ENSIKLOPEDIA
Ayatana
| Terjemahan dari saḷāyatana | |
|---|---|
| Indonesia | enam landasan indra, enam ranah indra, enam fungsi kognitifcode: id is deprecated |
| Inggris | six cognitive functions, six sense bases, six sense spheres |
| Pali | saḷāyatanacode: pi is deprecated |
| Sanskerta | ṣaḍāyatanacode: sa is deprecated |
| Tionghoa | 六入, 六処code: zh is deprecated (Pinyin: liùrùcode: pny is deprecated ) |
| Jepang | 六入, 六処 code: ja is deprecated (rōmaji: rokunyū, rokushocode: ja is deprecated ) |
| Korea | 육입, 육처 code: ko is deprecated (RR: yuk-yip, yuk-tchercode: ko is deprecated ) |
| Tibet | skye.mchedcode: bo is deprecated |
| Thai | อายตนะ (RTGS: ayatana)code: th is deprecated |
| Vietnam | lục nhậpcode: vi is deprecated |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari seri tentang | |||||||||
| Buddhisme | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
Dalam Buddhisme, āyatana (Pāli; Sanskerta: आयतन) adalah sebuah "pusat pengalaman" atau "rumah mental,"[1] yang menciptakan pengalaman seseorang. Istilah yang berkaitan, saḷāyatana (Pāli; Skt.: ṣaḍāyatana) merujuk pada enam fungsi kognitif, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, kognisi tubuh, dan kognisi pikiran.[1]
Āyatana dapat merujuk pada pengalaman biasa dan rantai proses yang mengarah pada belenggu (saṃyojana), maupun pengalaman tercerahkan yang berpusat pada pelepasan dan pencapaian meditatif. Jalan Buddhis bertujuan untuk memindahkan seseorang dari pusat pengalaman indra yang biasa ke "rumah mental" dari perhatian-penuh (sati) yang dimurnikan dan dibebaskan dari jhāna.[2]
Secara tradisional, istilah āyatana diterjemahkan sebagai "landasan indra", "ranah indra", atau "media indra"[a] karena pengaruh dari pengomentar-pengomentar (penafsir) seperti Buddhaghosa.[3] Saḷāyatana secara tradisional dipahami sebagai rujukan pada enam indra, yakni pancaindra ditambah pikiran (mano).[b]
Etimologi
Āyatana (Pāli; Sanskerta: आयतन) adalah istilah Buddhis yang tidak memiliki definisi atau makna tunggal.[4] Kamus Pāli-Inggris PTS standar oleh Davids & Stede (1921) memberikan makna-makna berikut untuk āyatana:[5]
- regangan, luas, jangkauan, kompas, wilayah; ranah, lokus, tempat, titik; posisi, kesempatan
- pengerahan tenaga, perbuatan, kerja, praktik, pelaksanaan
- ranah persepsi atau indra secara umum, objek pemikiran, organ indra & objek; hubungan, tatanan
Meskipun āyatana biasanya diterjemahkan sebagai "landasan" atau "ranah,"[6] atau lebih spesifiknya sebagai "bidang indra,"[6] "landasan indra," "media indra," atau "ranah indra,"[a] menurut Ellis, "ini adalah terjemahan yang kurang memadai karena didasarkan pada tradisi Buddhis dan literatur komentar belakangan dan bukan pada pemahaman historis dari istilah tersebut."[6]
Dalam literatur Weda, āyatana "digunakan untuk tempat reguler, posisi, dll. yang ditempati oleh seseorang."[6] Dalam beberapa Upanishad, istilah ini merujuk pada "tempat tinggal" atau "tempat peristirahatan," atau "tempat bersandar bagi pikiran," yang mengindikasikan bahwa āyatana berarti "tempat pengalaman terjadi" atau "pusat pengalaman." Menurut Ellis, "pusat pengalaman" atau "rumah mental" adalah interpretasi yang lebih memadai daripada "landasan" atau "ranah."[7]
Ellis mencatat bahwa āyatana dalam sutta-sutta paling sering muncul dalam bentuk kata majemuk, yaitu saḷāyatana atau cha phassāyatanā, "enam āyatana dari pengalaman indrawi." Menurut Ellis, "Konteks ini begitu dominan sehingga penerjemah seperti Bodhi dan Walshe menerjemahkannya sebagai ‘landasan indra’ bahkan jika teks-teks Pāli hanya menyebutkan āyatana, dan bukan saḷāyatana."[1]
Ellis lebih lanjut mencatat bahwa saḷāyatana secara tradisional diinterpretasikan secara anatomis, dan dipahami merujuk pada pancaindra dan pikiran. Namun, menurut Olivelle, saḷāyatana alih-alih merujuk pada fungsi-fungsi kognitif,[c] dan oleh karena itu dipahami oleh Ellis sebagai rujukan pada penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, kognisi tubuh, dan kognisi pikiran.[1]
Dalam Tripitaka Pali
Di seluruh Tripitaka Pali, saḷāyatana dirujuk dalam ratusan diskursus.[d] Dalam berbagai diskursus ini, landasan indra diintegrasikan ke dalam berbagai daftar mnemonik.
Āyatana internal dan eksternal
| Figur 1: Enam Kelompok-Enam sesuai Tripitaka Pali: | |||||||||||||||
| landasan indra (āyatana) | → |
perasaan ︵vedanā︶ |
→ |
nafsu ︵taṇhā︶ |
|||||||||||
| organ indra "internal" |
<–> | objek indra "eksternal" |
|||||||||||||
| ↓ | ↓ | ||||||||||||||
| ↓ | kontak (phassa) | ||||||||||||||
| ↓ | ↑ | ||||||||||||||
| kesadaran (viññāṇa) |
|||||||||||||||
| |||||||||||||||
| Sumber: MN 148 (Thanissaro, 1998) | |||||||||||||||
Āyatana dirinci lebih lanjut menjadi enam āyatana internal[e] dan enam āyatana eksternal yang bersesuaian.[f] Bersama-sama mereka membentuk:[g]
- penglihatan ('mata') dan objek visual[h]
- pendengaran ('telinga') dan suara
- penciuman ('hidung') dan bau
- pengecapan ('lidah') dan rasa
- kognisi tubuh ('tubuh') dan sentuhan
- kognisi pikiran ('pikiran')[b] dan dhamma (objek mental)[i]
Dalam Suttapiṭaka, saḷāyatana ('enam pusat pengalaman', 'enam landasan indra', 'enam ranah indra') dirujuk dengan cara yang mirip dengan enam indriya indrawi. Indra-indra ini terdiri dari pancaindra (lima indra) ditambah dengan "pikiran" atau "batin" (mana) sebagai yang keenam.[10] Indriya juga merujuk pada lima indra spiritual, yang berkontribusi pada kondisi pikiran yang tercerahkan.
