*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Asubha kammaṭṭhāna[note 1] adalah pengembangan batin atau meditasi dengan cara merenungkan objek yang tidak indah dan menjijikkan. Ini merupakan jenis kammaṭṭhāna yang diajarkan secara khusus bagi orang-orang dengan kecenderungan nafsu indrawi yang kuat bertujuan untuk menyingkirkan kemelekatan atas nafsu tersebut.
Kata "asubha" [note 2] berasal dari akar kata "na + subha" (tidak indah), yang merujuk pada objek yang menjijikkan. Di dalamnya mencakup sepuluh jenis mayat tidak bernyawa (benda mati) dan tiga puluh dua komponen atau bagian anatomi tubuh makhluk hidup (koṭṭhāsa) seperti rambut, bulu, dsb. Asubha bhāvanā adalah praktik mengembangkan batin agar karakteristik kekotoran atau kejijikan dari objek-objek asubha tersebut dapat muncul dan tergambar jelas di dalam pikiran.
Sepuluh jenis asubha
Berdasarkan berbagai sumber naskah, terdapat sepuluh jenis objek mayat (asubha) yang dikembangkan adalah:
Uddhumātaka - Mayat yang membengkak dan membesar setelah kematian.
Vinīlaka - Mayat yang membusuk hingga berwarna kebiruan atau kehitaman.
Vipubbaka - Mayat yang hancur dan mengeluarkan nanah dari luka-lukanya.
Vicchiddaka - Mayat yang terputus atau terbelah menjadi dua bagian di tengahnya.
Vikkhāyitaka - Mayat yang telah digigit, dikoyak, dan dimakan oleh binatang seperti gagak, anjing, atau burung bangkai.
Vikkhittaka - Mayat yang bagian-bagian tubuhnya (kaki, tangan, badan, kepala) terputus dan terlempar terpisah secara acak.
Hatavikkhittaka - Mayat yang dicincang atau ditusuk dengan senjata tajam hingga hancur dan tersebar luas.
Lohitaka - Mayat yang berlumuran darah yang mengalir atau menetes.
Puḷuvaka - Mayat yang telah dipenuhi dan digerogoti oleh belatung atau ulat bangkai.
Aṭṭhika - Kerangka tubuh atau bagian-bagian dari tulang belulang.
Metode pengembangan
Seorang pemeditasi yang merenungkan objek asubha harus memperhatikan dan mengamati objek tersebut sedemikian rupa agar terekam kuat dan muncul jelas di dalam pikiran, layaknya mengambil pertanda kasiṇa. Dalam proses perenungan ini, dua jenis nimitta dapat muncul di dalam batin:
Uggaha-nimitta: Gambaran mental yang muncul di dalam batin persis seperti apa yang dilihat oleh mata jasmani; rupa mayat tersebut tetap terlihat menjijikkan, kotor, dan mengerikan.
Paṭibhāga-nimitta: Gambaran mental yang muncul tidak lagi tampak menjijikkan atau mengerikan, melainkan berubah menjadi visual yang sangat halus, jernih, jatmika, dan menyenangkan bagi batin.
Tingkatan jhāna
Oleh karena objek asubha pada dasarnya bersifat kasar, meditasi ini hanya mampu mengantarkan praktisi hingga mencapai jhāna pertama. Jika praktisi ingin naik ke jhāna kedua dan tingkatan di atasnya, maka praktisi perlu mengalihkan fokus batin dari asubha-nimitta menuju aspek warna dari objek tersebut, yaitu mengubah praktik menjadi vaṇṇa-kasiṇa (kasiṇa warna). Dengan mengembangkan meditasi asubha-bhāvanā, persepsi indrawi atau kecenderungan pikiran terhadap kesenangan duniawi (kāma-saññā dalam kesenangan indrawi) dapat disingkirkan jauh-jauh dari batin.
Dua metode perenungan
Terdapat dua metode atau pendekatan yang dapat digunakan dalam merenungkan objek asubha:
Metode samatha: Merenungkan objek murni sebagai wujud kejijikan dan ketidakindahan demi mendapatkan nimitta dan memunculkan konsentrasi tingkat jhāna. Dalam metode ini, praktisi tidak diperbolehkan merenungkan mayat yang merupakan lawan jenis (visabhāga-asubha).
