Dalam Buddhisme, sakadagami (KBBI;[catatan 1]Pali: sakadāgāmi; Sanskerta: sakṛdāgāmin), juga diterjemahkan sebagai "kembali sekali",[1] "yang kembali sekali lagi," atau "pengembali-sekali," adalah seseorang yang telah mencapai tahap kedua dari empat tingkat pencerahan. Pencapaian sakadagami adalah suatu tahap setelah pencapaian sotapana (Pali: sotāpanna, "pemasuk-arus"), dan diyakini akan diikuti oleh dua tingkat pencerahan berikutnya: anagami (anāgāmi, "tidak-kembali") dan arahat (arahā, "yang layak, yang terbebaskan sepenuhnya").
Seorang sakadagami telah memutus tiga belenggu pertama yang mengikat batin orang-orang duniawi pada umumnya, dan secara signifikan melemahkan belenggu keempat dan kelima. Seorang sakadagami akan terlahir kembali ke alam-alam indrawi paling banyak satu kali lagi. Namun, jika mereka mencapai tahap pencerahan berikutnya (anagami) dalam kehidupan ini, mereka tidak akan kembali ke dunia ini lagi.
Tiga belenggu (Pali: saṃyojana) spesifik yang tidak lagi membelenggu seorang sakadagami sama seperti tiga belenggu yang telah disingkirkan oleh seorang sotapana:
Sakkāya-diṭṭhi (Pali) - Pandangan salah tentang adanya diri, "aku", atau roh kekal (Pali: atta; Sanskerta: ātman)
Sīlabbata-parāmāsa (Pali) - Kemelekatan pada adat/ritus dan ritual
Vyāpāda (Pali) - Niat buruk, niat jahat, rasa benci
Dengan demikian, seorang sakadagami adalah tahap perantara antara sotapana, yang masih memiliki nafsu indrawi (kāma-rāga) dan niat jahat (vyāpāda) yang relatif kuat, dan anagami, yang telah sepenuhnya terbebas dari nafsu indrawi dan niat jahat. Batin seorang sakadagami sangatlah murni karena pikiran-pikiran yang berkaitan dengan keserakahan, kebencian, dan delusi, walaupun belum dilenyapkan sepenuhnya, tidak lagi sering muncul, dan jika pun muncul, tidak akan bersifat obsesif.