ENSIKLOPEDIA
Nyanatiloka
Nyanatiloka Mahathera | |
|---|---|
Nyanatiloka Mahathera | |
| Gelar | Mahathera (Sesepuh Agung) |
| Kehidupan pribadi | |
| Lahir | Anton Walther Florus Gueth (1878-02-10)10 Februari 1878 |
| Meninggal | 28 Mei 1957(1957-05-28) (umur 79) |
| Kebangsaan | Jerman |
| Pekerjaan | biksu; guru; penerjemah; cendekiawan |
| Kehidupan religius | |
| Agama | Buddha |
| Mazhab | Theravada |
| Garis keturunan | Amarapura Nikaya |
| Posisi senior | |
| Berbasis di | Island Hermitage |
Ven. Nyanatiloka (Ñāṇatiloka) Mahathera (19 Februari 1878 – 28 Mei 1957), lahir dengan nama Anton Walther Florus Gueth, adalah salah satu orang Barat pertama pada masa modern yang menjadi seorang biku yang ditahbiskan secara penuh.[1][2][3]
Masa awal dan pendidikan
Nyanatiloka lahir pada 19 Februari 1878 di Wiesbaden, Jerman, dengan nama Anton Walther Florus Gueth. Ayahnya adalah Anton Gueth, seorang profesor dan kepala Gymnasium kota Wiesbaden, sekaligus penasihat pribadi. Ibunya bernama Paula Auffahrt, yang pernah belajar piano dan bernyanyi di Teater Istana Kerajaan di Kassel.[4]
Ia menempuh pendidikan di Königliche Realgymnasium (Gymnasium Kerajaan) di Wiesbaden dari 1888 hingga 1896. Dari 1896 hingga 1898 ia menerima pelajaran privat teori musik dan komposisi, serta bermain biola, piano, viola, dan klarinet. Dari 1889 hingga 1900 ia belajar teori dan komposisi musik serta bermain biola dan piano di Hoch’sches Conservatorium (Konservatorium Hoch) di Frankfurt. Dari 1900 hingga 1902 ia belajar komposisi di bawah bimbingan Charles-Marie Widor di Akademi Musik Paris (Konservatorium Paris).[5]
Masa kecilnya bahagia. Sejak kecil Nyanatiloka memiliki kecintaan besar pada alam, kesunyian di hutan, dan pemikiran filosofis religius. Ia dibesarkan sebagai seorang Katolik dan semasa kecil hingga remaja cukup taat. Ia pergi ke gereja setiap malam dan mendalami buku Mengikuti Jejak Kristus karya Thomas à Kempis. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi misionaris Kristen di Afrika, dan saat remaja ia sempat kabur dari rumah untuk menjadi biarawan Benediktin di biara Maria-Laach, namun segera kembali. Sejak saat itu "kepercayaannya pada Tuhan pribadi perlahan berubah menjadi semacam panteisme" yang terinspirasi oleh suasana weltschmerz (keletihan hidup) yang meluas. Sejak usia tujuh belas tahun ia menjadi vegetarian dan menjauhi minuman beralkohol serta rokok.[6]
Sekitar usia lima belas tahun ia mulai memiliki "penghormatan hampir ilahi terhadap para musisi besar, khususnya komponis, yang dianggapnya sebagai perwujudan dari yang paling luhur dan agung" serta berteman dengan anak-anak jenius musik. Ia menggubah karya orkestra, dan pada 1897 komposisi pertamanya berjudul "Legende" ("Legenda") dimainkan oleh Orkestra Kurhaus Wiesbaden.[7]
