapa mukjizat juga sering ditampilkan dalam berbagai adegan yang menggambarkan kehidupan Buddha dalam seni.
Kisah-kisah mukjizat Buddha Gotama meliputi penyembuhan ajaib, teleportasi, menciptakan duplikat diri-Nya, manipulasi unsur-unsur, dan berbagai fenomena supernatural lainnya. Banyak dari siswa Sang Buddha, serta beberapa petapa dan pemeditasi nonbuddhis (kaum sesat) yang mencapai tingkat penyerapan meditasi (jhāna) yang tinggi, juga dikatakan memiliki beberapa kemampuan yang sama ini.[1][2][note 1] Menurut teks-teks Buddhis, Sang Buddha sering menggunakan atau membahas kemampuan-kemampuan ini, tetapi turut membicarakannya sebagai cara yang tidak begitu menguntungkan jika digunakan oleh para biku sebagai metode konversi (mengubah keyakinan) khalayak umum, meskipun Buddha sendiri turut memanfaatkan pertunjukan mukjizat supranatural (Pali: iddhi-pāṭihāriya) sebagai metode konversi. Sebagai gantinya, Sang Buddha menekankan "mukjizat pengajaran" (Pali: anusāsanī-pāṭihāriya), atau pengajaran Dhamma, sebagai metode konversi yang lebih unggul.
Mukjizat dalam kitab suci
Tipiṭaka beserta Aṭṭhakathā (kitab-kitab komentar) mencatat banyak contoh kejadian bermukjizat Pangeran Siddhattha Gotama, dan pertunjukan mukjizat Buddha Gotama setelah pencerahan-Nya. Cendekiawan studi agama David V. Fiordalis menggambarkan bahwa pertunjukan supranormal ini berguna untuk konversi (pengubahan keyakinan) awal dan juga berfungsi sebagai bukti kesucian Sang Buddha. Pertunjukan tersebut sering kali diikuti oleh pengajaran Dhamma, yang dalam agama Buddha dianggap sebagai mukjizat terbesar.[4]
Pandangan kitabiah tentang mukjizat
Sebagian besar mukjizat Sang Buddha dipandang dalam Buddhisme sebagai akibat dari kemampuan psikis yang luar biasa (abhiññā) yang diperoleh melalui meditasi mendalam, alih-alih kekuatan mukjizat dari luar.[1] Menurut teks-teks Buddhis, banyak siswa Sang Buddha, serta beberapa petapa dan pemeditasi nonbuddhis (kaum sesat) yang mencapai kondisi penyerapan meditatif (jhāna) yang tinggi, juga memiliki beberapa kemampuan yang sama ini.[6][7][note 2] Walaupun teks-teks menyatakan bahwa Sang Buddha masih kadang-kadang memanfaatkan kekuatan supranormal dan bahwa itu dianggap sebagai tanda-tanda kemajuan spiritual, Sang Buddha juga mendeskripsikannya sebagai hal yang berbahaya dan sesuatu yang dapat mengarah pada pengagungan diri sendiri.[1][2] Menurut salah satu teks, ketika Sang Buddha berjumpa dengan seorang petapa nonbuddhis yang dengan bangga memamerkan kemampuannya menyeberangi sungai dengan berjalan di atas air (kemampuan yang juga dikatakan dimiliki Sang Buddha), Sang Buddha menegurnya dan berkata bahwa aksi petapa itu nilainya sedikit lebih banyak dari beberapa sen yang dibutuhkan untuk menyeberangi sungai menggunakan kapal feri.[8][9][10] Dalam kitab disiplin kebikuan (Vinaya), Sang Buddha meletakkan aturan yang melarang para biku-Nya memamerkan kekuatan supranormal kepada kaum awam dan membandingkan konversi lewat cara mukjizat semacam itu tidak ada untungnya ketimbang konversi yang dilakukan melalui pengajaran Dhamma.[11]
Dalam Kevaṭṭa Sutta (DN 11), Sang Buddha menjelaskan bahwa ada tiga jenis mukjizat: mukjizat kekuatan psikis/batin (iddhipāṭihāriya), mukjizat telepati (ādesanāpāṭihāriya), dan mukjizat pengajaran (anusāsanīpāṭihāriya).[12] Meski Sang Buddha mengakui eksistensi dari dua mukjizat pertama, Dia mengatakan seseorang yang bersikap skeptis dapat saja mengira hal-hal tersebut tak lebih sebagai mantra magis atau sekadar trik sulap murahan.[13][14][15][12] Sebagai gantinya, Sang Buddha memuji "mukjizat pengajaran (Dhamma)" sebagai mukjizat yang superior.[12] Melalui mukjizat pengajaran tersebut, pendengar dibimbing secara bertahap untuk menyempurnakan moralitas (sīla) dan memasuki penyerapan meditatif (jhāna); yang pada akhirnya bahkan akan mengarahkan mereka pada pencapaian mukjizat kemampuan psikis dan mukjizat telepati bagi diri mereka sendiri.[14][12]
Mukjizat-mukjizat sebelum pencerahan
Teks-teks Buddhis mencatat beberapa peristiwa mukjizat yang terjadi pada Pangeran Siddhattha sebelum pencerahan-Nya sebagai seorang Buddha.
Kelahiran yang bermukjizat

Dikatakan bahwa segera setelah kelahiran Gotama, ia berdiri, mengambil tujuh langkah ke utara, dan mengucapkan:
"Akulah pemimpin dunia,
Tertua di dunia. Ini adalah kelahiran terakhir.
