ENSIKLOPEDIA
Padi
| Padi | |
|---|---|
| Padi dari Koehler's Book of Medicinal Plants | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Monokotil |
| Klad: | Commelinidae |
| Ordo: | Poales |
| Famili: | Poaceae |
| Genus: | Oryza |
| Spesies: | O. sativa |
| Nama binomial | |
| Oryza sativa | |
| Spesies lain | |
| |


Padi (bahasa Latin: Oryza sativacode: la is deprecated ) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM.[1]
Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras.
Etimologi
Kata "padi" berasal dari pada akar Proto-Austronesia pajay yang sama maksudnya. Kata-kata ini kognat dengan kata dalam bahasa Amis panay; bahasa Tagalog paláy; bahasa Kadazan paai; bahasa Jawa pari; dan bahasa Chamorro faʻi, dan lain-lain.
Ciri-ciri
Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae. Terna semusim, berakar serabut, batang sangat pendek, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang daun sempurna dengan pelepah tegak, daun berbentuk lanset,warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang, bagian bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang, satuan bunga disebut floret yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula, tipe buah bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, bentuknya hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm, tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan padi yang biasa dikonsumsi yaitu jenis enduspermium.
Reproduksi
Setiap bunga padi memiliki enam kepala sari (anther) dan kepala putik (stigma) bercabang dua berbentuk sikat botol. Kedua organ seksual ini umumnya siap bereproduksi dalam waktu yang bersamaan. Kepala sari kadang-kadang keluar dari palea dan lemma jika telah masak. Dari segi reproduksi, padi merupakan tanaman berpenyerbukan sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur tanaman yang sama. Setelah pembuahan terjadi, zigot dan inti polar yang telah dibuahi segera membelah diri. Zigot berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endosperm. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir padi mengadung pati dibagian endosperm. Bagi tanaman muda,pati dimanfaatkan sebagai sumber gizi.
Fisiologi dan adaptasi lingkungan
Pertumbuhan dan hasil padi dipengaruhi oleh proses fisiologis seperti fotosintesis, penyerapan air dan hara, pembentukan anakan, pembungaan, serta pengisian gabah. Sebagai tanaman semusim dari keluarga rumput-rumputan, padi dapat tumbuh pada berbagai ekosistem budidaya, mulai dari sawah tergenang, lahan kering, hingga lahan rawa. Perbedaan ekosistem tersebut menyebabkan kebutuhan air, pengelolaan hara, dan respons tanaman terhadap lingkungan juga berbeda.[2]
Air merupakan salah satu faktor lingkungan utama dalam fisiologi padi. Pada sistem sawah, genangan air dapat membantu menjaga ketersediaan air bagi tanaman dan menekan pertumbuhan gulma, tetapi genangan yang terlalu dalam atau berlangsung lama dapat membatasi pertukaran gas dan menurunkan ketersediaan oksigen bagi jaringan tanaman. Sebaliknya, pada padi gogo atau padi lahan kering, kekurangan air dapat menurunkan laju fotosintesis, menghambat pertumbuhan daun, mengurangi pembentukan anakan, dan menurunkan hasil.
Suhu juga berpengaruh terhadap pertumbuhan padi. Suhu tinggi dapat mengganggu fotosintesis, meningkatkan kehilangan air melalui transpirasi, serta memengaruhi pembungaan dan pengisian gabah. Pada fase reproduktif, cekaman suhu tinggi dapat menurunkan fertilitas bunga dan pembentukan gabah isi.[3] Oleh karena itu, toleransi terhadap suhu tinggi, kekeringan, salinitas, dan genangan menjadi salah satu perhatian dalam pemuliaan dan pengelolaan budidaya padi.[4]
Padi memiliki beberapa mekanisme adaptasi terhadap cekaman lingkungan. Pada kondisi kekeringan, tanaman dapat mengurangi kehilangan air melalui penutupan stomata, perubahan pertumbuhan akar, dan penyesuaian fisiologis lain untuk mempertahankan keseimbangan air. Pada kondisi genangan, beberapa varietas padi mampu membatasi pertumbuhan tajuk untuk menghemat cadangan energi, sedangkan tipe padi air dalam dapat memanjangkan ruas batang agar daun tetap berada di atas permukaan air.[5]
Genetika dan pemuliaan
Satu set genom padi terdiri atas 12 kromosom. Karena padi adalah tanaman diploid, maka setiap sel padi memiliki 12 pasang kromosom (kecuali sel seksual).
