Suku Selayar (Selayar: To Silajaracode: sly is deprecated ) adalah kelompok etnis asli dari Kepulauan Selayar, di ujung selatan Sulawesi, Indonesia. Secara umum, suku Selayar mirip dengan suku Makassar, dan kadang-kadang dianggap sebagai bagian darinya. Hal ini termasuk kesamaan dalam gaya hidup dan budaya.[1] Mereka adalah kelompok etnis yang bergantung pada kehidupan laut, termasuk sebagai pengembara laut, meskipun jangkauan mereka tidak seluas orang Bajau.[2]
Budaya
Orang Selayar menunggang kuda dalam ekspedisi Siboga ke Hindia Belanda, dipimpin oleh Max Wilhelm Carl Weber, 1899–1900.Anak laki-laki Selayar pada upacara penikah, 2007.Anak perempuan Selayar pada upacara penikah, 2007.
Kebudayaan masyarakat Selayar identik dengan kebudayaan suku bangsa lain yang berkerabat, terutama dengan suku Makassar, karena hubungan kekerabatannya yang sudah terjalin selama berabad-abad. Rata-rata mereka bekerja sebagai nelayan, sama seperti tetangga mereka.[3] Suatu ketika mereka juga berada di bawah kekuasaan Kesultanan Gowa, monarki suku Makassar.[4] Misalnya saja budaya pernikahan masyarakat Selayar yang memiliki adat erang-erang bosara yang mirip dengan budaya masyarakat Makassar, dan banyak kesamaan lainnya.[5]
Meski memiliki banyak kemiripan dengan orang Makassar, mereka tidak serta-merta mau disebut sebagai orang Makassar. Masyarakat Selayar lebih memilih untuk berdiri sendiri sebagai kelompok etnis yang diakui. Meskipun mereka menganggap diri mereka berbeda dengan orang Makassar, dalam hal bahasa dan asal-usul, kemungkinan besar mereka memiliki sejarah asal-usul dan nenek moyang yang sama.[6]
Masyarakat Selayar dikenal memiliki karakter yang lemah lembut dan sopan, serta memiliki aturan sosial tersendiri. Aturan-aturan ini diwariskan dari generasi ke generasi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu aturan sosial ini adalah kapalli', yang berarti 'tabu' atau 'larangan'. Sesuatu yang tidak boleh dilakukan, karena jika dilakukan maka akan terjadi hal buruk kepada pelanggarnya.[7]
kapalli' dalam masyarakat Selayar, meliputi:
assalla (menghina orang lain)
anjai' bangngi (menjahit di malam hari)
akkelong ri'pa' palluang (bernyanyi di dapur)
attolong ri babaang (duduk di depan pintu)
muliang sa'ra' allo (pulang ke rumah saat salat Magrib)
pattolongi lungang (duduk di atas bantal)
bonting sampu' sikali (menikah dengan sepupu pertama)
a'dopa dopa (rentan)
ta'mea menteng (berdiri untuk buang air kecil)
akkanai (pembicaraan kotor)
ambokoi to nganre (meninggalkan orang yang sedang makan)
Selain menggunakan bahasa Selayar sebagai bahasa utama, suku Selayar juga menggunakan bahasa Laiyolo di wilayah kecamatan Bontosikuyu, di bagian selatan Pulau Selayar, sebuah bahasa Wotu–Wolio dari rumpun bahasa Celebik.[10] Penuturnya berjumlah sekitar 800 pada tahun 1997 menurut Ethnologue.[11] Secara etnis, mereka tidak dianggap berbeda dengan orang Selayar pada umumnya, meskipun mereka berbicara bahasa yang berbeda.[12] Hal ini berbeda dengan orang Bonerate di Kepulauan Taka Bonerate yang walaupun secara wilayah administratif sama, tetapi berbeda secara linguistik dan etnis.[13]
Agama
Dua wanita Muslim tua dari suku Selayar mengenakan mukena.
Hampir semua orang Selayar beragama Islam Sunni, sama seperti orang Makassar. Pengaruh Islam sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Selayar, terlihat dari budayanya yang dipengaruhi oleh ajaran Islam. Islam telah berakar di sana sejak awal penyebaran Islam di sana oleh Kesultanan Gowa yang sangat berpengaruh di wilayah tersebut.[14] Namun, ada juga beberapa kerajaan lokal kecil di Kepulauan Selayar yang membantu penyebaran Islam, seperti Kerajaan Gantarang.[15]
↑Laidig, Wyn D.; Maingak, Sahabu Dg. (1999). Laidig, Wyn D. (ed.). Barang-barang phonology: a preliminary description. Studies in Sulawesi linguistics (dalam bahasa Inggris). Vol.VI. Jakarta, Indonesia: Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. hlm.46–83.