Tidak akan ada lagi [bagiku] kelahiran kembali."[16]
Lebih jauh lagi, di setiap tempat bayi Gotama meletakkan kakinya, sekuntum bunga seroja mekar.[17]
Bayangan yang terdiam
Suatu hari, ketika ayah Pangeran Siddhattha membawa putra mudanya keluar ke area desa untuk sebuah festival pembajakan, para pengasuhnya meninggalkan calon Buddha tersebut sendirian di bawah sebatang pohon. Selama festival, pangeran muda itu memperhatikan berbagai pemandangan penderitaan, seperti para pria dan lembu yang bekerja keras, serta cacing dan serangga yang terpapar oleh pembajakan dan dimakan oleh burung-burung. Melihat pemandangan ini, ia kemudian mulai bermeditasi di bawah pohon dan mencapai jhāna. Seiring berjalannya waktu, bayangan pohon itu secara ajaib tetap berada di tempatnya, menaungi sang pangeran saat matahari bergerak melintasi langit.[18][19] Dalam versi lain dari cerita tersebut, calon Buddha tertidur di bawah pohon selama festival. Seiring berjalannya waktu dan matahari bergerak melintasi langit, bayangan pohon itu juga tetap diam, menjaga pangeran muda tetap di bawah naungan selama ia tidur siang.[20][21]
Ikat rambut yang melayang
Setelah Pangeran Siddhattha meninggalkan istana, ia memotong rambut-Nya untuk menandakan kehidupan masa depan-Nya sebagai seorang petapa yang mencari pencerahan. Setelah memotong rambut-Nya, calon Buddha mengambil ikat rambut-Nya yang baru saja dipotong dan menyatakan "Jika aku akan menjadi seorang Buddha [yang tercerahkan], biarkan ini tetap di langit; tetapi jika tidak, biarkan ini jatuh ke tanah". Melemparkan ikat rambut tersebut, benda itu melayang ke udara dan kemudian berhenti, melayang di udara.[22]
Mangkuk emas
Setelah melepaskan praktik pertapaan ekstrem sebelum pencerahan-Nya, calon Buddha kemudian menerima makanan berupa puding beras dalam mangkuk emas dari seorang gadis desa bernama Sujātā. Dikatakan bahwa setelah ia selesai, ia mengambil mangkuk emas tersebut dan melemparkannya ke sungai, menyatakan, "Jika aku akan mencapai pencerahan, biarkan mangkuk ini mengalir ke hulu." Mangkuk emas itu kemudian mengalir ke hulu sungai.[23]
Mukjizat-mukjizat setelah pencerahan
Setelah pencerahan-Nya, Sang Buddha dikatakan memiliki dan membahas beberapa kekuatan supranormal yang dapat dicapai melalui meditasi. Kemampuan-kemampuan tersebut meliputi berjalan di atas air, menembus dinding, menjadi tidak terlihat, melayang, dan menggandakan diri. Sang Buddha membahas kemampuan-kemampuan ini dalam beberapa teks seperti Sāmaññaphala Sutta (DN 2),[24] Kevaṭṭa Sutta (DN 11),[14] Lohicca Sutta (DN 12),[25] dan Mahāsakuludāyi Sutta (MN 77).[26] Dalam Iddhipāda-vibhaṅga Sutta, Sang Buddha menyatakan:
- "Ketika empat basis kekuatan spiritual (iddhipāda) telah dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, seorang biku menggunakan berbagai macam kekuatan spiritual: setelah menjadi satu, ia menjadi banyak; setelah menjadi banyak, ia menjadi satu; ia muncul dan lenyap; ia menembus dinding, menembus benteng, menembus gunung tanpa halangan seolah-olah menembus ruang angkasa; ia menyelam ke dalam dan ke luar bumi seolah-olah itu adalah air; ia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah itu adalah tanah; duduk bersila, ia melakukan perjalanan di angkasa seperti burung; dengan tangannya ia menyentuh dan membelai bulan dan matahari yang begitu kuat dan perkasa; ia melatih penguasaan dengan tubuh sejauh alam brahma."[27]
Sang Buddha menyatakan bahwa kekuatan-kekuatan seperti menembus dinding, melayang, dan telepati dapat dikembangkan melalui konsentrasi, tetapi prasyarat untuk hal tersebut adalah pencapaian keempat jhāna, atau kondisi penyerapan meditasi yang lebih tinggi.[28][29] Meskipun demikian, Sang Buddha menggambarkan sebagian besar dari kekuatan-kekuatan ini sebagai sekadar bersifat duniawi (lokiya). Hanya kekuatan penghancuran noda-noda batin (āsavakkhaya) yang dicapai oleh para Arahat-lah yang bersifat adiduniawi (lokuttara) dan mengarah pada akhir penderitaan.[29][2][30][31]
Menyembunyikan Yasa di depan mata
Segera setelah memberikan khotbah pertama-Nya kepada lima petapa yang kemudian menjadi lima biku pertama (pañcavaggiya), Sang Buddha bertemu dan mengajar seorang bangsawan muda, Yasa, hingga ia mencapai sotāpanna, tahap awal pencerahan. Oleh karena tidak melihat putranya di rumah, ayah Yasa kemudian mengikuti jejak kakinya menuju lokasi Sang Buddha. Melihat ayah Yasa mendekat, Sang Buddha menggunakan kekuatan supranormal sehingga meskipun Yasa berada di depan mata, ayah Yasa tidak dapat melihatnya. Sang Buddha kemudian mengajar ayah Yasa dengan Yasa yang berada tak jauh dari situ, tetapi masih tidak terlihat oleh ayahnya. Hal ini menyebabkan ayah Yasa menjadi siswa awam pertama Buddha Gotama dan Yasa mencapai tingkat kearahantan, atau tahap pencerahan tertinggi, setelah mendengar khotbah Sang Buddha kepada ayahnya. Sang Buddha kemudian menghentikan kekuatan supranormalnya dan membuat Yasa kembali terlihat oleh ayahnya.[32]
Menundukkan nāga dengan api