Padi merupakan organisme model dalam kajian genetika tumbuhan karena dua alasan: kepentingannya bagi umat manusia dan ukuran kromosom yang relatif kecil, yaitu 1.6~2.3 × 108 pasangan basa (base pairs, bp).[6] Sebagai tanaman model, genom padi telah disekuensing, seperti juga genom manusia.
Perbaikan genetik padi telah berlangsung sejak manusia membudidayakan padi. Dari hasil tindakan ini orang mengenal berbagai macam ras lokal, seperti 'Rojolele' dari Klaten atau 'Pandanwangi' dari Cianjur di Indonesia atau 'Basmati' dari India utara. Pemulia tanaman juga berhasil mengembangkan padi lahan kering (padi gogo) yang tidak memerlukan penggenangan atau padi rawa yang mampu beradaptasi terhadap kedalaman air rawa yang berubah-ubah. Di negara lain dikembangkan pula berbagai tipe padi.
Pemuliaan padi secara sistematis baru dilakukan sejak didirikannya IRRI di Filipina sebagai bagian dari gerakan modernisasi pertanian dunia yang dijuluki sebagai Revolusi Hijau. Sejak saat itu muncullah berbagai kultivar padi dengan daya hasil tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia. Dua kultivar padi modern pertama adalah 'IR5' dan 'IR8' (di Indonesia diadaptasi menjadi 'PB5' dan 'PB8'). Walaupun hasilnya tinggi tetapi banyak petani menolak karena rasanya tidak enak (pera). Selain itu, terjadi wabah hama wereng coklat pada tahun 1970-an.
Ribuan persilangan kemudian dirancang untuk menghasilkan kultivar dengan potensi hasil tinggi dan tahan terhadap berbagai hama dan penyakit padi. Pada tahun 1984 pemerintah Indonesia pernah meraih penghargaan dari PBB (FAO) karena berhasil meningkatkan produksi padi hingga dalam waktu 20 tahun dapat berubah dari pengimpor padi terbesar dunia menjadi negara swasembada beras. Prestasi ini tidak dapat dilanjutkan dan baru kembali pulih sejak tahun 2007.
Hadirnya bioteknologi dan rekayasa genetika pada tahun 1980-an memungkinkan perbaikan kualitas nasi. Sejumlah tim peneliti di Swiss mengembangkan padi transgenik yang mampu memproduksi toksin bagi hama pemakan bulir padi dengan harapan menurunkan penggunaan pestisida. IRRI, bekerja sama dengan beberapa lembaga lain, merakit "Padi emas" (Golden Rice) yang dapat menghasilkan provitamin A pada berasnya, yang diarahkan bagi pengentasan defisiensi vitamin A di berbagai negara berkembang. Suatu tim peneliti dari Jepang juga mengembangkan padi yang menghasilkan toksin bagi bakteri kolera.[7] Diharapkan beras yang dihasilkan padi ini dapat menjadi alternatif imunisasi kolera, terutama di negara-negara berkembang.
Sejak 1970-an telah diusahakan pengembangan padi hibrida, yang memiliki potensi hasil lebih tinggi. Karena biaya pembuatannya tinggi, kultivar jenis ini dijual dengan harga lebih mahal daripada kultivar padi yang dirakit dengan metode lain.
Selain perbaikan potensi hasil, sasaran pemuliaan padi mencakup pula tanaman yang lebih tahan terhadap berbagai organisme pengganggu tanaman (OPT) dan tekanan (stres) abiotik (seperti kekeringan, salinitas, dan tanah masam). Pemuliaan yang diarahkan pada peningkatan kualitas nasi juga dilakukan, misalnya dengan perancangan kultivar mengandung karoten (provitamin A).
