Kasta atau sistem kasta merupakan pengelompokan orang-orang yang bedasarkan status sosial. Kasta seringkali digunakan untuk pembatasan kedudukan atau hak terhadap individu maupun kelompok tertentu.
Pilar utama yang membentuk sistem kasta yakni karma. Seseorang yang memiliki karma buruk akan terlahir sebagai orang berkasta rendah, sementara orang yang memiliki karma baik akan terlahir di kasta tinggi. Kasta yang rendah akan diperlakukan buruk oleh orang-orang yang menganggap sudah sepatutnya kasta tersebut menderita.
Sudut Pandang Buddhisme
Dalam agama Buddha, hukum karma berlaku adil dan setimpal apa yang kita perbuat. Akan tetapi, Sang Buddha sangat menentang keras sistem kasta. Mengapa beliau menentang sistem kasta ini, padahal beliau lahir di kasta kesatria. Ini disebabkan karena setiap makhluk yang rendah sekalipun memiliki benih Kebuddhaan ("tathāgatagarbha"). Setiap makhluk memiliki benih Kebuddhaan yang berarti setiap makhluk dapat mencapai Kebuddhaan. Benih inilah yang perlu kita kembangkan, hanya saja setiap makhluk yang memiliki benih ini tertutupi oleh Kekotoran Batin ("Keserakahan, Kebencian, dan Delusi"). Benih Kebuddhaan ini diibaratkan sebagai emas yang dilumuri lumpur. Artinya meski tertutupi Kekotoran Batin, benih Kebuddhaan tetaplah berharga.
Oleh karena itu, sistem kasta dapat membuat kasta tinggi bisa menghina, menyiksa, dan merendahkan kasta rendah. Buddha melihat semua makluk memiliki kedudukan yang sama, tidak peduli baik kaya/miskin, cantik/jelek, tinggi/rendah.
Sang Buddha menekankan cinta kasih dan belas kasih terhadap semua makhluk. Baiknya kita sebagai manusia dapat hidup damai dan berdampingan dengan semua makhluk tanpa memandang status sosial, suku, agama, dan lain-lain.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.