Dalam kunjungannya ke wilayah Uruvelā, Sang Buddha pergi ke sebuah pertapaan para pemuja api dan meminta salah satu pemimpinnya, Uruvelā-Kassapa, untuk menginap di ruang persembahan api.[33] Uruvelā-Kassapa memperingatkan Sang Buddha bahwa ada seekor nāga yang berbahaya tinggal di ruangan itu, tetapi akhirnya setuju setelah Sang Buddha bersikeras. Sang Buddha memasuki ruangan tersebut dan mulai bermeditasi, sang nāga kemudian muncul dan dengan marah menciptakan asap. Sang Buddha merespons dengan memasuki meditasi "unsur api" dan menggunakan kekuatan psikis-Nya untuk menciptakan asap-Nya sendiri.[34][35] Nāga itu kemudian memenuhi ruangan dengan api, dan Sang Buddha merespons dengan berubah menjadi nyala api dan menjadi api itu sendiri.[35] Keesokan paginya Sang Buddha keluar dari ruangan dengan nāga yang telah mengecil ukurannya dan melingkar tanpa bahaya di dalam mangkuk dana makanannya.[36][37] Sang Buddha kemudian menobatkan Uruvelā-Kassapa, saudara-saudaranya, dan para petapa lain di pertapaan tersebut.[36][37]
Mukjizat ganda pertama dan hujan ajaib
Ketika Sang Buddha kembali ke kerajaan asalnya di Kapilavatthu setelah pencerahan-Nya, ia melayang dan menampilkan suatu versi dari apa yang nantinya dikenal sebagai "Mukjizat Ganda". Hal ini menyebabkan suku asalnya, klan Sākya, membungkuk hormat padanya. Setelah Sang Buddha kembali ke tanah dan duduk, tiba-tiba turun hujan yang hanya membasahi orang-orang yang ingin basah, dan tidak ada hujan yang mengenai mereka yang ingin tetap kering. Setelah kejadian ini, Sang Buddha menceritakan kisah Vessantara Jātaka.[21][38]
Mengungguli Aṅgulimāla
Suatu hari ketika bermeditasi, Sang Buddha melihat melalui penglihatan meditatif (abhiññā) bahwa pembunuh berantai Aṅgulimāla akan membunuh ibunya sendiri pada hari itu kecuali Sang Buddha turun tangan. Untuk mencegah Aṅgulimāla melakukan karma buruk besar (ānantarika-kamma) dengan membunuh ibunya sendiri, Sang Buddha mencegatnya tepat sebelum ia dapat melakukan tindakan keji itu dan membuat si pembunuh berantai berbalik mengejarnya.[39] Saat Aṅgulimāla mengejarnya, Sang Buddha menggunakan kekuatan supranormal sehingga meskipun Aṅgulimāla berlari secepat mungkin, ia tidak dapat menyusul Sang Buddha, yang hanya berjalan dengan tenang.[40] Salah satu teks menyatakan bahwa Sang Buddha menggunakan kekuatan-Nya untuk mengerutkan dan merentangkan bumi, sehingga menjaga jarak dengan Aṅgulimāla.[41] Setelah diberikan sebuah ajaran, Aṅgulimāla diliputi rasa bersalah atas tindakannya sebagai pembunuh berantai dan kemudian menjadi seorang biku.[42][43]

Mengajarkan ketidakkekalan kepada Khemā
Sang Buddha bertemu dengan Khemā, permaisuri cantik dari Raja Bimbisāra yang kelak menjadi salah satu siswa perempuan utamanya. Wanita cantik ini tidak tertarik pada masalah spiritual karena hidupnya yang penuh dengan pemanjaan indriawi. Jadi, ketika Khemā yang cantik mendekati Sang Buddha, beliau menggunakan kekuatan psikis-Nya untuk memunculkan bayangan seorang wanita yang lebih cantik di depannya dan kemudian menua bayangan itu menjadi seorang wanita tua di depan matanya sendiri. Khemā, yang sangat bangga akan kecantikannya, kemudian memahami sifat ketidakkekalan.[44][45] Sang Buddha kemudian berkhotbah kepadanya tentang ketidakkekalan kecantikan dan masalah kemelekatan pada hasrat duniawi yang pada akhirnya menuntunnya untuk menjadi seorang bikuni.[46]
Mengetahui nama asli Anāthapiṇḍika
Saat calon penyokong-Nya, Anāthapiṇḍika, mendekati-Nya untuk pertama kalinya, Sang Buddha memanggilnya dengan nama lahirnya "Sudatta", yang tidak diketahui oleh umum. Terkejut mendengar nama aslinya, Anāthapiṇḍika kemudian menyimpulkan bahwa hanya Sang Buddha yang bisa memanggilnya demikian dan ia pun melangkah maju.[47][48][49]
Mukjizat ganda di Sāvatthī
Mukjizat Ganda dianggap sebagai mukjizat terpenting dari Sang Buddha.[50] Berbeda dengan beberapa kemampuan lain yang dikaitkan kepada-Nya, dikatakan bahwa hanya para Buddha yang memiliki kemampuan untuk melakukan Mukjizat Ganda.[51]
Menurut teks-teks Buddhis, Sang Buddha melakukan mukjizat ini di Sāvatthī setelah ditantang oleh sekelompok enam pemimpin sekte keagamaan saingan.[52] Sang Buddha mulai dengan menciptakan sebuah jembatan permata di udara, dan kemudian memancarkan api dari bagian atas tubuh-Nya serta air dari bagian bawah-Nya, lalu mulai menukarnya secara bergantian.[53] Api dan air itu kemudian membumbung tinggi untuk menerangi kosmos sementara Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada para pengamat. Dalam salah satu versi cerita, ia menciptakan beberapa duplikat diri-Nya yang memenuhi udara, dengan beberapa di antaranya berjalan, berbaring, dan duduk.[54] Pada akhir mukjizat itu, tiba giliran para pemimpin agama saingan untuk melakukan mukjizat tetapi mereka melarikan diri. Setelah mukjizat tersebut, Sang Buddha lalu menciptakan satu duplikat diri-Nya dan kemudian membiarkan duplikat itu mengajukan pertanyaan kepada-Nya yang akan ia jawab untuk mengajarkan penonton yang mengamati.[54][53]

Naik ke surga dan menciptakan duplikat
Sang Buddha naik ke Surga Tāvatiṃsa untuk mengkhotbahkan Abhidhamma kepada mendiang ibu-Nya. Ia membacakan Abhidhamma kepada para dewa selama masa retret musim hujan (vassa) penuh tanpa henti, hanya beristirahat setiap hari untuk pergi mengumpulkan dana makanan dan makan. Selama jam makan siang setiap hari, Sang Buddha menciptakan duplikat diri-Nya dan memerintahkannya untuk berkhotbah di tempat-Nya saat ia pergi.[55]
Turun dari surga di Saṅkassa