Keanekaragaman genetik
Hingga sekarang ada dua spesies padi yang dibudidayakan manusia secara massal: Oryza sativa yang berasal dari Asia dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat.
Pada awal mulanya Oryza sativa dianggap terdiri dari dua subspesies, indica dan japonica (sinonim sinica). Padi japonica umumnya berumur panjang, postur tinggi tetapi mudah rebah, lemmanya memiliki "ekor" atau "bulu" (Ing. awn), bijinya cenderung membulat, dan nasinya lengket. Padi indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, lemmanya tidak ber-"bulu" atau hanya pendek saja, dan bulir cenderung oval sampai lonjong. Walaupun kedua anggota subspesies ini dapat saling membuahi, persentase keberhasilannya tidak tinggi. Contoh terkenal dari hasil persilangan ini adalah kultivar 'IR8', yang merupakan hasil seleksi dari persilangan japonica (kultivar 'Deegeowoogen' dari Formosa) dengan indica (kultivar 'Peta' dari Indonesia). Selain kedua varietas ini, dikenal varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua tipe utama di atas. Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa.
Kajian dengan bantuan teknik biologi molekular sekarang menunjukkan bahwa selain dua subspesies O. sativa yang utama, indica dan japonica, terdapat pula subspesies minor tetapi bersifat adaptif tempatan, seperti aus (padi gogo dari Bangladesh), royada (padi pasang-surut/rawa dari Bangladesh), ashina (padi pasang-surut dari India), dan aromatic (padi wangi dari Asia Selatan dan Iran, termasuk padi basmati yang terkenal). Pengelompokan ini dilakukan menggunakan penanda RFLP dibantu dengan isozim.[8] Kajian menggunakan penanda genetik SSR terhadap genom inti sel dan dua lokus pada genom kloroplas menunjukkan bahwa pembedaan indica dan japonica adalah mantap, tetapi japonica ternyata terbagi menjadi tiga kelompok khas: temperate japonica ("japonica daerah sejuk" dari Cina, Korea, dan Jepang), tropical japonica ("japonica daerah tropika" dari Nusantara), dan aromatic. Subspesies aus merupakan kelompok yang terpisah.[9]
Berdasarkan bukti-bukti evolusi molekular diperkirakan kelompok besar indica dan japonica terpisah sejak ~440.000 tahun yang lalu dari suatu populasi spesies moyang O. rufipogon.[9] Domestikasi padi terjadi di titik tempat yang berbeda terhadap dua kelompok yang sudah terpisah ini. Berdasarkan bukti arkeologi padi mulai dibudidayakan (didomestikasi) 10.000 hingga 5.000 tahun sebelum masehi.[10]
Salah satu contoh pemuliaan terhadap stres abiotik adalah pengembangan padi toleran genangan. Pada padi, lokus Submergence 1 atau Sub1 berperan penting dalam toleransi terhadap genangan lengkap sementara. Alel Sub1A-1 merupakan penentu utama toleransi genangan, antara lain dengan mendukung strategi quiescence, yaitu pembatasan pertumbuhan tajuk selama terendam agar cadangan karbohidrat dapat dipertahankan sampai air surut.[11][5]
Keanekaragaman budidaya
Padi gogo
Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah. Di Lombok dikembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.Biasanya di daerah yang hanya bisa bercocok tanam padi gogo menggunakan model Tumpang Sari. Sistem Tumpang sari yaitu dalam sekali tanam tidak hanya menanam padi, akan tetapi juga tanaman lain dalam satu lahan. Padi gogo biasanya di tumpang sari dengan jagung atau Ketela Pohon.
Padi rawa
Padi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.
Padi rawa dan padi air dalam memiliki mekanisme adaptasi yang berbeda terhadap genangan. Adaptasi padi terhadap genangan dapat terjadi melalui beberapa strategi. Pada padi air dalam, peningkatan tinggi air dapat merangsang pemanjangan ruas batang sehingga daun tetap berada di atas permukaan air. Strategi ini dikenal sebagai strategi escape. Sebaliknya, pada genangan lengkap yang bersifat sementara, beberapa varietas padi menggunakan strategi quiescence, yaitu membatasi pertumbuhan tajuk selama terendam agar cadangan energi dapat dipertahankan sampai air surut. Salah satu gen yang berperan penting dalam toleransi terhadap genangan lengkap sementara adalah Sub1A, yang terdapat pada lokus Submergence 1 atau Sub1.[11][12]
Keanekaragaman tipe beras
Padi pera
Padi pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen. Penggolongan ini terutama dilihat dari konsistensi nasinya.