Pada masa yang sama ia juga menumbuhkan kecintaan besar pada filsafat. Ia mempelajari Phaedo karya Plato, Descartes, Kritik atas Nalar Murni karya Kant, von Hartmann, dan terutama Schopenhauer. Ia juga memiliki minat besar pada bahasa, negara asing, dan bangsa-bangsa lain.[7] Saat berkunjung ke sebuah restoran vegetarian, ia mendengar ceramah Edwin Böhme, seorang penceramah Teosofi, tentang Buddhisme yang langsung membuatnya menjadi seorang penganut Buddha yang antusias. Keesokan harinya guru biolanya memberinya Kateksimus Buddhis karya Subhadra Bhikshu dan sebuah buku lain tentang Buddhisme yang menumbuhkan keinginannya untuk menjadi biku di Asia.[8] Setelah belajar komposisi dengan komponis terkenal Charles-Marie Widor di Paris, ia bermain dalam berbagai orkestra di Prancis, Aljazair, dan Turki. Pada 1902, dengan niat menjadi biku di India, ia melakukan perjalanan dari Thessaloniki ke Kairo melalui Palestina. Setelah memperoleh uang dengan bermain biola di Kairo, Port Said, dan Bombay, ia melanjutkan perjalanan ke Sri Lanka.[9]
Masa awal sebagai biksu Buddha
Pada tahun 1903, pada usia 25 tahun, Nyanatiloka sempat berkunjung ke Sri Lanka dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Burma untuk bertemu biku Buddha asal Inggris, Bhikkhu Ananda Metteyya. Di Burma ia ditahbiskan sebagai seorang samanera Theravada di Pagoda Nga Htat Kyi di bawah bimbingan Yang Mulia U Asabha Thera pada September 1903. Sebagai samanera ia pertama kali tinggal bersama Ananda Metteyya selama sebulan dalam satu kamar.[10][11]
Pada Januari atau Februari 1904 ia menerima penahbisan penuh ke dalam Sangha (upasampada) dengan U Kumara Mahathera sebagai penahbis utama (upajjhaya) dan menjadi seorang biku dengan nama Ñāṇatiloka. Meskipun penahbisnya dikenal sebagai seorang penghafal Abhidhamma, ia mempelajari Pali dan Abhidhamma sebagian besar secara mandiri. Kemudian pada tahun 1904 ia berkunjung ke Singapura, mungkin dengan maksud menemui biksu asal Irlandia U Dhammaloka.[12] Pada akhir 1904 ia meninggalkan Rangoon menuju Burma Hulu bersama biku India Kosambi Dhammananda, yang kemudian dikenal sebagai sarjana Harvard Dharmananda Damodar Kosambi. Di sebuah gua di Pegunungan Sagaing mereka berlatih konsentrasi dan samatha-vipassanā di bawah bimbingan seorang biku yang dianggap sebagai seorang Arahat.[13]
Dengan keinginan memperdalam studi Pali dan kitab suci Pali, ia pergi ke Sri Lanka pada tahun 1905. Pada 1905–06 Nyanatiloka tinggal bersama biksu pangeran Siam Jinavaravamsa (nama awam Pangeran Prisdang Jumsai, yang sebelumnya pernah menjadi Duta Besar Siam pertama untuk Eropa) di gubuk daun lontar di pulau kecil Galgodiyana dekat Matara, yang oleh Jinavaravamsa disebut Culla-Lanka ("Lanka Kecil"). Foto-foto Nyanatiloka dan Jinavaravamsa yang diambil di vihara ini menunjukkan bahwa mereka melakukan meditasi tentang sifat tubuh dengan cara mengamati kerangka atau sedang merenungkan kematian.[14]

Di Culla-Lanka Nyanatiloka menahbiskan dua umat awam sebagai samanera. Orang Belanda Frans Bergendahl, putra seorang saudagar kaya yang bermasalah, diberi nama Suñño, dan orang Jerman Fritz Stange diberi nama Sumano. Pada musim panas 1906 Nyanatiloka kembali ke Jerman untuk mengunjungi orang tuanya. Sumano, yang menderita tuberkulosis (paru-paru), ikut bersamanya untuk menjalani pengobatan. Mereka kembali ke Sri Lanka pada bulan Oktober.
