ENSIKLOPEDIA
Suku Komering
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Suku Komering" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR |
Jolma Komoring / Jolma Kumoring Jelma Kemering / Jelma Kumering | |||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Jumlah populasi | |||||||||||||||||
| 370.119[1] (2010) | |||||||||||||||||
| Daerah dengan populasi signifikan | |||||||||||||||||
| Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Kabupaten Ogan Komering Ilir | |||||||||||||||||
| Bahasa | |||||||||||||||||
| Bahasa Komering dan Bahasa Palembang[a] | |||||||||||||||||
| Agama | |||||||||||||||||
| Kelompok etnik terkait | |||||||||||||||||
| Lampung • Ogan • Kayuagung • Daya • Palembang | |||||||||||||||||
Suku Komering[a] adalah salah satu suku bangsa asli Sumatera Selatan yang mendiami sepanjang aliran Sungai Komering.[3] Tanah air suku Komering meliputi wilayah administrasi Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ulu Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Dewasa ini, populasi Komering dapat dijumpai dalam jumlah signifikan di Kota Palembang serta kabupaten-kabupaten lain di Sumatra Selatan. Sebagian pula telah berdiaspora dan menetap di kota-kota di Jawa, Kalimantan, hingga mancanegara.
Etimologi
Kata "Komering" mulai dipopulerkan oleh orang Belanda sebagai "khemering" yang berasal dari kata Kembiring dan juga berarti sejenis makhluk gaib, seperti meniru harimau. Sejauh ini, tidak ada dokumen yang ditemukan menghubungkan penyebutan Khemering oleh orang Belanda dengan makam Komering Singh. Meski sudah melekat nama Komering, tetapi sebagian orang beranggapan bahwa suku yang tinggal di sepanjang Sungai Komering lebih tepat disebut suku Semendawai (Saigantha et al., 2019).
Pada masa sebelum 600 M, ada suku di pedalaman Sumatera Selatan yang disebut suku Sakala Bhra (kuno), artinya ialah titisan Tuhan. Suku tersebut hidup di wilayah pegunungan sekitar Gunung Semuning dan lembah utara, daerah perbatasan Sumatera Selatan dan Lampung. Suku ini terbagi 2 bagian kelompoknya, kelompok pertama tinggal di daerah sekitar Gunung Shiminnon, kemudian turun ke lembah utara hingga Lampung. Kemudian sebagian dari mereka turun ke daerah hilir di sepanjang sungai di bagian atas Sumatera Selatan, yang pada waktu itu disebut suku Samanda Di Way, artinya orang-orang yang mengikuti sungai dan akhirnya sampai di Minanga (kuno). Suku inilah yang kemudian menjadi asal muasal Suku Daya, Komering, Ranau dan suku-suku lainnya dalam kutipan Van Royen tahun 1927 (Astuti & Hidajat, 2021).
Asal-usul
section ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Suku Komering" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR (November 2025) |
Suku Komering berasal dari peradaban yang ada di lembah Bukit Barisan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), tepatnya di antara lereng Gunung Pesagi dan Gunung Seminung dekat tepian Danau Ranau. Pada awal abad masehi di lembah ini berdiri unit masyarakat yang bernama Suku Tumi. Sebelum berdirinya pemerintahan yang lebih tertata, orang-orang Suku Tumi dipimpin oleh kepala Suku yang bernama Buwai Tumi. Pada abad ke-3 Masehi Suku Tumi mendirikan tatanan sosial sederhana serupa dengan kerajaan yang bernama Sekala Brak.[butuh rujukan]
Nama atau penyebutan Sekala Brak memiliki beragam versi, di antaranya:[butuh rujukan]
- Sekala Bhra yang berarti titisan dewa. Terkait dengan Sekala Brak Hindu.
- Segara Beghak yang bermakna genangan air yang luas. Berkenaan dengan Danau Ranau yang tidak jauh dari Kerajaan Sekala Brak.
- Sekala Bekhak yang berarti tumbuhan Sekala. Merujuk pada tumbuhan Amomum blumeanum valento atau tanaman sejenis jahe-jahean yang banyak tumbuh di daerah tersebut.
Namun, apapun itu tentang teori etimologi mengenai istilah Sekala Brak, berpulang pada paradigma kajian masing-masing. Keragamanan teori etimologi menjadi kekayaan kajian akan peradaban Suku Tumi. Yang sudah bisa dipasti adalah pendiri Sekala Brak bernama Raja Buwai Tumi (William Marsden, Sejarah Sumatera, 2008). Suku Tumi sebelum berinteraksi dengan agama Hindu menganut kepercayaan lokal semacam animisme atau dinamisme. Suku Tumi mensucikan sebuah pohon bernama Lamasa atau Belasa Kepampang. Pohon ini memiliki dua (2) cabang, yaitu cabang nangka dan cabang sebukau, yang keduanya mengandung getah (R. Sudradjat, dkk., Sistem Pemajemukan Bahasa Lampung Dialek Abung, 1991). Apabila terkena getah cabang sebukau, akan terkena penyakit kulit dan akan sangat berbahaya jika dibiarkan. Akan tetapi penyakit tersebut akan sembuh jika diolesi oleh cabang nangka. Dua (2) cabang dengan dua (2) getah yang bertolak belakang dalam satu pohon inilah yang melatar belakangi Pohon Belasa Kepampang dikeramatkan oleh Suku Tumi. Kepercayaan ini tidak hanya diyakini oleh penduduk Kerajaan Sekala Brak saja, melainkan diterima juga oleh warga dari daerah lain yang bermukim disepanjang aliran Sungai Komering (Teguh Prasetyo, Masa Lalu di Lampung Barat, 2005).
Suku Tumi pada awalnya menganut ajaran nenek moyang mereka, sebelum berinteraksi dengan agama Hindu. Sejak abad ke-1 (Satu) Masehi Sekala Brak sudah kontak dengan Agama Hindu. Meskipun ada pula rakyatnya yang memeluk ajaran Budha. Serta mempertahankan kepercayaan leluhur mereka berupa animisme atau dinamisme. Yang pasti kedatangan Hindu mengakhiri era pra sejarah di kawasan tersebut (Depdikbud Provinsi Lampung, Sejarah Daerah Lampung, 1997). Pada abad ke-3 Masehi Kerajaan Suku Tumi yang dipimpin oleh Buwai Tumi ditaklukan oleh sekelompok orang yang berasal dari Indocina yang dipimpin oleh Laula. Pertempuran antara Suku Tumi dan Laula dengan pengikutnya menjadi momentum menyebarnya diaspora Suku Tumi ke aliran Sungai Komering gelombang pertama atau yang dikenal dengan kelompok Semendawai. Pertempuran yang panjang antara Suku Tumi yang telah mendiami wilayah tersebut sebelumnya dengan pasukan Laula, diakhiri dengan kekalahan dipihak Suku Tumi telah menyebabkan dua (2) peristiwa besar yaitu:
- Setelah memenangkan pertempuran melawan Suku Tumi. Laula mendirikan Kerajaan Sekala Brak, bersama dengan pengikutnya dan orang-orang Suku Tumi yang bersedia mengaku takluk pada Laula. Lalu memutuskan tetap tinggal di Sekala Brak.
- Orang-orang Suku Tumi yang enggan mengakui kekuasaan Laula di Skala Brak menyebar ke utara menyusuri Sungai Komering dan ke selatan (Krui).