Ketan
Beras ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah atau hitam banyak tumbuh di wilayah Asia Tenggara serta Asia Timur.[13] Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya didominasi oleh amilopektin, sehingga jika ditanak sangat lekat. Berbeda dengan beras biasa, bulir beras ketan memiliki warna yang lebih pekat keunguan.[13] Umumnya, beras ketan diolah menjadi hidangan manis atau kudapan.[13] Salah satu olahan pangan dari beras ketan adalah kenta yang berasal dari Kalimantan Tengah. Kenta terbuat dari beras ketan yang diolah bersama kelapa parut, gula pasir, atau gula merah, dan sedikit garam.[13]
Padi wangi
Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras 'Cianjur Pandanwangi' (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan 'rajalele'. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang.
Di luar negeri orang mengenal padi biji panjang (long grain), padi biji pendek (short grain), risotto, padi susu umumnya menggunakan metode silsilah. Salah satu tahap terpenting dalam pemuliaan padi adalah dirilisnya kultivar 'IR5' dan 'IR8', yang merupakan padi pertama yang berumur pendek tetapi berpotensi hasil tinggi. Ini adalah awal revolusi hijau dalam budidaya padi. Berbagai kultivar padi berikutnya umumnya memiliki 'darah' kedua kultivar perintis tadi.
Aspek budidaya
Teknik budidaya padi telah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Sejumlah sistem budidaya diterapkan untuk padi.
- Budidaya padi sawah (Ing. paddy atau paddy field), diduga dimulai dari daerah lembah Sungai Yangtse di Tiongkok.
- Budidaya padi lahan kering, dikenal manusia lebih dahulu daripada budidaya padi sawah.
- Budidaya padi lahan rawa atau pasang surut dilakukan di beberapa tempat di Pulau Kalimantan. Pengaturan tinggi muka air dan pemilihan varietas yang sesuai menjadi penting karena tanaman dapat menghadapi genangan, kemasaman tanah, salinitas, atau keracunan besi.
- Budidaya gogo rancah atau disingkat gora, yang merupakan modifikasi dari budidaya lahan kering. Sistem ini sukses diterapkan di Pulau Lombok, yang hanya memiliki musim hujan singkat.
Setiap sistem budidaya memerlukan kultivar yang adaptif untuk masing-masing sistem. Kelompok kultivar padi yang cocok untuk lahan kering dikenal dengan nama padi gogo.
Budidaya padi juga dapat mengacu pada prinsip cara budidaya tanaman pangan yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP). Dalam konteks tanaman pangan, prinsip GAP mencakup persyaratan sumber daya dan proses pertanaman, seperti pengelolaan lahan dan air, penggunaan benih, pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian, panen, penanganan pascapanen, serta penerapan sanitasi di lingkungan kerja.[14] Penerapan GAP pada budidaya padi bertujuan meningkatkan produktivitas, mutu hasil, keamanan pangan, efisiensi penggunaan input, dan keberlanjutan lingkungan.[15]
Persemaian dan penanaman
Budidaya padi umumnya dimulai dari pemilihan benih dan persemaian. Benih yang digunakan dipilih dari varietas yang sesuai dengan kondisi lahan, musim tanam, dan tujuan budidaya. Pada sistem tanam pindah, bibit padi dipelihara terlebih dahulu di persemaian sebelum dipindahkan ke lahan utama. Sebelum tanam, lahan sawah biasanya diolah dan diratakan untuk memperbaiki kondisi tanah, memudahkan pengaturan air, serta mendukung pertumbuhan awal tanaman.