Pada akhir 1906 Nyanatiloka kembali ke Burma seorang diri, di mana ia melanjutkan pekerjaan menerjemahkan Anguttara Nikaya. Ia tinggal di Kyundaw Kyaung, dekat Rangoon, di sebuah kediaman yang dibangun untuk Ananda Metteyya dan dirinya oleh seorang wanita kaya Burma, Ny. Hla Oung. Ia juga tinggal di Maymo di daerah pegunungan. Di Kyundaw Kyaung, ia memberikan penahbisan samanera kepada orang Skotlandia J.F. McKechnie, yang mendapat nama Pali Sasanavamsa. Nama ini kemudian diubah menjadi Sīlācāra pada penahbisan tingkat lanjutnya. Nyanatiloka juga memberikan penahbisan awal (pabbajjā) kepada orang Jerman Walter Markgraf dengan nama Dhammanusari, yang segera menanggalkan jubah dan kembali ke Jerman. Markgraf kemudian menjadi penerbit buddhis dan mendirikan Perhimpunan Pali Jerman (Deutsche Pali Gesellschaft), dengan Nyanatiloka sebagai Presiden Kehormatan.
Pada tahun 1906, Nyanatiloka menerbitkan karya buddhis pertamanya dalam bahasa Jerman, Das Wort des Buddha, sebuah antologi singkat khotbah Buddha yang disusun berdasarkan kerangka Empat Kebenaran Mulia. Terjemahan bahasa Inggrisnya, The Word of the Buddha, menjadi salah satu karya buddhis modern paling populer. Buku ini telah terbit dalam banyak edisi dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Nyanatiloka juga memulai terjemahannya atas Aṅguttara Nikaya. Ia memberikan ceramah publik pertamanya tentang Empat Kebenaran Mulia pada tahun 1907. Ceramah tersebut disampaikan di sebuah panggung di depan Pagoda Moulmein. Nyanatiloka berbicara dalam bahasa Pali dan seorang ahli Pali Burma menerjemahkannya.[15]
Rencana mendirikan vihara Theravada di Eropa
Sekembalinya ke Jerman, Markgraf merencanakan pendirian sebuah vihara Buddha di bagian selatan Swiss dan membentuk sebuah kelompok untuk mewujudkan tujuan tersebut. Enrico Bignani, penerbit Coenobium: Rivista Internazionale di Liberi Studi dari Lugano, menemukan sebuah gubuk pegunungan terpencil di kaki Gunung Monte Lema, dekat desa Novaggio yang menghadap ke Danau Maggiore. Nyanatiloka meninggalkan Burma menuju Novaggio pada akhir 1909 atau awal 1910.
Seorang arsitek bernama Rutch dari Breslau telah merancang sebuah vihara dengan gubuk-gubuk untuk para biksu, dan rencananya Bhikkhu Sīlācāra serta murid-murid lainnya akan bergabung dengan Nyanatiloka di sana. Kehadiran dan rencana Nyanatiloka menarik banyak perhatian pers, dan sejumlah jurnalis datang menemuinya untuk menulis tentang dirinya serta vihara yang direncanakan. Namun, Nyanatiloka menderita bronkitis parah dan kekurangan gizi, sehingga setelah setengah tahun ia meninggalkan Novaggio bersama calon biksu asal Jerman, Ludwig Stolz, yang bergabung dengannya di Novaggio, untuk mencari tempat yang lebih baik di Italia atau Afrika Utara.