Lima gugusan
Berdasarkan enam pasangan āyatana ini, sejumlah faktor mental muncul, seperti yang dijelaskan dalam lima gugusan (pañcakkhandha). Dengan demikian, misalnya, ketika fungsi kognitif pendengaran ('telinga') dipicu oleh suara, kesadaran (viññāṇa) yang terkait muncul. Dengan kehadiran ketiga unsur (dhātu) ini – fungsi pendengaran, suara, dan kesadaran terkait fungsi pendengaran – "kontak" (phassa) muncul, yang pada gilirannya ditangkap sebagai "perasaan" atau "sensasi" (vedanā) yang menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral. Dengan perasaan, keinginan/kehausan (taṇhā) muncul. (Lihat Gambar 1.)
Pencacahan semacam itu dapat ditemukan, misalnya, dalam diskursus "Enam Kelompok Enam" (Chachakka Sutta, MN 148), dengan "enam kelompok enam" (enam organ indra, enam objek indra, enam jenis kesadaran spesifik indra, enam jenis kontak spesifik indra, enam jenis sensasi spesifik indra, dan enam jenis keinginan spesifik indra) diuji dan ditemukan kosong dari diri (anattā).[11]
|
Saḷāyatana termasuk dalam dua belas mata rantai (nidāna), sebuah daftar yang disusun dari beberapa sub-daftar termasuk kelima gugusan (khandha), yang menggambarkan proses kemenjadian (bhava).[12]
"Keseluruhan" (Sabba Sutta)
Dalam sebuah diskursus yang berjudul "Keseluruhan" (SN 35.23), Sang Buddha menyatakan bahwa tidak ada "keseluruhan [apa pun]" (sabbaṃ) di luar dari enam pasangan saḷāyatana.[j] Dalam diskursus terkodifikasi setelahnya (SN 35.24), Sang Buddha menguraikan bahwa "keseluruhan" tersebut mencakup lima kelompok yang masing-masing terkait dengan keenam āyatana, yakni: organ indra, objek, kesadaran (viññāṇa), kontak (phassa), dan perasaan (vedanā).[13] Referensi mengenai apa yang dimaksud dengan "keseluruhan" dapat ditemukan di sejumlah diskursus berikutnya.[14] Selain itu, literatur Abhidhamma dan literatur Pāli pasca-kanonik lebih lanjut mengonseptualisasikan saḷāyatana sebagai sarana untuk mengklasifikasikan seluruh faktor eksistensi.[15]
"Berkobar karena nafsu, kebencian, dan delusi"
Dalam diskursus "Ular Berbisa" (Āsīvisa Sutta, SN 35.197), Sang Buddha mengumpamakan saḷāyatana internal seperti "desa kosong" dan saḷāyatana eksternal seperti "bandit penjarah desa." Menggunakan metafora ini, Sang Buddha mengkarakterisasi organ-organ indra yang "kosong"[16] sebagai sedang "diserang oleh objek-objek indra yang menyenangkan & tidak menyenangkan."[17]
Di bagian lain dalam kumpulan diskursus yang sama (SN 35.191), Siswa Utama Sang Buddha, Sāriputta, mengklarifikasi bahwa penderitaan yang sesungguhnya terkait dengan organ-organ indra dan objek-objek indra tidak melekat pada saḷāyatana ini, melainkan disebabkan oleh belenggu (saṃyojana, di sini diidentifikasi sebagai "keinginan dan nafsu") yang muncul ketika ada kontak antara organ indra dan objek indra.[18]
Dalam "Khotbah Terbakar" (Ādittapariyāya Sutta atau Āditta Sutta, SN 35.28), yang disampaikan beberapa bulan setelah pencapaian pencerahan Sang Buddha, Sang Buddha mendeskripsikan semua saḷāyatana dan proses mental terkait dengan cara berikut:
- "Para bhikkhu, semuanya terbakar. Semuanya apa yang terbakar? Mata terbakar. Bentuk-bentuk (rūpa) terbakar. Kesadaran (viññāṇa) pada mata terbakar. Kontak (phassa) pada mata terbakar. Dan apa pun yang muncul bergantung pada kontak pada mata – dialami sebagai kesenangan, rasa sakit, atau bukan-kesenangan-maupun-rasa sakit (vedanā) – itu juga terbakar. Terbakar oleh apa? Terbakar oleh api kotoran batin (kilesa) berupa nafsu, api kebencian, api delusi. Terbakar, Aku katakan kepada kalian, oleh kelahiran, penuaan & kematian, oleh kesedihan, ratapan, rasa sakit, penderitaan, & keputusasaan."[19]
Pembebasan
Sang Buddha mengajarkan bahwa, untuk meloloskan diri dari bahaya-bahaya saḷāyatana, seseorang harus mampu mencerap saḷāyatana tanpa kotoran batin (kilesa). Dalam "Meninggalkan Belenggu" (SN 35.54), Sang Buddha menyatakan bahwa seseorang meninggalkan belenggu "ketika ia mengetahui dan melihat ... sebagai hal yang tidak kekal" (anicca) [saḷāyatana], objek-objek, kesadaran indra, kontak, dan sensasi.[20] Demikian pula, dalam "Mencabut Belenggu" (SN 35.55), Sang Buddha menyatakan bahwa seseorang mencabut belenggu "ketika ia mengetahui dan melihat ... sebagai tanpa-diri" (anattā) kelima rangkaian enam yang disebutkan di atas.[21]
Untuk memupuk jenis pengetahuan dan penglihatan yang menembus ini serta pembebasan yang dihasilkannya dari penderitaan, dalam Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10) Sang Buddha menginstruksikan para bhikkhu untuk bermeditasi pada saḷāyatana dan belenggu yang muncul secara bergantungan sebagai berikut:
- "Bagaimana, O para bhikkhu, seorang bhikkhu hidup merenungkan objek mental dalam objek-objek mental dari enam landasan indra internal dan enam eksternal?