Penanaman dapat dilakukan melalui beberapa sistem, antara lain tanam pindah, tanam benih langsung, dan sistem tanam jajar legowo. Sistem jajar legowo mengatur jarak tanam dengan barisan kosong tertentu sehingga tanaman memperoleh ruang tumbuh dan cahaya yang lebih baik serta memudahkan pemeliharaan tanaman.[16]
Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan padi mencakup pengairan, penyulaman, penyiangan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dan pemupukan. Pengairan berperan penting dalam menjaga ketersediaan air bagi tanaman, terutama pada fase vegetatif, pembungaan, dan pengisian gabah. Penyiangan dilakukan untuk mengurangi persaingan antara padi dan gulma dalam memperoleh cahaya, air, dan hara. Pengendalian organisme pengganggu tanaman dilakukan melalui pemantauan lapangan dan dapat menggunakan pendekatan pengendalian hama terpadu.
Pemupukan
Pemupukan padi dianjurkan mengikuti prinsip pemupukan berimbang, yaitu pemberian unsur hara sesuai kebutuhan tanaman dan status hara tanah. Kebutuhan pupuk dapat berbeda menurut varietas, jenis tanah, musim tanam, riwayat pemupukan, dan sistem budidaya. Penentuan kebutuhan pupuk pada lahan sawah dapat dibantu dengan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), sedangkan kecukupan nitrogen tanaman dapat dipantau menggunakan Bagan Warna Daun (BWD).[17]
Secara umum, pupuk nitrogen sering diberikan secara bertahap karena unsur ini mudah hilang dari tanah. Pupuk fosfor dan kalium diberikan berdasarkan ketersediaan hara tanah dan kebutuhan tanaman. Selain pupuk anorganik, bahan organik seperti kompos, pupuk kandang, atau pengembalian jerami dapat digunakan untuk memperbaiki sifat tanah dan mendukung keberlanjutan sistem budidaya.
Panen dan pascapanen
Panen dilakukan ketika sebagian besar gabah telah masak fisiologis. Kondisi ini umumnya ditandai oleh perubahan warna gabah menjadi kuning dan penurunan kadar air. Setelah panen, gabah perlu segera dirontokkan, dibersihkan, dan dikeringkan untuk menekan kehilangan hasil serta menjaga mutu beras selama penyimpanan. Penanganan pascapanen yang baik penting untuk mempertahankan kualitas gabah dan mengurangi kerusakan selama penyimpanan.
Hama dan penyakit
- Hama-hama penting
- Penggerek batang padi putih ("sundep", Scirpophaga innotata)
- Penggerek batang padi kuning (S. incertulas)
- Wereng batang punggung putih (Sogatella furcifera)
- Wereng coklat (Nilaparvata lugens)
- Wereng hijau (Nephotettix impicticeps)
- Lembing hijau (Nezara viridula)
- Walang sangit (Leptocorisa oratorius)
- Ganjur (Pachydiplosis oryzae)
- Lalat bibit (Arterigona exigua)
- Ulat tentara/Ulat grayak (Spodoptera litura dan S. exigua)
- Tikus sawah (Rattus argentiventer)
- Penyakit-penyakit penting
- blas (Pyricularia oryzae, P. grisea)
- hawar daun bakteri ("kresek", Xanthomonas oryzae pv. oryzae)
Pengolahan gabah menjadi nasi
Setelah padi dipanen, bulir padi atau gabah dipisahkan dari jerami padi. Pemisahan dilakukan dengan memukulkan seikat padi sehingga gabah terlepas atau dengan bantuan mesin pemisah gabah.
Gabah yang terlepas lalu dikumpulkan dan dijemur. Pada zaman dulu, gabah tidak dipisahkan lebih dulu dari jerami, dan dijemur bersama dengan merangnya. Penjemuran biasanya memakan waktu tiga sampai tujuh hari, tergantung kecerahan penyinaran matahari. Penggunaan mesin pengering jarang dilakukan. Istilah "Gabah Kering Giling" (GKG) mengacu pada gabah yang telah dikeringkan dan siap untuk digiling. (Lihat pranala luar). Gabah merupakan bentuk penjualan produk padi untuk keperluan ekspor atau perdagangan partai besar.
