Kata Sanskerta dan Palibhava (Dewanagari: भव) berarti kemenjadian, penjelmaan, keberadaan/eksistensi, keberadaan duniawi, perwujudan, pemroduksian, asal;[1] juga berarti kecenderungan kebiasaan atau emosional dalam konteks tertentu.
Dalam Buddhisme, bhava adalah mata rantai kesepuluh dari dua belas mata rantai dalam Kemunculan Bersebab (paṭiccasamuppāda).[2] Ia adalah penghubung antar-punarbawa (kelahiran kembali).[3] Di dalam Tradisi Hutan Thai, bhava juga ditafsirkan sebagai kecenderungan kebiasaan atau emosional yang mengarah pada kemunculan rasa akan diri ("keakuan"), sebagai suatu fenomena mental.[4]
Dalam Buddhisme
Di dalam Buddhisme, bhava (bukan bhāva, yang malah berarti kondisi, alam) bermakna kemenjadian, penjelmaan, keberadaan/eksistensi,[5] keberadaan duniawi, perwujudan, pemroduksian, asal semula,[1] pengalaman;[3] dalam siklus kematian dan kelahiran kembali (samsara) karena suatu makhluk terkondisikan dan terdorong sedemikian rupa oleh akumulasi perbuatan berkehendaknya (kamma).[3] Kamus Concise Pali-English Dictionary mendefinisikannya sebagai keadaan eksistensi (bahasa Inggris: the state of existence).[6]
Istilah lain yang sejajar adalah bhāva (dengan ā panjang, bukan a pendek) yang berakar dari kata bhava, dan memiliki makna ganda dalam Sanskerta, yakni "pikiran, watak, dan karakter"; atau "emosi, sentimen, keadaan tubuh";[7][8] dan dalam beberapa konteks juga berarti kemenjadian, penjelmaan, keberadaan/eksistensi, kewujudan, penampakan (sekaligus menyiratkan kondisinya).[9] Kamus Concise Pali-English Dictionary mendefinisikan bhāva sebagai "kondisi (bahasa Inggris: condition); sifat-alamiah (Inggris: nature); kemenjadian (Inggris: becoming)."[6]
Bhava adalah mata rantai kesepuluh dari dua belas mata rantai dalam Kemunculan Bersebab (paṭiccasamuppāda), yang mendeskripsikan samsara, yaitu soklus berulang dari respons kebiasaan kita terhadap kesan-kesan indrawi yang mengarah pada pembaruan jāti (kelahiran). Kelahiran biasanya ditafsirkan sebagai kelahiran kembali di salah satu alam kehidupan, yakni alam surga, setengah dewa (asura), manusia, hewan, hantu kelaparan (peta), atau neraka dalam kosmologi Buddhis.[3] Di dalam Tradisi Hutan Thai, bhava juga ditafsirkan sebagai kecenderungan kebiasaan atau emosional yang mengarah pada kemunculan rasa akan diri, sebagai suatu fenomena mental.[4]
Di dalam kisah-kisah dari kitab Jātaka, Buddha Gotama secara didaktis mengingatkan beberapa pengikut-Nya atas pengalaman-pengalaman kehidupan yang mereka jalani bersama-Nya di kehidupan lampau. Para pendengar tersebut dikatakan tidak dapat mengingat kehidupan lampaunya karena bhava, yaitu karena telah lahir kembali.[10]
Dalam agama Hindu
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. (April 2026)
Bhava muncul dalam arti penjelmaan, keberadaan, wujud, kejadian, penampakan dalam literatur Vedanga Shrauta Sutra, kitab-kitab Upanisad seperti Shvetashvatara Upanishad, Mahabharata, dan teks-teks Hindu kuno lainnya.[9]
12Monier Monier-Williams (1899), Sanskrit English Dictionary, Oxford University Press, Arsip: भावDiarsipkan 13 March 2016 di Wayback Machine., bhAva
↑Caroline A.F. Rhys Davids, Stories of the Buddha (Being Selections from the Jātakas), 1989, Dover Publications, Introduction, hlm. xix, lihat juga hlm. 2, 6, 11, dst.