Kehidupan monastik
Bhikkhu Anālayo ditahbiskan sementara pada tahun 1990 di Thailand, setelah mengikuti retret meditasi di Wat Suan Mokkh, wihara yang didirikan oleh seorang biku Thailand abad ke-20 yang sangat berpengaruh, Ajahn Buddhadasa.[2] Pada tahun 1994, ia pergi ke Sri Lanka dengan harapan untuk bertemu Nyanaponika Thera setelah membaca bukunya yang berjudul The Heart of Buddhist Meditation.[2] Nyanaponika Thera wafat hanya beberapa hari sebelum kedatangan Anālayo, tetapi ia tetap tinggal dan belajar bersama Bhikkhu Bodhi.[2] Pada tahun 1995, ia mengambil pabbajjā lagi di bawah bimbingan Balangoda Ananda Maitreya Thero.[3] Ia menerima penahbisan upasampadā pada tahun 2007 dalam cabang dari ordo Shwegyin Nikāya di Sri Lanka (bagian dari Amarapura Nikāya utama), dengan Pemasiri Thera dari Sumathipala Aranya sebagai ācariya (guru penahbisan)-nya.[4] Bhikkhu Bodhi telah menjadi mentor utama Bhikkhu Anālayo dalam studi mengenai khotbah-khotbah (sutta) berbahasa Pali.[5] Mendiang Bhikkhu Kaṭukurunde Ñāṇananda juga memberikan pengaruh yang penting dalam pemahamannya tentang ajaran Buddha (Dhamma),[6] sementara Godwin Samararatne merupakan guru meditasi yang paling berpengaruh pada masa awal kehidupan praktiknya.[7]
Karier dan aktivitas cendekia
Bhikkhu Anālayo menyelesaikan tesis PhD mengenai Satipaṭṭhāna Sutta di Universitas Peradeniya pada tahun 2000, yang kemudian diterbitkan sebagai Satipaṭṭhāna, the Direct Path to Realization.[8] Selama menjalani masa studinya tersebut, ia mulai menyadari perbedaan-perbedaan menarik antara versi Kanon Pali dan Kanon Buddhis Tionghoa dari khotbah (sutta) buddhis awal tersebut. Hal ini mendorongnya untuk melakukan riset habilitasi di Universitas Marburg, yang selesai pada tahun 2007. Dalam riset tersebut, ia membandingkan khotbah-khotbah Majjhima Nikāya dengan paralelnya dalam versi bahasa Tionghoa, bahasa Sanskerta Hibrida Buddhis, dan Kanon Buddhis Tibet.[9] Pada tahun 2013, Anālayo kemudian menerbitkan Perspectives on Satipaṭṭhāna.[10] Melalui buku ini, ia mengembangkan karya sebelumnya dengan membandingkan versi-versi paralel dari Satipaṭṭhāna-sutta dan mengeksplorasi perspektif meditatif yang muncul ketika penekanan diberikan pada instruksi-instruksi yang menjadi titik temu di antara versi-versi kanonik yang ada sehingga secara logis dapat dianggap sebagai versi yang lebih awal.
Bhikkhu Anālayo telah menerbitkan tulisan secara ekstensif mengenai Buddhisme awal.[11] Studi tekstual atas khotbah-khotbah buddhis awal dalam perspektif komparatif merupakan landasan bagi minat dan riset akademisnya yang terus berlanjut.[12] Saat ini, ia menjabat sebagai kepala editor dan salah satu penerjemah untuk terjemahan bahasa Inggris pertama dari Madhyama Āgama berbahasa Tionghoa (Taishō 26),[13] dan telah merintis terjemahan bahasa Inggris yang integral untuk Saṃyukta Āgama berbahasa Tionghoa (Taishō 99), yang sejajar dengan koleksi Saṃyutta Nikāya Pali.[14]
Aspek teoritis dan praktis meditasi tetap menjadi pusat perhatian dalam aktivitas akademis Anālayo. Ia telah menerbitkan sejumlah artikel tentang meditasi pandangan terang (vipassanā) dan penyerapan meditatif (jhāna), serta menghubungkan berbagai tradisi meditasi kontemporer dengan sumber-sumber tekstualnya.[15]
Studi komparatifnya tentang teks-teks buddhis awal juga telah mengarahkan Anālayo untuk berfokus pada perkembangan historis pemikiran buddhis, dan untuk meneliti akar awal kemunculan ideal Bodhisatwa[16] beserta awal mula pemikiran Abhidharma.[17]
Bhikkhu Anālayo pernah menjadi pembicara pada Kongres Internasional tentang Peran Perempuan Buddhis dalam Sangha.[18] Eksplorasi mengenai sikap terhadap bikuni (biarawati buddhis) dalam teks-teks buddhis awal dan kisah pendirian ordo bikuni[19] telah memungkinkannya menjadi pendukung penahbisan bikuni, yang merupakan masalah kontroversial di dalam tradisi Theravāda dan Tibet.[20]
Bhikkhu Anālayo telah pensiun dari jabatannya sebagai profesor di Numata Centre for Buddhist Studies, Universitas Hamburg. Ia adalah salah satu pendiri Āgama Research Group, cendekiawan residen di Barre Center for Buddhist Studies[21], dan merupakan anggota dari Numata Centre for Buddhist Studies di Universitas Hamburg.
Anālayo telah menerbitkan kritikan terhadap beberapa guru dan gerakan Barat kontemporer, di antaranya Daniel Ingram, Rob Burbea, Stephen Batchelor, serta Buddhisme sekuler secara meluas.[22][23][24]