Gabah yang telah kering disimpan atau langsung ditumbuk/digiling, sehingga beras terpisah dari sekam (kulit gabah). Beras merupakan bentuk olahan yang dijual pada tingkat konsumen. Hasil sampingan yang diperoleh dari pemisahan ini adalah:
- Sekam, dapat digunakan sebagai bahan bakar.
- Merang, tangkai padi kering. Digunakan sebagai Jerami atau bahan kerajinan.
- Bekatul, yakni serbuk kulit ari beras. Digunakan sebagai bahan makanan tambahan yang kaya akan vitamin B.
- Dedak, campuran bekatul kasar dengan serpihan sekam yang kecil-kecil untuk makanan ternak.
Beras dapat dikukus atau ditim agar menjadi nasi yang siap dimakan. Beras atau ketan yang ditim dengan air berlebih akan menjadi bubur. Pengukusan beras dapat juga dilakukan dengan pembungkus, misalnya dengan anyaman daun kelapa muda menjadi ketupat, dengan daun pisang menjadi lontong, atau dengan bumbung bambu yang disebut lemang (biasanya dengan santan). Beras juga dapat diolah menjadi minuman penyegar (beras kencur) atau obat balur untuk mengurangi rasa pegal (param).
Produksi padi dan perdagangan dunia
- Bagian ini memerlukan aktualisasi
Negara produsen padi terkemuka adalah Republik Rakyat Tiongkok (28% dari total produksi dunia), India (21%), dan Indonesia (9%). Namun hanya sebagian kecil produksi padi dunia yang diperdagangkan antar negara (hanya 5%-6% dari total produksi dunia). Thailand merupakan pengekspor padi utama (26% dari total padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Vietnam (15%) dan Amerika Serikat (11%). Indonesia merupakan pengimpor padi terbesar dunia (14% dari padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Bangladesh (4%), dan Brasil (3%).Produksi padi Indonesia pada 2006 adalah 54 juta ton, kemudian tahun 2007 adalah 57 juta ton (angka ramalan III), meleset dari target semula yang 60 juta ton akibat terjadinya kekeringan yang disebabkan gejala ENSO.
| Produsen padi terbesar — 2011 (juta metrik ton) | |
|---|---|
| 201 | |
| 158 | |
| 66 | |
| 51 | |
| 42 | |
| 35 | |
| 29 | |
| 17 | |
| 13 | |
| 9 | |
| Total Dunia | 723 |
| Sumber: Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO)[http://faostat.fao.org/site/339/default.aspx | |
Aspek budaya dan bahasa
Padi merupakan bagian penting dalam budaya masyarakat Asia Tenggara dan Asia Timur. Masyarakat setempat mengenal filosofi ilmu padi. Sejumlah peribahasa juga melibatkan padi, misalnya
Lihat pula
- Gabah
- Beras
- Nasi
- Bercocok tanam padi
Oryza sativa - Wikidata: Q161426
- Wikispecies: Oryza sativa
- APDB: 52132
- APNI: 57458
- BioLib: 42781
- BOLD: 434251
- Calflora: 5998
- CoL: 6SZF3
- Ecocrop: 1574
- EoL: 1115098
- EPPO: ORYSA
- EUNIS: 192867
- FloraBase: 499
- FNA: 200025789
- FoAO2: Oryza sativa
- FoC: 200025789
- GBIF: 2703459
- GrassBase: imp06801
- GRIN: 26077
- iNaturalist: 61381
- IPNI: 316812-2
- IRMNG: 10706953
- ITIS: 41976
- NAS: 1123
- NatureServe: 2.141692
- NCBI: 4530
- NTFlora: 4653
- NZOR: 2dd51451-1dea-4b9e-b6e9-ce0ed6ebe63f
- Observation.org: 142523
- Open Tree of Life: 709894
- PalDat: Oryza_sativa
- Plant List: kew-426698
- PLANTS: ORSA
- POWO: urn:lsid:ipni.org:names:316812-2
- Tropicos: 25509797
- WFO: wfo-0000882438
Referensi
- ↑ Shadily, Hassan. Ensiklopedi Indonesia. Ichtiar Baru-Van Hoeve dan Elsevier Publishing Projects. Jakarta, 1984. Hal. 2503
- ↑ Yoshida, S. (1981). Fundamentals of Rice Crop Science. Los Baños: International Rice Research Institute.