Di Novaggio ia mengerjakan Pali-grammatik (Tata Bahasa Pali) dan terjemahannya atas teks Abhidhamma berjudul Puggalapaññatti (Jenis-jenis Manusia).[16]
Italia, Tunisia, Lausanne
Di Italia, Nyanatiloka pertama kali tinggal bersama seorang pengacara di sebuah kota dekat Turin. Setelah pengacara tersebut mencoba membujuk Nyanatiloka dan rekannya, Stolz, untuk membuat harmonium sebagai mata pencaharian, mereka pergi ke Roma dan tinggal bersama guru musik Alessandro Costa. Dari Roma mereka menuju Napoli dan menumpang kapal ke Tunis, di mana mereka tinggal selama seminggu bersama Alexandra David-Néel dan suaminya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Gabès, namun polisi memerintahkan mereka meninggalkan Tunisia. Setelah kembali mengunjungi David-Néel, mereka berangkat ke Lausanne dan tinggal bersama Monsieur Rodolphe-Adrien Bergier (1852-?) di pertapaan buddhis miliknya yang bernama "Caritas". Di Caritas, seorang pelukis kaca bernama Bartel Bauer diterima oleh Nyanatiloka sebagai samanera dengan nama Koññañño. Tak lama kemudian Koññañño berangkat ke Sri Lanka untuk melanjutkan pelatihan. Setelah itu, seorang Amerika-Jerman bernama Friedrich Beck dan seorang pemuda Jerman bernama Spannring datang ke Caritas. Setelah dua kali kunjungan yang tidak berhasil ke Italia untuk mencari lokasi vihara yang sesuai, Nyanatiloka, Spannring, Stolz, Beck, dan mungkin juga Bergier, berangkat ke Sri Lanka dari Genoa pada 26 April 1911 untuk mendirikan sebuah vihara di sana.[17]
Pendirian Island Hermitage
Setibanya di Sri Lanka, Nyanatiloka tinggal di sebuah aula yang dibangun untuk Koññañño di Galle. Ludwig Stolz menerima penahbisan samanera di sebuah vihara terdekat dan diberi nama Vappo. Dari Koññañño, Nyanatiloka mendengar tentang sebuah pulau hutan yang terbengkalai di sebuah laguna dekat desa Dodanduva, yang dianggap cocok sebagai tempat pertapaan. Setelah memeriksa pulau yang dipenuhi ular itu dan mendapat persetujuan dari penduduk setempat, dibangun lima gubuk kayu sederhana. Tepat sebelum dimulainya masa retret musim hujan tahunan para biksu (vassa) tahun 1911 (yang dimulai sehari setelah bulan purnama Juli), Nyanatiloka dan rekan-rekannya pindah ke pulau tersebut. Pertapaan itu dinamai Island Hermitage. Pulau tersebut dibeli oleh Bergier pada tahun 1914 dari pemilik Burgher dan disumbangkan kepada Nyanatiloka. Pada September 1911 Alexandra David-Néel datang dan belajar bahasa Pali di bawah bimbingan Nyanatiloka di Island Hermitage, sambil tinggal bersama pendukung utama vihara, Coroner Wijeyesekera. Pengunjung seperti Anagarika Dhammapala dan duta besar Jerman juga datang ke Island Hermitage pada masa itu. Beberapa orang Barat—empat orang Jerman, seorang Amerika-Jerman, seorang Amerika, dan seorang Austria—ditahbiskan di Island Hermitage antara tahun 1911 dan 1914.[18]
Pada tahun 1913 Nyanatiloka memulai misi untuk "kaum buangan" Sri Lanka, Rodiya, yang dimulai di daerah Kadugannava, sebelah barat Kandy. Beberapa orang Rodiya tinggal dan belajar di Island Hermitage. Putra kepala suku Rodiya diterima oleh Nyanatiloka sebagai samanera dengan nama Ñaṇaloka. Setelah wafatnya Nyanatiloka, ia menjadi kepala vihara Island Hermitage.