Menurut Buku Kerajaan Tulang Bawang: Rangkaian Sejarah yang Hilang oleh Akhmad Sadad (2018) menegaskan bahwa Kerjaan Sekala Brak merupakan akar sejarah dan asal muasal identitas Budaya Rumpun Seminung. Sebelum munculny keratuan-keratuan lain seperti Kepuhyangan Samandawai, Keratuan Pemanggilan, Keratuan Komering, Keratuan Pugung, Keratuan Balau, Kepaksian Sekala Brak, dan lain sebagainya. Dikutip dari Wacana Nusantara: Perjalanan Komering di Lampung, dijelaskan bahwa sekelompok besar (Suku Tumi) turun dari lembah dataran tinggi Gunung Seminung–Pesagi menyusuri sungai dengan segala cara seperti dengan rakit bambu, biduk lesung, dan lain sebagainya, guna menyusuri Sungai Komering menuju muara. Menyusuri atau mengikuti dalam dialek Bahasa Komering lama adalah samanda. Kelompok pertama ini dikemudian hari dikenal dengan nama Samandawai, dari kata Samanda Di Wai yang memiliki arti mengikuti atau menyusuri sungai.
Rombongan orang-orang Suku Tumi gelombang pertama inilah yang membentuk Kedatuan atau dalam Bahasa Komering Disebut Kepuhyangan Samandawai. Dalam artikel yang bertajuk Kebesaran Sriwijaya yang Tak Tersisa – The Rise of Sriwijaya Empire (Komentar Agung Arlan), menegaskan bahwa Samandawai merupakan kepuhyangan tertua di Komering yang menjadi cikal bakal berdirinya Kedatuan Sriwijaya dengan Pu-Hyang Jaya Naga (Sri Jaya Naga) sebagai Raja Sriwijaya pertama yang berkedudukan di daerah dekat Gunung Seminung dan kemudian berpindah ke Minanga (Setelah itu Pusat Ibu Kota berpindah ke Palembang, dan yang terakhir ke Jambi pada beberapa kurun masa Kerajaan Sriwijaya). Kelompok ini akhirnya sampai di muara (Minanga) dan kemudian berpencar dengan tujuan mencari tempat-tempat yang strategis. Pada abad ke-14 Masehi Kepuhyangan Samandawai berkembang menjadi tiga (3) Kepuhyangan. Ketiga kepuhyangan tersebut adalah:
- Kepuhyangan Gunung Batu, yang menempati pangkal teluk yang agak membukit.
- Kepuhyangan Maluwai, yang menempati suatu dataran rendah.
- Kepuhyangan Minanga, yang menempati muara dalam suatu teluk.
Tiga (3) kepuhyangan ini pada abad ke-14 Masehi bersama empat (4) kepuhyangan di hulu Sungai Komering membentuk Keratuan Komering. Setelah terbentuknya Kepuhyangan Samandawai yang beribu negeri di Betung oleh orang-orang Suku Tumi setelah kalah melawan Laula. Sekitar kurang lebih abad 12 Masehi, timbul gerakan ekspedisi atau penyebaran rumpun Skala Brak. Diaspora inilah yang disebut gelombang kedua penyebaran Sekala Brak Era Laula di Sepanjang aliran Sungai Komering. Gerakan penyebaran gelombang kedua ini mendirikan Keratuan Pemanggilan yang beribu negeri disekitar selatan Kota Martapura saat ini. Dalam Buku Tradisi Butatah oleh Risma Margaretha Sinaga, dkk (2021) memuat kajian tentang upacara dan keratuan termasuk Keratuan Pemanggilan yang menguasai wilayah tanah Krui, Ranau dan Komering. Pada abad ke-14 Masehi Keratuan Pemanggilan mendirikan empat (4) Kepuhyangan, yang antara lain sebagai berikut:
- Kepuhyangan Gunung Terang atau Madang, menempati padang rumput yang luas.
- Kepuhyangan Peliyung, merujuk pada saat membuka lahan menggunakan Kapak Peliyung.
- Kepuhyangan Bunga Mayang, merujuk pada legenda istri sang Puhyang keluar dari bunga pinang.
- Kepuhyangan Mahanggin atau Kepuhyangan Daya (Dinamis/Ulet). Kelak kemudian hari kepuhyangan ini menyebar mendirikan cabang-cabang di daerah sekitarnya seperti Buwai Sandang, Buwai Rawan, Buwai Rujung, Buwai Kiti, Buwai Lengkayap, dan lain-lain. Nama-nama klan yang berasal dari rumpun kepuhyangan ini menggunakan istilah Bhu-Wai (Buwai).
Dari Kepuhyangan Samandawai yang dibina oleh orang-orang Suku Tumi diera penyebaran gelombang pertama. Pada abad ke-14 Masehi berkembang menjadi tiga (3) kepuhyangan yang terdiri dari Kepuhyangan Gunung Batu di bawah kepemimpinan Pu-Hyang Sibalakuang, dan Kepuhyangan Maluwai di bawah kepemimpinan Pu-Hyang Kai Patih Kandil, serta Kepuhyangan Minanga di bawah kepemimpinan Pu-Hyang Minak Ratu Damang Bing. Mendirikan Kepuhyangan Komering bersama ekskeratuan Pemanggilan yang terdiri dari Kepuhyangan Gunung Terang atau Madang di bawah kepemimpinan Pu-Hyang Umpu Sipadang, Kepuhyangan Peliung di bawah kepemimpinan Pu-Hyang Minak Adipati, Kepuhyangan Bunga Mayang di bawah Kepemimpinan Pu-Hyang Jati Keramat, dan Kepuhyangan Manggin atau Daya di bawah kepemimpinan Pu-Hyang Sibala Kuang. Bersepakat mendirikan konfederasi Keratuan atau Kedatuan atau dalam Bahasa Komering disebut dengan Istilah Kepuhyangan Komering atau lebih familiar dikenal dengan nama Komering Pitu Muyang dengan semboyannya menggumpal tidak tunggal, berbukuh tetapi utuh.
Pada abad ke-16 Masehi (1500-an) Tanoh Unggak (Sekala Brak) yang pada saat itu diperintah oleh Ratu Sekerumong atau dikenal sebagai Umpu Sekekhummong menjadi penguasa terakhir. Jatuhnya kekuasaan Ratu Sekerumong akibat serangan dari empat (4) pangeran Pagaruyung yang mencari tempat baru untuk menyebarkan pengaruh Islam dan membangun kekuasaan. Keempat orang tersebut adalah Umpu Pernong, Umpu Nyerupa, Umpu Bejalan Diway, dan Umpu Belungguh. Setelah Kerajaan Sekala Brak menjadi Paksi Pak Sekala Brak, yang bernapas Islam terjadilah gelombang penyebaran yang ketiga (3) orang-orang Sekala Brak ke pesisir Sungai Komering. Generasi ini di Tanah Komering bergabung dengan Kepuhyangan Komering Pitu Muyang. Setelah Perang Abung yang terakhir di Tanah Komering, menyebabkan berdirikan kepuhyangan baru, yang dibentuk oleh orang-orang Paksipak Sekala Brak yang bergabung dengan Kepuhyangan Peliyung. Kepuhyangan yang beru terbentuk tersebut adalah:
- Kepuhyangan Banton oleh Pu-Hyang Ratu Penghulu.
- Kepuhyangan Pulau Negara oleh Pu Hyang Umpu Ratu.