Setelah kunjungan Sang Buddha ke Surga Tāvatiṃsa, dikatakan bahwa ia turun ke bumi di kota Saṅkassa. Teks-teks menceritakan bahwa raja deva Sakka menciptakan tiga tangga untuk turun-Nya Sang Buddha, satu tangga emas, satu kristal, dan satu perak. Sang Buddha dikatakan turun pada tangga kristal di tengah, dengan para deva turun di tangga emas di sebelah kiri dan makhluk brahmā turun di tangga perak di sebelah kanan. Selama proses turun tersebut, dikatakan bahwa manusia dan berbagai makhluk dalam berbagai alam kehidupan dapat melihat satu sama lain. Sebuah vihara telah dibangun di tempat Sang Buddha dikatakan telah menginjakkan kaki kanan-Nya saat mencapai bumi. Menurut ahli klasik Inggris Edward J. Thomas, para peziarah Tiongkok yang mengunjungi situs tersebut beberapa abad kemudian melaporkan bahwa tangga-tangga itu hampir tenggelam sepenuhnya ke dalam tanah saat mereka berkunjung.[56]
Melayang di atas sungai Rohiṇī
Suatu hari, saat memantau dunia dengan kekuatan psikis-Nya, Sang Buddha melihat bahwa perang akan pecah antara klan Sākya dan kerajaan tetangga. Wilayah tersebut sedang dilanda kekeringan dan kedua kerajaan tersebut berada di ambang peperangan agar mereka dapat mengalihkan air dari sungai Rohiṇī untuk penggunaan mereka sendiri. Saat kedua pasukan berkumpul di sisi sungai yang berlawanan, Sang Buddha berangkat melalui udara untuk menghentikan mereka dan muncul di hadapan mereka, melayang di atas sungai.[57] Sang Buddha kemudian bertanya kepada para penguasa dari masing-masing pihak apakah air atau nyawa manusia yang lebih berharga. Ketika setiap pihak menjawab bahwa nyawa manusia lebih berharga, Sang Buddha membujuk mereka untuk membuat kesepakatan guna berbagi air.[58]
Teleportasi melintasi sungai Gangga
Mahāparinibbāna Sutta (DN 16) menceritakan kisah Sang Buddha dan para biku-Nya yang menyeberangi sungai Gangga dengan menghilang dan muncul kembali di sisi lain, alih-alih mencari perahu atau membuat rakit seperti yang dilakukan orang lain.[59][60]
Menantang makhluk brahma
Dalam Brahmā-nimantanika Sutta (MN 49), makhluk brahma bernama Baka telah menjadi sangat keliru dengan berpikir bahwa ia abadi dan bahwa ia telah mencapai kondisi tertinggi. Sang Buddha kemudian melakukan perjalanan ke alam brahma dalam alam-alam kehidupan buddhis untuk memperbaiki pandangan Baka dengan menampilkan berbagai kekuatan seperti mengidentifikasi alam yang tidak disadari oleh sang brahma, mengidentifikasi Māra kapan pun ia merasuki anggota majelis Baka, mengidentifikasi seluruh jangkauan kemampuan Baka, dan membuat diri-Nya tidak terlihat oleh brahma Baka serta majelisnya untuk membuktikan bahwa kekuatan Sang Buddha lebih besar daripada kekuatan brahma Baka.[13]
Menetralisir mantra Gandhāra
Dalam kitab komentar Pali, petapa Pilindavaccha memiliki "Mantra Gandhāra Kecil" (Pāli: cūḷagandhāravijjā) yang memungkinkannya melayang dan membaca pikiran. Namun, setelah Sang Buddha mencapai pencerahan, Pilindavaccha mendapati bahwa kekuatan-kekuatannya tidak lagi berfungsi. Pilindavaccha kemudian menemui Sang Buddha sambil berpikir bahwa Sang Buddha memiliki mantra yang lebih kuat. Sebaliknya, Pilindavaccha akhirnya menjadi seorang biku di bawah bimbingan Sang Buddha dan mencapai kearahatan. Menurut cendekiawan agama Knut A. Jacobsen, cerita tersebut menunjukkan bahwa kehadiran Sang Buddha dikatakan menetralkan sihir rendahan, sihir rendahan yang dimaksud adalah kekuatan yang tidak dicapai melalui meditasi.[61]

Menjinakkan gajah mabuk
Sepupu Sang Buddha yang cemburu, Devadatta, melepaskan gajah mabuk, Nālāgiri, untuk menginjak-injak Sang Buddha. Ketika Nālāgiri menyerbu ke arah Sang Buddha, Sang Buddha menciptakan ilusi dua singa dan lautan api di depan gajah itu untuk menakutinya agar tetap diam.[62][63] Dalam kisah tersebut, biku Ānanda mencoba melindungi Sang Buddha dengan melompat di depan-Nya. Sang Buddha memerintahkan Ānanda untuk minggir tetapi ia menolak. Sang Buddha kemudian menggunakan kekuatan psikis-Nya untuk memindahkan Ānanda ke tempat aman.[64] Setelahnya, Sang Buddha dengan lembut menjinakkan gajah tersebut dengan cinta kasih (mettā).[65][62][66][63]
Penyembuhan ajaib
Umat awam perempuan yang setia, Suppiyā, telah berjanji untuk menyediakan daging bagi seorang biku yang sedang sakit. Setelah menyadari tidak ada daging yang tersedia di pasar hari itu, ia memotong sedikit daging dari pahanya sendiri untuk membuat persembahan dan menyembunyikan lukanya. Mengetahui apa yang telah terjadi, Sang Buddha meminta agar Suppiyā dibawa ke hadapan-Nya. Setelah melihat Sang Buddha, luka Suppiyā sembuh, dan daging laywoman tersebut kembali seperti semula tanpa ada bekas luka. Setelah itu, Sang Buddha menetapkan aturan yang melarang para biku-Nya menerima persembahan daging manusia.[67][68]
Memadamkan api hutan
Sang Buddha sedang berjalan melewati hutan Magadha bersama dengan rombongan besar para biku ketika kebakaran hutan yang besar terjadi. Sementara para biku yang belum mencapai tahapan pencerahan apa pun panik, para biku yang telah tercerahkan dalam rombongan itu tetap tenang dan mengatakan kepada para biku yang belum tercerahkan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan saat berjalan bersama Sang Buddha. Para biku kemudian berkumpul di sekitar Sang Buddha, yang telah berhenti saat melihat api tersebut. Saat api mengamuk ke arah mereka, api secara ajaib padam kapan pun nyala api itu mendekati jarak 16 langkah di sekitar Sang Buddha. Sang Buddha mengaitkan mukjizat ini pada tindakan Sacca-kiriyā (pernyataan kebenaran), atau pernyataan kebenaran yang khidmat, yang ia buat di kehidupan masa lalu-Nya lalu menceritakan Vaṭṭaka Jātaka.[69][70][71]