- ↑ Jagadish, S. V. K.; Craufurd, P. Q.; Wheeler, T. R. (2007). "High temperature stress and spikelet fertility in rice (Oryza sativa L.)". Journal of Experimental Botany. 58 (7): 1627–1635. doi:10.1093/jxb/erm003. PMID 17431025.
- ↑ Wahid, A.; Gelani, S.; Ashraf, M.; Foolad, M. R. (2007). "Heat tolerance in plants: An overview". Environmental and Experimental Botany. 61 (3): 199–223. doi:10.1016/j.envexpbot.2007.05.011.
- 1 2 Fukao, Takeshi; Barrera-Figueroa, Bertha E.; Juntawong, Piyada; Peña-Castro, José M. (2019). "Submergence and waterlogging stress in plants: a review highlighting research opportunities and understudied aspects". Frontiers in Plant Science. 10: 340. doi:10.3389/fpls.2019.00340. PMC 6446204. PMID 30972080. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ↑ situs Gramene.org
- ↑ Focus 25, 2007
- ↑ Glaszmann, J.C. 1987. Isozymes and classification of asian rice varieties. Theor. Appl. Genet. 74:21—30.
- 1 2 Garris, A.J. (2004). "Genetic structure and diversity in Oryza sativa L.". Genetics. 169: 1631–1638. doi:10.1534/genetics.104.035642. ;
- ↑ Zohary D., Hopf, M. 2000. Domestication of plants in the old world. Oxford University Press, Oxford.
- 1 2 Xu, Kenong; Xu, Xia; Fukao, Takeshi; Canlas, Patrick; Maghirang-Rodriguez, Reycel; Heuer, Sigrid; Ismail, Abdelbagi M.; Bailey-Serres, Julia; Ronald, Pamela C.; Mackill, David J. (2006). "Sub1A is an ethylene-response-factor-like gene that confers submergence tolerance to rice". Nature. 442 (7103): 705–708. doi:10.1038/nature04920. PMID 16900200.
- ↑ Hattori, Yoshiaki; Nagai, Keisuke; Furukawa, Shinichiro; Song, Xian-Jun; Kawano, Ryouichi; Sakakibara, Hitoshi; Wu, Jianzhong; Matsumoto, Takuji; Yoshimura, Atsushi; Kitano, Hidemi; Matsuoka, Makoto; Mori, Hiroshi; Ashikari, Motoyuki (2009). "The ethylene response factors SNORKEL1 and SNORKEL2 allow rice to adapt to deep water". Nature. 460 (7258): 1026–1030. doi:10.1038/nature08258. PMID 19693083.
- 1 2 3 4 Stephanie, Maria (2024). Ensiklopedia dari Bumi Nusantara ke Piring Kita. Yogyakarta: Guru Bumi.
- ↑ "Penerapan SNI 8969:2021 sebagai pengantar GAP dan GHP tanaman pangan". Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian Kepulauan Bangka Belitung, Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 31 Juli 2024. Diakses tanggal 27 Juni 2026.
- ↑ "Penerapan Good Agriculture / Handling Practices Padi di Indonesia". Repositori Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Diakses tanggal 27 Juni 2026.
- ↑ "Petunjuk Teknis Budidaya Padi Jajar Legowo Super". Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Diakses tanggal 27 Juni 2026.
- ↑ "Efisiensi penggunaan pupuk dan senjang hasil padi sawah berdasarkan pemupukan berimbang menggunakan PUTS". Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Diakses tanggal 27 Juni 2026.
Pranala luar
- Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI)
- Dokumen pendukung artikel ini
- Contoh pengaturan harga gabah di Indonesia Diarsipkan 2006-03-09 di Wayback Machine.
- International Rice Genome Sequencing Project, The map-based sequence of the rice genome. Nature 436, 793-800 (11 August 2005) (Onlinetext)
- (Inggris) The Rice Annotation Project Database (RAP-DB): hub for Oryza sativa ssp. japonica genome information.
- (Inggris) The map-based sequence of the rice genome.
| Nasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |