Tenun Terfo
Salah satu yang membedakan suku Sobey dengan kebanyakan suku Papua lainnya adalah mereka mengenal budaya menenun kain. Sebuah budaya austronesia yang telah diwariskan dari nenek moyang mereka. Kain Terfo (Tervo) adalah sejenis tenun ikat yang menggunakan benang dari pohon palem nibung (O. tigilsrium) atau Pe'a dalam bahasa lokal. Lembaran daun dari pohon tersebut dilepaskan dan disatukan dalam ikatan, dan buntalan. Buntalan tersebut direbus dan direndam dalam air asin selama 3-4 jam. Jika berasal dari daun mayang akan berwarna lebih terang, dibandingkan dari pelepah. [3][4]
Kemudian daun tersebut dipintal menjadi benang dan diwarnai dengan berbagai pewarna alami; Seperti akar mare yang dicampur dengan kapur sirih dan air menghasilkan warna merah (federa), untuk warna merah kecoklatan menggunakan noni (mengkudu), warna coklat dari yone (kunyit) dicampur dengan kapur sirih dan air, warna kuning muda dari yone saja, pohon menwafo menghasilkan warna biru keungunan, buah pohon meoerta menghasilkan warna hitam (femeno), dan pohon bemotepori atau daun palem tua yang direbus menghasilkan warna hijau. Berdasarkan penggunaannya kain terfo dibagi menjadi tiga jenis, jenis pertama untuk hissan rumah karwari, jenis kedua untuk kepala suku (Satetum) dan anaknya, jenis ketiga adalah untuk masyarakat biasa. Tradisi tenun ini sempat menurun dengan meningkatnya kain katun dari luar.[3][5][4]