Sikkim
Nyanatiloka melakukan perjalanan ke Sikkim pada tahun 1914 dengan maksud untuk melanjutkan perjalanan ke Tibet. Di Gangtok ia bertemu dengan sarjana penerjemah asal Sikkim, Kazi Dawa Samdup, serta Maharaja. Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke biara Tumlong, tempat Alexandra David-Néel dan Sīlācāra sedang tinggal, lalu kembali ke Gangtok keesokan harinya. Karena kehabisan biaya, Nyanatiloka harus kembali ke Ceylon. Ia kembali ke Sri Lanka ditemani oleh dua orang Tibet, yang kemudian menjadi biksu di Island Hermitage.[19]
Perang Dunia I
Pada tahun 1914, dengan pecahnya Perang Dunia I, Nyanatiloka bersama seluruh warga Jerman di koloni Inggris ditahan oleh pihak Inggris. Awalnya ia diizinkan tinggal di Island Hermitage, tetapi akhirnya ia juga ditahan di kamp konsentrasi di Diyatalawa. Dari sana ia dideportasi ke Australia pada tahun 1915, di mana ia sebagian besar tinggal di kamp penjara di Teluk Trial. Ia dibebaskan pada tahun 1916 dengan syarat harus kembali ke Jerman. Namun, ia memilih bepergian melalui Hawaii menuju Tiongkok untuk mencapai wilayah suku Burma penganut Buddhisme Theravada di dekat perbatasan Burma, tempat ia berharap dapat tinggal, karena ia tidak bisa menetap di Burma maupun Sri Lanka. Setelah Tiongkok bergabung dalam perang melawan Jerman, ia kembali ditahan di Tiongkok dan dipulangkan ke Jerman pada tahun 1919.[20]
Jepang
Pada tahun 1920, setelah ditolak masuk kembali ke Sri Lanka yang berada di bawah kekuasaan Inggris serta koloni Inggris lainnya di Asia, Nyanatiloka pergi ke Jepang bersama murid-murid Jermannya, Bhikkhu Vappo (Ludwig Stolz) dan Suster Uppalavaṇṇā (Else Buchholz). Ia mengajar Pali dan bahasa Jerman di universitas-universitas Jepang selama lima tahun, termasuk di Universitas Taisho, di mana ia dibantu oleh Ekai Kawaguchi, serta di Universitas Komazawa, tempat ia mengajar bersama Presiden Yamagami Sogen (山上曹源), yang juga pernah belajar Pali di Sri Lanka. Ia juga bertemu dengan para biksu Theravada Jepang, tetapi tidak dapat tinggal di vihara mana pun di Jepang. Pada masa ini Nyanatiloka tetap melanjutkan pekerjaannya menerjemahkan teks-teks Pali.
Pada tahun 1921 ia berkunjung ke Jawa, di mana ia terkena malaria, dan ke Thailand, tempat ia tampaknya berharap dapat menetap karena merupakan negara Buddhis Theravada. Meskipun ia telah diberi izin masuk dan visa oleh duta besar Thailand di Jepang, ia ditangkap di Thailand dengan tuduhan sebagai mata-mata, kemudian dideportasi setelah beberapa minggu, dan kembali ke Jepang.[21]
Kembali ke Sri Lanka dan Island Hermitage
Pada tahun 1926, pihak Inggris mengizinkan Nyanatiloka dan murid-murid Jermannya kembali ke Sri Lanka. Island Hermitage, yang telah lama tidak berpenghuni, ditumbuhi hutan lebat dan harus dibangun kembali. Periode antara 1926 hingga 1939 merupakan masa ketika Island Hermitage berkembang paling pesat.[22] Pada masa ini, para cendekiawan, pencari spiritual, petualang, diplomat, dan tokoh-tokoh penting seperti mantan Raja Sachsen berkunjung dan tinggal di sana. Anagarika Govinda, yang kelak dikenal sebagai Lama Govinda, datang pada tahun 1928 dan bersama Nyanatiloka mendirikan International Buddhist Union (IBU), yang kemudian berhenti berfungsi setelah Govinda berpindah ke Buddhisme Mahayana Tibet dan Vajrayana beberapa tahun kemudian.
