Budaya
Suku Rongga kurang dikenal jika dibandingkan dengan kelompok etnis tetangganya yang lebih dominan, yaitu Manggarai dan Ngada. Akan tetapi, mereka juga diakui sebagai kelompok etnis tersendiri karena memiliki budaya khas yang tidak dimiliki oleh kelompok etnis lainnya, meskipun terkadang dianggap sebagai sub-suku Manggarai.
Tari vera
Salah satu budaya suku Rongga adalah sebuah tarian tradisional yang dikenal sebagai tari vera. Tari vera merupakan tarian yang umumnya ditampilkan pada acara khusus, yaitu musim tanam, dan selalu dipentaskan di rumah-rumah adat suku Rongga. Tarian ini muncul karena adanya cerita dari suku Rongga, di mana pada jaman dahulu kala ada bayi kembar siam yang lahir, keduanya berjenis kelamin perempuan, di mana kepalanya saling menempel dan tidak dapat dipisahkan.[3] Seiring berjalannya waktu, karena kondisi fisik kelahiran yang tidak normal, salah satu dari kembar tersebut meninggal karena sakit. Setelah salah satu dari mereka meninggal, hal ini menjadi sulit bagi anak yang masih hidup karena bagian tubuh yang meninggal tidak dapat dihilangkan. Akhirnya atas permintaan sang anak, ia dikubur hidup-hidup.[3] Jadi, tarian ini menggambarkan kesedihan.
Tari Vera juga akan digelar jika ada kelahiran bayi kembar beda jenis kelamin, dan juga sebagai bagian dari ritual pemakaman orang-orang penting dalam suku Rongga, seperti pemimpin suku, pemimpin agama, dan lain-lain. Namun, dalam perkembangannya tarian ini juga akan dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan yang datang ke wilayah suku Rongga di Manggarai Timur.[4]
Tarian ini biasanya dibawakan oleh sekelompok orang dewasa, terdiri dari pria dan wanita. Penari wanita disebut daghe dan penari pria disebut woghu.[5] Tarian ini dilakukan dalam dua baris, dengan penari wanita di depan dan penari pria di belakang. Ada seorang pemimpin yang mulai menyanyikan sebuah lagu, dan diikuti oleh daghe. Para penari akan berpegangan tangan dan berjalan berkeliling hingga bait lagu selesai dinyanyikan. Nama "vera" dalam bahasa Rongga diyakini berasal dari kata pera yang berarti 'wasiat leluhur'. Pesan-pesan leluhur disampaikan dalam tari vera ini, dan diharapkan dapat dilestarikan secara turun-temurun di kalangan suku Rongga.[5]
Pada tahun 2018, tari vera juga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.[4] Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur, mendorong pelestarian budaya khas Nusa Tenggara Timur, termasuk tarian tradisional, setelah nama Pulau Komodo dan destinasi wisata Taman Nasional Komodo menjadi favorit di mata wisatawan mancanegara, dan tari vera sebagai tarian penyambutan tamu dan wisatawan, juga menjadi daya tarik bagi wisatawan.[2]
Watu Susu
Watu Susu merupakan salah satu situs warisan budaya dan sejarah suku Rongga di Manggarai Timur. Watu Susu merupakan dua buah batu berukuran cukup besar dengan tinggi sekitar 15 meter dan lebar sekitar 11 meter yang berdiri terpisah satu sama lain. Batu ini diberi nama Watu Susu karena bentuknya yang menyerupai payudara wanita (susu), namanya berasal dari bahasa Rongga, yang secara harfiah berarti 'batu yang berbentuk seperti susu atau payudara wanita'.[6]
