Dalam buku Esuriun Orang Bati (2013), disebutkan bahwa masyarakat Bati tersebar di 27 desa, khususnya di kecamatan Kian Darat, salah satunya adalah Bati Kelusi. Jumlah orang Bati yang tercatat pada waktu itu sekitar 8.000 orang.[1] Mereka diklasifikasikan sebagai kelompok masyarakat Alifuru.[6]
Agama
Sebagian besar orang Bati adalah Muslim.[7] Meskipun demikian, mereka masih dipengaruhi oleh kepercayaan tradisional yang diwariskan dari nenek moyang mereka.[8]
Masyarakat dan pemukiman
Suku Bati terbagi menjadi komunitas-komunitas kecil dan pemerintahan adat mereka berbentuk dusun atau desa (wanuya). Bati Kelusi konon merupakan pemukiman awal tempat terbentuknya suku Bati, dan lokasinya paling jauh dari semua pemukiman Bati lainnya.[9]
Dari Bati Kelusi, sebagian penduduknya pindah dan menyebar membentuk klan atau pemukiman baru seperti Bati Rumbouw, Bati Rumoga, Bati Tabalean, Bati Kelsaur, Bati Kilwouw, Bati Sayei, dan beberapa pemukiman kecil lainnya. Meskipun demikian, semua orang Bati masih tinggal di sekitar Pegunungan Bati.[9]
Mata pencaharian
Masyarakat Bati bergantung pada hasil kebun dan hutan mereka untuk penghidupan. Mereka mencari nafkah dengan berburu dan berkebun. Produk pertanian mereka terutama berupa kelapa, sagu, pala, dan cengkeh, tetapi juga cabai, tomat, sayuran, singkong, dan ubi jalar.[10]