- "Di sini, O para bhikkhu, seorang bhikkhu memahami mata dan bentuk-bentuk material serta belenggu yang muncul bergantung pada keduanya (mata dan bentuk-bentuk); ia memahami bagaimana munculnya belenggu yang belum muncul terjadi; ia memahami bagaimana ditinggalkannya belenggu yang telah muncul terjadi; dan ia memahami bagaimana tidak munculnya di masa depan dari belenggu yang telah ditinggalkan itu terjadi. [Dengan cara yang sama:] Ia memahami telinga dan suara ... organ penciuman dan bau ... organ pengecapan dan rasa ... organ sentuhan dan objek rabaan ... kesadaran dan objek mental....
- "Demikianlah ia hidup merenungkan objek mental dalam objek-objek mental ... dan tidak melekat pada apa pun di dunia ini."[22]
Dalam Empat Kebenaran Mulia, salah satu dari sekian banyak ringkasan tentang Jalan Buddhis menuju pembebasan, dukkha ('penderitaan') diamati muncul bersama keinginan (taṇhā, secara harfiah berarti 'kehausan'). Dalam rantai Kemunculan Bersebab, keinginan muncul bersama sensasi (vedanā) ketika saḷāyatana diaktifkan oleh kontak (phassa). Untuk melepaskan diri dari taṇhā dan dukkha, seseorang harus mengembangkan perhatian penuh (sati) dan pemahaman jernih (sampajañña) mengenai rantai peristiwa yang dipicu oleh saḷāyatana, dan mempraktikkan penahanan diri serta pelepasan melalui daya upaya benar (sammā-vāyāma) dan meditasi (jhāna).[k]
Ellis mencatat bahwa āyatana juga dapat merujuk pada berbagai tahapan meditasi (jhāna), dan "bahkan keadaan para guru Buddhis yang telah terbebaskan diistilahkan sebagai āyatana."[7] Dengan demikian, mereka juga merupakan "pusat pengalaman" atau "rumah mental," tempat keadaan pikiran normal seseorang ditinggalkan, dan seseorang berpindah ke kesadaran jhāna yang dimurnikan dan dibebaskan.[2]
Dalam kitab pasca-kanonik
Kitab Visuddhimagga, Vimuttimagga, kitab komentar,[23] serta kitab subkomentar yang terkait semuanya berkontribusi pada pengetahuan tradisional mengenai saḷāyatana.
Memahami organ-organ indra
Ketika Sang Buddha berbicara tentang "memahami" mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh, apa yang dimaksud?
Menurut kitab panduan meditasi Sinhala dari abad pertama Masehi, Vimuttimagga, organ-organ indra dapat dipahami dalam kerangka objek yang di-indra-kan, kesadaran (viññāṇa) yang dimunculkan, "materi sensorik/sensitivitas" yang mendasarinya, dan unsur pokok atau turunan terkait yang hadir "secara berlebih (dominan)."[24] Karakteristik-karakteristik ini dirangkum dalam tabel di bawah ini.
| organ indra |
objek indra |
kesadaran indra |
materi sensorik (sensitivitas) |
unsur yang berlebih |
|---|---|---|---|---|
| mata | objek visual | kesadaran visual | "...tiga cakram berdaging kecil di sekitar pupil, dan bagian putih serta hitam dari bola mata yang terdiri dari lima lapisan daging, darah, angin, dahak, dan serum, berukuran setengah kaskas (biji popi), seperti kepala kutu kecil...." | tanah |
| telinga | gelombang suara | kesadaran pendengaran | "...di bagian dalam kedua lubang telinga, dikelilingi oleh rambut kuning kecoklatan, bergantung pada selaput, bentuknya seperti batang kacang hijau-biru...." | suara |
| hidung | bau | kesadaran penciuman | "...di bagian dalam hidung, tempat ketiganya bertemu, bergantung pada satu celah kecil, berbentuk seperti bunga kovilāra...." | angin |
| lidah | rasa | kesadaran pengecapan | "...berukuran sebesar dua jari, bentuknya seperti seroja biru, terletak di daging lidah...." | air |
| tubuh | rabaan (sesuatu yang dapat disentuh) | kesadaran sentuhan | "...di seluruh tubuh, kecuali rambut tubuh dan kepala, kuku, gigi, dan bagian yang tidak sensitif lainnya...." | panas (atau ketiadaan panas) |
| Tabel 1. Karakterisasi Vimuttimagga mengenai organ-organ indra.[25] | ||||
Visuddhimagga dari abad kelima Masehi yang komprehensif memberikan deskripsi yang serupa, seperti "berukuran sebesar kepala kutu" untuk lokasi "sensitivitas" (pasāda) mata (juga dikenal sebagai, "organ perasa, agen indra, permukaan sensitif"),[26] dan "di tempat yang berbentuk seperti kuku kambing" mengenai sensitivitas hidung (Vsm. XIV, 47–52).[27] Selain itu, Visuddhimagga mendeskripsikan organ-organ indra dari segi empat faktor berikut:
- karakteristik atau tanda (lakkhaṇa)
- fungsi atau "rasa" (rasa)
- manifestasi (paccupaṭṭhāna)
- sebab terdekat (padaṭṭhāna)
Dengan demikian, misalnya, kitab Visuddhimagga mendeskripsikan mata sebagai berikut:
- Di sini, karakteristik mata adalah sensitivitas unsur pokok (mahābhūta) yang siap menerima benturan dari data visual; atau karakteristiknya adalah sensitivitas unsur pokok yang berasal dari kamma yang bersumber dari keinginan untuk melihat. Fungsinya adalah mengambil [suatu objek] di antara data visual. Termanifestasi sebagai tumpuan dari kesadaran mata. Sebab terdekatnya adalah unsur pokok yang terlahir dari kamma yang bersumber dari keinginan untuk melihat.[28]
Berkaitan dengan āyatana internal keenam yaitu pikiran (mano), subkomentar Pāli (yang diatribusikan kepada Dhammapāla) membedakan antara kesadaran yang muncul dari lima saḷāyatana fisik dan kesadaran yang muncul dari gagasan yang utamanya merupakan gagasan pasca-kanonik mengenai "kesinambungan hidup" atau "pikiran tak sadar" (bhavaṅga-mana):[29]