Dalam cerita adat setempat, terdapat cerita tentang Watu Susu. Menurut tradisi suku Rongga, batu besar ini diambil dari sebuah kampung bernama Watu Lajar. Batu ini dibawa untuk dijadikan pintu masuk tertutup menuju Gunung Komba sebagai upaya mengantisipasi serangan dari Kedaluan Todo.[6] Konon, orang Rongga tinggal di puncak Gunung Komba. Saat itu, wilayah Rongga diperintah oleh dua bersaudara, yaitu Nai Pati dan Jawa Tu. Mereka mengutus delapan orang dari suku Rongga untuk mengambil batu tersebut ke Watu Lajar. Setiap batu dibawa oleh empat orang dan batu tersebut harus mencapai puncak gunung sebelum matahari terbit, dan tidak boleh mengalihkan perhatian jika mereka menemui sesuatu yang menghalangi mereka selama perjalanan.[6]
Namun, ternyata ada satu orang yang tergabung dalam rombongan tersebut, yakni Jou yang melanggar ketentuan tersebut. Jou menangkap seekor anjing di jalan, sekitar 50 meter di sebelah timur Gunung Komba. Karena membuang-buang waktu, mereka belum sampai di perkampungan suku Rongga, akhirnya anjing itu mengaum keras dan matahari pun terbit. Mereka tiba-tiba melihat batu itu menjadi sangat besar dan sangat sulit bagi mereka untuk mengangkatnya lagi.[6]
Karena batu itu tidak sampai ke puncak Gunung Komba, maka Kedaluan Todo dengan mudah menaklukkan perkampungan suku Rongga yang berada di puncak Gunung Komba. Perang antara suku Rongga dan Kedaluan Todo ini dikenal dengan nama Perang Komba.[6] Jadi, Watu Susu ini merupakan batu peringatan bagi suku Rongga dalam berperang melawan Kedaluan Todo di masa lampau.
Kepok
Selain tari vera yang digunakan sebagai tarian penyambutan tamu, ada satu lagi tradisi penyambutan tamu yang merupakan ciri khas suku Rongga, yaitu kepok. Kepok merupakan ritual adat suku Rongga dalam menyambut tamu istimewa yang datang ke perkampungan suku Rongga.[7] Kepok berarti sapaan dalam bahasa setempat.[8] Penyambutan tamu ini biasanya dilakukan oleh tetua adat yang laki-laki, tetapi tidak ada aturan yang mengharuskan laki-laki. Pada waktu-waktu tertentu, kaum perempuan juga terkadang dilibatkan dalam pelaksanaan ritual kepok. Penyambutan ini dilaksanakan di perbatasan wilayah menuju wilayah yang dihuni oleh suku Rongga atau bisa juga di bandar udara untuk menyambut kedatangan Kepala Negara.[9]
Dalam ritual ini, tetua suku Rongga akan menyediakan tawu (tempat atau wadah arak yang dibuat oleh tetua adat) dan seekor ayam jantan putih.[8] Tawu merupakan pertanda bahwa mereka sangat ramah dan menyambut setiap tamu yang datang dari jauh dengan menyediakan minuman karena tamu pasti akan merasa haus di perjalanan. Sedangkan ayam merupakan lambang untuk menjamu tamu yang hadir, artinya tamu yang hadir hendaknya dijamu ketika datang berkunjung, tetapi karena yang hadir adalah orang dewasa maka diganti dengan ayam sebagai simbol belaka. Setelah itu para tamu akan berbaris, jumlah barisnya disesuaikan dengan jumlah tamu. Para tetua adat akan dipimpin oleh seorang pemimpin ritual, dan di belakang mereka akan ada beberapa tetua adat lainnya. Dalam tradisi tersebut, tetua adat terkadang menunggangi kuda untuk menyambut tamu, tetapi tidak harus menggunakan kuda.[7]
Setelah barisan sudah tersusun, maka pemimpin upacara kepok akan mengalungkan kain songket pada leher tamu wanita dan topi khas Rongga pada tamu pria, dan akan mengucapkan kata sambutan dengan menggunakan bahasa Rongga, dan akan dijawab oleh perwakilan salah satu tamu yang disambut.[7] Selanjutnya tawu yang berisi arak akan diberikan kepada para tamu dan harus diminum secara bergantian. Setelah itu ayam jago akan diberikan kepada tamu dan dipegang dan dipegang secara bergiliran.[8] Setelah itu dilakukan konvoi bersama rombongan tamu menuju lokasi atau tempat singgah para tamu. Ritual Kepok semakin populer di Manggarai Timur, sebagai warisan budaya khas suku Rongga.[7]