Metode vipassanā: Merenungkan objek dengan menegakkan tiga corak umum (anicca, dukkha, anattā), melalui perenungan batin: "Orang ini sungguh tidak kekal; saya pun sama seperti orang ini, tidak kekal dan pasti akan mengalami kematian juga."
Hal-hal yang perlu diperhatikan
Ketika asubha-nimitta hampir terbentuk dan muncul di dalam pikiran, sering kali timbul ilusi mental yang kuat seolah-olah mayat tersebut bangkit berdiri, sehingga praktisi diperlukan untuk tetap waspada tanpa merasa takut. Seseorang yang melakukan meditasi asubha (pada mayat fisik di kuburan) tidak boleh menyentuh mayat tersebut secara langsung dengan tangannya; ia sebaiknya menggunakan tongkat jika ingin memindahkan atau mengumpulkannya. Di akhir naskah disebutkan bahwa jika seseorang berhasil merenungkan kerangka tubuh (aṭṭhika) yang ada di dalam tubuhnya sendiri, ia akan dapat meraih tingkat jhāna serta Jalan Pembebasan (magga) dengan sangat mudah.[1]
Catatan
↑Asubhakammaṭṭhāna (n) [asubha + kammaṭṭhāna] (a)Asubha kammaṭṭhāna, kammaṭṭhāna dengan objek asubha, objek asubha yang menjijikkan (yaitu 32 bagian komponen tubuh seperti rambut, bulu, dsb., dan sepuluh jenis mayat manusia seperti uddhumātaka dsb. Lihat juga arti dari Asubha (1)). (b)Asubha kammaṭṭhāna, asubha-ārammaṇika-kammaṭṭhāna (yaitu upacāra-samādhi, appanā-samādhi, upacāra-jhāna, atau appanā-jhāna yang dicapai dengan mengarahkan perhatian dan mengembangkan objek seperti rambut, bulu, dsb., serta objek uddhumātaka dsb. Lihat juga arti dari Asubha (1) dan (2)).
Kutipan Teks Pāli:
Satthā tesaṃ cariyāvasena rāgacaritassa asubhakammaṭṭhānaṃ deti. — Dī. Aṭṭha. 3.237.
↑Asubha (ti) [na + subha] (1) Objek yang tidak indah atau menjijikkan (asubha-ārammaṇa). Bukan hanya sepuluh jenis mayat manusia seperti uddhumātaka dsb., yang digunakan dalam asubhakammaṭṭhāna, dan 32 bagian komponen tubuh seperti rambut, bulu, dsb., melainkan semua hal terkondisi di tiga alam (tebhūmaka-saṅkhata-dhamma) juga merupakan objek asubha yang menjijikkan karena menjadi tempat mengalirnya kekotoran kilesa. (Lihat juga arti dari Asubhakammaṭṭhāna (a)). (2) Kata asubha sebagai kata matriks (mātikā-pada) atau judul/topik.
Asubha (ti) [Sebagai bentuk elisi kata belakang (uttarapadalopa) dari senyawa: (1) asubha + jhāna; (2) asubha + kammaṭṭhāna; (3) asubha + bhāvanā; (4) asubha + ākāra] (1) Asubha-jhāna:jhāna yang timbul dengan mengambil objek asubha tak bernyawa (seperti sepuluh jenis mayat uddhumātaka dsb.) maupun asubha bernyawa (seperti 32 bagian komponen tubuh rambut, bulu, dsb.). (2) Asubha-bhāvanā atau Asubha-kammaṭṭhāna: pengembangan meditatif upacāra-bhāvanā dan appanā-bhāvanā dengan mengambil objek asubha tak bernyawa dan asubha bernyawa yang telah disebutkan tadi disebut juga sebagai asubha-bhāvanā atau asubha-kammaṭṭhāna. (Lihat juga arti Asubhakammaṭṭhāna (b)). (3) Asubha-ākāra: aspek atau rupa yang tidak indah dan menjijikkan dari suatu objek asubha.
Kutipan Teks Pāli (Bagian 2):
Asubha (Dī. Aṭṭha. 2.368) nti asubhajjhānaṃ uttarapadalopena, taṃ pana dasasu aviñāṇakaasubhesu ca kesādīsu saviñāṇakaasubhesu ca pavattaṃ daṭṭhabbaṃ. — Dī. Ṭī. 2.316.