Anggota suku Kwerisa bermarga: Kwersa, Tiasa, dan Foruo.[1]
Sejarah
Sekarang mereka adalah mayoritas penduduk di lokasi Kampung Kaiy 1, yang berada di pinggiran Sungai Tariku, lokasi ini sering banjir sehingga mayoritas penduduknya Torweja pindah bersama misionaris dan pendatang dari wilayah lain ke lokasi baru di dekat Sungai Oi pada tahun 1950-an yang disebut Kampung Kaiy II (atau Bakaije). [1]
Lalu saat pemerintah Indonesia mulai membangun distrik Rufaer, lokasi ibukota distrik juga dibangun ke daerah lebih tinggi untuk menghindari banjir, yaitu lebih ke hulu dari Sungai Akru. Secara umum dari Kaiy I ke hulu Sungai Tariku lebih dominan suku Kwerisa, sedangkan dari area hilir sampai pertemuan aliran Tariku ke Sungai Mamberamo suku Torweja lebih dominan. Sedangkan suku Wekerig tinggal di wilayah enklave yang dikelilingi wilayah suku Torweja di Kampung Kosware (secara administratif masuk Kampung Haya) yang berada di pinggir Sungai Tariku lebih ke hilir dari Kaiy.[1]
Bahasa
Mereka aslinya berbahasa Kwerisa[2] akan tetapi sudah atau hampir punah dengan sekitar 15 orang pengguna pada tahun 2000-an. Kebanyakan anggota suku ini lebih menggunakan bahasa Kaiy atau Torweja, yang masih serumpun dengan Kwerisa.
Referensi
123Bossiere, Manuel; Liswanto, Nining; Padmanaba, Michael; Sheil, Douglas (2007). People priorities and perceptions: Towards conservation partnership in Mamberamo. Jakarta: Center for International Forestry Research.
↑Silzer, Peter J.; Clouse, Helja Heikkinen (1991). Index of Irian Jaya Languages 2nd edition. Jayapura: SIL & Uncen. hlm.60.