- "Dari kesadaran atau gugusan pikiran yang termasuk dalam proses kognisi kesadaran mata, hanya landasan mata [bukan landasan pikiran] yang menjadi 'pintu' kemunculan, dan landasan [indra eksternal] dari bentuk material tersebut adalah objek visual. Begitu pula halnya dengan yang lainnya [yakni, landasan indra telinga, hidung, lidah, dan tubuh]. Akan tetapi, dari landasan indra keenam, bagian dari landasan pikiran yang disebut kesinambungan hidup, pikiran bawah sadar, adalah 'pintu' asal...."[30]
Akar kebijaksanaan
Dalam risalah Visuddhimagga abad kelima Masehi, Buddhaghosa mengidentifikasi pengetahuan tentang saḷāyatana sebagai bagian dari "tanah" bagi kebijaksanaan (paññā) yang membebaskan. Komponen lain dari "tanah" ini termasuk gugusan (khandha), indriya, Empat Kebenaran Mulia, dan Kemunculan Bersebab (paṭiccasamuppāda).[31]
Konsep Buddhis terkait
- Gugusan (Pāli: khandha; Skt.: skandha):
Dalam berbagai sutta, gugusan-gugusan, unsur-unsur (lihat di bawah), dan saḷāyatana diidentifikasi sebagai "tanah" tempat tumbuhnya keinginan (taṇhā) dan kemelekatan (upādāna).[32] Secara umum, dalam Tripitaka Pali, gugusan bentuk materiel mencakup kelima organ indra materiel (mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh) serta objek indra yang terkait dengannya (bentuk visual, suara, bau, rasa, dan objek sentuhan); gugusan kesadaran terkait dengan organ indra pikiran; dan, gugusan mental (sensasi, persepsi, formasi mental) adalah objek indra mental.[33]
Baik gugusan maupun saḷāyatana diidentifikasi sebagai objek meditasi perhatian penuh (sati) dalam Satipaṭṭhāna Sutta. Dalam hal mengejar pembebasan, bermeditasi pada gugusan membasmi kemelekatan doktrin diri dan pandangan salah, sedangkan bermeditasi pada saḷāyatana membasmi kemelekatan pada kesenangan indra.[34]
- Kemunculan Bersebab (Pāli: paṭiccasamuppāda; Skt.: pratītyasamutpāda):
Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 di atas, keenam saḷāyatana (Pāli; Skt.: ṣaḍāyatana) menempati posisi kelima dalam dua belas mata rantai (nidāna) dari Kemunculan Bersebab dan dengan demikian juga berada pada posisi kelima di Roda Keberadaan (bhavacakka). Munculnya keenam saḷāyatana bergantung pada kemunculan objek material dan mental (Pāli, Skt.: nāmarūpa); dan, munculnya keenam saḷāyatana mengarah pada munculnya "kontak" (Pāli: phassa; Skt.: sparśa) antara saḷāyatana dan kesadaran (Pāli: viññāṇa; Skt.: vijñāna) yang menghasilkan perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan, dan netral (Pāli, Skt.: vedanā). - Unsur (Pāli, Skt.: dhātu):[35]
Delapan belas unsur mencakup kedua belas saḷāyatana. Delapan belas unsur ini adalah enam kelompok-tiga unsur yang tiap-tiap kelompok-tiga-nya terdiri dari satu objek indra (saḷāyatana eksternal), satu organ indra (saḷāyatana internal), dan kesadaran-organ-indra terkait dengannya (viññāṇa).[36] Dengan kata lain, delapan belas unsur terdiri atas kedua belas saḷāyatana dan enam kesadaran indra terkait. - Karma (Pāli: kamma; Skt.: karma):
Dalam diskursus Saṁyuttanikāya, Sang Buddha menyatakan bahwa enam landasan indra internal (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran) adalah "kamma lampau, yang harus dilihat sebagai sesuatu yang dihasilkan dan dibentuk oleh formasi-kehendak (saṅkhāra), sebagai sesuatu yang akan dirasakan."[37] Dalam diskursus ini, "kamma baru" dideskripsikan sebagai "tindakan apa pun yang dilakukan seseorang saat ini melalui tubuh, ucapan, atau pikiran." Melalui cara ini, saḷāyatana internal menyediakan tautan antara tindakan berkehendak kita dengan persepsi berikutnya.
Lihat pula
- Indriya—"indra, kemampuan", yang mencakup sekelompok "enam kemampuan sensorik" yang mirip dengan enam saḷāyatana
- Paññā (kebijaksanaan)
- Satipaṭṭhāna Sutta—mencakup meditasi yang menggunakan saḷāyatana sebagai objek meditasi
- Khandha—konstruk Buddhis yang serupa
- dua belas mata rantai (nidāna)—rantai penderitaan tanpa akhir dengan saḷāyatana sebagai mata rantai kelima
- Sutra Hati—Teks Mahāyāna yang menunjukkan āyatana dalam diskursus Mahāyāna
Catatan
- 1 2 "Landasan indra" digunakan misalnya oleh Bodhi (2000b) dan Soma (1999). "Media indra" digunakan oleh Thanissaro (mis., bd. [http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.149.than.html Thanissaro, 1998c]). "Ranah indra" digunakan misalnya oleh VRI (1996) dan disarankan oleh [https://archive.today/20120707190050/http://dsal.uchicago.edu/cgi-bin/philologic/getobject.pl?c.0:1:2840.pali Rhys Davids & Stede (1921–5), hlm. 105], yang definisi ketiganya untuk āyatana adalah:
- ranah persepsi atau indra secara umum, objek pemikiran, organ indra & objek; hubungan, tatanan. – [Aung & Rhys Davids (1910)], hlm. 183 dengan tepat mengatakan: 'āyatana tidak dapat diterjemahkan dengan satu kata bahasa Inggris pun untuk mencakup organ-organ indra (pikiran dianggap sebagai indra ke-6) dan objek-objek indra sekaligus'. – Oleh karena itu, āyatanāni (hubungan, fungsi, timbal balik) ini dibagi menjadi dua kelompok, yakni bagian dalam (ajjhattikāni) dan bagian luar (bāhirāni)....