Upaya menyelamatkan suku Sākya
Saat memindai dunia dengan kekuatan psikis-Nya, Sang Buddha melihat bahwa klan Sākya akan dibantai oleh Raja Viḍūḍabha dari Kosala, yang memiliki dendam terhadap mereka sejak kecil.[72] Menurut beberapa versi cerita, Sang Buddha mencegat Raja Viḍūḍabha sekali dan meyakinkannya untuk berbalik, tetapi sang raja kemudian berubah pikiran dan melanjutkan invasinya.[73][74] Dalam versi lain, Sang Buddha mencegat Raja Viḍūḍabha dua kali, dan dalam beberapa versi tiga kali sebelum akhirnya berhenti campur tangan pada upaya berikutnya.[74][72] Ketika Sang Buddha tidak campur tangan, Moggallāna, salah satu siswa Sang Buddha, menawarkan untuk menyelamatkan klan Sākya menggunakan kekuatan psikisnya sendiri tetapi Sang Buddha mencegah hal ini, menyatakan bahwa pembantaian itu adalah akibat dari kamma masa lalu suku Sākya dan tidak ada kekuatan supernatural apa pun yang dapat menghentikan kekuatan kamma.[74][75] Meskipun demikian, Moggallāna mencoba menyelamatkan beberapa suku Sākya dengan menggunakan kekuatannya untuk memindahkan ratusan dari mereka ke tempat aman, hanya untuk mendapati bahwa mereka akhirnya mati juga.[76][77][note 3] Menurut satu sumber, kamma buruk yang menyebabkan pembantaian ini adalah karena dalam kehidupan lampau, orang-orang klan Sākya secara bersama-sama telah meracuni sungai dari negara kota musuh.[79] Setelah pembantaian itu, Sang Buddha meramalkan bahwa Raja Viḍūḍabha akan mati terbakar dalam tujuh hari. Setelah mendengar ini, Raja Viḍūḍabha membangun sebuah rumah di atas air untuk ia tinggali selama tujuh hari. Pada hari terakhir, sebuah api menyala akibat sinar matahari yang mengenai kaca pembesar di atas sebuah bantal dan membakar habis rumah itu, menewaskan Raja Viḍūḍabha.[73][80]
Mukjizat dalam sutra-sutra Mahāyāna
Mukjizat umumnya memainkan peran yang lebih besar dalam Buddhisme Mahāyāna dibandingkan dalam Buddhisme Theravāda, dengan mukjizat sering kali digunakan untuk secara langsung mengilustrasikan ajaran-ajaran Mahāyāna yang spesifik.[4] Mukjizat-mukjizat yang ditemukan dalam sutra-sutra Mahāyāna biasanya memiliki jauh lebih banyak simbolisme dan menaruh lebih banyak penekanan pada penggunaan langsung kekuatan supranormal untuk mengajar dan membantu makhluk hidup lainnya.[4][81]
Menunjukkan tanah murni Buddha
Dalam Sutra Vimalakirti, Sang Buddha melakukan suatu mukjizat untuk menunjukkan "tanah murni Buddha" (Buddhakṣetra) kepada orang-orang di bumi. Beliau melakukan ini untuk menunjukkan kemurnian pikiran yang harus dicapai oleh para Bodhisatwa untuk meraih Kebuddhaan. Berbagai Bodhisatwa dari sutra tersebut kemudian mengambil alih narasi dan melakukan berbagai tindakan supernatural seperti bertukar tubuh, mengangkut objek secara ajaib, dan transformasi untuk mengajarkan tentang konsep Mahāyāna seperti non-dualitas.[82] Dalam sutra ini, Vimalakirti menyatakan bahwa semua Buddha memiliki mata dewa yang memungkinkan mereka melihat seluruh daratan dari para Buddha lainnya.[5]
Menggetarkan Bumi dan memancarkan cahaya
Dalam Sutra Seroja (Lotus Sutra), Sang Buddha menggetarkan Bumi dan memancarkan seberkas cahaya yang menerangi ribuan "ladang-Buddha" di sebelah timur.[83][84] Menurut Bodhisatwa Mañjuśrī dalam sutra ini, satu berkas cahaya melambangkan bahwa berbagai praktik dan jalan Buddhisme Mahāyāna dapat ditemukan dengan makna yang konsisten di seluruh alam semesta.[85][86] Cahaya itu juga menyimbolkan kesetaraan di antara semua Buddha. Mañjuśrī mengemukakan dalam Sutra itu bahwa ia mengenali cahaya dari seorang Buddha terdahulu yang melakukan hal serupa di masa lalu yang sangat jauh dan bahwa perbuatan tersebut menunjukkan kalau Buddha Gotama sedang bersiap untuk menguraikan ajaran puncaknya.[85][86]
Melayang melintasi Gangga
Dalam Sūtra Lalitavistara, tidak lama setelah pencerahan-Nya, Sang Buddha pergi menuju Varanasi untuk memberikan khotbah pertama-Nya. Saat ia tiba di Sungai Gangga, ia mendekati seorang tukang perahu penyeberangan untuk menyeberangi sungai, yang menuntut agar ia membayar ongkosnya. Sang Buddha menanggapi dengan berkata bahwa ia tidak membawa uang sepeser pun dan kemudian melangkah menyeberangi sungai itu lewat cara melayang (levitasi).[87]
Lihat pula
Catatan
- ↑ Banyak tradisi Buddhis mempertahankan pandangan bahwa lima abhiññā pertama dapat diakses oleh non-Buddhis, tetapi tidak untuk yang keenam. Namun, beberapa aliran Buddhisme tidak setuju dengan hal ini dan berpendapat bahwa hanya umat Buddha yang dapat mencapai kekuatan supernatural yang diperoleh melalui meditasi, dan bahwa non-Buddhis hanya dapat memperoleh kekuatan tersebut melalui hal-hal seperti mantra sihir.[5]
- ↑ Penafsir Buddhis abad kelima, Buddhaghosa, menyatakan dalam Visuddhimagga bahwa hanya Sang Buddha dan beberapa siswa utama serta orang-orang suci yang memperoleh kekuatan ini seketika saat pencerahan karena jasa kebajikan (puñña) mereka yang luar biasa. Bagi sebagian besar praktisi, menurut Buddhaghosa, melatih teknik meditasi khusus untuk jangka waktu yang lama amat diperlukan guna mencapai kemampuan supranormal ini.[4]
- ↑ Dalam beberapa versi cerita, poin ini dibuktikan dengan Sang Buddha sendiri yang melakukan ini, bukan Moggallāna.[78][74]
Referensi
- 1 2 3 4 Keown, Damien (2013). Encyclopedia of Buddhism. Routledge. hlm. 96. ISBN 978-1136985881. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-07-02. Diakses tanggal 2019-05-22.