Selama periode 1931 hingga 1939 banyak penahbisan dilakukan di Island Hermitage, sebagian besar melibatkan orang Jerman. Nyanaponika (Sigmund Feniger), yang kemudian menjadi penulis dan cendekiawan Buddhis terkenal, serta Nyanakhetta (Peter Schönfeldt), yang kemudian menjadi seorang Swami Hindu bernama Gauribala, ditahbiskan sebagai samanera pada tahun 1936 dan sebagai bhikkhu pada tahun 1937. Keduanya berasal dari latar belakang Yahudi Jerman. Semua calon yang ingin ditahbiskan diajarkan bahasa Pali oleh Nyanatiloka, yang menganggap pengetahuan kerja tentang Pali sangat penting untuk memahami Buddhisme Theravada secara tepat, karena terjemahan teks-teks Buddhis pada masa itu sering kali keliru.[23]
Perang Dunia II
Pada tahun 1939, ketika Inggris menyatakan perang terhadap Nazi Jerman, Nyanatiloka dan warga Sri Lanka kelahiran Jerman lainnya kembali ditahan, pertama di Garnisun Diyatalawa di Sri Lanka dan kemudian di India (1941) di kamp interniran besar di Dehradun.[24]
Tahun-tahun terakhir, 1946–1957
Pada tahun 1946, Nyanatiloka dan murid-murid Jermannya diizinkan oleh pihak Inggris untuk kembali ke Sri Lanka, di mana mereka kembali tinggal di Island Hermitage. Pada tahun 1949, biksu Buddha Barat yang terkenal, Nanamoli dan Nyanavira, ditahbiskan di bawah bimbingan Nyanatiloka. Pada Desember 1950, Nyanatiloka menjadi warga negara Ceylon yang baru merdeka. Karena alasan kesehatan, ia pindah ke Forest Hermitage di Kandy pada tahun 1951. Vappo dan Nyanaponika segera menyusulnya.
Pada tahun 1954, Nyanatiloka dan muridnya Nyanaponika merupakan dua biksu kelahiran Barat yang diundang untuk berpartisipasi dalam Konsili Buddhis Keenam di Yangon, Burma. Nyanaponika membacakan pesan Nyanatiloka pada pembukaan konsili tersebut.[25]
Nyanatiloka juga menjadi Patron pertama dari Lanka Dhammaduta Society (kemudian berganti nama menjadi German Dharmaduta Society) yang didirikan oleh Asoka Weeraratna di Kolombo, Sri Lanka pada 21 September 1952. Nyanatiloka menghadiri dan berbicara dalam Pertemuan Umum yang diadakan di Ananda College, Kolombo pada 30 Mei 1953 yang dipimpin oleh Hon. C.W.W. Kannangara, Menteri Pemerintahan Lokal saat itu, untuk mempublikasikan hasil survei yang dilakukan oleh Asoka Weeraratna (Pendiri dan Sekretaris Kehormatan Lanka Dhammaduta Society) mengenai keadaan kegiatan Buddhis di Jerman dan prospek pengiriman misi Buddhis ke Jerman sebelum perayaan Buddha Jayanthi tahun 1956. Pesan Nyanatiloka kepada Society tertanggal 25 Mei 1953 yang dimuat dalam sebuah buku kecil berjudul 'Buddhism in Germany' karya Asoka Weeraratna, dibagikan dalam pertemuan tersebut, yang dihadiri banyak orang dan terdiri dari perwakilan tokoh Buddhis terkemuka.
Nyanatiloka juga sempat tinggal sementara di Pusat Pelatihan baru untuk kerja misi Buddhis di Jerman yang dibuka oleh Lanka Dhammaduta Society di Dalugama, Kelaniya pada tahun 1953. Ven. Ñânaponika (Jerman) dan Upasaka Friedrich Möller dari Jerman yang baru tiba juga tinggal sementara bersama Nyanatiloka di pusat pelatihan ini. Friedrich Möller adalah murid terakhir Nyanatiloka. Pada usia empat puluh tiga tahun, Möller diterima sebagai samanera oleh Nyanatiloka pada 19 September 1955, dengan nama Pali Ñāṇavimala. Ia kemudian dikenal sebagai Ven. Polgasduwe Ñāṇavimala Thera.
