Penyebutan nama suku ini beragam berasal dari kata yang artinya 'orang'. Nama pertama adalah Kaeti yang berasal dari sebutan küap kaeti yang berarti 'orang nyata'. Kemudian saat pemerintah Hindia Belanda membentuk pos di Tanah Merah, mereka disebut Mandobo yang merupakan gabungan dari kata mandup dan wambon. Lalu mereka juga disebut Ndumut berdasarkan nama sungai yang mengalir di tempat mereka tinggal. Menurut masyarakat Wambon nama untuk suku dan bahasa mereka adalah Wambon, sedangkan istilah Mandobo adalah sebutan dari pihak luar terutama oleh peneliti Belanda.[2]
Bahasa
Suku Wambon menggunakan berbagai bahasa bahasa/dialek (beberapa sudah memiliki label sendiri) walaupun berasal dari satu suku yang sama. Secara garis besar rumpun bahasa Ndumut terbagi menjadi beberapa kelompok, bahasa Ketum [ktt] dan bahasa Wambon [wms] yang berkerabat lebih dekat dibandingkan dengan bahasa Mandobo Atas [aax] dan bahasa Mandobo bawah [bwp].
Wambon Selatan (Wambon Kenyam, Wambon Yonggom, bukan bahasa Yonggom).
Berdasarkan penuturnya kelompok bahasa Mandobo terbagi menjadi tiga kelompok sebelum terbagi lagi menjadi beberapa dialek. Pembagian tradisional ini tidak sesuai dengan pembagian oleh Jang (2003) yang dimuat ethnologue.[2]
Perempuan suku Wambon menggunakan sejenis rok rumbai dan pakaian dari serat kulit kayu. Selain itu mereka juga menggunakan womet kubulute (selendang manik). Sedangkan laki-laki suku Wambon menggunakan enderop sebagai penutup alat kelamin.[4]
Beberapa perhiasan adat berupa ulonde mahkota kepala yang melambangkan kehormatan dan wimbiaktak kalung gigi babi sebagai penanda status sosial seorang pemburu. Lalu perlengkapan adat lainnya berupa tambiop alat penokok sagu, taubujon pipa rokok tembakau tradisional yang terbuat dari bambu dan kulit biawak, bagop mirop pisau dari tulang burung kasuari, dan kute atau kapak batu.[4]
Mitologis
Dalam kepercayaan suku-suku di pedalaman selatan Papua, terdapat salah satu tokoh yang dikenal sebagai Tumolop. Bagi orang Wambon, Tumolop adalah dewa mereka. Dialah yang menurunkan anaknya dalam bentuk yang tidak bisa dijelaskan secara realistis. Anak dari Tumolop ini bernama Beten yang menjadi cikal bakal suku bangsa besar dari hutan belantara Papua, tetapi telah menyebar ke berbagai bagian Pulau Papua. Legenda penciptaan ini menurut suku Wambon terjadi di Gunung Koreyom (nama lokal Wambon Kogonop: Koleyombin). Tempat yang dipercaya sakral di mana larangan adat istiadat masih berlaku.[5] Legenda teologi Wambon dan orang Auyu hampir mirip dengan prosesi Taurat ke Alkitab dalam kepercayaan Kristen. Bahwa pada mulanya adalah firman, dan firman itu adalah Tuhan yang menjadikan.[6]