- 1 2 3 4 Nyanaponika; Hecker, Hellmuth (2012). Great Disciples of the Buddha: Their Lives, Their Works, Their Legacy. Simon and Schuster. hlm. 89. ISBN 978-0861718641. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2017-09-24. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ "Maha-sihanada Sutta: The Great Discourse on the Lion's Roar". Access to Insight. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-06-07. Diakses tanggal 2019-05-22.
- 1 2 3 4 5 Fiordalis, David (2008). "Miracles and Superhuman Powers in South Asian Buddhist Literature"". University of Michigan: 56–57. CiteSeerX 10.1.1.604.4958.
- 1 2 Jacobsen, Knut A. (2011). Yoga Powers: Extraordinary Capacities Attained Through Meditation and Concentration (dalam bahasa Inggris). Brill. hlm. 108. ISBN 978-90-04-21214-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-12-17. Diakses tanggal 2020-05-25.
- ↑ Keown, Damien (2013). Encyclopedia of Buddhism. Routledge. hlm. 96. ISBN 978-1136985881. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-07-02. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ Nyanaponika; Hecker, Hellmuth (2012). Great Disciples of the Buddha: Their Lives, Their Works, Their Legacy. Simon and Schuster. hlm. 89. ISBN 978-0861718641. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2017-09-24. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ Ross, Nancy Wilson (2011). Buddhism: Way of Life & Thought (dalam bahasa Inggris). Knopf Doubleday Publishing Group. hlm. 181. ISBN 978-0307760388. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-02-16. Diakses tanggal 2019-06-16.
- ↑ Harvey, Peter (1990). An Introduction to Buddhism: Teachings, History and Practices (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 26. ISBN 978-0521313339.
- ↑ Conze, Edward (2012). Buddhism: Its Essence and Development (dalam bahasa Inggris). Courier Corporation. hlm. 104–105. ISBN 978-0486170237. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-14. Diakses tanggal 2019-06-16.
- ↑ Weddle, David L. (2010). Miracles: Wonder and Meaning in World Religions. NYU Press. hlm. 118. ISBN 978-0814794838. Diakses tanggal 2019-05-22.
- 1 2 3 4 Weddle, David L. (2010). Miracles: Wonder and Meaning in World Religions. NYU Press. hlm. 118–119. ISBN 978-0814794838. Diakses tanggal 2019-05-22.
- 1 2 "Brahma-nimantanika Sutta: The Brahma Invitation". Access to Insight. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-10-14. Diakses tanggal 2019-05-20.
- 1 2 3 "Kevatta (Kevaddha) Sutta: To Kevatta". Access to Insight. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-03-24. Diakses tanggal 2019-05-18.
- ↑ Wijesurendra, Yalith (2013-12-16). Buddhist Answers: for the Critical Questions: A Bridge from Religion to Science and Reason. Xlibris Corporation. hlm. 217–221. ISBN 978-1483688404. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-02-16. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ Strong, John (2009). The Buddha : a beginner's guide. Oxford: Oneworld Publications. hlm. 54. ISBN 978-1441634320. OCLC 527853452.
- ↑ Huntington, John C.; Bangdel, Dina (2003). The Circle of Bliss: Buddhist Meditational Art (dalam bahasa Inggris). Serindia Publications, Inc. hlm. 60. ISBN 978-1932476019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-04-30. Diakses tanggal 2019-06-15.
- ↑ "The Story of the Ploughing Festival". Ancient Buddhist Texts. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-07-18.
- ↑ Strong, John (2009). The Buddha: A Beginner's Guide (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. hlm. 61–62. ISBN 978-1-78074-054-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-07-18.
- ↑ Swearer, Donald K. (2004). Becoming the Buddha: The Ritual of Image Consecration in Thailand (dalam bahasa Inggris). Princeton University Press. hlm. 139. ISBN 978-0691114354. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-24. Diakses tanggal 2019-06-15.
- 1 2 Kawasaki, Ken and Visakha (2018-02-15). Jataka Tales of the Buddha: An Anthology Volume III (dalam bahasa Inggris). Pariyatti Publishing. hlm. 422. ISBN 9781681721118. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-05-06. Diakses tanggal 2019-06-15.
- ↑ Stryk, Lucien (1994). World of the Buddha: An Introduction to Buddhist Literature (dalam bahasa Inggris). Grove Press. hlm. 34. ISBN 978-0802130952. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-06-23.
- ↑ Swearer, Donald K. (2004). Becoming the Buddha: The Ritual of Image Consecration in Thailand (dalam bahasa Inggris). Princeton University Press. hlm. 132. ISBN 978-0691114354. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-24. Diakses tanggal 2019-06-15.
- ↑ "Samaññaphala Sutta: The Fruits of the Contemplative Life". Access to Insight. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-04-11. Diakses tanggal 2019-05-20.
- ↑ "Lohicca Sutta: To Lohicca". Access to Insight. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-10-04. Diakses tanggal 2019-05-20.
- ↑ "The Middle Length Discourses of the Buddha – Selections | Wisdom Publications". Wisdom Publications. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-09-14. Diakses tanggal 2019-05-20.
- ↑ "Iddhipada-vibhanga Sutta: Analysis of the Bases of Power". Access to Insight. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-04-03. Diakses tanggal 2019-05-08.