- 1 2 Mano:
- Kata Pāli yang diterjemahkan di sini sebagai "pikiran" adalah mano. Terjemahan umum lainnya meliputi "intelek" (mis., Thanissaro, 2001a) dan "kesadaran" (mis., Soma, 1999). Dalam Suttapiṭaka, mano belum tentu merujuk pada semua pemrosesan mental. Proses mental pelengkap lain yang sering disebutkan termasuk "kesadaran" (viññāṇa) dan "keadaan mental" (citta). Meskipun demikian, di Abhidhammapiṭaka dan teks-teks belakangan, istilah-istilah ini pada waktu-waktu tertentu digunakan secara sinonim.
- Buddhisme dan epistemologi India lainnya mengidentifikasi enam 'pusat pengalaman', secara konvensional diinterpretasikan sebagai "indra"; maka jumlahnya berbeda dari identifikasi Barat atas lima indra. Dalam Buddhisme, "pikiran" menunjukkan 'pusat pengalaman', yang secara konvensional diinterpretasikan sebagai 'organ indra internal', yang berinteraksi dengan objek indra, termasuk kesan indra (phassa), perasaan (vedanā), persepsi (saññā), dan kehendak (saṅkhāra), yang semuanya tergabung ke dalam lima khandha. Lihat, misalnya, (Bodhi 2000a, hlm. 288), dan Hamilton (2001), hlm. 53: "... enam indra, termasuk salah satu yang berkaitan dengan aktivitas mental non-sensorik, diakui dalam Buddhisme dan aliran pemikiran India lainnya." (Pine 2004, hlm. 101) berpendapat bahwa skema ini mungkin mendahului Buddhisme, karena ia memiliki sepuluh anggota eksternal (telinga, suara, hidung, bau, lidah, rasa, tubuh, sentuhan) yang berkorespondensi dengan satu khandha eksternal tunggal (bentuk), dan hanya dua anggota internal (pikiran dan buah pikiran) yang berkorespondensi dengan empat khandha internal.
- ↑ Olivelle, The Early Upanishads: "Dalam membahas penglihatan dan pendengaran … [upanishad-upanishad awal] dengan jelas membedakan kekuatan atau tindakan melihat dan mendengar dari organ-organ eksternal masing-masing, yaitu mata dan telinga. Memang, mereka secara konsisten menggunakan istilah Sanskerta yang berbeda untuk keduanya—cakṣus dan śrotra untuk penglihatan dan pendengaran, serta akṣan dan karṇa untuk mata dan telinga, masing-masing."
- ↑ >Konsentrasi terbesar diskursus yang terkait dengan saḷāyatana berada di Saṁyuttanikāya, bab 35, yang berjudul "Kitab Enam Landasan Indra" (Saḷāyatanavagga). Misalnya, dalam edisi Saṁyuttanikāya oleh Bodhi (2000b), bab ini saja memiliki 248 diskursus. Entri Rhys Davids & Stede (1921–25) untuk "Āyatana" (hal. 105) juga menyebutkan diskursus-diskursus lain di setiap nikāya Pāli.
- ↑ Pāli: ajjhattikāni āyatanāni; juga dikenal sebagai, "organ", "gerbang", "pintu", "kekuatan" atau "akar"[8]
- ↑ Bāhirāni āyatanāni atau "objek indra"; juga dikenal sebagai visaya atau "domain."[9]
- ↑ Saḷāyatana pada umumnya digunakan dalam konteks dua belas mata rantai (nidāna) dari Kemunculan Bersebab (paṭiccasamuppāda); lihat [https://dsal.uchicago.edu/cgi-bin/philologic/getobject.pl?c.3:1:3909.pali Rhys Davids & Stede (1921–5), hlm. 699.] Saḷāyatana adalah mata rantai kelima dalam dua belas mata rantai (nidāna) dari paṭiccasamuppāda (Kemunculan Bersebab) dan dengan demikian sama posisinya di posisi kelima pada Roda Keberadaan (bhavacakka). Saḷāyatana (Gerbang Indra) bergantung pada Nama dan Bentuk (nāmarūpa) sebagai kondisi sebelum ia dapat ada: "Dengan Nama dan Bentuk sebagai kondisi, Gerbang Indra muncul." Saḷāyatana juga merupakan kondisi yang mendasari kondisi berikutnya dalam rantai tersebut, yaitu Kontak (phassa): "Dengan Gerbang Indra sebagai kondisi, Kontak muncul".
- ↑ Kata Pāli yang diterjemahkan di sini sebagai "objek visual" adalah rūpa. Dalam kaitannya dengan gagasan Buddhis tentang saḷāyatana, rūpa merujuk pada objek visual (atau objek yang dapat diketahui oleh mata melalui cahaya). Hal ini tidak boleh dikacaukan dengan penggunaan kata rūpa dalam kaitannya dengan gagasan Buddhis tentang gugusan (khandha) yang di dalamnya rūpa merujuk pada semua objek material, baik dunia maupun tubuh. Jadi, ketika membandingkan dua penggunaan rūpa ini, gugusan rūpa (rūpakkhandha) mencakup objek indra rūpa (rūpāyatana) serta empat objek indra material lainnya (suara, bau, rasa, dan sentuhan).
- ↑ Terjemahan lain yang sering terlihat untuk dhamma termasuk "fenomena mental" (mis., Bodhi, 2000b, hlm. 1135ff.), "pikiran," "gagasan" (mis., Thanissaro, 2001a) dan "isi pikiran" (VRI, 1996, hlm. 39) sementara beberapa penerjemah membiarkan kata ini tidak diterjemahkan karena nuansanya yang kompleks dalam literatur Pāli.