Sedangkan orang-orang Paksipak Sekala Brak yang bergabung dengan Eks-Kepuhyangan Samandawai dikemudian hari pada masa Kesultanan Palembang membentuk identitas baru yang disebut dengan Suku Komering Ilir atau Komering Marga Bengkulah. Perubahan jumlah Kepuhyangan yang ada di Tanah Komering telah melahirkan istilah Pitu Balin Suwai Bugonti (Tujuh Bertukar, Sembilan Berganti). Panjangnya Sejarah asal-usul Suku Komering yang menetas dari Tanah Unggak (Sekala Brak) Dalam sajak dialek Komering Minanga di Buku Menggali Babas dan Sejarah Lampung karya Zawawi Kamil disebutkan: "Adat lembaga sai tipakaisa buasal jak Belasa Kapampang, (Adat lembaga yang digunakan ini berasal dari Nangka Bercabang)
Sazaman rik tanoh pagaruyung pemerintah bunda kandung, (Sezaman dengan Ranah Pagaruyung Pemerintah Bundo Kandung atau Ibu Kandung)
Cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak,(Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Brak)
Sangon kok turun temurun jak ninik puyang paija,(Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu)
Cambai urai ti usung dilom adat pusako, (Sirih pinang dibawa dalam adat pusaka)"
Dari sajak tersebut tergambar jelas bahwa Suku Komering sudah mengarungi zaman yang panjang dalam membina peradabannya. Mulai menetas dari rahim Suku Tumi yang digambarkan dengan kiasan larik yang berbunyi Buasal Jak Belasa Kepampang pada awal abad Masehi yang bercorak animisme atau dinamisme. Lalu mengalami perkembangan dan pengaruh Islam yang sezaman dengan Tanah Pagaruyung. Kemudian tetap eksis sekalipun mengalami pasang surut layaknya kiasan yang berbunyi Cakak di Gunung Pesagi (Puncak Tertinggi) rogoh di Sekala Berak (Titik Terendah yakni Segara yang Luas (DanauRanau)). Namun, tunjuk ajar tradisi dan budaya Suku Komering (Cambai Urai yang bermakna kasih sayang dan welas asih atau Sangkonan, Saandanan, dan Sauyunan) tidak pernah pupus sampai kini, sekalipun hanya ditransfer atau diajarkan lewat estapet lisan dan tindak tanduk turun temurun para pendahulu pada generasi emas atau tunas gemilang Suku Komering sampai kini.
Jelas sudah bahwa asal muasal Suku Komering bermula dari Tanah Unggak (Sekala Brak/Tumi) yang turun secara bertahap, yang terdiri dari tiga gelombang utama. Yang antara lain:
- Gelombang pertama pada masa Buwai Tumi yang membentuk peradaban Kepuhyangan Samandawai.
- Gelombang kedua pada masa Sekala Brak Kuno atau Sekala Brak era Laula yang membentuk peradaban Keratuan Pemanggilan
- Gelombang ketiga pada masa Paksi Pak Sekala Brak yang membentuk peradaban Kepuhyangan Komering Pitu Balin Suwai Bugonti.
Eksistensi Komering memang sudah bermula diawal abad masehi. Dalam kitab Sunda Kuno yang berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian istilah Komering telah disebut “Bila kita hendak bertindak, jangan salah mencari tempat bertanya. Bila ingin mencari segala macam bahasa negara-negara lain, seperti:..., Momering (Komering), Simpang Tiga, Gumantung, Manumbi,...”. Di Tanah Komering, nama atau entitas yang paling populer disebut dalam berbagai catatan adalah Minanga. Sebelum Van Rokel membaca prasasti kedukan bukit tahun 1924, dalam piagam perjanjian tahun 1629 milik Kesultanan Palembang dengan memakai tulisan aksara Arab-Melayu pada masa perintahan Sedaing Kenayan menyebut nama Minanga sebagai nama Marga lengkap dengan tapal batas ulayat marga tersebut.
Dalam catatan Van Sevenhoven, Van Royen dalam Buku De Palembangsche Marga (1913, dan Boone, disebut bahwa “De Komering was een der bergstreken onder gezag van den Sultan Van Palembang. (Komering adalah salah satu daerah pegunungan yang berada di bawah kekuasaan Sultan Palembang).” Sedangkan dalam catatan lain yang menunjukan bahwa Komering punya peran penting tidak terkecuali dari sisi ekonomi. Di arsip Belanda pasca-penakluan Palembang pada abad ke19 Masehi. Dalam catatan disebutkan “De Komeringlande weren een belangrijke aanvoerplaats van bosproducten en mensen voor de Palembangsche heerschappij. (Daerah-daerah Komering merupakan pemasok utama hasil hutan dan tenaga bagi kekuasaan Palembang).”
Dalam catatan J.H Van Royen dalam karya yang berjudul De Palembangsche Marga, diterbitkan tahun 1913 di Leiden dalam seri laporan Etnografi Kolonial Hindia Belanda. Buku ini berisi tentang struktur sosial dan wilayah adat, termasuk di dalamnya adalah “De Komeringers” yang membahas tentang wilayah Komering, asal-usul dan identitas etnik, sistem sosial dan pemerintahan lokal, catatan etnologis dan adat, bahasa dan kebudayaan. Menurut Van Royen Komering adalah bagian dari sistem Marga Pelembang secara administratif, tetapi secara etnografis dan liguistik memiliki hubungan yang erat dengan Budaya Rumpun Seminung. Van Royen menegaskan Komering menjadi jembatan sejarah antara Kesultanan Palembang di Muara Sungai Komering saat ini dan Keratuan-keratuan lama di dataran tinggi Seminung-Pesagi.
Istilah Kembiring pada zaman kolonial diartikan sebagai mahluk sakti semacam harimau jadi-jadian. Dalam catatan J. Van Sevenhoven tahun 1821 yang berjudul Rapport over de Residentie Palembang. Jenis catatan ini adalah laporan resmi (Administratif dan Etnografis) kepada pemerintah Hindia Belanda setelah jatuhnya Kesultanan Palembang. Konteks tulisan Van Sevenhoven adalah Residen Belanda pertama di Palembang setelah penaklukan Sultan Mahmud Badaruddin II pada tahun 1821. Isi catatan Van Sevenhoven tentang Komering antara lain:
- Letak dan hubungan wilayah, Van Sevenhoven menulis bahwa De Rivier Koemering (Komering) adalah salah satu sungai besar yang mengalir dari pegunungan di barat menuju dataran Palembang. Beliau juga menulis gambaran wilayah Komering sebagai sebuah wilayah luas yang dihuni oleh kampung-kampung merdeka dari Bangsa Komering atau dalam bahasa Belandanya disebutkan “Een uitgestrekt land, bevolkt door onafhankelijke dorpen van het Koemering-volk.” Dalam catatan ini terlihat bahwa penduduk Komering pada masa itu tidak sepenuhnya tunduk pada Sultan Palembang, melainkan memiliki otonomi adat.
- Asal-usul dan identitas Suku, Van Sevenhoven menulis “De Koemeringrs schijnen van dezelfde stam te (Orang-orang Komering tampaknya berasal dari satu rumpun...).”
- Hubungan dengan Kesultanan Palembang, dalam catatanya Van Sevenhoven menulis “Zij erkennen de Sultan van Palembang slechts in naam; hun hoofden kienzen zij zelven. (Mereka hanya mengakui Sultan Palembang secara nama saja; para kepala mereka mereka pilih sendiri).” Kesimpulannya masyarakat Komering pada tahun 1821 masih mempertahankan sistem adat mereka sendiri, dengan kepala marga atau umpu yang dipilih secara lokal belum sepenuhnya dibawah struktur pemerintahan kesultanan.
- Kehidupan dan adat, Van Sevenhoven menggambarkan Suku Komering sebagai “Sterke, zelfstandige landbouwers, die weining omgang hebben met de kustbewoners. (Petani yang kuat dan mandiri, yang jarang berhubungan dengan penduduk pesisir).” Van Sevenhoven juga menyampaikan dalam tulisannya bahwa Suku Komering wilayahnya sulit dijangkau oleh pejabat Palembang karena alamnya berbukit dan berhutan lebat.