- ↑ Nyanaponika; Hecker, Hellmuth (2012). Great Disciples of the Buddha: Their Lives, Their Works, Their Legacy. Simon and Schuster. hlm. 90. ISBN 978-0861718641. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2017-09-24. Diakses tanggal 2019-05-22.
- 1 2 "The Four Bases of Power (Iddhi)". BuddhaNet. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-01-08. Diakses tanggal 2019-05-08.
- ↑ "Encyclopædia Britannica (2007)". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2008-11-19. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ Hoiberg, Dale H., ed. (2010). "Abhijñā". Encyclopædia Britannica. Vol. I: A-ak Bayes (Edisi 15th). Chicago, Illinois: Encyclopædia Britannica Inc. hlm. 31. ISBN 978-1-59339-837-8.
- ↑ Brewster, E. H. (2013-11-05). The Life of Gotama the Buddha: Compiled exclusively from the Pali Canon (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 67–71. ISBN 9781136377419. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-06-23.
- ↑ Eliot, Sir Charles (1962). Hinduism and Buddhism: An Historical Sketch (Complete) (dalam bahasa Inggris). Library of Alexandria. ISBN 978-1-4655-1134-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-10-27.
- ↑ Fiordalis, David (2008). "Miracles and Superhuman Powers in South Asian Buddhist Literature"". University of Michigan: 74, 136. CiteSeerX 10.1.1.604.4958.
- 1 2 Twelftree, Graham H. (2011-04-14). The Cambridge Companion to Miracles (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 221. ISBN 978-1-139-82853-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-10-27.
- 1 2 Kohn, Sherab Chodzin (2000-02-15). The Awakened One (dalam bahasa Inggris). Shambhala Publications. ISBN 978-0-8348-2944-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-10-27.
- 1 2 Gardiner, Philip (2008). Secrets of the Serpent, in Search of the Sacred Past, Special Revised Edition Featuring Two New Appendices (dalam bahasa Inggris). Reality Press. ISBN 978-1-934588-54-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-10-27.
- ↑ Young, Richard Fox; Sēnānāyaka, Jī Es Bī (1998-01-01). The Carpenter-heretic: A Collection of Buddhist Stories about Christianity from 18th Century Sri Lanka (dalam bahasa Inggris). Karunaratne & Sons. hlm. 205. ISBN 9789559098423. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-08-18. Diakses tanggal 2020-05-25.
- ↑ Holdrege, Barbara A.; Pechilis, Karen (2016-12-28). Refiguring the Body: Embodiment in South Asian Religions (dalam bahasa Inggris). SUNY Press. hlm. 298. ISBN 9781438463155. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-06-16.
- ↑ Buswell, Robert E. Jr.; Lopez, Donald S. Jr. (2013). "Aṅgulimāla" (PDF). Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-15786-3. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2018-06-12. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ Analayo, Bhikkhu (December 2008). "The Conversion of Aṅgulimāla in the Saṃyukta-āgama | Anālayo | Buddhist Studies Review". Buddhist Studies Review. 25. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-05-08. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ McDonald, Joseph (2017-05-18). Exploring Moral Injury in Sacred Texts (dalam bahasa Inggris). Jessica Kingsley Publishers. hlm. 177. ISBN 978-1-78450-591-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-05-02.
- ↑ Analayo, Bhikkhu (2008). "The Conversion of Aṅgulimāla in the Saṃyukta-āgama | Anālayo | Buddhist Studies Review". Buddhist Studies Review. 25: 142–145. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-02-11. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ Kapur-Fic, Alexandra R. (1998). Thailand: Buddhism, Society, and Women. Abhinav Publications. hlm. 342. ISBN 9788170173601. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ Gwynne, Paul (2013-12-23). Buddha, Jesus and Muhammad: A Comparative Study. John Wiley & Sons. ISBN 9781118465493. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ Nyanaponika; Hecker, Hellmuth (30 January 2012). Great Disciples of the Buddha: Their Lives, Their Works, Their Legacy (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. hlm. 263–269. ISBN 978-0-86171-864-1. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 September 2017. Diakses tanggal 30 September 2019.
- ↑ "Anathapindiko". obo.genaud.net. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-10-08. Diakses tanggal 2017-10-07.
- ↑ "Anathapindika: The Great Benefactor". Access to Insight. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-10-08. Diakses tanggal 2017-10-07.
- ↑ Dhammika, Shravasti (2005-12-01). The Buddha and His Disciples. Buddhist Publication Society. ISBN 9789552402807. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-08-29. Diakses tanggal 2020-10-27.
- ↑ Strong, John (2007). Relics of the Buddha. Motilal Banarsidass Publishers. hlm. 177. ISBN 9788120831391.
- ↑ Shaw, Sarah (2006-04-18). Buddhist Meditation: An Anthology of Texts from the Pali Canon. Routledge. hlm. 96. ISBN 9781134242030. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ Howard, Angela; Vignato, Giuseppe (2014-11-14). Archaeological and Visual Sources of Meditation in the Ancient Monasteries of Kuča. BRILL. hlm. 115. ISBN 9789004279391. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-05-22.
- 1 2 Buddhaghosa (2005). Buddhist Legends. Motilal Banarsidass Publishers. hlm. 45–47. ISBN 9788120820722. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-05-22.
- 1 2 Strong, John, 1948 (2009). The Buddha : a beginner's guide. Oxford: Oneworld Publications. hlm. 140–143. ISBN 9781441634320. OCLC 527853452. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ↑ Strong, John, 1948 (2009). The Buddha : a beginner's guide. Oxford: Oneworld Publications. hlm. 147–149. ISBN 9781441634320. OCLC 527853452. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ↑ Thomas, Edward Joseph (2000). The Life of Buddha as Legend and History (dalam bahasa Inggris). Asian Educational Services. hlm. 114. ISBN 978-81-206-0979-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-05-02.
- ↑ Weddle, David L. (2010-07-19). Miracles: Wonder and Meaning in World Religions (dalam bahasa Inggris). NYU Press. hlm. 114. ISBN 978-0-8147-9416-6.