- ↑ Bodhi (2000b), hlm. 1140; dan, Thanissaro (2001b). Menurut Bodhi (2000b), hlm. 1399, n. 7, komentar Pāli mengenai Sabba Sutta menyatakan: "...[J]ika seseorang mengabaikan kedua belas saḷāyatana, ia tidak dapat menunjukkan fenomena nyata apa pun." Lihat juga Rhys Davids & Stede (1921–25), hlm. 680, entri "Sabba" yang di dalamnya sabbaṃ didefinisikan sebagai "(seluruh) dunia pengalaman-indra."<
- ↑ Bodhi (2005b), mulai pada menit 50:00. Bodhi (2005b) merujuk, misalnya, dalam sutta MN 149, Sang Buddha menginstruksikan:
- "...[M]engetahui & melihat mata sebagaimana adanya saat ini, mengetahui & melihat bentuk-bentuk [visual]... kesadaran pada mata... kontak pada mata sebagaimana adanya saat ini, mengetahui & melihat apa pun yang muncul terkondisi melalui kontak pada mata – yang dialami sebagai kesenangan, rasa sakit, atau bukan-kesenangan-maupun-rasa sakit – sebagaimana adanya saat ini, ia tidak tergila-gila pada mata... bentuk-bentuk... kesadaran pada mata... kontak pada mata... apa pun yang muncul.... Keinginan yang membuat keberadaan lebih lanjut – disertai dengan nafsu & kesenangan, menikmati ini & itu – ditinggalkan olehnya. Gangguan jasmaninya & gangguan mentalnya ditinggalkan. Siksaan jasmaninya & siksaan mentalnya ditinggalkan. Penderitaan jasmaninya & penderitaan mentalnya ditinggalkan. Ia sensitif baik terhadap kenyamanan tubuh & kenyamanan kesadaran..." (Thanissaro, 1998c).
Referensi
- 1 2 3 4 Ellis 2021, hlm. 2.
- 1 2 Ellis 2021, hlm. 3.
- ↑ Ellis 2020, hlm. 5.
- ↑ Aung & Rhys Davids 1910, hlm. 183.
- ↑ Ellis 2020, hlm. 1.
- 1 2 3 4 Ellis 2021, hlm. 1.
- 1 2 Ellis 2021, hlm. 2-3.
- ↑ Pine 2004, hlm. 102.
- ↑ Pine 2004, hlm. 103.
- ↑ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 122-23.
- ↑ Ñāṇamoli & Bodhi (2001), hlm. 1129–36; dan, Thanissaro (1998a).
- ↑ Perhatikan bahwa Dua Belas Sebab dan Enam Rangkaian Enam menggambarkan hubungan antara saḷāyatana dan kesadaran dengan cara yang berbeda. Terkait dengan hal ini, ada diskursus kanonikal yang mengedepankan model hibrida dari berbagai faktor psikofisik ini, seperti yang dijelaskan dalam "Khotbah Dunia" (Loka Sutta, SN 12.44) (Thanissaro, 1998b; dan, Bodhi, 2005a, hal. 358–59) yang di dalamnya enam "rangkaian enam" yang disebutkan sebelumnya (dari mata dan bentuk hingga keinginan) mengondisikan empat "sebab" terakhir (kemelekatan, keberadaan, kelahiran, usia tua & kematian) dan penderitaan. Merujuk pada ini dan diskursus "varian" serupa, Bodhi (2005a) mencatat:
- "Varian-varian ini memperjelas bahwa urutan faktor-faktor tersebut tidak boleh dipandang sebagai proses kausal linier yang di dalamnya setiap faktor sebelumnya melahirkan penerusnya melalui pelaksanan kausalitas efisien yang sederhana. Jauh dari kata linier, hubungan di antara faktor-faktor tersebut selalu kompleks, melibatkan beberapa untaian kondisionalitas yang saling berjalin." (Bodhi, 2005a, hlm. 316.)
- ↑ Bodhi (2000b), hlm. 1140; dan, Thanissaro (2001a).
- ↑ Misalnya, SN 35.25 hingga 35.29, termasuk "Khotbah Terbakar" yang terkenal (SN 35.28).
- ↑ Bodhi (2000b), hlm. 1122.
- ↑ Dalam konteks SN 35.197, istilah "kosong" mungkin hanya bermaksud menyampaikan makna "pasif." Ini juga bisa digunakan dalam arti Buddhis sebagai tanpa-diri, seperti dalam anatta (lihat). Faktanya, dalam SN 35.85, Sang Buddha menerapkan gagasan kekosongan ini (suññatā) pada seluruh saḷāyatana internal dan eksternal (Bodhi, 2000b, hlm. 1163–64; dan Thanissaro, 1997c).
- ↑ Bodhi (2000b), hlm. 1237–1239 (diskursus ini diidentifikasi sebagai SN 35.238); Buddhaghosa (1999), hlm. 490 (diskursus ini diidentifikasi sebagai S.iv,175); dan, Thanissaro (2004). Demikian pula, dalam sutta terakhir dari Saḷāyatanasaṃyutta Saṁyuttanikāya, yang berjudul "Berkas Gandum" (yang diidentifikasi Bodhi, 2000b, sebagai SN 35.248 dan Thanissaro, 1998d, sebagai SN 35.207), Sang Buddha menggambarkan organ-organ indra "dipukul" atau "dihantam" oleh objek-objek indra yang "menyenangkan dan tidak menyenangkan" (Bodhi, 2000b, hlm. 1257–59; Thanissaro, 1998d).
- ↑ Bodhi (2000b), hlm. 1230–1231 (diskursus ini diidentifikasi sebagai SN 35.232); dan, Thanissaro (1997b).
- ↑ Thanissaro, 1993. Untuk rujukan lain mengenai saḷāyatana sebagai "Semuanya," lihat Thanissaro (2001b) dan Thanissaro (2001a). Saḷāyatana adalah "semuanya/keseluruhan" sejauh apa yang kita ketahui tentang dunia diketahui melalui saḷāyatana.
- ↑ Bodhi (2000b), hlm. 1148.
- ↑ Bodhi (2000b), hlm. 1148. Untuk korespondensi antara ketidakkekalan dan tanpa-diri, lihat Tiga corak umum.