Dalam Bijdragen Tot De Kennis Der Residentie Palembang yang ditulis oleh Hendrik de Kock (Letnal Kolonel, Kemudian Jendral Belanda) tahun 1825. Kontek tulisannya adalah laporan militer dan administrasi De Kock setelah ekspedisi penaklukan Palembang (1821-1825). kesimpulan catatan Hendrik de Kock tentang Komering adalah:
- Komering sebagai wilayah transisi antara Palembang dan Lampung baik dari segi geografi mahupun budaya.
- Penduduk dan asal-usul Suku Komering bermula dari dataran tinggi Seminung-Pesagi.
- Pemerintah dan kemandirian adat, disempulkan bahwa Komering masih bersifat semi otonom, tidak tunduk langsung pada Kesultanan Palembang.
- Hubungan dengan Palembang, Komering-Palembang hubunganya lebih bersifat ekonomi. Hanya sekedar hubungan dagang saja buakan fokus pada hubungan politik langsung. Hasil perdagangan Suku Komering anatara lain Lilin, damar, beras, dan rotan.
- Karakter sosial dan budaya, Hendrik De Kock menggambarkan watak masyarakat Suku Komering yang kuat, mandiri, dan menjunjung adat kebesaran, sesuatu yang juga disebut dalam laporan etnografi Belanda abad ke-19 Masehi lainnya.
Dalam catatan Djohan Hanafiah yang berjudul Palembang dalam Persepektif Sejarah Nasional yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, di Jakarta tahun 1995 menjelaskan bahwa “Daerah pedalaman Palembang terdiri atas marga-marga Ogan, Komering, dan Pasemah, yang masing-masing mempunyai struktur pemerintahan adat sendiri, di bawah pengawasan sultan melalui pejabat-pejabat pribumi seperti pesirah dan depati.” Dari catatan ini tergambar jelas bahwa Komering merupakan bagian administrasi Kesultanan Palembang, akan tetapi tetap mempertahankan adat dan otonomnya. Disini struktur marga disebut sudah ada sejak masa pra-Islam dan kemudian diintegrasikan oleh sultan sebagai sistem dalam Kesultanan Palembang.
Djohan Hanafiah menyampaikan secara asal-usul Suku Komering berasal dari peradaban dataran tinggi Seminung-Pesagi, yang mendapat pengaruh kuat dari Palembang akibat adanya hubungan politik dengan Palembang. Secara integrasi politik Suku Komering ke dalam Palembang terjadi secara bertahap melalui perkawinan politik, penyebaran Islam, dan penunjukan pejabat adat (Pesirah dan Depati). Djohan Hanafiah membubuhkan bahwa “Melalui sistem marga, Sultan Palembang berhasil mengaitkan daerah-daerah seperti Komering dan Ogan dalam lingkaran kekuasaan Palembang tanpa harus menghapuskan adat setempat.” Disini jelas terlihat bahwa Suku Komering dan wilayahnya tidak ditaklukan secara militer, melainkan disatukan secara administratif dan keagamaan. Secara ekonomi pada tahun 1825 Suku Komering menjadi penyuplai beras, damar, dan rotan terbaik bagi Kesultanan Palembang.
Budiman Agus dalam Bukunya yang berjudul Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam tahun 2006 yang diterbitkan oleh Pemerintah Kota Palembang / Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Umumnya terbit dalam seri sejarah lokal Palembang). Budiman Agus menyampaikan bahwa Komering tidak sepenuhnya dalam kendali Palembang secara langsung karena kuatnya sistem adat lokal. Secara asal-usul Komering berasal dari dataran tinggi Seminung-Pesagi, secara ekonomi Komering menjadi jalur ekonomi vital sekaligus sebagai perbatasan yang strategis dengan negeri sejiran (Bengkulu dan Lampung). Suku Komering tetap menjaga struktur sosialnya sebagai masyarakat Huluan dengan menggunakan sistem kekerabatan geneologis-patrilineal.
Populasi
Sensus 2010 menunjukkan bahwa suku Komering memiliki populasi sekitar 370.119 jiwa.[1] Jumlah ini naik dari data perkiraan tahun 1982, sebesar 135.068 jiwa.[4]
Wilayah persebaran
Suku Komering mendiami Lembah Komering di pedalaman Sumatera Selatan dan terkonsentrasi di dua kabupaten, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur) dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU Selatan). Ada 20 kecamatan di OKU Timur yang memiliki penduduk Komering sebagai etnis mayoritas, pluralitas, maupun minoritas signifikan. Sementara itu, di OKU Selatan, Komering merupakan suku asli dan memiliki populasi yang besar di Muaradua, ibu kota kabupaten serta daerah-daerah seperti Simpang, Buana Pemaca, dan Buay Pemaca. Selain itu, populasi Komering sebagai orang asli alih-alih migran atau pendatang dapat pula ditemukan di Tanjung Lubuk,[5] Lempuing, dan Teluk Gelam di Kabupaten Ogan Komering Ilir,
Desa-desa Komering dan asal marganya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
| No | Kecamatan | Desa/Kelurahan | Marga | Kabupaten |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Simpang | Tanjung Sari | Buay Pemaca | Ogan Komering Ulu Selatan |
| Bungin Campang | ||||
| Simpangan | ||||
| Simpang Agung | ||||
| 2 | Buana Pemaca | Bandar | Buay Pemaca | Ogan Komering Ulu Selatan |
| Damarpura | ||||
| Gemiung | ||||
| Jagaraga | ||||
| Sinar Danau | ||||
| Tekana Tunas Jaya | ||||
| 3 | Bunga Mayang | Baturaja Bungin | Bunga Mayang | Ogan Komering Ulu Timur |
| Negeri Ratu | ||||
| Negeri ratu Baru | ||||
| Peracak | ||||
| Sabah Lioh | ||||
| Tulang Bawang | ||||
| Tunas Peracak | ||||
| Bunga Mayang | ||||
| Tumijaya | ||||
| Way Salak | ||||
| Jayapura | ||||
| Peracak Jaya | ||||
| 4 | Martapura | Keromongan | Paku Sengkunyit | Ogan Komering Ulu Timur |
| Kota Baru | ||||
| Kota Baru Barat | ||||
| Kota Baru Selatan | ||||
| Perjaya | ||||
| Perjaya Barat | ||||
| Tanjung Kemala | ||||
| Tanjung Kemala Barat | ||||
| Dusun Martapura | ||||
| Paku Sengkunyit | ||||
| Sungai Tuha Jaya | ||||
| Pasar Martapura | ||||
| 5 | Buay Pemuka Peliung | Bantan | Buay Pemuka Peliung | Ogan Komering Ulu Timur |
| Bantan Pelita | ||||
| Negeri Agung | ||||
| Negeri Agung Jaya | ||||
| Negeri Pakuan | ||||
| Pemetung Basuki | ||||
| Pulau Negara | ||||
| 6 | Buay Pemuka
Bangsa Raja |
Muncak Kabau | Buay Pemuka Bangsa Raja | Ogan Komering Ulu Timur |
| Pagar Dewa (Muncak Kabau Anyar/Anyar) | ||||
| Sri Bulan | ||||
| Sri Bunga | ||||
| Surya Menang | ||||
| 7 | Buay Madang | Kurungan Nyawa I | Buay Pemuka Bangsa Raja | Ogan Komering Ulu Timur |
| Kurungan Nyawa II | ||||
| Kurungan Nyawa III | ||||
| Sukaraja | ||||
| Sukaraja Tuha | ||||
| Tanjung Bulan | ||||
| Way Halom | ||||