Kematian
Nyanatiloka wafat pada 28 Mei 1957 di Kolombo, Sri Lanka pada usia 79 tahun. Saat itu ia tinggal di Sanghavasa yang berlokasi di gedung baru milik German Dharmaduta Society di 417, Bullers Road (kemudian dikenal sebagai Bauddhaloka Mawatha), Kolombo 07. Tempat tersebut merupakan kediaman terakhirnya sebelum meninggal dunia. Ia dimakamkan dengan upacara kenegaraan, di mana Perdana Menteri Sri Lanka saat itu, Yang Terhormat S.W.R.D Bandaranaike, menyampaikan pidato perpisahan. Prosesi pemakaman disiarkan secara langsung melalui Radio Ceylon, dan sebuah batu peringatan didirikan untuk mengenangnya. [26]
Biografi
Terjemahan bahasa Inggris dari autobiografi berbahasa Jerman karya Nyanatiloka – yang mengisahkan kehidupannya sejak masa kecil di Jerman hingga kepulangannya ke Ceylon pada 1926 setelah masa pengasingan; diselesaikan oleh Nyanatiloka pada 1948, namun kemungkinan besar berdasarkan rancangan yang ditulis pada 1926 – diterbitkan sebagai bagian dari The Life of Nyanatiloka: The Biography of a Western Buddhist Pioneer (ditulis dan disusun oleh Bhikkhu Nyanatusita dan Hellmuth Hecker, BPS, Kandy, 2009 Tersedia daring.) Biografi lengkap ini memuat pengantar, bibliografi yang luas, daftar murid, biografi Nyanaponika, foto-foto, serta informasi rinci mengenai sejarah awal Buddhisme Jerman dan Barat.
Karya
Judul berbahasa Inggris karya Nyanatiloka:
- Word of the Buddha: an Outline of the Ethico-philosophical System of the Buddha in the Words of the Pali Canon (1906, 1927, 1967 (edisi ke-14), 1981, 2001) tersedia bebas daring
- Guide through the Abhidhamma-Pitaka (1938, 1957, 1971, 1983, 2009)
- Buddhist Dictionary: Manual of Buddhist Terms and Doctrines (1952, 1956, 1972, 1980, 1988, 1997, 2004)
- Buddha's Path to Deliverance: a Systematic Exposition in the Words of the Sutta Pitaka (1952, 1959, 1969, 1982, 2000)
- Fundamentals of Buddhism_ Four Lectures (1994)[27]
- Significance of Dependent Origination (Wheel Publication No. 140)
Autobiografi dan biografi
- The Life of Nyanatiloka: The Biography of a Western Buddhist Pioneer Bhikkhu Nyanatusita dan Hellmuth Hecker (Kandy, 2009)Tersedia daring.
Nyanatiloka juga menerjemahkan teks-teks penting Theravada berbahasa Pali ke dalam bahasa Jerman, termasuk:
Dalam bahasa Jerman, ia juga menulis tata bahasa Pali, sebuah antologi, serta kamus Buddhis.
Referensi
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm. 25, catatan akhir 26
- ↑ Bullitt (2008).
- ↑ Turner et al. (2010)
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.13–15
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.15–16, 20
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.17
- 1 2 Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.18
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.19
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.23–24.
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.24–25.
- ↑ Harris (1998).
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.27. Nyanatiloka menulis bahwa Dhammaloka memiliki "reputasi meragukan" ("zweifelhaftem Ruf"), kemungkinan merujuk pada tindakan kontroversial Dhammaloka, seperti kampanyenya menentang misionaris Kristen, serta tampil dengan jubah biksu Jepang. Lihat Turner, Alicia, Brian Bocking dan Laurence Cox.
