Ekonomi sebagai cara mengatur kehidupan kerja dan memenuhi kebutuhan produksi, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap kebudayaan, termasuk kebudayaan Buddha. Dalam pandangan ekonomi Buddha, tujuan utama bukanlah memaksimalkan konsumsi, melainkan meningkatkan kesejahteraan manusia melalui kehidupan yang sederhana, bermakna, dan bertanggung jawab, dengan menekankan pentingnya penghidupan yang benar.[1][2] It encourages people to remain true to their cultural and spiritual heritage, avoiding materialistic pursuits.[1] Ekonomi Buddha mendorong manusia untuk tetap berpegang pada warisan budaya dan nilai-nilai spiritualnya, serta tidak terjebak dalam pengejaran materi semata.[1] Pekerjaan yang bersifat mekanis dan berulang hingga menghilangkan keterlibatan bermakna dari individu tidak dianjurkan. Sebaliknya, waktu luang yang berlebihan juga dipandang tidak selaras dengan kehidupan yang penuh kesadaran dan keseimbangan.[2] Ekonomi Buddhis mendorong terciptanya sistem yang menghargai serta mendukung pekerjaan yang bermakna, dilandasi kasih sayang, dan memberikan manfaat sosial, baik pekerjaan yang dibayar maupun yang tidak dibayar.[2][3]
Dalam bidang kesehatan
Bagi Buddhisme, kesehatan mental memiliki peranan yang sangat penting. Karena itu, setiap individu dianjurkan untuk menjaga dan meningkatkan kejernihan batin melalui praktik tanpa kekerasan, serta menjauhi perilaku seksual yang tidak pantas dan kebohongan.
Di sisi lain, tradisi Buddha juga mengakui adanya penyakit fisik. Rasa sakit, penderitaan, dan kematian dipandang sebagai bagian yang tidak terhindarkan dari kehidupan. Oleh sebab itu, penggunaan obat-obatan tidak dilarang selama tidak bersifat memabukkan atau mengganggu kejernihan pikiran.
Setiap penderitaan fisik dianjurkan untuk dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan, karena pengalaman tersebut dianggap dapat menjadi sarana refleksi diri dan perkembangan spiritual. Dalam pandangan Buddhisme, salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan adalah melalui pola makan yang baik, termasuk praktik vegetarianisme yang mencerminkan prinsip hidup tanpa kekerasan.
Buddhisme juga menaruh perhatian besar pada praktik puasa pada hari-hari tertentu sebagai sarana penyegaran jasmani dan rohani. Selain itu, transplantasi organ dipandang sebagai salah satu bentuk kemurahan hati dan pengorbanan yang luhur.
Seni Buddha berasal dari anak benua India pada masa beberapa abad setelah kehidupan historis Buddha Gautama pada abad ke-6 hingga ke-5 SM. Dari sana, seni Buddha berkembang melalui interaksi dengan berbagai kebudayaan lain seiring penyebaran agama Buddha ke seluruh Asia dan kemudian ke berbagai belahan dunia.
Pada tahap awalnya, seni Buddha di India bersifat anikonik, yakni menghindari penggambaran langsung sosok Buddha. Baru sekitar abad ke-1 M muncul fase ikonik, ketika Buddha mulai direpresentasikan dalam bentuk manusia. Setelah itu, seni Buddha terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan budaya-budaya lokal di wilayah tempat agama Buddha menyebar.
Perkembangannya meluas ke utara melalui Asia Tengah menuju Asia Timur dan melahirkan tradisi seni Buddha cabang utara, sementara penyebaran ke Asia Tenggara membentuk tradisi seni Buddha cabang selatan. Di India sendiri, seni Buddha mengalami perkembangan yang sangat pesat dan bahkan memberi pengaruh terhadap perkembangan seni Hindu. Namun, sekitar abad ke-10, keberadaan Buddhisme di India mulai mengalami kemunduran seiring menguatnya pengaruh Hindu dan masuknya Islam.
Dalam bentuk awal seni Buddha, Gautama Buddha tidak digambarkan dalam wujud manusia. Sebagai gantinya, kehadirannya dilambangkan melalui berbagai tanda dan simbol, seperti jejak kaki, singgasana kosong, atau pohon Bodhi.