- ↑ Bhattacharyya, B. (2018-02-15). MYTHS, MYTHOLOGY AND MANAGEMENT (dalam bahasa Inggris). Notion Press. ISBN 978-1-948473-85-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-05-25.
- ↑ Olson, Carl (2015-03-03). Indian Asceticism: Power, Violence, and Play. Oxford University Press. ISBN 9780190266400. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ "DN 16 Mahā Parinibbāna Sutta | The Great Total Unbinding Discourse". dhammatalks.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-06-14. Diakses tanggal 2019-05-20.
- ↑ Jacobsen, Knut A. (2011-09-30). Yoga Powers: Extraordinary Capacities Attained Through Meditation and Concentration (dalam bahasa Inggris). BRILL. hlm. 105–106. ISBN 978-90-04-21214-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-12-17. Diakses tanggal 2020-05-25.
- 1 2 "The Drunk Elephant". SuttaCentral. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-02-02. Diakses tanggal 2019-05-20.
- 1 2 Miśra, Bhāskaranātha (1998). Nālandā: Art. B.R. Pub. Corporation. hlm. 131–134. ISBN 9788176460187. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-10-27.
- ↑ "Nālāgiri". PaliKanon.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-02-08. Diakses tanggal 2020-04-30.
- ↑ Olson, Carl (2005). Original Buddhist Sources: A Reader. Rutgers University Press. hlm. 136. ISBN 9780813535647.
- ↑ Hanh, Thich Nhat (March 2010). Old Path White Clouds: Walking in the Footsteps of the Buddha. ReadHowYouWant.com. hlm. 289. ISBN 9781458768254. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ Salguero, C. Pierce (2017-09-26). Buddhism and Medicine: An Anthology of Premodern Sources (dalam bahasa Inggris). Columbia University Press. ISBN 9780231544269. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-06-13.
- ↑ "The Medicine Khandhaka". dhammatalks.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-11-11. Diakses tanggal 2019-06-13.
- ↑ Fausboll, V. (January 1, 2021). Buddhist Birth Stories: or, Jataka Tales, Vol – 1 (dalam bahasa Inggris). Prabhat Prakashan. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-06-21.
- ↑ "Vattaka Jataka". SuttaCentral. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-06-21. Diakses tanggal 2019-06-21.
- ↑ "Jataka Tales of the Buddha: Part V". Access to Insight. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-09-01. Diakses tanggal 2019-06-21.
- 1 2 Sadasivan, S. N. (2000). A Social History of India (dalam bahasa Inggris). APH Publishing. hlm. 64. ISBN 978-81-7648-170-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-12-27. Diakses tanggal 2020-05-25.
- 1 2 Journal of the Asiatic Society of Bengal (dalam bahasa Inggris). Asiatic Society of Bengal. 1893. hlm. 11. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-05-25.
- 1 2 3 4 Pu, Cz (2013). "Chinese Versions of Virudhaka's Massacre of the Shakyan". Indian International Journal of Buddhist Studies (dalam bahasa Inggris): 36. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-05-06. Diakses tanggal 2020-02-24.
- ↑ Xingyun (2005). Opening the Mind's Eye: Clarity and Spaciousness in Buddhist Practice (dalam bahasa Inggris). Lantern Books. hlm. 100. ISBN 978-1-59056-093-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-05-25.
- ↑ Nakamura, Hajime (2000). Gotama Buddha: A Biography Based on the Most Reliable Texts (dalam bahasa Inggris). Kosei. hlm. 380. ISBN 978-4-333-01893-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-16. Diakses tanggal 2020-05-25.
- ↑ Xingyun (2005). Opening the Mind's Eye: Clarity and Spaciousness in Buddhist Practice (dalam bahasa Inggris). Lantern Books. hlm. 100–101. ISBN 978-1-59056-093-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-05-25.
- ↑ Sopa, Lhundub; Patt, David (2004). Steps on the Path to Enlightenment: A Commentary on Tsongkhapa's Lamrim Chenmo, Volume 2: Karma (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. hlm. 145. ISBN 978-0-86171-481-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-05-25.
- ↑ Neusner, Jacob; Chilton, Bruce (2005-11-08). Altruism in World Religions (dalam bahasa Inggris). Georgetown University Press. hlm. 102. ISBN 978-1-58901-235-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-05-25.
- ↑ Hunter, Sir William Wilson (1887). The Imperial Gazetteer of India (dalam bahasa Inggris). Trübner & Company. hlm. 128. ISBN 978-81-7019-117-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-05-25.
- ↑ Fiordalis, David (2008). "Miracles and Superhuman Powers in South Asian Buddhist Literature". University of Michigan: 185–196. CiteSeerX 10.1.1.604.4958.
- ↑ "The Sutra of Queen Śrīmālā of the Lion's Roar and the Vimalakīrti Sutra" (PDF). 2014-09-12. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2014-09-12. Diakses tanggal 2019-05-22.
- ↑ Olson, Carl (2015-03-03). Indian Asceticism: Power, Violence, and Play. Oxford University Press. ISBN 9780190266400. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2020-10-27.
- ↑ Cambridge University Library. Mss. (Add. 1682); Kern, Hendrik (1884). The Saddharma-pundarîka; or, The lotus of the true law. Translated by H. Kern. Robarts - University of Toronto. Oxford The Clarendon press. hlm. 7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-02-02. Diakses tanggal 2019-05-22. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- 1 2 Apple, James (2015-06-01). "The Structure and Content of the Avaivartikacakra Su¯tra and Its Relation to the Lotus Su¯tra" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2015-06-01. Diakses tanggal 2019-05-22.
- 1 2 Pye, Michael (2003), Skilful Means - A concept in Mahayana Buddhism, Routledge, hlm. 60–65, ISBN 0203503791
- ↑ Woodward, Kenneth L. (2001-07-10). The Book of Miracles: The Meaning of the Miracle Stories in Christianity, Judaism, Buddhism, Hinduism and Islam (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. hlm. 317. ISBN 9780743200295. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2019-06-23.
Bacaan lanjutan
- Analayo (2016). Levitation in Early Buddhist Discourse, Journal of the Oxford Centre for Buddhist Studies 10, 11–26
- Analayo (2015). The Buddha’s Fire Miracles, Journal of the Oxford Centre for Buddhist Studies 9, 9–42