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.27.
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.25–27, pelat gambar 2.
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.25–27.
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.30–31.
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.31–35, catatan akhir 71.
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.35–39, 193.
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.40–44.
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.44–77, Buddhist Annual of Ceylon (1929).
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.82–101
- ↑ Situasi awal 1929 dijelaskan dalam: Mangelsdorf, Walter; Erlebnis Indien; Braunschweig 1950, hlm. 40–44.
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.105–110
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.128–142
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm.129–143, Pariyatti (2008).
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, hlm. 157
- ↑ Bhikkhu Nyanatusita & Hellmuth Hecker, p.171–191
Daftar Pustaka
- Bhikkhu Nyanatusita and Hellmuth Hecker, The Life of Nyanatiloka: The Biography of a Western Buddhist Pioneer Kandy, 2009.
- Buddhist Annual of Ceylon (1929). "The 'Island Hermitage' (Polgasduwa Tapas-arama)" in "The Buddhist Annual of Ceylon" (vol. 3, no. 3), p. 189. Retrieved 19 Dec 2008 from "MettaNet" at http://www.metta.lk/temples/ih/1929.htm.
- Bullitt, John T. (2008). "Nyanatiloka Mahathera" in Contributing Authors and Translators: Biographical Notes. Retrieved 19 Dec 2008 from "Access to Insight" at http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/index.html#nyanatiloka.
- Harris, Elizabeth J. Harris (1998/2007). Ānanda Metteyya: The First British Emissary of Buddhism (Wheel Nos. 420/422). Kandy: Buddhist Publication Society. Retrieved 20 Dec 2008 from "BPS" at http://www.bps.lk/wheels_library/wh_420_422.html.
- Pariyatti (2008). The Chaṭṭha Saṅgayana (1954–1956). Retrieved 19 Dec 2008 from "Pariyatti" at http://www.pariyatti.org/ResourcesProjects/Treasures/ChatthaSangayana/tabid/78/Default.aspx.
- Perera, Janaka (28 May 2007). "Pioneering Western Buddhist monks forgotten" at "The Buddhist Channel." Retrieved 19 Dec 2008 from "Buddhist Channel" at http://www.buddhistchannel.tv/index.php?id=43,4202,0,0,1,0.
Pranala luar
- Nyanatiloka Mahathera (1st ed. 1952; 2nd rev. ed. 1956; 3rd rev. ed. 1972; 4th rev. ed. 1980; repr. 1988). Buddhist Dictionary: Manual of Buddhist Terms and Doctrines. Kandy: Buddhist Publication Society. Retrieved 19 Dec 2008 from "BuddhaNet" at http://www.buddhanet.net/budsas/ebud/bud-dict/dic_idx.htm.
- Nyanatiloka Mahathera (1994). Fundamentals of Buddhism: Four Lectures (Wheel Nos. 394/396). Kandy: Buddhist Publication Society. Retrieved 19 Dec 2008 from "Access to Insight" at http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/nyanatiloka/wheel394.html.
- Nyanatiloka Mahathera (14th ed., 1967). The Word of the Buddha. Kandy: Buddhist Publication Society. Retrieved 20 Dec 2008 from "BuddhaNet" at http://buddhanet.net/budsas/ebud/word-of-buddha/wobtoc.htm or http://www.urbandharma.org/pdf/wordofbuddha.pdf
- Ven Nyanatiloka’s message to the German Dharmaduta Society (May, 1953)
- Ven. Nyanatiloka Maha Thera (1878–1957)
- A Palavra do Buddha, 2013 (Portuguese)
Penulis Buddhis modern (dari abad ke-19 sampai sekarang) | |
|---|---|
| Theravada / Gerakan Vipassana | |
| Mahayana | |
| Vajrayana | |
| Zen | |
| Sarjana | |
| Daftar | |
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Orang | |
| Lain-lain | |