- ↑ Soma (1999), bagian yang berjudul, "Enam Landasan Indra Internal dan Enam Eksternal."
- ↑ Dalam kaitannya dengan komentar-komentar dan risalah-risalah Pāli, misalnya, terdapat tumpang tindih antara kitab Visuddhimagga dan komentar terhadap Dhammasaṅgaṇī (Atthasālinī) (misalnya, band. Vsm. XIV,49 [Buddhaghosa, 1999, hlm. 446] dan Asl. 310 [Rhys Davids, 1900, hlm. 178 n. 2]).
- ↑ Mengenai pendefinisian saḷāyatana dalam hal unsur primer yang berlebih, Visuddhimagga (Vsm. XIV, 42) memberikan kritik:
- "... Pihak lain mengatakan bahwa mata adalah sensitivitas dari [unsur pokok] tersebut yang memiliki api secara berlebih, dan bahwa telinga, hidung, lidah, dan tubuh adalah [sensitivitas] dari [unsur pokok] tersebut yang memiliki [secara berturut-turut] bukaan, angin, air, dan tanah secara berlebih. Mereka harus diminta untuk mengutip sutta. Mereka pasti tidak akan menemukannya." (Buddhaghosa, 1999, hlm. 444, par. 42.)
- ↑ Tabel ini didasarkan pada Upatissa et al. (1995), hlm. 238–240.
- ↑ Rhys Davids & Stede (1921–25), hlm. 446, entri untuk "Pasāda" (diakses 2008-04-16 dari "U. Chicago" di ).
- ↑ Buddhaghosa (1999), hlm. 445–6. Walaupun bab Visuddhimagga ini (XIV) sebenarnya merujuk pada lima gugusan, karakterisasi ini dirujuk di bab Visuddhimagga (XV) mengenai Landasan Indra (Buddhaghosa, 1999, hlm. 489, ayat 8).
- ↑ Vsm. XIV, 37 (terj. Buddhaghosa, 1999, hlm. 443; teks dalam kurung siku terdapat di teks asli). Teks Pāli (dari CSCD Burma, diakses 2008-04-16 dari "VRI" di http://www.tipitaka.org/romn/cscd/e0102n.mul2.xml) yang berkaitan dengan bagian ini adalah:
- Tattha rūpābhighātārahatappasādalakkhaṇaṃ daṭṭhukāmatānidānakammasamuṭṭhānabhūtappasādalakkhaṇaṃ vā cakkhu, rūpesu āviñchanarasaṃ, cakkhuviññāṇassa ādhārabhāvapaccupaṭṭhānaṃ, daṭṭhukāmatānidānakammajabhūtapadaṭṭhānaṃ.
- ↑ Mengenai bhavaṅga sebagai konsep yang utamanya pasca-kanonik, lihat Matthews (1995, hlm. 128) yang menyatakan: "Bhavaṅga tidak muncul di Suttapiṭaka, namun kemunculannya di Dhammasaṅgaṇī dan Paṭṭhāna memastikan bahwa hal ini mendapat banyak perhatian pasca-klasik dalam tradisi Theravāda." Ia lebih lanjut memperjelas hal ini di catatan akhir (hal. 140, n. 34): "... [W]alaupun bhavaṅga memang muncul di Abhidhammapiṭaka, barulah pada era pasca-klasik ia mendapatkan banyak perhatian." Mengutip Ñāṇamoli dan lainnya, Matthews (1995, hlm. 123) mendefinisikan "era klasik" sebagai "berakhir sekitar abad ke-4 Masehi," tepat sebelum "era agung dari komentar."
- ↑ Soma (2003), hlm. 133. Kutipan ini diambil dari subkomentar terhadap Majjhimanikāya, yaitu Līnatthapakāsanā Ṭīkā.
- ↑ Buddhaghosa & Ñāṇamoli (1999), hlm. 442–43.
- ↑ Lihat, misalnya, SN 35.91 ketika Sang Buddha memproklamasikan:
- "Sejauh apa pun, para bhikkhu, luasnya gugusan-gugusan, unsur-unsur, dan saḷāyatana, [seorang bhikkhu yang berpraktik dengan benar] tidak mengonsepsikannya, tidak mengonsepsikan di dalamnya, tidak mengonsepsikan darinya, tidak mengonsepsikan, 'Ini adalah milikku.' Karena ia tidak mengonsepsikan apa pun dengan cara demikian, ia tidak melekat pada apa pun di dunia. Tanpa kemelekatan, ia tidak tergoyahkan. Karena tidak tergoyahkan, ia secara pribadi mencapai Nibbāna..." (Bodhi, 2000b, hlm. 1171).
- ↑ Lihat, misalnya, Bodhi (2000b), hlm. 1122–24. Di luar kelima gugusan tersebut, Nibbana juga diidentifikasi sebagai "objek mental" yang dapat dicerap oleh "pikiran" (mano) (lihat, misalnya, Bodhi, 2000a, hlm. 288).
- ↑ Lihat, misalnya, Bodhi (2000b), hlm. 1124–26; dan, Bodhi (2005b), mulai pada menit 48:47. Lihat juga artikel tentang upadana untuk penjelasan Tripitaka Pali mengenai empat jenis kemelekatan: kesenangan indra, pandangan salah, ritus dan ritual, serta doktrin diri.
- ↑ Kata Pāli yang dirujuk di sini sebagai "unsur," dhātu, digunakan dalam pelbagai konteks di Tripitaka Pali. Misalnya, Bodhi (2000b), hlm. 527–8, mengidentifikasi empat cara berbeda. Istilah dhātu digunakan dalam hal "delapan belas unsur" dan dalam hal "empat unsur utama" (catudhātu).
- ↑ Dalam literatur Buddhis, ketika sebuah objek indra dan organ indra membuat kontak (Pāli, phassa), kesadaran indra pun muncul. (Lihat misalnya MN 148.)
- ↑ Bodhi (2005b), hlm. 1211–12. Lihat juga Thanissaro (1997a).
Sumber
- Utama
- Aung, S.Z.; Rhys Davids, C.A.F. (1910). Compendium of Philosophy (Translation of the Abhidhamm'attha-sangaha. Chipstead: Pali Text Society.