| 8 | Belitang | Gumawang | Belitang | Ogan Komering Ulu Timur |
| Belitang | ||||
| Petanggan | ||||
| Sukaraja | ||||
| Sukajadi | ||||
| Bangsa Negara | ||||
| 9 | Madang Suku I | Kartamulia | Madang Suku I | Ogan Komering Ulu Timur |
| Simpang Karta | ||||
| Mangulak | ||||
| Mendayun | ||||
| Rasuan | ||||
| Rasuan Darat | ||||
| 10 | Madang Suku II | Pandan Agung | Madang Suku II | Ogan Komering Ulu Timur |
| Rasuan Baru | ||||
| Riang Bandung | ||||
| Riang Bandung Ilir | ||||
| Kerta Negara | ||||
| Karang Negara | ||||
| Kota Negara | ||||
| Suka Negara | ||||
| 11 | Madang Suku III | Surabaya | Madang Suku II | Ogan Komering Ulu Timur |
| Nikan | ||||
| 12 | Semendawai Barat | Adu Manis | Semendawai Suku II | Ogan Komering Ulu Timur |
| Betung | ||||
| Betung Timur | ||||
| Kangkung | ||||
| Kangkung Ilir | ||||
| Minanga Besar | ||||
| Minanga Sari | ||||
| Minanga Tengah | ||||
| Sri Tanjung | ||||
| Suka Negeri | ||||
| Tanjung Kukuh | ||||
| Tanjung Mas | ||||
| 13 | Cempaka | Cempaka | Semendawai Suku I | Ogan Komering Ulu Timur |
| Campang Tiga Ilir | ||||
| Campang Tiga Jaya | ||||
| Campang Tiga Ulu | ||||
| Gunung Batu | ||||
| Gunung Jati | ||||
| Harisan Jaya | ||||
| Kuripan | ||||
| Meluai Indah | ||||
| Negeri Sakti | ||||
| Sukabumi | ||||
| Sukaraja | ||||
| Ulak Baru | ||||
| 14 | Tanjung Lubuk | Tanjung Lubuk | Bengkulah | Ogan Komering Ilir |
| Jambu Ilir | ||||
| Atar Balam | ||||
| Bumiagung | ||||
| Jukdadak | ||||
| Kotabumi | ||||
| Pengaraian | ||||
| Pulau Gemantung | ||||
| Pulau Gemantung Darat | ||||
| Pulau Gemantung Ilir | ||||
| Pulau Gemantung Ulu | ||||
| Seritanjung | ||||
| Sukarami | ||||
| Tanjung Baru | ||||
| Tanjung Beringin | ||||
| Tanjung Harapan | ||||
| Tanjung Laga | ||||
| Tanjung Laut | ||||
| Tanjung Merindu | ||||
| Ulak Balam | ||||
| Ulak Kapal | ||||
| 15 | Teluk Gelam | Serapik | Bengkulah | Ogan Komering Ilir |
| Binawa | ||||
| 16 | Lubuk Keliat | Talang Tengah Darat | Bengkulah | Ogan Ilir |
| Talang Tengah Laut |
Orang Komering memiliki mobilitas yang tinggi, ditandai dengan ditemukannya komunitas Komering dalam jumlah yang cukup besar di Kabupaten Banyuasin, Khususnya di Kecamatan Rambutan. Orang Komering juga tercatat tinggal di Palembang sebagai migran lokal (dari dalam Sumatera Selatan).[6] Beberapa daerah di Palembang, khususnya Kecamatan Kalidoni, Sematang Borang, Plaju, Kertapati, Jakabaring, Seberang Ulu I, dan Seberang Ulu II disebut-sebut memiliki populasi Komering yang signifikan. Selain itu, banyak pula yang telah merantau dan beranak-pinak di luar Sumatera Selatan, seperti di Lampung, Jakarta, daerah-daerah lain di Jawa, bahkan hingga ke luar negeri. Khususnya yang merantau ke Palembang, Qibtiyah (2014) menyebut bahwa orang Komering masih menuturkan bahasa daerahnya di perantauan.[6]
Struktur sosial dan kekerabatan
Stratifikasi sosial
Stratifikasi sosial pada masyarakat Komering disebut sebagai tiuh, dan dalam sistem ini, orang Komering dikelompokkan ke dalam salah satu dari 7 golongan, yang terdiri dari:
- Seghba nyaman (kelompok penguasa)
- Kaum (golongan ulama)
- Pangighan (kelompok ksatria/pendekar)
- Anak putus (ahli Kebatinan atau medis)
- Daghak (golongan cerdik pandai)
- Busali (kelas pengusaha)
- Kaghung diwana (kaum pekerja)
Seghba nyaman atau kelompok penguasa dalam masyarakat Komering sepertinya merujuk pada tokoh-tokoh pemimpin marga dan desa yang merupakan tulang punggung sistem kemasyarakatan Komering, dan kurang tepat disebut sebagai kelompok atau kelas raja, karena orang Komering tidak mendirikan kerajaan. Walaupun demikian, kelompok penguasa di Komering sama dengan di daerah-daerah lain di Uluan Sumatra Selatan, mereka memimpin turun-temurun dan yang dapat berkuasa adalah keluarga dan orang yang "disayang" penguasa. Hal ini yang menyebabkan J.I. Sevehoven dalam buku Jeroen Peters yang diterjemahkan oleh Sutan Maimoen (1997) menyebutkan bahwa Komering, Musi, dan Pasemah dipimpin keluarga raja.[6]
Marga
Wilayah adat Komering dibagi ke dalam beberapa marga. Marga di daerah ini maupun Sumatera Selatan pada umumnya adalah kesatuan masyarakat hukum adat yang bersifat teritorial, dengan asas utamanya adalah karena berada di teritori yang sama. Memang ada beberapa marga yang punya sifat genealogis atau berkerabat darah, tetapi lebih banyak yang memiliki keterkaitan atas dasar saling bertetangga.[7]
Marga memiliki batas yang jelas, pemerintahan serta membawahi desa-desa atau dusun-dusun anggotanya. Berikut adalah marga-marga Komering dan desa-desa anggotanya.[8]
- Marga Paku Sengkunyit (eks Kepuhyangan Bunga Mayang)
- Marga Peliyung (eks Kepuhyangan Peliyung)
- Marga Madang (eks Kepuhyangan Madang)
- Marga Semendawai (eks Kepuhyangan Minanga, Maluwai, dan Gunung Batu)
- Marga Sosoh Buwai Rayap (eks Kepuhyangan Mahanggin)
- Marga Bengkulah (eks Kepuhyangan Liba)
Marga dikepalai oleh pesirah,[9] sementara dusun-dusun anggota marga dikepalai oleh kerio yang dibantu oleh kermit yang bertugas untuk penyampai pesan atau berita.[5]
Kekerabatan
Prinsip garis keturunan Komering adalah patrilineal.[5] Namun, dalam beberapa kasus, ditemukan perkawinan bercorak matrilineal yang disebut sebagai ngakuk anak, khususnya pada keluarga yang hanya memiliki anak perempuan.[10] Keluarga tersebut akan mengadakan perjanjian dengan laki-laki yang menikahi anak perempuan mereka, bahwa laki-laki tersebut bersedia untuk tinggal di rumah keluarga istrinya (matrilokal)[10] dan anak-anak mereka menjadi keturunan keluarga istri. Perempuan yang menikah secara patrilineal, umumnya akan ngalaki atau tinggal di rumah keluarga suami (patrilokal).[5]
Budaya
Seni Beladiri & Senjata Tradisional
- Seni Beladiri

berikut atraksi pencak silat yang dipertontonkan pada khalayak ramai pada saat upacara pernikahan Adat Komering Betung. Tampak kedua pesilat yang merupakan perwakilan dari pihak besan sedang berusaha mengalahkan pesilat tuan rumah agar dapat menyunting mempelai wanita. Tradisi ini adalah bagian dari tradisi Adat Pernikahan suku Komering di Desa Petanggan, Kecamatan Belitang Mulya, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Di mana di desa tersebut terdapat banyak masyarakatnya yang merupakan keturunan Suku Komering, Khususnya Komering Betung.
