Pakar Buddhisme (Buddholog) Edward Conze (1966) mengusulkan bahwa terdapat kesamaan antara Buddhisme dan Gnostisisme, sebuah istilah yang berasal dari nama kaum Gnostik, yang diberikan kepada sejumlah denominasi Kristen. Sejauh Buddha mengajarkan adanya kecenderungan jahat yang belum tertaklukkan, atau yang membutuhkan pengetahuan spiritual khusus untuk menaklukkannya, Buddhisme juga dapat diklasifikasikan sebagai Gnostik.
Edward Conze mengklaim telah menemukan kesamaan fenomenologis antara Buddha Mahayana dan Gnostisisme,[1] dalam makalahnya Buddhism and Gnosis, mengikuti saran awal dari Isaac Jacob Schmidt.[2][a] Conze secara eksplisit membandingkan Buddhisme Mahayana dengan "gnosis," yaitu pengetahuan atau wawasan, dan bukan dengan kelompok Gnostik, karena terlalu sedikit yang diketahui tentang kaum Gnostik sebagai kelompok sosial.[2] Berdasarkan delapan kesamaan dari Conze, Stephan A. Hoeller memberikan daftar kesamaan berikut:[4]
Pembebasan atau keselamatan dapat dicapai melalui wawasan yang membebaskan, yaitu gnosis atau jñāna (Pali: ñāṇa)
Ketidaktahuan, atau kurangnya wawasan, yang disebut agnosis atau avidyā, adalah akar penyebab keterikatan di dunia ini
Wawasan yang membebaskan dapat dicapai melalui wahyu batin, bukan oleh pengetahuan eksternal
Kedua sistem memberikan penataan hierarkis pencapaian spiritual, dari materialisme buta hingga pencapaian spiritual yang sempurna
Kebijaksanaan, sebagai prinsip feminin yang dipersonifikasikan dalam Sophia dan prajñā, memainkan peran penting dalam kedua agama tersebut
Mitos lebih diutamakan daripada fakta sejarah; Kristus dan Buddha bukan sekadar tokoh sejarah belaka, melainkan makhluk primordial pola dasar (arketipe)
Kedua sistem memiliki kecenderungan antinomian, yaitu pengabaian terhadap aturan dan konvensi sosial dalam tingkat pencapaian spiritual yang lebih tinggi
Kedua sistem ditujukan untuk elit spiritual, bukan untuk massa, dan memiliki makna serta ajaran tersembunyi
Kedua sistem bersifat monistik, bertujuan untuk mencapai kesatuan metafisik yang melampaui keanekaragaman dunia fenomenal
Menurut Conze, kesamaan ini bukan karena kebetulan, melainkan melekat pada esensi kedua agama tersebut.[1] Bagaimana kesamaan ini muncul tidak jelas bagi Conze,[1] tetapi menurut Verardi hal itu mungkin terkait dengan perdagangan laut antara Kekaisaran Romawi dan India, yang sangat intens pada masa itu.[5] Verardi lebih lanjut mencatat kesamaan antara basis sosial-ekonomi Gnostisisme dan Buddhisme, yaitu para pedagang, yang keduanya harus bersaing dengan "kekuatan besar yang terorganisir," dari Roma dan Gereja Kristen, serta dari para Brahmana.[6] Kedua komunitas mewakili "sebuah ekonomi dan masyarakat terbuka yang tidak memiliki pertahanan (serta penderitaan) dari nomos," yaitu hukum dan institusi dari kemapanan.[7]
Saran Conze dicatat oleh Elaine Pagels sebagai suatu "kemungkinan," dalam pengantar The Gnostic Gospels,[8][9][b] tetapi saran Pagels dan Conze belum mendapat penerimaan akademis atau menghasilkan studi lanjutan yang signifikan.
