Sejarah
Secara historis, Pulau Gebe dan pulau-pulau lain yang dihuni oleh suku Gebe merupakan wilayah bagian dari Kesultanan Tidore, yang dipimpin secara lokal oleh seorang Sangaji Gebe. Awalnya, terdapat dua kelompok berbeda yang tinggal di Pulau Gebe, yaitu Wetef dan Wagiya. Seiring waktu, kedua kelompok tersebut berevolusi dan menghasilkan empat klan (keret), yaitu Umsipiyat, Umsandin, Umlati, dan Umsero, sehingga membentuk masyarakat awal suku Gebe.[4] Batas tanah ulayat masyarakat Gebe di Pulau Gebe dapat ditelusuri melalui pernyataan yang dikeluarkan oleh Sultan Tidore ke-32, yaitu Sultan Achmadul Mansur Sirajuddin Syah (1821–1856), tertanggal 6 Rajab 1241 H.[5]
Sebelum Islam tiba pada abad ke-15 hingga ke-16, atau paling lambat abad ke-17, kelompok penduduk awal Pulau Gebe percaya pada kekuatan gaib dan tinggal di gua-gua,[5] serta mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok.[6] Konon, setiap hari mereka saling membunuh dan memakan satu sama lain. Berdasarkan legenda setempat, sekelompok orang datang dari Makkah untuk menyebarkan agama Islam. Namun setelah tiba, mereka dibunuh satu per satu oleh penduduk Pulau Gebe dan tidak ada yang tersisa. Barulah beberapa tahun kemudian, seorang ulama dari Palembang, Abdul Manaf, tiba di Pulau Gebe dan berhasil mengeluarkan mereka dari gua serta mengislamkan sebagian dari mereka.[5]
Masuknya agama Islam ke Gebe yang dibawa oleh Abdul Manaf, berkontribusi pada pembangunan pemukiman permanen pertama suku Gebe yang sekarang menjadi desa Sanafi. Sanafi adalah desa pertama di Pulau Gebe, tetapi karena seringnya terjadi konflik internal, beberapa penduduk melarikan diri dan membangun desa di tempat lain. Kemudian terbentuklah desa Umera, Umiyal, dan Yam. Dalam peta Landschap Tidore yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1932, tercatat tiga desa di Pulau Gebe, yaitu Senafi (Sanafi), Oemera (Umera), dan Oemyal (Umiyal) di bawah Onderafdeling Weda.[7] Sementara itu, desa Kacepi, Kapaleo, Sanafkacepo, dan Elfanun terbentuk setelah kedatangan PT. Aneka Tambang (Antam) pada tahun 1979. Sejak didirikan, konflik horizontal antara masyarakat asli Gebe dan pendatang (pekerja Antam) sering terjadi akibat sengketa yang belum terselesaikan.[5]
Kedatangan orang Gebe ke Pulau Gag pertama kali tercatat pada tahun 1940-an, terutama dari desa Umera di ujung tenggara Pulau Gebe. Namun, hingga kini status mereka belum diakui sebagai masyarakat hukum adat Papua.[8] Awalnya mereka datang untuk mencari dan membuka lahan pertanian untuk berkebun.[9] Masyarakat suku Gebe di Pulau Gag hidup berdampingan dengan penduduk asli Papua lainnya, yaitu suku Biak Betew dan Ma'ya.[10] Secara historis, masyarakat Gebe memiliki hubungan penting dengan komunitas-komunitas di sepanjang pesisir timur Halmahera hingga Semenanjung Kepala Burung di Papua. Hal ini, karena suku Gebe sebagai masyarakat maritim telah bermigrasi melintasi pulau-pulau, mengembangkan budaya dan identitas sosial mereka sendiri yang unik.[11] Pengelompokan sosial di Pulau Gag, yang didominasi oleh suku Gebe, didasarkan pada kepemilikan tanah. Kepemilikan dan penguasaan lahan umumnya didominasi oleh penduduk asli Pulau Gag, yang terdiri dari 6 klan (keret), yaitu Umsipiyat, Umsandin, Magtublo, Magimai, Magbow, and Umlil. Kepemilikan tanah di Pulau Gag bersifat turun-temurun dan tidak diperjualbelikan.[9]