- Senjata Tradisional
Lading adalah senjata tikam Suku Komering, yang termasuk dalam kategori belati pendek. Lading terdiri atas Biläh (mata pisau), Gagang (pegangan) dan Warangka (sarung). Panjang bilah berkisar antara 20-30 Cm. Bermata tunggal di salah satu sisi bilahnya. Bentuk bilahnya sedikit melengkung serta runcing di bagian ujung dan di salah satu pangkal bilahnya.
Lading dianggap senjata yang membawa keberanian dan simbol martabat masyarakat Suku Komering. Lading bagi masyarakat Suku Komering berfungsi sebagai senjata tikam dalam tradisi gagasan Suku Komering, atribut adat, lambang kehormatan, dan warisan budaya leluhur.
Arsitektur

Rumah Ulu Saka
Berikut ciri khas Rumah Ulu Saka Suku Komering yang tampak dari luar:
- Pating Hatok: Adanya mahkota atap berupa silang terpancung yang dibentuk oleh over stek dari lisplang pada puncak kedua belah sisi atap yang berpola pelana. Masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah pating hatok atau culuk lagik dan ada juga yang menyebutnya tunjuk lagik. Pating hatok biasanya ada yang dilengkapi dengan ukiran paku sopik pada bagian bawah titik pertemuan kedua over stek lisplang.
- Subik Sopik: Adanya mahkota serupa gebyok yang melengkapi Ghawang (Pintu) & Ghawang Ghunuk (Jendela Besar/Utama) dengan konsep melengkung dalam posisi yang timbul yang disebut Subik. Khusus untuk Ghawang, dilengkapi oleh sopik atau sapih hughang setinggi \pm 50 \text{ cm} & lebar \pm 40 \text{ cm}.
- Pesagi Walu: Adanya balok berbentuk geometri segi delapan atau istilah setempat disebut pasangi walu pada kitau dan Atung, yang dilengkapi dengan ukiran bermotif bunga pulan, bunga seroja, tampuk manggus, bintang, dan lain-lain di setiap bagian ujung Pesagi Walu.
- Tunjung Siku: Adanya konsep tunjung siku pada juntaian belandar hatok (Over Stek Balok Atap) dengan ragam ukir berupa tunjang siku lopus atau tunjang siku ponuh dan tunjang siku ghikas. Ukiran tunjung siku biasanya bermotif saghung badik, bulung wahya, atau tapuk nanas.
- Pasakai: Adanya konsep tumpang kunci padi pada puting (Tiang Utama) & blandagh (Balok Utama) yang menghasilkan seni pasakai pada ujung bawah puting yang menjadi empat bagian sama besar. Pasakai memiliki ragam ukir berupa motif mapah tapuk, bunga kecubung, bunga pulan, gighot gighot, atau sekedar pasakai pola gaghunang.
- Pataka: Puting, blandagh, kitau, dan Atung membentuk pola tumpang tindih konsep mengunci yang disebut dengan istilah pataka.
- Tatah Hapiak: Adanya ukiran disepanjang tepian balok utama dan disetiap tiang utama pada dinding dibagian luar dengan ragam motif seperti bayot uyun dan mapah
Berikut ciri khas Rumah Ulu Saka Suku Komering yang tampak dari dalam:
- Pagho-Pagho Khok: Adanya paghokghok berupa kayu balok besar yang membentang dari depan ke belakang sebanyak dua buah dengan posisi sejajar sehingga membagi ruangan utama menjadi halun, kakudan, dan jumbal.
- Tiang Sagai: Adanya tiang sagai yang menghubungkan balok lantai dengan balok lakaran yang melewati paghokghok. Tiang sagai dihiasi oleh ragam ukir seperti mapah, bunga pulan, bunga seghoja, gighot gighot dan lain-lain.
- Pangkeng dan Ambin: Adanya lantai yang ditinggikan pada bagian pangkeng dan ambin. Posisi ambin berada di tengah di antara pangkeng kiri dan kanan. Ambin merupakan ruangan yang lantainya sejajar dengan pangkeng dan lebih tinggi dari ruang utama, tetapi dengan konsep semi terbuka berbeda dengan pangkeng yang cenderung tertutup.
- Seni Ukir dan Pelapon: Adanya seni ukir kerawang dengan motif bayot uyun dan mapah pada dinding pangkeng dan ambin. Serta disepanjang bagian langit-langit yang dilintasi oleh paghokghok. Rumah Ulu Saka Suku Komering pun wajib memakai pelapon yang terbuat dari papan pilihan, masyarakat setempat menyebutnya dengan nama panaku. Rumah Ulu Saka juga dihiasi oleh pagu dan lakaran di ruang Pawon atau dapur
Tari Tradisional

Tari tradisional Komering terdiri dari 3 bagian, yaitu gerak pembuka, gerak utama, dan gerak penutup. Ragam gerak yang selalu ada pada tari tradisional meliputi sambah, konui melayang, kepudang toghbang, kepantit, ngotigh, mampat, nyigau, ngukol, naitai, ayun, dan injit.
Berikut ini adalah daftar pengelompokan tari tradisional Suku Komering beserta contohnya.
| No. | Jenis Tarian | Nama Tarian |
|---|---|---|
| 1 | Tari Pergaulan | Ghincag Lincagan |
| Minjak Mulak | ||
| 2 | Tari Berpasangan | Sada Sabai[b] |
| Milugh Mangian | ||
| 3 | Tari Persembahan | Sembah |
| Gopung | ||
| 4 | Tari Sambutan | Milugh |
| Tigol | ||
| 5 | Tari Ritual | Maju/Kabayan |
| Nigol | ||
| 6 | Tari Sakral | Igol |
| Tanggai |
Sastra
Komering memiliki karya sastra yang sangat kaya.[4] Masyarakat Komering mengenal dua bentuk umum karya sastra, yaitu andi-andi (prosa) dan pisaan (puisi).[4] Karya sastra Komering umumnya berbentuk lisan dan kemungkinan baru-baru ini saja dituliskan. Salah satu bentuk pisaan yang dikenal di bagian hilir Sungai Komering di wilayah Ogan Komering Ulu Selatan adalah hiring-hiring yang merupakan variasi dari ghingok atau pantun.[12][halaman dibutuhkan][13] Selain ghingok, pisaan juga dapat berbentuk tambai atau syair, hanna atau karmina, dan canggot atau talibun.
Canggot dan hiring-hiring dulu populer digunakan di kalanngan muda-mudi.[4] Hiring-hiring bersifat fleksibel dan dapat digunakan dalam berbagai kegiatan mulai dari pemberian gelar dalam adat dan atau perkawinan (jajuluk), lamaran (nyawak), tunangan (morlangan), dan tentu saja acara muda-mudi (ningkuk).[14]
Barangkali ghingok adalah jenis puisi paling komprehensif pada masyarakat Komering. Ghingok dikelompokkan menjadi 3, yaitu berdasarkan strukturnya, penyampaian atau penyajiannya, serta pesan yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan struktur, terdapat ghingok ghingok atau pantun sebenar pantun, strukturnya bebas, tetapi memenuhi kaidah seperti rima A-A-A-A atau A-B-A-B; dan ghingok segata ataun pantun berkait. Berdasarkan penyajiannya, ada ghingok biasa dan disampaikan tanpa ekspresi tertentu; alu-alu yang dibawakan secara lirih atau sedih; incang-incang yang dibawakan secara lantang dan dengan nada tinggi; serta hiring-hiring yang bernada riang gembira. Ghingok ghingok disampaikan dalam acara perkawinan dan berisi petuah atau nasehat bagi kedua mempelai dalam mengarungi bahtera rumah tangga.[4]
Andi-andi atau prosa yang dikenal di Komering berupa cerita rakyat seperti Negeri Sigonong-gonong yang tergolong sebagai legenda; Ratu Agung Bunga Mayang, Putri Dara Putih (mitos); Padang Sibotuk, Tuan Kocik,[15], Si Pahit Lidah,[4] Tuanku di Pulau,[4] Pulau Datuk[4] (dongeng); Sang Bugu (jenaka), Seluang Mudik (fabel); dan Hikayat Semendawai.
