Agama yang dianut oleh suku Tidore, yaitu Islam.[1] Di Tidore banyak di dirikan masjid dan surau. Hal ini membuktikan bahwa peradaban Islam sangat pesat di Tidore.[butuh rujukan]
Rumah Adat
Rumah adat suku Tidore bernama Fola Sowohi[2]. Kata Fola Sowohi, berasal dari kata Fola dan Sowohi. Kata Fola berasal dari bahasa Tidore, yang berarti rumah, sedangkan Sowohi berarti tuan rumah. Secara utuh Fola Sowohi berarti rumah.[2] Atap rumah terbuat dari rumbia yang konstruksi bangunannya melambangkan kekayaan budaya. Fola Sowohi memiliki simbol arsitektur utama (sentral) yang ada di Tidore. Fola Sowohi berfungsi sebagai tempat musyawarah dan pelaksanaan upacara adat yang berkaitan dengan ritual magis. Bangunan Fola Sowohi berbentuk bidang geometris empat persegi panjang. Fola Sowohi berlantai tanah.
Bendera Kesultanan Tidore
Bendera Kesultanan Tidore berdasar kuning dan lingkaran merah melambangkan matahari dan kalimat Tauhid di bagian atas tertulis menggunakan warna merah juga.[3]
Pakaian Adat
Pakaian adat suku Tidore bernama manteren lamo.[4] Pakaian ini biasa digunakan oleh sultan.Manteren lamo terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang. Pada bagian baju berbentuk jas tertutup dengan kancing yag besar terbuat dari perak berjumlah sembilan. Sementara itu, leher jas, ujung tangan, dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. Untuk perempuan (bagi keluarga raja), pakaian adatnya bernama kimun gia (kebaya panjang).[4]Kimun gia terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. Pakaian adat untuk remaja bernama baju koja.[4] Baju koja berbentuk jubah panjang dengan warna-warna merah muda, seperti biru muda dan kuning muda. Baju ini biasanya dipasangkan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam, berikut toala palulu di kepalanya. Dalam kegiatan upacara adat, laki-laki mengenakan celana panjang dan kemeja panjang, sedangkan perempuan mengenakan baju susun dan kain songket. Adapun ketua adat yang memimpin upacara adat menggunakan takoa.Takoa adalah jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda, yang dipadukan dengan celana dino, yakni celana dari kain tenun berwarna jingga atau kuning, lengkap dengan lengso duhu, berupa tutup kepala berwarna kuning muda.
Tradisi Dama Nyili-Nyili
Masyarakat Tidore adalah masyarakat yang masih menjunjung tinggi warisan leluhurnya. Tradisi-tradisi yang laksanakan karena dianggap memiliki hubungan dengan kehidupan sosial dan budaya mereka. Salah satunya adalah tradisi Dama Nyili-Nyili.[5]
Dama Nyili-Nyili berasal dari bahasa Tidore. Dama artinya obor dan Nyili-nyili artinya wilayah-wilayah. Dama Nyili-nyili adalah tradisi berkeliling dengan membawa obor dan mengunjungi wilayah-wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore. Wilayah-wilayah yang dimaksud meliputi beberapa wilayah dengan masing-masing istilahnya, di antaranya adalah: Nyili Gama/Seba-seba (wilayah dekat) Tidore Kepulauan; Nyili Lofo-lofo (wilayah yang masih dekat dengan Tidore Kepulauan) seperti Weda, patani, Maba; dan Nyili Gulu-gulu (wilayah yang jauh) di antaranya Papua, raja Ampat, seram.
Tradisi Dama Nyili-nyili merupakan simbol semangat kebersamaan, perekat persatuan, yang tidak pernah padam di antara daerah-daerah kekuasaan Kesultanan Tidore.[5]
12Yusuf, Siokona, dan Safi, Farida, Sidik dan Jamin (2 September 2019). [Jurnal Artefak "Tradisi Dama Nyili-Nyili dalam Masyarakat Tidore Kepulauan"]. https://jurnal.unigal.ac.id/index.php/artefak. Diakses tanggal 28 Februari 2021.; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)