Pada tahun 1799, empat kapal dari Kota Pontianak, Kesultanan Pontianak tiba di Jembrana dan disambut oleh Raja Jembrana yakni Putu Seloka. Rombongan tersebut dipimpin oleh Syarif Abdullah Yahya al-Qadri dan membawa ulama dari Terengganu yakni Muhammad Ya'qub. Oleh Raja Jembrana, rombongan tersebut diizinkan tinggal di tanah seluas 80 hektar di Loloan Barat dan Loloan Timur.[1][2]
Namun menurut sesepuh Loloan, Haji Achmad Damannuri, perkembangan masyarakat Melayu Bali merupakan akibat pertemuan antara orang Bugis yang melarikan diri awalnya ke Perancak, Jembrana dari pengejaran VOC di Makassar pada 1653 dengan ulama asal Sarawak, Buyut Lebai, pada 1675 yang mengajarkan agama Islam menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Orang-orang Bugis tersebut kemudian mendapat persetujuan dari Jembrana untuk menempati daerah Loloan.[3]
Kajian lain yang dilakukan akademisi Universitas Udayana sepaham dengan penuturan Haji Achmad Damannuri mengemukakan bahwa suku Melayu Bali merupakan akibat perkawinan campur antara suku Bugis yang diizinkan menetap di Loloan dengan suku Bali yang tinggal di sekitarnya. Gelombang kedua pembentukan identitas Melayu Bali di Loloan diterangkan pada kedatangan pendatang dari Pontianak yang juga berujung pada perkawinan campur.[4] Menurut sumber lain menuliskan bahwa perbedaan antara mayoritas suku Bali yang Hindu dengan pendatang Muslim justru berdampak pada pengucilan kaum pendatang tersebut.[2]
Kebudayaan
Menurut koran Utusan Malaysia, sekitar 75 persen dari sekitar 60 ribu penduduk Melayu Bali di Loloan masih menggunakan bahasa Melayu.[1] Namun varian bahasa Melayu yang digunakan tersebut telah diadaptasi dan dipengaruhi bahasa Bali sehingga juga disebut sebagai base Loloan atau omong kampung.[3][4] Hidangan khas masyarakat Melayu Bali adalah plecing ayam kampung dan kopyor yang terutama dihidangkan pada bulan Ramadan.[3] Mayoritas suku Melayu Bali menganut agama Islam. Kepercayaan beberapa masyarakat suku Melayu Bali turut dipengaruhi oleh animisme dan takhayul.[2]
Rumah-rumah panggung Melayu masih digunakan masyarakat Melayu Bali di Loloan tetapi jumlahnya hanya tinggal beberapa puluh unit saja. Menurut budayawan dan sesepuh Loloan, Haji Musadat, keturunan Melayu Bali saat ini lebih memilih membangun rumah dengan arsitektur modern dan menjual rumah panggung yang dibagikan sebagai warisan.[1][5] Pintu depan rumah panggung Loloan menghadap ke timur untuk mencegah penghuninya terganggu saat salat yang berkiblat ke barat.[2]