Musik Tradisional
Pada masyarakat Suku Komering dikenal adanya beberapa idiophone logam yang acap kali dipakai, dalam mengiringi berbagai upacara adat. Jika dilihat sepintas idiophone logam Suku Komering bentuknya sama seperti alat musik pencon. Pembedanya hanya dari besar kecilnya penampang atau diameter, dan tinggi rendahnya, serta fungsi dari benda tersebut. Ragam idiophone logam Suku Komering antara lain:
- Tala (Gong)
Berfungsi sebagai penanda awal dan akhirnya lagu.
- Babondi (Gong Sedang)
Berfungsi sebagai penanda perubahan irama & tempo.
- Kulintang
Instrumen musik yang umum dipakai dalam kegiatan adat Komering adalah kulintang, salah satu alat musik idiofon berbahan metal.[16] Konon namanya berasal dari kata kumalintang, yaitu suara tabuhan bertalu-talu. Ada juga yang berpendapat bahwa nama alat musik tersebut berasal dari perbedaan nada tiap bagian, yakni terdapat bunyi ting yang melambangkan nada tinggi, tong yang melambangkan nada sedang, dan tang yang melambangkan nada rendah, mewakili alat musik tersebut. Instrumen ansambel lulintang terdiri dari Kulintang itu sendiri, tala, babondi tawok-tawok, canang, rujih, dan sejenis gendang yang disebut bughdah.
Kulintang biasanya dipadupadankan dengan kesenian bela diri, silat. Keduanya ditampilkan dalam acara-acara besar untuk menyamnbut tamu, tokoh kehormatan, serta menyambut dan mengarak pengantin. Kulintang dan silat hingga kini masih dipakai dalam upacara pernikahan menggunakan adat Komering. Salah satu kelompok yang masih melestarikan kulintang ada di Desa Tanjung Kemala. Kelompok tersebut memakai nama Cahaya Kemala dan memiliki harapan untuk mencetak generasi penerus kesenian asli yang mereka klaim sebagai warisan budaya Marga Paku Sengkunyit tersebut.[17]
- Tawak Tawak
Sejenis Bonang namun tinggi, digunakan saat memberikan informasi Tayuh, begawi, himpunan, himbauan dan lain sebagainya.[18]
- Canang
Sejenis Bonang namun lebih rendah dari Tawak-Tawak, dipakai saat pencanangan Jajuluk (Julukan) atau Adok (Gelar).
Pakaian Adat
Baju dalam Bahasa Komering disebut kawai, sedangkan pengantin mempelai putri dalam tradisi Komering dikenal dengan istilah maju. Jadi kawai maju bermakna sebagai baju pengantin mempelai putri. Baju pengantin Suku Komering pada umumnya berpola baju kurung.
Terdapat tiga jenis Pakaian Tradisional Suku Komering, di antaranya;
- Pesalin Sungkit (Komering Ilir)
- Pesalin Angkinan (Komering Tengah)
- Pesalin Kelingkam (Komering Ulu)
Bahasa
Bahasa Komering adalah rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Komering dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari dan suasana akrab,[4] khususnya oleh kalangan tua, dewasa dan generasi muda. Bahasa ini terbagi menjadi dua dialek, yaitu Komering Liba (hilir) dan Komering Lambung (hulu). Pembagian ini sejalan dengan penelitian Zainal Abidin Ghaffar, dkk. (1981) yang membagi bahasa Komering menjadi Martapura Simpang dan Buay Madang-Cempaka-Belitang berdasarkan geografis wilayah penuturnya.[4] Dialek Komering Liba yang identik dengan vokal /o/ dan Konsonan "r" yang direalisasikan sebagai / ɣ/ (umumnya ditulis sebagai gh),[4] berkorespondensi dengan apa yang Ghaffar, dkk. sebut sebagai dialek Buay Madang-Cempaka-Belitang. Dialek ini dituturkan di wilayah eks Kepuhyangan Madang sampai ke tiyuh paling hilir di eks Marga Bengkulah, meliputi daerah-daerah Rasuan, Betung, Minanga, Cempaka, Gunung Batu, Pulau Gemantung. Contoh kosakata Komering Liba yaitu Kumoghing, botik, botong, dan holau.[4] Ada pun Komering Lambung, berkorespondensi dengan dialek Martapura Simpang, identik dengan vokal /ə/ dan konsonan "r" yang direalisasikan sebagai /x/ (umumnya ditulis sebagai kh).[4] Komering Lambung dituturkan di wilayah eks kepuhyangan Mahangin sampai kepuhyangan Peliung, meliputi daerah-daerah Martapura, Baturaja Bungin, Negeri Ratu, Banton, Muncak Kabau, Kurungan Nyawa dan sekitarnyaa. Contoh kosakata Komering Lambung antara lain Kemekhing, betik, betong, dan helau.[4]
Menurut peta bahasa Kemendikbud, Komering terdiri dari dua ragam dialek yaitu dialek Pulau Negara dan dialek Aji. Dialek yang pertama dituturkan di Campang Tiga, Sukaraja, Pulau Negara, dan Baturaja Bungin. Sedangkan dialek kedua, dituturkan di Negeri Batin.[19] Abu Kosim Sindapati (1970) dalam Zainin Wahab, dkk. (1992) menyebutkan empat dialek Komering, yaitu Bengkulah, Buay Madang, Tanjung Baru, dan Semendawai.
Berdasarkan formalitas atau tingkat penggunaannya, bahasa Komering memiliki dua tingkatan berbeda. Bahasa Komering hari-hari yang disebut ghumpok atau khumpok, serta bahasa Komering formal. Ragam yang kedua ini dikenal pula sebagai "bahasa menghadap" karena dipakai dalam acara atau forum yang sifatnya resmi. Bahasa Komering formal disebut cawa sesat atau cawa waghah. Biasanya dipakai dalam butangguh (majelis), buhimpun (musyawarah fufakat), bugawi atau sidokah (Kenduri).
