Sejarah
Pada pertengahan abad ke-18, upasampadā – penahbisan yang lebih tinggi sebagai bhikkhu, berbeda dari sāmaṇera atau penahbisan pemula – telah punah di Sri Lanka. Ordo Buddhis telah punah tiga kali selama lima ratus tahun sebelumnya dan didirikan kembali pada masa pemerintahan Vimaladharmasuriya I dari Kandy (1591–1604) dan Vimaladharmasuriya II dari Kandy (1687–1707). Pendirian kembali ini berumur pendek. Selama periode ini, Vinaya praktis ditinggalkan dan beberapa anggota Sangha di Kerajaan Kandy memiliki tanah pribadi, memiliki istri dan anak, tinggal di rumah pribadi, dan disebut sebagai para Gaṇinnānse (tokoh semi-monastik atau praktisi awam yang hidup seperti biku, tetapi bukan biku yang sah).[2] Atas inisiatif Weliwita Sri Saranankara Thera (1698–1778), biku Thailand bernama Upali Thera mengunjungi Kandy pada masa pemerintahan Kirti Sri Rajasinha dari Kandy (1747–1782), dan sekali lagi mendirikan kembali ordo Buddhis di Sri Lanka pada tahun 1753. Ordo tersebut disebut Siam Nikāya, yang diambil dari nama Thailand di masa lampau.
Pada tahun 1764, hanya satu dekade setelah pembentukan kembali ordo Buddhis di Sri Lanka oleh Upali Thera, sekelompok biku dalam Siam Nikāya yang baru dibentuk berhasil membatasi upasampadā hanya untuk kasta Govigama. Pada masa itu, kaum bangsawan tradisional Kerajaan Kandy dihancurkan oleh perang yang terus-menerus dengan para penguasa Belanda di provinsi-provinsi maritim. Di provinsi-provinsi maritim, sebuah ordo baru menggantikan ordo lama. Mandarampura Puvata, sebuah teks dari periode Kandy, menceritakan perubahan radikal pada ordo monastik tersebut, dan menunjukkan bahwa hal itu bukanlah keputusan bulat dari badan sangha. Disebutkan bahwa tiga puluh dua anggota 'senior' sangha yang menentang perubahan ini dibuang ke Jaffna oleh para pemimpin reformasi.
Eksklusivitas kasta Govigama dalam sangha yang dijamin pada tahun 1764 segera ditentang oleh kasta lain. Para tokoh dari kasta-kasta lain, tanpa perlindungan Raja Kandy atau Inggris, mengadakan upacara upasampadā mereka sendiri di Vihara Totagamuwa pada tahun 1772. Upacara lain diadakan di Tangalle pada tahun 1798. Tak satu pun dari upacara ini disetujui oleh Siam Nikāya yang mengklaim bahwa penahbisannya tidak sesuai dengan aturan Vinaya. Raja Rajadhi Rajasinghe (1782-1798) telah membuat perintah yang membatasi hak untuk memperoleh penahbisan yang lebih tinggi kepada anggota kasta tertentu.
Akibat kebijakan "eksklusif kasta Govigama" yang diadopsi pada tahun 1764 oleh Siam Nikāya, umat Buddha di provinsi-provinsi maritim tidak memiliki akses ke silsilah penahbisan yang sah. Berharap untuk memperbaiki situasi ini, kaum awam kaya dari provinsi-provinsi maritim membiayai sebuah ekspedisi ke Siam untuk mendirikan silsilah monastik baru.
Pada tahun 1799, Walitota Sri Gnanawimalatisssa, seorang biku dari kasta Salagama, dari Balapitiya di pantai barat daya Sri Lanka, berangkat ke Siam dengan sekelompok samanera untuk mencari suksesi baru penahbisan yang lebih tinggi. Dua tokoh bergerlar Sahabandu Mudaliyar dan dayakaya terkemuka lainnya berjanji untuk menanggung biaya misi dan membuat pengaturan yang diperlukan untuk perjalanan tersebut.[3] Akan tetapi, selama perjalanan, mereka mengalami insiden saat kapal tiba-tiba berhenti bergerak. Setelah mampu bergerak lagi, kapten kapal berkebangsaan Belanda menyarankan bahwa agama Buddha berada dalam kondisi yang lebih berkembang di Amarapura, Burma, daripada di Siam. biku itu menyetujui saran kapten dan yang terakhir, melalui konsul Belanda di Hanthawaddy (sekarang Bago, Burma), memperoleh pengenalan yang diperlukan kepada otoritas keagamaan dan administratif di Amarapura. Biku pertama ditahbiskan di Burma pada tahun 1800 oleh Sangharaja Burma, setelah rombongannya disambut di Burma oleh Raja Bodawpaya. Para anggota misi belajar di bawah bimbingan Sangharaja selama dua tahun.
Misi awal kembali ke Sri Lanka pada tahun 1803. Segera setelah kembali ke pulau itu, mereka mendirikan udakhupkhepa sima (armada perahu yang disatukan untuk membentuk platform di atas air) di Sungai Maduganga, Balapitiya, dan, di bawah bimbingan para biku Burma paling senior yang mendampingi mereka, mengadakan upacara upasampadā pada uposatha Waisak. Ordo baru ini kemudian dikenal sebagai Amarapura Nikāya, sesuai nama ibu kota Raja Bodawpaya.
Beberapa perjalanan lanjutan ke Burma, yang juga dilakukan oleh para biku dari kasta Karava dan Durava, telah membentuk sebuah kelompok inti biku tertahbis pada tahun 1810, sehingga menyediakan kuorum yang diperlukan untuk penahbisan lebih tinggi (upasampadā) para biku Amarapura Nikāya di Sri Lanka. Penahbisan yang ditolak pada tahun 1764 oleh para konspirator dari kassta Govigama telah diperoleh kembali, dan mereka segera diberikan pengakuan oleh pemerintah kolonial Inggris. Namun, perubahan radikal aturan penahbisan oleh Siam Nikāya pada tahun 1764 dan kelanjutannya, meskipun bertentangan dengan ajaran Buddha Gotama tentang penggolongan berkasta, mengganggu sangha Sri Lanka, yang masih terbagi berdasarkan kasta.
Sebaliknya, asal-usul Dravida dari kasta Durava, Karava, dan Salagama, yang sebagian besar muncul pasca-abad ke-13, telah digunakan oleh Siam Nikāya sebagai pembenaran untuk lebih mengutamakan kelompok Sinhala yang leluhurnya sebagian besar berasal dari pra-abad ke-13.[4]