- Bodhi, Bhikkhu (2000a). A Comprehensive Manual of Abhidhamma: The Abhidhammattha Sangaha of Ācariya Anuruddha. Seattle, WA: BPS Pariyatti Editions. ISBN 1-928706-02-9.
- Bodhi, Bhikkhu (trans.) (2000b). The Connected Discourses of the Buddha: A Translation of the Saṁyuttanikāya. (Part IV is "The Book of the Six Sense Bases (Salayatanavagga)".) Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-331-1.
- Bodhi, Bhikkhu (2005a). In the Buddha's Words: An Anthology of Discourses from the Pali Canon. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-491-1.
- Bodhi, Bhikkhu (18 Jan 2005b). MN 10: Satipatthana Sutta (continued) (MP3 audio file) [In this series of talks on the Majjhimanikāya, this is Bodhi's ninth talk on the Satipatthana Sutta. In this talk, the discussion regarding the sense bases starts at time 45:36]. Available on-line at http://www.bodhimonastery.net/MP3/M0060_MN-010.mp3[pranala nonaktif permanen].
- Buddhaghosa, Bhadantācariya (trans. from Pāli by Bhikkhu Ñāṇamoli) (1999). The Path of Purification: Visuddhimagga. (Chapter XV is "The Bases and Elements (Ayatana-dhatu-niddesa)".) Seattle, WA: BPS Pariyatti Editions. ISBN 1-928706-00-2.
- Ñāṇamoli, Bhikkhu (trans.) & Bodhi, Bhikkhu (ed.) (2001). The Middle-Length Discourses of the Buddha: A Translation of the Majjhima Nikāya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-072-X.
- Rhys Davids, Caroline A.F. ([1900], 2003). Buddhist Manual of Psychological Ethics, of the Fourth Century B.C., Being a Translation, now made for the First Time, from the Original Pāli, of the First Book of the Abhidhamma-Piṭaka, entitled Dhamma-Saṅgaṇi (Compendium of States or Phenomena). Whitefish, MT: Kessinger Publishing. ISBN 0-7661-4702-9
- Pine, Red (2004). The Heart Sutra: The Womb of the Buddhas. Shoemaker & Hoard. ISBN 1-59376-009-4.
- Soma Thera (trans.) (1999). The Discourse on the Arousing of Mindfulness (MN 10). Available on-line at Satipatthana Sutta: The Discourse on the Arousing of Mindfulness.
- Soma Thera (2003). The Way of Mindfulness: English translation of the Satipaṭṭhāna Sutta Commentary. Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. ISBN 955-24-0256-5.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1993). Adittapariyaya Sutta: The Fire Sermon (SN 35.28). Available on-line at Adittapariyaya Sutta: The Fire Sermon.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1997a). Kamma Sutta: Action (SN 35.145). Available on-line at Kamma Sutta: Action.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1997b). Kotthita Sutta: To Kotthita (SN 35.191). Available on-line at Kotthita Sutta: To Kotthita.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1997c). Suñña Sutta: Empty (SN 35.85). Available on-line at Suñña Sutta: Empty.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1998a). Chachakka Sutta: The Six Sextets (MN 148). Available on-line at Chachakka Sutta: The Six Sextets.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1998b). Loka Sutta: The World (SN 12.44). Available on-line at Loka Sutta: The World.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1998c). Maha-salayatanika Sutta: The Great Six Sense-media Discourse (MN 149). Available on-line at Maha-salayatanika Sutta: The Great Six Sense-media Discourse.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1998d). Yavakalapi Sutta: The Sheaf of Barley (SN 35.207). Available on-line at Yavakalapi Sutta: The Sheaf of Barley.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (2001a). Pahanaya Sutta: To Be Abandoned (SN 35.24). Available on-line at Pahanaya Sutta: To Be Abandoned.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (2001b). Sabba Sutta: The All (SN 35.23). Available on-line at Sabba Sutta: The All.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (2004). Asivisa Sutta: Vipers (SN 35.197). Available on-line at Asivisa Sutta: Vipers.
- Upatissa, Arahant, N.R.M. Ehara (trans.), Soma Thera (trans.) and Kheminda Thera (trans.) (1995). The Path of Freedom (Vimuttimagga). Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. ISBN 955-24-0054-6.
- Vipassana Research Institute (VRI) (trans.) (1996). Mahāsatipaṭṭhāna Sutta: The Great Discourse on Establishing Mindfulness (Pali-English edition). Seattle, WA: Vipassana Research Publications of America. ISBN 0-9649484-0-0.
- Sekunder
- Ellis, Gabriel (2020), Āyatana in Early Buddhism (draft)
- Ellis, Gabriel (2021). "Āyatana, the Buddha's forgotten teaching". Academia Letters Article 749. doi:10.20935/AL749.
- Hamilton, Sue (2001). Indian Philosophy: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-285374-5.
- Matthews, Bruce (1995). "Post-Classical Developments in the Concepts of Karma and Rebirth in Theravāda Buddhism," in Ronald W. Neufeldt (ed.), Karma and Rebirth: Post-Classical Developments. Delhi, Sri Satguru Publications. (Originally published by the State University of New York, 1986). ISBN 81-7030-430-X.
- Rhys Davids, T.W. & William Stede (eds.) (1921–5). The Pali Text Society's Pali–English Dictionary. Chipstead: Pali Text Society. A general on-line search engine for the PED is available at http://dsal.uchicago.edu/dictionaries/pali/.
Pranala luar
- "Salayatana Vagga – The Section on the Six Sense Bases" dari Saṁyuttanikāya, di Access to Insight
- "Āyatana' in context", SuttaCentral Discuss & Discover
- Paṭiccasamuppāda Kemunculan yang Dependen terbitan Vijjākumāra di DhammaCitta, kumpulan esai tentang Kemunculan Bersebab oleh Nyanatiloka Mahāthera, Bhikkhu Bodhi, dan Bhikkhu Ṭhānissaro dalam terjemahan bahasa Indonesia
| Didahului oleh: Nāmarūpa |
12 mata rantai Saḷāyatana |
Diteruskan oleh: Phassa |