Komering menunjukkan persamaan kosakata dengan "bahasa Melayu Kuno" pada salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Ilham Yuli Isdiyanto menuliskan bahwa Prasasti Telaga Batu, menggunakan bahasa Melayu Kuno yang kosakatanya masih hidup dan dipakai dalam bahasa Komering saat ini. Beberapa di antaranya dapat dilihat pada tabel berikut.[20]
| Kata dalam Prasasti Telaga Batu |
Kata dalam bahasa Komering |
Arti dalam bahasa Indonesia |
|---|---|---|
| awai | awai | memanggil |
| dangan | jongan | cara |
| hulun | hulun | orang lain |
| inan | inan | biarkan dulu |
| pira | pira | berapa |
| ri | ri | bersama |
| talu | talu | kalah |
| tapik | tapik | elak |
| tuhan | tuhan | milik |
Aksara

Aksara tradisional Komering dikenal sebagai aksara Kaganga. Orang Komering yang tua-tua sekali menyebutnya sebagai tulisan ulu atau tunggak.[4] Aksara merupakan abugida.[21] karena ditemukan di wilayah uluan di Sumatera Selatan, aksara Komering diklasifikasikan sebagai bagian dari keluarga besar Surat Ulu, yakni aksara-aksara uluan Sumatra Selatan dan Bengkulu. Salah satu spesimen Surat Ulu Komering yang masih dalam kondisi baik dan terawat terdapat di Desa Tanjung Kukuh, OKU Timur. Naskah tersebut berupa tulisan pada kertas, yang ditemukan oleh pemiliknya, Rizal Wawansyah terselip dalam buku beraksara Arab-Melayu/Jawi.[21]
Spesimen di Tanjung Kukuh ditulis pada media selembar kertas biasa yang berukuran panjang 18 cm dan tinggi 23 cm dalam bahasa Komering. Ukuran dan jarak antarhurufnya 0,5 cm dan teksnya sendiri berukuran 6,5 cm. Naskah ini diperkirakan terjadi pada masa kolonial Belanda, kemungkinan besar setelah 1800. Naskah tersebut adalah sebuah surat yang dikirimkan oleh seorang murid anonim kepada gurunya setelah melakukan transaksi jual beli.[21]
Dahulu Surat Ulu Komering dipakai sebagai sarana bersurat antarpribadi.[4]
Hubungan dengan suku Lain
Suku Komering berkerabat dekat dengan Suku Lampung (Jelema Lampung/Jimo Lappung), Suku Daya (Jelma Daya) dan Suku Kayuagung (Jime Owam). Salah satu Puhyang dari 7 Kepuhyangan Komering yakni Puhyang Sibalakuang yang saat ini melahirkan Jelma Daya, Juga Tuan Pegaduh dari Komering Bunga Mayang yang mendirikan Tiyuh Kayuagung Asli. Suku Komering juga memiliki kekerabatan dengan Suku Ogan yang sama sama mendiami Kabupaten Ogan Komering Raya
Catatan
- ↑ Bahasa Komering: Jolma Komoring, Jolma Kumoring, Jelma Kemering, atau Jelma Kumering
- ↑ Tari Sada Sabai merupakan tari tradisional yang ditarikan dalam pesta pernikahan. Tarian ditarikan oleh kedua belah pihak keluarga pengantin, sebagai wujud ungkapan kegembiraan dan restu kepada kedua mempelai. Tarian ini dipandang sebagai lambang pemersatu kedua keluarga besar.[11]
Referensi
- 1 2 Ananta, Aris; Arifin, Evi Nurvidya; Hasbullah, M. Sairi; Handayani, Nur Budi; Pramono, Agus (2015). Demography of Indonesia's Ethnicity. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 119–122. ISBN 9814519871.
- ↑ Hetilaniar, Hetilaniar; Zulaeha, Ida; Mardikantoro, Hari Bakti; Yuniawan, Tommi (2023). "Letak Geografis Bahasa Komering di Provinsi Sumatera Selatan". Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Universitas Negeri Semarang 2023. Universitas Negeri Semarang (UNNES): 1028–1032. Diakses tanggal 12 November 2025.
- ↑ Kartomi, M. (2012). [II Introduction]. In Musical Journeys in Sumatra. University of Illinois Press. hlm. 141–144. Diakses tanggal 12 November 2025.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Wahab, Zainin; Silahidin, Sofyan; Burhan, Akhyar; Suwandi, Suwandi (1992). Sistem Reduplikasi Bahasa Komering (PDF). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 8, 13-16. Diakses tanggal 15 November 2025.
- 1 2 3 4 Zulyani Hidayah (April 2015). Ensiklopedia suku bangsa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 189. ISBN 9789794619292. Diakses tanggal 12 November 2025.
- 1 2 3 Qibtiyah, Mariatul (2014). Stratifikasi Sosial dan Pola Kepercayaan (Analisis atas Fenomena Kekeramatan Makam di Kota Palembang (PDF). Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (Magister thesis). Ciputat: Karya tidak dipublikasikan. hlm. 75. Diakses tanggal 15 November 2025.
- ↑ Pide, A. Suriyaman Mustari (2 Januari 2017). Hukum Adat Dahulu, Kini, Dan Akan Datang. Jakarta: Prenada Media. hlm. 58. ISBN 9786024225865. Diakses tanggal 13 November 2025.
- ↑ Marleni, E. (2022). Sejarah budaya dan keadaan Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia. hlm. 69, 98-100 . ISBN 9786235940762. Diakses tanggal 12 November 2025. ;
- ↑ Nawawi, Nawawi; Alak Masjkoer, Masteman (1963). Ilmu bumi kabupaten Ogan Komering Ilir. Kedjora. hlm. 12. Diakses tanggal 13 November 2025.
- 1 2 Handini, Retno (2015). "OKU sekarang: Retrospeksi nilai-nilai budaya lokal OKU". Dalam Simanjuntak, Truman (ed.). Gua Harimau dan perjalanan panjang peradaban OKU. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 47. ISBN 9786023860319. Diakses tanggal 13 November 2025.
- ↑ Margareta, Atina; Heryanto, A.; Yelli, Nofroza (2 Agustus 2023). "Tari Sada Sabai Di Ogan Komering Ulu Timur Sumatera Selatan". Sitakara Jurnal Pendidikan Seni & Seni Budaya. 8 (3). Universitas PGRI Palembang: 297–307. doi:10.31851/sitakara. Diakses tanggal 15 November 2025.
- ↑ Manakara, Maison (2021). Hiring-hiring Seni Warisan Sastra Komering. Belitang, Ogan Komering Ulu Timur. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
- ↑ Ucha (11 Oktober 2021). "Bahasa Komering, Satu Lagi Bahasa Daerah Yang Terancam Punah". gatra.com. Jakarta: GATRA. Diakses tanggal 12 November 2025.
- ↑ Susilastri, Dian (2021). "Hiring-Hiring Komering Menuju Kepunahan: Kajian Vitalitas Sastra Lisan". Didactique Bahasa Indonesia. 2 (2). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tridinanti Palembang: 1–15. Diakses tanggal 15 November 2025.
- ↑ "Cerita Rakyat Tuan Kocik". budayakomering.com. Martapura: Disdikbud OKUT. Diakses tanggal 15 November 2025.
- ↑ Dedi, Firmansyah (September 2016). "Bentuk dan Struktur Penyajian Musik Kulintang pada Proses Arak-arakan dalkam Adat Pernikahan Suku Komering di OKU Timur". Besaung Jurnal Seni Desain dan Budaya. 1 (2). Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Budaya Universitas Indo Global Mandiri: 36–41. Diakses tanggal 15 November 2025.
- ↑ Joniarla, Ahmad (3 Agustus 2025). "Pelestarian Adat Budaya Komering, Menjadi Agenda Bersama". rri.co.id. Palembang: Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia. Diakses tanggal 15 November 2025. ;
- ↑ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 56
- ↑ "Bahasa Komering Provinsi Sumatra Selatan (Sumatra)". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 15 November 2025.
- ↑ Isdiyanto, Ilham Yuli (2021). Dekonstruksi Pemahaman Pancasila Menggali Jati Diri Hukum Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 29. ISBN 9786023867929. Diakses tanggal 13 November 2025.
- 1 2 3 Ridhollah, M. Sffsn; Susetyo, Berlian; Susilo, Agus; Asmara, Yeni (Juli 2024). "Naskah Ulu Komering: Sebuah Kajian Filologi". SINDANG Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. 6 (2): 33–38. doi:10.31540/sindang.v6i2.2676. Diakses tanggal 15 November 2025.