Manikheisme secara langsung dipengaruhi oleh Buddhisme. Seperti Buddha, Mani bertujuan untuk mencapai Nirwana dan menggunakan kata ini, menunjukkan signifikansi pengaruh Buddhis. Ia juga memercayai transmigrasi jiwa, sangha, dan menggunakan berbagai istilah Buddhis dalam ajarannya.[1]Mircea Eliade mencatat kesamaan dalam simbolisme cahaya dan pengetahuan mistik, yang mendahului Manikheisme, dan mungkin berasal dari sumber Indo-Iran awal yang sama. Mani menganggap dirinya sebagai reinkarnasi Buddha. Mani juga mengklaim bahwa ia memberitakan pesan yang sama dengan Buddha.[10]Giovanni Verardi mencatat bahwa Manikheisme adalah sumber utama untuk perbandingan antara Buddhisme dan Gnostisisme, di mana Manikheisme mewakili "suasana perkotaan dan perniagaan yang sama di mana Buddhisme merupakan ekspresi di India."[11] Ketika ekonomi perdagangan menurun akibat runtuhnya Kekaisaran Romawi, Manikheisme kehilangan dukungannya.[12] Kaum Manikhaean memusuhi masyarakat tertutup yang bertani dan memiliki lahan, sama halnya seperti Buddhisme yang bertentangan dengan "dunia non-perkotaan yang dikendalikan oleh kaum awam Brahmana."[13][c]
Mani percaya bahwa ajaran Buddha, Zoroaster, dan Yesus tidak lengkap, dan bahwa wahyunya diperuntukkan bagi seluruh dunia, menyebut ajarannya sebagai "Agama Cahaya."[20] Menyusul perjalanan Mani ke Kekaisaran Kushan[f] pada awal karier dakwahnya, berbagai pengaruh buddhis tampaknya telah meresap ke dalam Manikheisme:
Pengaruh buddhis sangat signifikan dalam pembentukan pemikiran religius Mani. Transmigrasi jiwa menjadi keyakinan Manikheisme, dan struktur kuadripartit komunitas Manikheisme, yang terbagi antara biarawan dan biarawati (kaum "pilihan") dan pengikut awam (kaum "pendengar") yang mendukung mereka, tampaknya didasarkan pada sangha buddhis.[21]
Menurut Willis Barnstone dan Marvin Meyer, bukti pengaruh pemikiran buddhis terhadap ajaran Mani dapat ditemukan di seluruh teks yang berkaitan dengan Mani.[22] Dalam kisah kematian Mani, istilah buddhis "Nirwana" digunakan:
Itu adalah hari yang penuh penderitaan dan saat yang penuh duka ketika sang pembawa pesan cahaya memasuki kematian ketika ia memasuki Nirwana yang paripurna.
Menyusul masuknya Manikheisme ke Tiongkok, kaum Manikhaean di Tiongkok mengadopsi kosakata sinkretis dan tersinifikasi yang utamanya dipinjam dari Buddhisme Tionghoa. Antara abad ke-9 dan ke-14, setelah berabad-abad mendapat tekanan untuk asimilasi dan penganiayaan oleh dinasti-dinasti Tiongkok yang silih berganti, kaum Manikhaean Tiongkok semakin melibatkan diri mereka dengan aliran Tanah Suci dari Buddha Mahayana di Tiongkok Selatan, berlatih bersama sedemikian rupa di samping para umat Buddha Mahayana sehingga selama bertahun-tahun Manikheisme menjadi terserap ke dalam aliran Tanah Suci yang membuat kedua tradisi tersebut tidak dapat dibedakan.[23] Melalui interaksi yang erat ini, Manikheisme memiliki pengaruh yang mendalam pada Maitreyanisme (sekte-sekte Maitreya) Tiongkok seperti Sekte Teratai Putih.[24]
Catatan
↑Makalah ini dipresentasikan pada konferensi Origins of gnosticism: colloquium of Messina, yang diadakan pada 13–18 April 1966. Conze: "Topik makalah saya memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada tahun 1828 Isaac Jacob Schmidt, seorang Jerman yang tinggal di Rusia, menerbitkan sebuah pamflet berjudul Über die Verwandtschaft der gnostisch-theosophischen Lehren mit den Religionssystemen des Orients, vorzüglich dem Buddhaismus."[3] ("Tentang hubungan ajaran teosofis Gnostik dengan sistem agama di Timur, khususnya Buddhisme").
↑Bennett: "Pagels tidak mengesampingkan pengaruh Buddhis dan Hindu pada korpus Gnostik. Ia mengutip Pakar Buddhisme terkemuka Edward Conze (1904-79): 'Umat Buddha melakukan kontak dengan orang-orang Kristen Tomas (yaitu, orang-orang Kristen yang mengetahui dan menggunakan hal semacam itu.'"[9]
Hoeller, Stephan A. (2012). Gnosticism: New Light on the Ancient Tradition of Inner Knowing. Quest Books.
Koenen, L.; Römer, C., ed. (1988). "Der Kölner Mani-Kodex. Über das Werden seines Leibes". Papyrologica Coloniensia (dalam bahasa Jerman). 14 (Edisi Critical). Abhandlung der Reinisch-Westfälischen Akademie der Wissenschaften.
Werner, Sundermann (20 July 2009). "Mani". Encyclopaedia Iranica.
Yar, Char (2012). Monijiao (Manichaeism) in China (Speech). Lecture presented at the Worldwide Conference for Historical Research. academia.edu. Beijing.