Sejak abad ke-5 SM hingga abad ke-1 SM, para seniman India juga menciptakan berbagai karya yang terinspirasi dari kisah kehidupan historis Buddha maupun riwayat kehidupan-kehidupan beliau sebelumnya.[4]
Arsitektur keagamaan Buddha mulai berkembang pesat di Asia Selatan sekitar abad ke-3 SM. Pada masa awal, terdapat dua jenis bangunan utama yang berkaitan dengan tradisi Buddhisme, yaitu stupa dan vihara.
Stupa pada mulanya berfungsi sebagai tempat penghormatan sekaligus penyimpanan relik Gautama Buddha. Salah satu contoh stupa tertua yang masih bertahan hingga kini adalah Sanchi di Madhya Pradesh. Seiring berkembangnya praktik keagamaan Buddha, stupa kemudian diintegrasikan ke dalam chaitya-griha atau aula pemujaan stupa. Bentuk arsitektur ini mencapai puncak perkembangannya sekitar abad ke-1 SM, sebagaimana terlihat pada kompleks gua Ajanta Caves dan Ellora Caves di Maharashtra.
Sementara itu, vihara berkembang sebagai tempat tinggal para bhiksu dalam tradisi monastik Buddha yang semakin mapan dan terorganisasi. Salah satu contoh vihara kuno yang terkenal adalah Nalanda Mahavihara di Bihar.[5]
Awal perkembangan arsitektur Buddha dapat ditelusuri hingga sekitar tahun 255 SM, ketika Kaisar Maurya Ashoka menjadikan Buddhisme sebagai agama yang didukung oleh negara di wilayah kekuasaannya yang luas. Ia juga mendorong pembangunan berbagai monumen arsitektur sebagai sarana penyebaran ajaran Buddha ke berbagai daerah.[6]
Dalam bidang musik
Musik Buddhis adalah nyanyian yang digunakan atau terinspirasi oleh Buddhisme, termasuk berbagai genre dalam berbagai budaya. Ini meliputi:
Pelafalan Paritta , praktik melafalkan ayat-ayat suci tertentu dalam Buddhisme Theravada.
Fanbai dalam Buddhisme Tiongkok
Pengulangan nama Amitābha dalam Buddhisme Tanah Murni .
Shomyo dalam Buddhisme Tendai dan Shingon Jepang .
Nyanyian tenggorokan dalam nyanyian Buddha Tibet.
Nyanyian musikal, paling sering dalam bahasa Tibet atau Sansekerta, merupakan bagian integral dari agama ini. Nyanyian ini kompleks, seringkali berupa pembacaan teks-teks suci atau perayaan berbagai festival.
Dalam bidang kuliner
Buddhisme melarang alkohol dan zat-zat memabukkan lainnya karena dapat mengakibatkan pelanggaran terhadap lima sila moral lainnya: tidak membunuh, mencuri, melakukan perbuatan cabul, berbohong, atau mengonsumsi zat-zat memabukkan. Selain itu, zat-zat memabukkan mengaburkan pikiran dan mengganggu konsentrasi yang dibutuhkan untuk mencapai pencerahan.
Beberapa penganut Buddha Mahāyāna dan sekte-sekte di Tiongkok dan Vietnam menghindari makan bawang bombai, bawang putih, daun bawang, kucai, dan daun bawang prei. Rempah-rempah tersebut konon dapat menimbulkan amarah (mentah) dan nafsu (matang), dan baunya juga konon dapat mengusir Dewa dan menarik hantu lapar serta setan.
Referensi
123Schumacher, E.F. (1973). Small Is Beautiful: Economics as if People Mattered. Harper and Row.
123Brown, C. (2017). Buddhist Economics: An Enlightened Approach to the Dismal Science. Bloomsbury Press.
↑Norberg-Hodge, H. (1991). Ancient Futures: Learning from Ladakh. Sierra Club Books.
↑Achary Tsultsem Gyatso; Mullard, Saul & Tsewang Paljor (Transl.): A Short Biography of Four Tibetan Lamas and Their Activities in Sikkim, in: Bulletin of Tibetology Nr. 49, 2/2005, p. 57.