Populasi suku ini hampir punah. Jumlah populasi yang masih hidup pada tahun 1979 hanya 15 orang. Jumlah mereka adalah yang terkecil di antara kelompok etnis di sekitarnya.[3] Karena jumlah mereka yang sedikit, mereka berasimilasi dan selalu hidup atau bermukim bersama dengan orang Kawit yang merupakan sub-suku Moi. Oleh karena itu, mereka terkadang juga disebut sebagai orang Kawit. Mereka umumnya beragama Kristen Protestan.[1]
Distribusi geografis
Suku Duriankari saat ini sebagian besar berasimilasi dengan suku Kawit. Kampung yang mereka huni, Duriankari, sebagian besar dihuni oleh suku Kawit, yang mencakup 70% dari keseluruhan populasi kampung tersebut. Kampung Duriankari terletak di bagian selatan Pulau Salawati.[4]
Bahasa Duriankari, yang sekarang telah punah, dituturkan di sebuah desa di bagian selatan Salawati, yang diperkirakan berkerabat dengan bahasa Inanwatan di pantai selatan Kepala Burung. Kedua kelompok tersebut (Duriankari dan Seget) merupakan hasil migrasi baru-baru ini ke Kepulauan Raja Ampat. Namun, terdapat bukti linguistik yang kuat bahwa bahasa non-Austronesia digunakan di kepulauan tersebut sebelum kedatangan penutur bahasa Austronesia.[5]