Berdasarkan sejarah lisan suku-suku ormu merupakan keturunan dari tiga bersaudara Yeibhe (Yeife), Yoari, dan Trong. Mereka bertiga berasal dari Tanjung Yatnan. Yoari dan Trong berpindah ke kampung bernama Morokwa sebelum sampai di kampung tua. Lalu Yoari berpindah lagi ke wilayah yang disebut Yatna. Sedangkan Nereibhe (Yeife) yang ditinggalkan sendiri memutuskan berpisah dan menetap di Kampung Ormu Kecil hingga saat ini bersama suku Maro yang keturunan kemudian bercampur. Sehingga sub-suku Yeibhe menetap di Ormu Kecil, sedangkan sub-suku Yoari dan Trong menetap di Ormu Besar.[5][6]
Pembagian sub-suku
Selain itu terdapat pula pembagian golongan masyarakat berdasarkan tiga kelompok suku Ormu, setiap golongan terdapat pemimpin yang biasanya diberikan kepada keret tertua.[7]
Trong disebut sebagai penguasa darat atau suku pendamai karena menjalankan tugas khusus sebagai pemimpin upacara adat dan hakim adat untuk menyelesaikan sengketa adat. Keret-keret anggotanya berupa: Nari, Ikari, Yakadewa I. Keondoafiannya berasal dari keret Nari.
Simbol yang digunakan: Babi hutan, buaya, ular, dan katak.
Yefei disebut sebagai penguasa laut atau suku laut karena menjalankan tugas khusus untuk menjaga wilayah laut dan upacara penangkapan ikan di laut. Keret-keret anggotanya berupa: Maro, Toto, Rate, dan Norotouw. Tubwe (pembantu ondoafi) penguasa laut berasal dari keret Maro.
Simbol yang digunakan: burung camar, ikan, dan hewan laut lainnya.
Yoari disebut sebagai suku perang karena berfungsi sebagai keamanan dan keselamatan bersama. Keret-keret anggotanya berupa: Yarona, Fisrewa, Yakadewa II, dan Yawafifi. Tubwe (pembantu ondoafi) kepala angkatan perang berasal dari keret Yarona.
Simbol yang digunakan: busur-panah, gadah, dan peralatan perang lainnya.
Budaya
Tomako
Proses pengasahan batu
Tomako adalah kapak tradisional suku Ormu. Tomako dianggap berharga karena selain kegunaannya sebagai alat, juga sebagai alat pembayar denda adat dan mas kawin. Untuk pembuatannya juga diadakan upacara khusus yang dipimpin kelompok suku darat (Trong).[7]
Suku Ormu mengklasifikasikan batuan yang dapat dijadikan kapak batu berdasarkan kekuatan dan kegunaannya. Biasanya batuan yang dimanfaatkan diambil dari kaki gunung Cycloop. Batu kualitas terbaik disebut ja yang menjadi bahan utama pembuatan tomako. Batu kedua disebut weri yang digunakan untuk memecah (ukuran besar) dan menghaluskan (ukuran kecil) tonjolan kasar batu ja. Batu ketiga adalah tandere yang digunakan untuk pengasah dan pelicin permukaan batu.[7]
↑Purba, Theodorus; Paidi, Yacobus; Kainakainu, Bartol (1997). Morfologi Bahasa Ormu(PDF) (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)